The World Of Sword And Magic

The World Of Sword And Magic
Eps 89 : City



Selama perjalanan, Silvia dan Zen pun tidak mendapatkan masalah apapun, area perbatasan sangat damai bahkan tidak ada tanda tanda monster sedikitpun, mereka pun memutuskan untuk menginap sejenak di sebuah kota kecil di sana, saat mereka sampai di kota tersebut, mereka sedikit terkejut karena kota tersebut tidak begitu ramai.


"Kenapa sepi sekali??" Tanya Silvia kebingungan.


"Aku juga tidak tau" Ujar Zen.


Mereka pun menyusuri kota itu dan benar saja, kota itu benar benar kosong, tak ada penghuni satupun disana, untuk memastikan, Zen pun mengetuk pintu dari salah satu rumah.


(Knock knock knock!!)


"Sepertinya tidak ada orang" Ucap Silvia.


Zen pun melihat sekitarnya dan berniat membuka pintu itu, di saat yang bersamaan, pintu pun terbuka yang membuat Zen dan Silvia terkejut.


"Pintunya terbuka!" Ucap Silvia.


Seseorang pun mengintip dari sela pintu tersebut, Silvia yang menyadarinya pun menyapanya.


"Selamat siang..." Ucap Silvia sembari tersenyum.


Tiba tiba pintu kembali di tutup yang membuat Silvia berfikir jika ia membuat kesalahan.


"Apa aku membuat kesalahan?" Tanya Silvia.


"Seharusnya tidak" Ucap Zen.


Tiba tiba pintu kembali di buka dengan lebar, dan seorang gadis pun menyapa mereka.


"Selamat siang.." Ucap gadis itu.


"Si.. Siang.." Ucap Silvia.


Zen melihat gadis itu yang terlihat hidup miskin, pakaiannya yang compang camping dan rambutnya yang berantakan, tetapi di dalam dirinya terdapat energi sihir yang besar dari inti sihir (Inti Mana) miliknya, tidak hanya itu, Zen juga melihat terdapat sosok monster yang dapat berkamuflase di lingkungan sekitarnya dengan sangat mudah.


"Em.. apa ada yang kalian butuhkan di sini??" Tanya gadis itu.


Silvia pun menyadari sesuatu, dalam rumah itu terdapat dua sepasang kekasih yang sedang bersembunyi di balik ruangan, terlihat juga seorang anak kecil yang memeluk kaki gadis itu dengan sangat ketakutan.


Di saat yang bersamaan, tiba tiba kedua orang tua itu muncul dan langsung menyerang Zen dan Silvia menggunakan pisau.


"Ha!!!!!" Saat pisau itu akan mengenai Zen, rantai merah pun muncul dan melindungi mereka berdua.


"Rantai?!" Gumam Silvia kebingungan.


Kedua orang tua itu yang gagal menyerang Zen pun ketakutan dan bertanya "Apa lagi yang ingin kau rebut dari kami?!" Seru ayah dari gadis itu.


"Silvia, sembuhkan mereka setelah aku membunuhnya" Ucap Zen.


Silvia yang mendengarnya pun sangat terkejut dan tidak menyangka jika Zen akan berbuat hal keji seperti itu.


"Zen! Jangan lakukan itu?!" Perintah Silvia.


Zen pun masuk ke dalam rumah dengan santai, seluruh anggota keluarga itu pun ketakutan dan terus menjauhi Zen, tiba tiba Silvia muncul tepat di depan Zen dengan pedang sihir elemen angin sembari mengucapkan "Jika kamu ingin melakukan itu! Aku tidak akan segan segan membunuhmu!" Seru Silvia.


Zen pun berhenti dan mengucapkan "Kamu sepertinya sedikit bodoh Silvia" Ucap Zen.


Silvia yang mendengarnya pun semakin waspada dengan Zen, tiba tiba Zen menarik tangan Silvia dan melemparnya ke udara, Silvia pun terkejut karena ia tidak hanya di lempar, pedang sihirnya juga di ambil oleh Zen, Zen pun langsung menghilang dan menusuk dinding di ruangan itu menggunakan pedang sihir elemen angin milik Silvia.


"Zen?!!" Silvia yang melihat Zen pun kebingungan.


Tiba tiba wujud monster itu pun perlahan terlihat, monster itu adalah Tena, monster yang dapat berkamuflase di lingkungan sekitarnya.


Anggota keluarga itu pun sangat terkejut melihat Zen.


"Tutup pintunya" Ucap Zen.


"A... Apa maumu?!" Panik Ibu dari gadis itu.


Tiba tiba gadis itu pun menutup pintu yang membuat Ibu dan Ayahnya terkejut.


"Percayalah Ayah, Ibu, mereka bukan orang jahat" Ucap gadis itu.


"Silvia, sembuhkan mereka" Ucap Zen.


Silvia pun menuruti perintah Zen dan menggunakan teknik penyembuh miliknya.


"Penyembuhan tingkat tinggi?!" Ucap gadis itu sangat terkejut.


"Silvia, setelah ini, lindungi mereka" Ucap Zen.


"Heh" Silvia yang mendengarnya pun kebingungan.


Tiba tiba pintu rumah itu hancur dan muncul lagi sesosok monster yang sama, tetapi Zen dengan cepat langsung membunuh monster itu, tiba tiba muncul orge tepat di depan Zen dan langsung menyerangnya.


(Bom!!!)


Zen pun berhasil menghindar, tetapi sebagian dari rumah itu harus hancur akibat serangan orge yang besar itu.


"Fire spear" Zen pun menciptakan elemen sihir api yang berbentuk tombak dan langsung melemparkan tombak itu tepat di tubuh orge tersebut, orge itu pun perlahan terbakar dan lenyap akibat tombak milik Zen itu, anehnya saat ia terbakar, orge itu tidak berteriak sedikitpun padahal terlihat jika ia sangat merasa sakit.


Tiba tiba terlihat seseorang menggunakan topeng yang sedang menatap Zen tepat di depannya.


Pria itu pun bertepuk tangan dan mengucapkan "Selamat, kau berhasil membunuh mainan kecilku" Ucap pria itu.


"Siapa kau?" Tanya Zen.


Pria itu pun berhenti dan menciptakan sebuah portal tepat di sampingnya.


"Karena kamu adalah seseorang yang di tunggu tunggu tuan muda, jadi aku tidak keberatan memberi tau namaku" Ucap pria itu.


"Namaku adalah Cendra, bawahan tuan muda tingkat ke sembilan belas" Ucap pria itu bersamaan dengan munculnya sayap Iblis miliknya.


"Aku di perintahkan tuan muda untuk menyapamu, dan aku baru saja memberikan salamku padamu dengan mainan kecil itu" Ucap pria itu.


"C'A Spear!" Zen pun menciptakan tombak merah miliknya.


"Fire!!" Tombak itu pun terbakar oleh sihir elemen api dan menjadi sangat membara, di saat yang bersamaan Zen langsung melempar tombak itu ke arah Iblis itu.


(Swof!!)


"Wah.. Tidak bagus sekali ini.." Ucap pria itu.


Pria itu pun mengangkat tangannya dan menggerakkan jari jarinya dan mengucapkan "Keluarlah Oreki, Suma, Inuka, Ronedo, Adana." Seketika muncul Iblis bawahan pria itu yang ternyata masing masing Iblis setara dengan tangan kanan Iblis milik Kidra yaitu Kenma, kelima Iblis itu pun langsung menahan tombak milik Zen.


(Bom!!!!)


Ledakan pun tercipta, kelima Iblis itu pun terluka parah akibat serangan Zen, dan lagi lagi Iblis itu tidak mengeluarkan sepatah kata pun dari mulut mereka padahal mereka terluka parah dan sangat kesakitan.


"Wah wah.. Hebat sekali.. Kau berhasil melukai mainanku" Ucap pria itu sembari bertepuk tangan.


Pria itu pun menciptakan partikel partikel hitam yang seketika langsung masuk ke dalam tubuh kelima Iblis itu dan menyembuhkan mereka.


Tombak milik Zen pun kembali terbang ke arahnya dan Zen pun bersiap menyerang pria itu lagi.


"Wah wah, tidak bagus jika terus begini, kalau begitu aku pergi dulu, sampai jumpa!!" Ucap pria itu sembari memasuki portal yang berada di sampingnya, diikuti oleh kelima Iblis itu dan portal itu pun menghilang.


Gadis yang berada di belakang Zen pun terkejut melihat kemampuan Zen.


"Zen? Kamu baik baik saja?" Tanya Silvia sembari berlari mendekatinya.


"Aku baik baik saja" Ucap Zen.


Tombak merah itu pun perlahan menghilang.


Zen pun berjalan ke arah gadis yang terus melihatinya dari tadi dan mengucapkan "Aku akan mengatakan ini dengan jelas, berhentilah memalsukan kehidupanmu itu" Ucap Zen yang membuat gadis itu terkejut.


"Apa maksudmu??" Tanya Gadis Itu.


"Ketiga orang yang berada di belakang mu bukanlah keluargamu, melainkan hanya gumpalan sihir yang menyerupai manusia" Ucap Zen.


"Apa maksudmu? Aku sama sekali tidak mengerti" Ujar gadis itu.


Silvia pun mendekati Zen dan bertanya "Apa kamu juga menyadarinya Zen?" Tanya Silvia.


"Ya, aku menyadarinya saat kamu menggunakan sihir penyembuhan, dan mereka selain gadis itu sama sekali tidak mendapatkan efek penyembuhan apapun, karena mereka adalah gumpalan sihir yang tercipta oleh sihir gadis itu tanpa ia sadari" Jelas Zen.


...~Bersambung~...