The World Of Sword And Magic

The World Of Sword And Magic
Eps 59 : The Return Of Siyon Nature



"..." Siyon~


"Dimana ini?" Gumam Siyon sembari bangun dari tidurnya, Siyon kebingungan karena ia berada di suatu tempat yang sangat gelap.


Siyon pun berjalan tak tentu arah di dalam kegelapan.


"Apa ini? kenapa aku tidak menemukan cahaya sedikitpun?, dimana ini?" Bingung Siyon.


"Light!" Siyon menciptakan cahaya berwarna kuning di tangannya.


Ia pun kembali kebingungan.


"Padahal aku sudah menciptakan cahaya, kenapa tetap gelap di sini?" Bingung Siyon.


Tiba tiba sebuah cahaya pun muncul dari kejauhan.


"Cahaya?!" Gumam Siyon terkejut.


Siyon pun langsung berlari kearah cahaya itu.


"Kenapa cahayaku tidak bisa menerangi kegelapan ini?!, kenapa cahaya disana itu bisa!!?" Gumam Siyon kebingungan.


Siyon pun mempercepat larinya ke cahaya itu, saat sudah dekat, Siyon mendengar suara seseorang yang sangat familiar di telinganya.


Siyon pun terus berlari dan mendengar suara tertawa seorang gadis.


"Rara?!" Gumam Siyon terkejut.


"Rara!!" Teriak Siyon.


Gadis itu pun menoleh ke belakang dan Siyon langsung memeluknya.


"Siyon??" Tanya Rara kebingungan.


Siyon pun terus memeluk Rara dengan erat sembari menangis tanpa henti.


"Siyon??" Tanya Rara kebingungan.


"Maafkan aku Rara.." Tangis Siyon.


"Kenapa Siyon??" Tanya Rara.


Siyon pun menatap Rara sembari menangis.


"Kamu baik baik saja??" Tanya Rara.


Siyon masih menangis dan tidak menjawab ucapan Rara.


"Siy-" Tiba tiba Rara di tarik oleh sesuatu yang sangat misterius.


"Rara!!!!" Teriak Siyon panik.


...-Disisi lain-...


"Ha!!!!??" Siyon pun terbangun panik dari tidurnya.


(Hug!)


Tiba tiba seseorang langsung menimpa tubuhnya dan memeluknya dengan erat yang membuat Siyon terkejut.


Ia pun merasakan hangatnya pelukan gadis itu, dan rambutnya yang begitu halus, ternyata gadis itu adalah Rara.


"Rara?" Ucap Siyon.


Rara terus memeluknya dengan erat dan Siyon pun membalas pelukan Rara.


"Rara maafkan aku!.." Ucap Siyon sembari menangis.


...-Disisi lain-...


Zen pun terbangun dari tidurnya.


"Berat!!" Gumam Zen.


"Tubuhku berat sekali!!" Gumam Zen sembari membuka matanya perlahan.


"Apa yang terjadi?" Bingung Zen.


Zen pun terkejut karena Veliona tidur di atas tubuhnya.


"Veliona!?" Gumam Zen panik.


Tiba tiba Veliona pun terbangun dari tidurnya.


"Dia bangun!" Gumam Zen sambil berpura pura tidur.


"Hmm.." Veliona~


Veliona pun bangun perlahan dari tubuh Zen dan mengucek matanya.


Beberapa saat kemudian, Veliona pun bangun dan berjalan ke kamar mandi.


Zen pun langsung bangun dari tidurnya.


"Huh... untung dia tidak menyadarinya" Gumam Zen.


Zen pun melihat sekitarnya dan baru sadar, ia tertidur di ruangan Veliona.


"Kenapa aku bisa tertidur disini??" Gumam Zen kebingungan.


...-Satu hari sebelumnya-...


Zen yang menatap langit pun perlahan mulai merasa ngantuk.


"Zen??" Tanya Veliona kebingungan.


"Eh?? Ah!.." Teriak Veliona.


(Bam)


Zen pun terjatuh dan menimpa tubih Veliona.


"Aduh..." Veliona~


"Zen?!" Teriak Veliona kebingungan karena Zen yang tiba tiba terkapar lemas.


Veliona pun menatap mata Zen, ia pun sadar Zen kurang tidur karena kantong matanya yang menghitam.


"Kamu selalu saja memaksakan diri Zen..." Gumam Veliona sedikit tersenyum.


Veliona pun memangku Zen dan membiarkannya tidur di pangkuannya sambil mengelus kepala Zen.


"Tidur yang nyenyak Zen.." Ucap Veliona sembari mengelus kepala Zen.


Saat kembali, Veliona pun mulai merasa ngantuk dan ia pun tertidur dan secara tidak sengaja ia tidur di atas tubuh Zen.


Tiba tiba Veliona pun muncul di belakang Zen yang sedang sibuk memikirkan apa yang terjadi.


"Apa yang kamu lamunin, Zen?..." Bisik Veliona di telinga Zen dengan nada pelan dan tenang yang membuat Zen terkejut.


"Ve.. Veliona?????" Gugup Zen.


Veliona pun memeluk Zen dari belakang yang membuat Zen semakin gugup.


Zen pun terdiam kaku dan sangat gugup.


"Apa apaan perasaan ini?!" Gumam Zen.


"Sesuatu menekanku!" Gumam Zen karena merasakan sesuatu yang menekannya dari belakang.


"Sudah lupakan!.." Gumam Zen sembari menutup matanya.


Saat ia menutup matanya, ia malah mendapat gambaran dengan sesuatu yang menekannya itu.


"Aku harus gimana??!!" Gumam Zen panik.


"Zen.." Ucap Veliona memanggil Zen.


"Eh, kenapa Veliona?" Tanya Zen.


"Apa kamu akan kembali berpetualang?" Tanya Veliona.


Zen pun terdiam sejenak dan menjawab "Mungkin untuk sekarang, aku tidak akan kemana mana, aku akan melanjutkan petualanganku nanti" Ucap Zen sembari tersenyum.


Veliona pun melepas pelukannya dan berdiri, Veliona pun berjalan di depan Zen dan kembali duduk tepat di depan Zen.


"Kenapa Vel-" Tiba tiba Veliona langsung memeluk Zen dengan erat dan sedikit menangis.


"Kenapa dia menangis? apa aku berbuat salah??" Bingung Zen.


Zen pun membalas pelukan Veliona.


"Maaf Veliona, sepertinya aku membuatmu sedih lagi" Ucap Zen.


Veliona pun menggelengkan kepalanya dan mengucapkan "Tidak, kamu tidak salah.. Aku hanya takut..." Ucap Veliona.


"Kenapa?" Tanya Zen.


Veliona pun melepas pelukannya dan mengatakan "Aku... mulai merasakan keanehan di dalam tubuhku... Hiks.. Hiks..., aku.. tidak ingin mati!!.." Tangis Veliona.


"Apa maksudmu??" Tanya Zen.


"Hiks..."


"Katakan padaku Veliona, kenapa kamu mengucapkan hal itu?" Tanya Zen.


"Sebentar lagi.. aku akan menjadi Vampire yang berdarah murni, dan laki laki itu pasti akan datang untuk menangkapku!.." Ucap Veliona sembari menangis.


Zen pun langsung menarik tangan Veliona dan memeluknya.


(Hug!)


"Aku tidak akan membiarkannya!.." Ucap Zen.


"Aku pasti akan menjagamu Vel!.." Ucap Zen.


Veliona pun kembali menangis dan membalas pelukan Zen dengan erat.


...-Disisi lain-...


"Kenapa kamu minta maaf??" Tanya Rara.


"Aku hanya merasa gagal karena tidak dapat melindungi pacarku sendiri" Ucap Siyon.


"Kamu tidak gagal, buktinya aku masih hidup" Ucap Rara.


"Tapi buktinya Zen yang menyelamatkan kita.. Aku benar benar merasa gagal!.." Jelas Siyon.


Rara pun menggenggam tangan Siyon dan mendekatinya.


"Apa kamu benar benar merasa gagal?" Tanya Rara.


Siyon pun menganggukkan kepalanya perlahan.


"Siyon, sifat kamu yang sekarang sangat tidak cocok denganmu" Gumam Rara.


"Kamu yang dulu adalah orang yang sangat tenang, keren, dan selalu berfikir sebelum bertindak.." Gumam Rara.


"Sifatmu berubah drastis sejak kematian Ryl" Gumam Rara sedikit kesal.


Rara pun mendorong Siyon yang membuatnya kembali tertidur di kasurnya dan Rara pun mendekati wajah Siyon.


Rara pun mencium bibir Siyon.


Beberapa saat kemudian, Rara pun melepas Siyon dan mengucapkan "Apa itu cukup untuk membuatmu kembali Siyon?" Tanya Rara.


Tiba tiba Siyon menarik Rara kembali dan membalas ciumannya.


(Kiss)


Rara yang kaget pun hanya bisa menerima apa yang Siyon lakukan padanya.


(Take off the kiss)


Siyon pun membuat Rara terbaring di kasur dan ia pun menatap Rara.


Wajah Rara seketika memerah.


"Terima kasih Rara, kamu sudah menyadarkanku" Ucap Siyon.


Rara pun tersenyum dan mengucapkan "Itu adalah tugasku, aku pasti akan terus menyadarkanmu di saat kamu sedang berada di titik terendahmu" Ucap Rara.


"Dan kembalilah Siyon, aku sangat mencintai sifatmu yang dulu, jangan berubah!.. apapun yang terjadi janganlah berubah.." Ucap Rara.


Siyon pun akhirnya sadar dengan perubahannya.


"Maaf.." Ucap Siyon.


Rara pun tersenyum dan mengucapkan "Selamat datang kembali.." Ucap Rara.


Siyon yang mendengarnya pun merasa bahagia dan menjawab "Aku kembali.."


...~Bersambung~...