
...Eps 146 : World Chaos And Interconnected Dimensions...
...(Kekacauan Dunia Dan Terhubungnya Berbagai Dimensi)...
Zen pun terlihat sangat menyeramkan seperti sesosok monster yang melebihi Iblis, bahkan auranya bergelonjak sangat kuat, aura yang sangat sangat mengancam bahkan hanya dengan hawa keberadaannya saja sudah membuat semua orang merasa sangat sangat ketakutan.
...-Disisi Lain-...
Koruga pun bertarung sengit melawan pria misterius yakni Zen dari masa depan dengan dimensi yang berbeda dari Zen, Koruga pun baru pertama kali merasakan pertarungan yang membuatnya begitu serius sampai sampai keadaan alam hancur berantakan di buat mereka berdua.
(Krkkrkrkrk!!!)
(Krrraaaakkkk!!!!)
Permukaan tanah pun mengeluarkan banyak sekali tulang belulang yang menjalar sangat panjang dan besar.
"Tehirira No Ne"
...•...
...テ...
...ヒ...
...リ...
...ラ...
...の...
...根...
...•...
...(Akar Tehirira)...
Tiba tiba akar aura kegelapan pun muncul dari permukaan tanah yang langsung merusak tulang belulang yang menusuk ke segala arah, aura akar aura kegelapan itu seperti akar pohon yang berada di alam neraka bawah, tempat dimana Koruga bertarung melawan Cerberus dan Code sebelum ia menjadi leluhur Iblis, terdapat sebuah pohon besar berwarna hitam yang memiliki buah seperti apel tetapi berwarna hitam, rumor dongeng mengatakan jika seseorang memakan buah itu, akan mendapatkan kekuatan yang sangat luar biasa, tetapi dapat menyebabkan kematian, akar dari pohon tersebut juga menghisap semua jenis sumber daya kehidupan yang bersentuhan dengannya kecuali tanah neraka itu sendiri.
(Krkkk!!!!!!)
(Tas!!!!!!)
(Krakkk!!!)
Duri tulang belulang itu pun pecah karena lilitan akar tersebut yang sangat kuat, pertarungan pun berlangsung sangat sengit, gunung hancur, sungai yang terhempas pecah, langit yang terbelah belah dan juga meteor yang jatuh dimana mana.
...-Disisi Lain-...
Di daerah Asuka dan yang lainnya sangat beruntung, karena tidak terkena dampak dari pertarungan Koruga sedikitpun, karena pertarungan Koruga yang sangat jauh dari tempat itu.
Walau begitu, mereka masih harus menghadapi malapetaka yaitu Zen yang kehilangan jati dirinya.
Zen pun mengangkat tangan kanannya, perlahan serpihan serpihan berwarna putih pun terkumpul di tangan kanan Zen yang membentuk pedang, pedang yang terbuat dari tulang belulang dan aura yang sangat kuat pun tepat berada di tangan Zen, senjata yang tak pernah di ketahui dunia dan juga belum ditemukan dari zaman legenda.
Zen pun mengayunkan pedangnya ke permukaan, Asuka yang memiliki firasat buruk pun langsung menarik Rio menjauh dari Zen dan di saat yang bersamaan duri tulang belulang pun muncul dari permukaan yang langsung mengarah ke Rio dan yang lainnya.
(Krkrkrkrrkk!!!!)
"Apa apaan itu!!?!!" Panik Asuka sangat terkejut karena ia baru pertama kali melihat duri tulang belulang seperti itu.
Duri itu pun menjalar dengan sangat cepat ke arah Asuka dan Rio, tepat sebelum Duri tersebut mengenai mereka, tiba tiba kilatan merah membara langsung melewati mereka semua dan menghantam tulang belulang itu.
(Buaaaarrrr!!!!!!!!!!!!)
Ledakan pun tercipta, Asuka dan Rio pun terselamatkan karena Duri duri yang berhenti menjalar ke arah mereka.
Saat kabut asap menghilang, terlihat seorang gadis berambut merah berdiri di depan mereka semua, mereka semua pun terkejut karena gadis itu mirip dengan sayu, yang membedakannya hanyalah gadis itu memiliki telinga seperti elf karena ia adalah ras naga dari masa depan yang ikut bersemayam di tubuh Zen.
"Sayu?!" Gumam Rio menatap gadis itu sangat terkejut.
Gadis itu pun kembali mengayunkan pedangnya yang cukup besar itu dengan kedua tangannya, ia menghantam permukaan dan ledakan kembali tercipta, tetapi ledakan itu menjalar ke arah Zen seperti ranjau darat yang tertanam lalu di injak.
(Bam!!! boommm!! baamm!!! duarr!!!)
Ledakan itu pun menghantam Zen, tetapi tidak berefek sedikitpun karena Zen yang di lindungi tulang belulang yang kembali muncul dari permukaan tanah.
"Apa apaan ini?! dari semua dimensi, dimensi inilah yang paling aneh!!" Gumam gadis itu sangat terkejut.
"Bagaimana bisa ini terjadi?!, dari semua dimensi yang aku lalui, kak Zen selalu berhasil menyelamatkan kak Veliona!, tetapi ada apa ini?!" Gumam panik gadis itu.
"Terlebih lagi bagaimana dia bisa kesini?!!!, apa tujuannya kesini?!!" Gumam panik gadis itu dan langsung teringat dengan pria yang sedang bertarung dengan Koruga.
Tiba tiba tulang dinding yang melindungi Zen pun mengeluarkan tulang lainnya dan langsung menembak ke arah gadis itu seperti peluru.
Gadis itu pun menarik nafas dalam dan menghembuskannya "Teknik pedang api aliran kedelapan!!"
(Slash!! Slash!!! Slash!!!! Slash!! Slash!! Slash! Slash!! Slash!!!! Slash!! Slash!! Slash!!! Slash!!! Slash!!!!! Slash! Slash! Slash!! Slash!!! Slash!!? Slash!!!! Slash!!!)
(Slash!! Slash!!! Slash!!!! Slash!! Slash!! Slash! Slash!! Slash!!!! Slash!! Slash!! Slash!!! Slash!!! Slash!!!!! Slash! Slash! Slash!! Slash!!! Slash!!? Slash!!!! Slash!!!)
"Gh!!!"
(Slash!! Slash!!! Slash!!!! Slash!! Slash!! Slash! Slash!! Slash!!!! Slash!! Slash!! Slash!!! Slash!!! Slash!!!!! Slash! Slash! Slash!! Slash!!! Slash!!? Slash!!!! Slash!!!)
"Hanabi No Michi!!"
...•...
...花...
...火...
...の...
...道...
...•...
...(Lintasan Bunga Api)...
Semua duri duri itu pun berhasil di tepis oleh gadis itu dengan sangat cepat, tebasan gadis itu juga menyisakan bunga bunga sakura merah api yang seperti selendang memanjang mengikuti tebasan gadis itu.
Gadis itu pun mengangkat tangannya dan langsung mengerarahkannya ke arah Zen, di saat yang bersamaan seluruh bunga sakura api itu langsung mengarah ke Zen dan menghantam nya hingga menciptakan ledakan dasyat.
(Brrruaaaaaarrrr!!!!!!!!!)
Ledakan dasyat itu pun membakar hutan di sekitarnya, karena panas api itu sangat kuat, pohon pohon pun hanya seperti kertas di buatnya, walau begitu, ledakan tersebut tidak berefek sedikitpun ke dinding tulang yang melindungi Zen.
"Keras sekali!" Gumam kesal gadis itu.
Tiba tiba dinding tulang milik Zen langsung berubah bentuk menjalar seperti akar dan langsung mengarah ke gadis itu dengan cepat.
(Slash!! Slash!!! Slash!!! Slash!!!)
Gadis itu pun berhasil menepis tulang tulang itu menggunakan pedangnya yang membuat Rio dan yang lainnya terkagum.
"Hebat sekali!" Gumam Rio melihat gadis itu dan melirik ke Zen.
Gadis itu yang menyadari tatapan mata pun langsung menoleh ke belakang dan melihat Rio yang menatap Zen.
"Bodoh!!! tutup mata kalian jangan tatap matanya!!!" Teriak gadis itu.
Asuka yang menyadarinya pun langsung berteriak ke belakang "Jangan tatap mata Zen!! apapun yang terjadi jangan tatap matanya!!" Teriak Asuka.
Tetapi Rio menatap mata Zen tepat di mata kanannya dan tiba tiba.
(Srkkk srakkk!!!!!)
"Uhuk?!"
Tiba tiba tubuh Rio pun tertusuk oleh banyak tulang yang menembus tubuh, lengan, dan kakinya.
"Agh?!!!" Asuka yang berada di dekat Rio pun terkena sedikit dampaknya, ia menerima beberapa luka tusukan kecil dari tulang tulang yang tajam itu.
"Bodoh!!" Kesal gadis itu, dan secara tidak sengaja gadis itu malah menatap mata kiri Zen yang berwarna hitam itu.
(Dug!)
Seketika gadis itu pun merasakan kesunyian yang luar biasa, rasa dada yang sangat perih, suram, sedih, sakit seketika ia rasakan dari detik itu juga, kehampaan yang membuat tatapan matanya seketika kosong dan langsung menjadi putus asa.
Gadis itu pun terjatuh terduduk lemas dan airmata yang mengalir di pipinya.
"Ke.. na... pa..." Ucap lemas dah putus asa gadis itu.
Di saat yang bersamaan Zen perlahan mengangkat tangannya ke atas dan seketika tulang belulang keluar dari permukaan tanah dan memanjang ke atas langit, tidak hanya itu, dua puluh tombak merah darah dan dua belas tombak tulang pun tercipta hanya dalam satu detik, tulang yang menjalar ke langit itu pun menyatu membentuk kepala tombak tajam dan langsung mengarah ke mereka semua saat Zen menurunkan tangannya.
"Apa yang harus ku lakukan?!!" Panik Asuka.
Waktu seakan akan terhenti seakan akan kematian sudah di depan mata, mereka semua pun terlihat tak berdaya, bahkan tidak dapat mengambil keputusan dalam kegentingan itu, dalam kegentingan itu tiba tiba sebuah portal muncul di depan Asuka dan Rio.
Seorang pria berambut biru muda sedikit keputihan, mengenakan jaket berwarna biru muda dan salju yang melayang di sekitar dirinya, serta pupil matanya yang berbentuk salju berwarna biru tua bercampur ungu seperti kristal pun tiba tiba saja keluar dari portal tersebut.
Saat ia menginjakkan kakinya di permukaan, dinding es yang sangat besar dan sangat tebal langsung muncul di depannya menahan semua serangan yang mengarah ke Asuka dan yang lainnya.
Asuka pun sangat terkejut, karena tiba tiba saja muncul portal di depannya dan sosok pria yang belum ia kenali muncul di hadapannya selain gadis itu.
Portal pun tertutup dan di saat yang bersamaan Ice Zen pun bertanya kepada Asuka dan yang lainnya "Apa yang terjadi di sini?..." Tanya Ice Zen dengan sangat santai.
...~Bersambung~...