The World Of Sword And Magic

The World Of Sword And Magic
Eps 83 : New Queen



Pagi hari pun tiba, Zen pun terbangun dari tidurnya, ia berapa tepat di atas pohon yang besar.


Zen pun melihat ke arah kiri, dan terlihat akademi Arsenal dari kejauhan.


"Sepertinya sudah saatnya aku mencarinya" Ucap Zen sembari bangun dan melompat dari atas pohon.


Saat melompat, ia sempat melihat ke arah danau yang tidak cukup jauh darinya, ia pun memutuskan untuk pergi ke danau itu dan mandi di sana.


(Tek..)


"Swift" Zen pun bergerak dengan sangat cepat ke arah danau itu.


(Swof!!!)


Tak memerlukan waktu lama, Zen pun sampai di danau itu, Zen pun mendekati pinggiran danau dan melihat air danau itu.


Saat melihat air danau itu, ia pun sangat terkejut karena penampilannya yang tiba tiba berubah drastis.


"Apa yang terjadi? rambutku jadi panjang sekali" Ucap Zen terkejut.


"Crate (Mirror)" Zen pun menciptakan sebuah cermin yang cukup besar dan kembali terkejut melihat dirinya yang berubah.


"Rambutku menjadi panjang, tubuhku sedikit lebih besar dari sebelumnya dan banyak sekali luka, benar benar luka yang sama persis saat aku berlatih dengan para pahlawan" Gumam Zen sedikit terkejut.


"Aku berubah dalam waktu yang sangat singkat" Gumam Zen.


"Huh.. Sepertinya aku harus merapikan diriku dulu" Gumam Zen.


...-Disisi lain-...


Seseorang dengan zirah yang terlihat berat dan terus membara oleh api berwarna biru berserta pedang besarnya yang membara terbakar oleh api biru pun terlihat sedang berjalan memasuki gerbang akademi.


Saat ia akan masuk, ia pun di hadang oleh penjaga gerbang akademi.


"Berhenti" Perintah penjaga itu.


"Aku tidak ada urusan dengan kalian, jadi menyingkirlah" Ucap Pria itu sembari berjalan masuk kedalam akademi.


"Hei berhen-" Sebelum penjaga itu penyelesaikan ucapannya, ia terlebih dahulu di buat pingsan oleh pria misterius itu.


Pria misterius itu pun berjalan ke arah ruangan istirahat dimana Veliona berada.


...-Disisi lain-...


"Veliona, apa yang kamu rasakan sekarang?" Tanya Raft.


"Aku baik baik saja, terima kasih kalian semua sudag datang menjengukku" Ucap Veliona.


"Aku benar benar tidak berguna saat itu" Ucap Siyon sembari mengingat dimana saat ia ingin menyerang Ren, tetapi ia malah menjadi beban.


"Sudah Siyon, jangan mengatakan hal seperti itu lagi, di bandingkan dirimu, aku lebih memalukan, aku pingsan karena tidak kuat menahan Aura yang sangat mematikan itu" Ucap Rio.


"Veliona, apa aku boleh bertanya sesuatu?" Tanya Fallen.


"Apa yang ingin kamu tanyakan Fallen?" Tanya Veliona.


Saat Fallen akan bertanya, tiba tiba mereka semua merasakan hawa kehadiran yang menyeramkan sedang mendekat.


"Hawa keberadaan macam apa ini?!" Panik Raft.


"Oi Siyon! Raft!" Ucap Rio.


"Ya, kami tau itu" Serentak mereka berdua.


Siyon dan Raft pun langsung bangun, dan mereka bertiga pun keluar dari ruangan.


Saat mereka membuka pintu terlihat sosok pria misterius itu sedang berjalan mendekati mereka.


Mereka yang merasa pria itu mencurigakan pun langsung menyerangnya.


"Lightning!" Siyon bergerak dengan sangat cepat dan mengayunkan katana miliknya.


(Slash!!!)


(Ting!!!)


Siyon pun terkejut karena pria itu menahan serangannya menggunakan tangannya yang di lapisi oleh baju zirah miliknya.


"Siapa dia?!, dia terbakar oleh api?! dan juga bagaimana bisa dia bisa bertahan dari api biru yang terus membakarnya?!" Gumam Rio kebingungan.


"Thunder!!!" Sambaran petir pun menghantam pria itu dengan sangat keras.


(Thar!!!!!)


Fallen, Rias, Ayani, Sayu, Endo dan Rara pun langsung keluar melihat apa yang terjadi.


(Bff!!!)


"Apa?!" Gumam Siyon.


Siyon pun sangat terkejut karena pria itu masih bertahan saat menerima sambaran petir yang kuat itu, bahkan ia tidak melepas genggamannya dan api di tubuhnya menjadi sangat membara.


Pria itu pun melempar Siyon ke arah Rio dan Raft.


"Swift!" Raft bergerak dengan sangat cepat dan mengayunkan katana miliknya disusul munculnya Ayani yang juga sudah siap menyerang.


"Fire!!-," Raft~


"Fire!!-," Ayani~


(Slash! Slash!!)


"Fire strike!!!," Raft~


"Fire spiral!!!," Ayani~


Dua serangan itu pun bersatu dan menciptakan serangan api yang sangat besar dan cukup mematikan.


Pria itu pun mengambil pedangnya yang membara oleh api itu dan menghantam serangan Ayani dan Raft.


(Slash!!)


(Bom!!!!!)


Ledakan pun terjadi, tetapi ledakan seketika menghilang seakan akan di makan habis oleh api biru yang membara.


"Apa?!" Raft pun sangat tidak percaya melihat apa yang terjadi.


Pria itu pun kembali berjalan ke arah Veliona dengan santai.


Saat Siyon dan yang lainnya ingin menghalanginya, tiba tiba Aura yang sangat mengancam menghantam mereka yang membuat mereka semua seketika terkapar di permukaan.


"Apa apaan ini!!?!!" Panik Raft.


"Sialan!!!!" Kesal Siyon.


Pria itu terus berjalan mendekati Veliona, Veliona yang menyadarinya pun turun dari kasurnya.


"C'Schyte" Veliona pun menciptakan senjatanya, dan bersiap menyerang.


Mereka berdua pun saling mendekati, saat sudah sangat dekat, pria itu pun berhenti dan menunduk.


Seketika semuanya pun kebingungan.


"Ratu?" Bingung Veliona.


"Nama saya Yoe, aku adalah Blue Hellhound yang mengabdi kepada ratu Vampire, Lucia, kamu adalah penerus lucia, kamu akan menjadi ratu Vampire" Jelas pria itu.


Veliona pun dengan sangat mudah memahami situasi berbeda dengan yang lainnya, mereka terus kebingungan dan memikirkan apa maksud dari ucapan Yoe, karena mereka tidak mengetahui jika Veliona adalah calon ratu Vampire.


"Jadi kenapa kamu kesini? Ada perlu apa?" Tanya Veliona.


Yoe pun memberikan sebuah gelang berwarna biru yang terus terbakar oleh api berwarna biru kepada Veliona.


"Mohon gunakan ini ratuku, gelang ini berfungsi agar aku dapat mengetahui kondisi dan lokasi ratu, jika ratu sedang dalam bahaya, aku pasti akan segera menolong ratu, itu adalah sumpahku yang pernah ku ucapkan kepada Lucia dan akan tetap berlaku kepada semua ratu Vampire turunannya" Ucap Yoe sembari memberikan gelang itu kepada Veliona.


Saat Veliona ingin mengambil gelang itu, tiba tiba seseorang pun berteriak dengan sangat keras.


"Ah!!!!!!!!, Zombie!!!!!" Panik seorang gadis.


"Zombie?!" Gumam Veliona terkejut.


Yoe yang mendengar teriakan gadis itu pun langsung memberikan gelang tersebut kepada Veliona.


"Maaf ratu, sepertinya aku harus kembali" Ucap Yoe.


Yoe pun berjalan dengan santai ke bawah, di susul dengan tekanannya yang sudah mulai memudar.


"Mau kemana dia?" Gumam Siyon kebingungan.


Siyon yang penasaran pun langsung mengejar Yoe, saat ia keluar, ia pun terkejut melihat banyak sekali Zombie yang berada di luar.


"Apa apaan ini!?!" Gumam Siyon terkejut dan tidak percaya.


Veliona dan yang lainnya pun ikut turun menyusul Siyon dan sangat terkejut melihat kondisi di luar.


"Lihat itu!" Ucap Uika sembari menunjuk ke arah Yoe yang sedang berjalan mendekati gerombolan Zombie.


"Hoi apa yang akan kau lakukan?!!, di sana sangat berbahaya!" Teriak Rio.


Tetapi Yoe tidak memperdulikan ucapan Rio dan terus mendekati gerombolan Zombie itu.


Para Zombie yang mendeteksi energi sihir milik Yoe pun langsung menyerangnya.


Yoe yang melihat para Zombie akan menyerangnya pun mengambil pedangnya, saat Yoe mengambil pedangnya seketika api biru yang sangat besar membakar dirinya di susul dengan awan yang seketika menggelap.


"Kemarilah kalian semua" Ucap Yoe.


Yoe pun langsung terbang ke arah para Zombie dan menyerang mereka semua.


(Slash! slash! slash!! slash!! slash! slash! slash!!! slash!! slash!!! Slash! slash! slash!! slash!! slash! slash! slash!!! slash!! slash!!!)


Yoe dengan sangat cepat menebas semua Zombie itu yang membuat Siyon dan yang lainnya kembali terkejut.


"Kecepatan macam apa itu?!" Ucap Siyon tidak percaya.


"Kecepatan?" Gumam Veliona kebingungan, karena ia melihat Yoe bergerak dengan lambat.


"Mereka semua terlihat lambat sekali" Gumam Veliona.


"C'A Schyte" Veliona~


(Thar!!!)


Tiba tiba halilintar pun menyambar dimana mana, Yoe pun terkejut kebingungan kenapa bisa ada halilintar yang menyambar dimana mana.


"Hei Siyon apa yang kau lakukan?" Tanya Rio.


"Ha? Aku? Apa maksudmu?" Tanya Siyon kebingungan.


"Halilintar menyambar dimana mana, itu bukan ulahmu?" Tanya Raft.


"Aku tidak melakukan apapun" Ucap Siyon.


Tiba tiba sebuah sabit berwarna merah darah muncul tepat di hadapan Veliona.


(Swof!!!!)


Angin yang sangat kencang pun menghantam mereka semua.


"Apa yang terjadi!?!" Gumam Raft sembari menutupi matanya.


(Slash! slash! slash!! slash!! slash! slash! slash!!! slash!! slash!!! slash! slash! slash!! slash!! slash! slash! slash!!! slash!! slash!!! slash! slash! slash!! slash!! slash! slash! slash!!! slash!! slash!!!)


Yoe pun terkejut karena tiba tiba ada kilatan merah yang dengan cepat membunuh para Zombie dengan sangat cepat.


"Lambat sekali" Ucap Veliona sembari menebas para Zombie itu.


(Slash! slash! slash!! slash!! slash! slash! slash!!! slash!! slash!!! slash! slash! slash!! slash!! slash! slash! slash!!! slash!! slash!!!)


"Blood Execution" Veliona pun mengayunkan sabitnya dan menciptakan gelombang berwarna merah darah yang sangat besar dan menghantam para Zombie.


"Aaaahh!!!!!" Para Zombie pun berteriak kesakitan, dan perlahan musnah walau hanya terkena luka gores dari gelombang itu.


"Hebat!" Gumam Yoe.


"Apa ini, aku merasakan kekuatanku yang sangat meningkat" Gumam Veliona.


(Srk!!)


"Agh!!" Tiba tiba lengan kanan Veliona mengeluarkan darah karena fisiknya yang tidak mampu mengimbangi kekuatannya.


"Veliona!" Teriak Fallen dari kejauhan sembari menghampirinya.


"Apa ini" Gumam Veliona.


"Kepalaku pusing sekal..." Veliona pun terjatuh pingsan dan tak sadarkan diri.


"Veliona!!" Teriak Fallen.


Yoe pun menangkap Veliona dan terkejut melihat hidung Veliona yang mengeluarkan darah.


"Dia menggunakan darah untuk menciptakan serangan" Gumam Yoe terkejut.


...-Disisi lain-...


Zen pun akhirnya selesai membersihkan dirinya.


"Baiklah sepertinya sudah" Gumam Zen


Zen pun mengambil tas perlengkapannya, saat ia mengambilnya, ia melihat sarung belati miliknya yang telah hancur.


Zen pun mengambilnya dan tersenyum.


"Terima kasih sudah menemaniku selama ini, selamat beristirahat" Ucap Zen.


Zen pun meletakkan sarung belati itu di bawah pohon dan mulai berjalan ke arah Utara.


...~Bersambung~...