The World Of Sword And Magic

The World Of Sword And Magic
Eps 33 : Decision



Dua hari pun berlalu, Zen pun telah kembali normal dan sudah merelakan Ice Zen, karena ia sadar, jika ia terus terusan bersedih, dia tidak akan bisa mengalahkan Koruga yang telah membunuh Ice Zen.


Zen yang sedang duduk di ruang tamu pun memikirkan bagaimana caranya untuk meningkatkan kekuatannya, Zen pun mengingat semua cerita Ice Zen yang pernah ia ceritakan, saat sedang termenung Zen pun mengingat sesuatu.


(Flashback)


"Apa kamu juga bersekolah di akademi Arsenal Zen?" Tanya Zen.


Ice Zen pun menggelengkan kepalanya sambil mengucapkan "Tidak, aku tidak bersekolah di akademi Arsenal" Ucap Ice Zen.


Zen yang mendengarnya pun sedikit terkejut dan kebingungan, karena alur hidupnya dengan Ice Zen tidak sama.


Zen pun bertanya "Apa ayah dan ibumu masih hidup?" Tanya Zen.


Ice Zen pun menjawab "Iya mereka masih hidup, hanya akulah yang mati" Ucap Ice Zen.


"Begitukah.." Ucap Zen


Zen pun mengingat ia pernah basa basi untuk mengalihkan perhatian Ice Zen dengan menanyakan Ibu dan Ayahnya saat pertama kali mereka bertemu.


Zen pun kembali bertanya "Jika kamu tidak sekolah di akademi Arsenal, kamu bersekolah dimana?" Tanya Zen.


"Aku bersekolah di akademi Blue Ring" Ucap Ice Zen.


Zen pun kebingungan karena ia pikir hanya ada lima akademi, tetapi ia salah, ternyata masih banyak akademi lain di luar sana.


Saat Zen sedang merenung masa lalunya bersama Ice Zen, tiba tiba Sayu memanggilnya.


"Kak Zen!!" Teriak Sayu dari alam bawah sadar Zen.


"Kenapa Sayu?" Gumam Zen.


"Coba kakak lihat kekuatan baru kakak yang di berikan olehnya" Ucap Sayu.


Zen pun kebingungan dan bertanya "Apa maksudnya Sayu?" Bingung Zen.


Sayu pun menjelaskan bahwa waktu itu sebelum Ice Zen menghembuskan nafas terakhirnya, Ice Zen memberikan inti sihir dan core sihir kepada Zen.


Zen pun baru ingat dengan hal itu, tetapi ia penasaran kenapa Sayu bisa mengetahuinya.


"Bagaimana kamu bisa tau Sayu?" Gumam Zen kebingungan.


"Waktu itu aku melihat kalian lewat cermin yang kakak berikan" Jelas Sayu.


Zen pun baru ingat ia pernah memberikan cermin sihir kepada Sayu yang dapat melihat kegiatannya dari jauh.


"Baiklah Sayu, berikan aku sedikit waktu" Gumam Zen.


"Baik kak.." Ujar Sayu.


Zen pun menutup matanya dan mencoba mencari inti sihir yang sempat diberikan Ice Zen kepadanya.


Zen pun perlahan menemukan cahaya biru dan ia mendekatinya, ia pun menyentuh cahaya tersebut dan cahaya itu seketika bersinar sangat terang.


"Akh!!!" Zen pun menutup matanya.


Beberapa saat kemudian, cahaya itu pun mulai memudar dan muncul inti sihir yang pernah diberikan Ice Zen kepadanya, Zen pun mengambil inti sihir itu dan memasukkannya kedalam tubuhnya.


Zen pun membuka matanya dan ia merasakan kekuatannya yang meningkat, Zen pun mencoba untuk menciptakan bola es di tangannya.


"Ice ball" Perlahan bola es pun muncul di tangan Zen.


Zen pun kembali murung karena mengingat Ice Zen yang sangat mahir dalam elemen es.


(Plak!)


Zen memukul wajahnya sendiri sambil mengucapkan "Sadar! dia sudah ga ada!.." Ucap Zen sambil menggelengkan kepalanya.


"Baiklah!.." Zen pun mulai mempelajari cara menggunakan elemen es.


Beberapa jam kemudian ia pun masih kesulitan untuk menguasai kekuatan barunya, karena ia masih belum terbiasa, terlebih lagi saat ia menggunakan inti sihir milik Ice Zen, tubuhnya terasa dingin setiap kali ia menciptakan sihir elemen es.


Zen yang sudah kelelahan pun memutuskan untuk menjenguk Veliona di ruang perawatan, ia pun keluar dari ruangannya.


Zen pun keluar dari asrama dan menuju ruangan pemimpin akademi, sesampainya di ruangan pemimpin, Zen pun mengetuk pintunya.


(Knock! knock! knock!)


"Silahkan masuk!" Ucap Haxor.


Zen pun membuka pintu ruangan.


"Zen ternyata, kenapa Zen?" Tanya Haxor.


Zen pun berjalan perlahan mendekati Haxor sambil bertanya "Kak Haxor, apa aku bisa berhenti dari sekolah dari akademi ini?" Tanya Zen.


Haxor pun kembali bertanya "Kenapa kamu ingin berhenti?" Tanya Haxor.


"Aku ingin berpetualang dan melatih diriku, aku ingin lebih mandiri dan bisa menjadi lebih kuat, karena aku merasa suatu saat nanti akan ada hal buruk yang terjadi, jadi aku harus lebih kuat untuk melindungi sesuatu yang berharga bagiku" Ucap Zen.


Haxor pun bertanya "Jika kamu memang ingin menjadi petualang, aku tidak melarang tetapi kenapa kamu harus berhenti sekolah di akademi ini?" Tanya Haxor.


Zen pun menjawab "Aku tidak tau aku akan berpetualang selama apa, kemana dan apa yang akan terjadi padaku nanti, jadi aku lebih baik berhenti sekolah di akademi dari pada aku membebani akademi jika terjadi hal buruk kepadaku" Ucap Zen.


Haxor pun terdiam sejenak.


"Baiklah, jika kamu membutuhkan sesuatu, kembalilah kesini, aku pasti akan membantumu" Ucap Haxor.


Zen pun menundukkan kepalanya sembari mengucapkan "Terima kasih Pemimpin!" Zen pun membuka pintu dan keluar dari ruangan pemimpin.


Zen yang sudah keluar dari ruangan pemimpin pun langsung berjalan ke ruangan perawatan, ia memutuskan untuk memberi tau Veliona jika ia ingin pergi dari akademi Arsenal.


Sesampainya di ruangan perawatan, Zen pun bertanya kepada perawat yang ada di sana "Kak, ruangan Veliona nomor berapa ya?" Tanya Zen.


Perawat tersebut pun menjawab "Oh.. Kamar Veliona itu nomor 20 dan berada di lantai 2" Ucapnya dengan ramah.


Zen pun langsung naik ke lantai 2 dan mencari ruangan nomor 20, saat ia menemukan ruangannya, ia pun memasukinya dan melihat Veliona yang sedang tertidur.


Zen yang awalnya berniat memberi tau Veliona secara langsung pun mengurungkan niatnya, karena Zen tau pasti Veliona tidak ingin dirinya pergi meninggalkan akademi.


Zen yang kebetulan melihat ada sebuah kertas di meja pun mengambilnya dan mencari sebuah pulpen, Zen pun menemukan pulpen yang ia cari dan menulis surat.


(Isi surat)


Veliona, aku ingin minta maaf terlebih dahulu, karena aku tidak memberi tau kamu secara langsung jika aku berhenti sekolah di akademi ini, aku berhenti bukan tanpa alasan, aku akan berpetualang dan melatih diriku. tetapi suatu hari nanti aku pasti akan kembali ke akademi dan menemuimu, jadi janganlah bersedih, tunggulah hingga aku kembali.


Zen~


Zen meletakkan kertas surat tersebut di samping Veliona dan ia pun kembali ke asrama dan mempersiapkan semua perbekalannya.


...-Time skip-...


"Baiklah sudah siap" Ucap Zen.


Zen pun merangkul tas yang berisi perbekalannya dan ia pun berjalan menuju pintu keluar, Zen pun berjalan keluar ruangannya dan menutup pintu ruangannya.


Zen pun merasa ragu untuk meninggalkan akademi karena ia ingin menghabiskan waktunya bersama Veliona dan yang lainnya.


Tetapi Zen juga berfikir jika ia menetap di akademi, ia tidak akan bisa melindungi teman temannya di saat mereka dalam bahaya, karena ia merasa ia masih belum cukup kuat.


(Plak!)


Zen kembali menampar pipinya agar sadar dari keraguannya, setelah ia sadar, ia pun keluar dari asrama dan mengendap endap menuju gerbang akademi agar tidak di lihat oleh murid yang lainnya dan akhirnya ia pun sampai di gerbang akademi.


"Huh.." Zen pun mengatur nafasnya dan menghilangkan keraguannya.


"Baiklah!" Ucap Zen sambil melangkah keluar gerbang.


"Aku harus menjadi lebih kuat!" Gumam Zen.


Zen pun meninggalkan akademi Arsenal dan perjalanan barunya pun dimulai.


...~Bersambung~...