
...Eps : 149 : Second Chance...
...(Kesempatan Kedua)...
Terlihat Zen yang sedang duduk dengan tatapan kosong di depan teman temannya, walau sudah di panggil berkali kali, Zen tetap tidak merespon sedikitpun, terlihat ia benar benar putus asa karena hal yang terjadi sebelumnya, ia berfikir jika sekarang Veliona sudah tidak ada lagi di dunia.
"Zen?.." Asuka pun perlahan mendekati Zen karena khawatir dengannya.
Tetapi tiba tiba seekor kucing berwarna biru masuk ke dalam rumah pohon milik Silvia, mereka yang melihatnya pun sedikit terkejut karena kucing tersebut yang terlihat cantik dan juga ia tidak mengeong sedikitpun.
"Kucing?" Bingung Asuka.
Tiba tiba cahaya biru pun terpancar dari tubuh kucing itu yang membutakan mereka semua.
"Agh!!" Asuka pun menutup matanya menggunakan tangannya karena cahaya biru yang sangat silau itu.
Sosok kucing tersebut pun berubah menjadi seorang gadis cantik yang mengenakan celana pendek di atas lutut, pakaiannya yang begitu klasik pakaian berwarna biru dengan corak garis hitam dan lengannya yang tidak begitu panjang seperti baju santai.
Mereka pun seketika sangat terkejut saat melihat sosok gadis itu dan kebingungan karena gadis itu belum pernah mereka temui sekalipun dan mereka pun langsung siaga karena takut jika gadis itu akan melakukan penyerangan.
Saat Asuka dan yang lainnya menciptakan senjata mereka, gadis itu pun membuka matanya perlahan, mata kucing berwarna putih dengan pupil mata berwarna biru terang pun membuat mereka terkejut, karena mereka berfikir jika gadis itu adalah Iblis.
Tiba tiba api biru muncul membakar seluruh rumah pohon sihir milik Silvia dan bahkan mereka pun ikut terbakar habis di sana dalam waktu yang sangat singkat.
Tetapi semua itu hanyalah ilusi yang di ciptakan gadis itu, saat ia membuka matanya dan saat Asuka dan yang lainnya menatap matanya, mereka sudah berada di dalam pengaruh teknik mata gadis itu yang membuat mereka perlahan tak sadarkan diri dan pingsan.
Gadis itu pun berjalan dengan santai ke arah Zen, entah apa tujuannya tetapi ia seperti tidak berniat membunuh Zen, walau begitu asal usul gadis itu masih belum di ketahui, tetapi seakan akan gadis itu sudah mengenal Zen sampai sampai ia mencari Zen di tempat itu.
Gadis itu pun menatap mata Zen yang begitu hampa, ia menatap mata Zen, ia duduk di sebelah Zen dan memanggilnya.
"Bangunlah.. Masih ada yang perlu kita lakukan Zen.., aku tidak ingin melihatmu berubah" Ucap gadis itu sembari mengusap pipi Zen.
Tetapi Zen tidak bereaksi sedikitpun, gadis itu pun menutup matanya berniat memasuki alam bawah sadar Zen, gadis itu pun membuka matanya dan terlihat di dalam alam bawah sadar Zen yang sangat sangat gelap, hanya terlihat sebuah cahaya merah yang menyinari Zen dari atas.
Gadis itu pun berjalan mendekati Zen, walau aura yang berada di dalam alam bawah sadar Zen sangat menyeramkan, tetapi gadis itu tidak merasakan apapun, bahkan ia tidak merasakan takut sedikitpun, yang ia rasakan hanyalah rasa rindu dan sedih yang begitu kuat.
Zen pun terlihat meringkuk dengan tatapan kosongnya, perasaan hampa dan putus asa.
Ia pun menerima luka gores yang cukup banyak, seakan akan itu adalah peringatan dari Zen untuk tidak mendekatinya, walau begitu gadis itu hanya tersenyum dan memeluk Zen sembari mengucapkan "Tidak apa apa.. Semuanya baik baik saja..., Valine memutar waktu kembali dan Veliona masih hidup sekarang.." Ucap gadis itu yang membuat Zen sedikit bereaksi.
"Mungkin kamu tidak mengenaliku Zen.. Tetapi nanti kamu akan mengetahui siapa aku sebenarnya.. Untuk sekarang.. Kamu harus bangun.. Jika tidak hal yang sama akan terulang untuk kedua kalinya, ini adalah kesempatan paling berharga untukmu bukan? Kamu ingin Veliona terselamatkan bukan?.. Maka bangunlah.." Ucap gadis itu memeluk Zen dengan erat.
"Ve.. li.. o.. na.." Ucap Zen yang mulai sadar dari keputusasaannya.
Gadis itu pun melepas pelukannya sembari mengucapkan "Selamatkan Veliona Zen.. Kami tidak ingin melihatmu berubah seperti itu.." Ucap gadis itu sembari mencium bibir Zen dan kembali memeluknya.
Perlahan tubuh gadis itu pun musnah, Zen yang perlahan sadar dari kehampaannya dan ingatannya yang mulai kembali, ia perlahan mengingat kematian Veliona tepat di depan matanya, tetapi ia juga sekilas mendengar suara yang mengatakan jika Veliona masih hidup yang membuatnya memiliki harapan untuk menuntaskan janjinya dan memperbaiki kesalahannya.
...-Disisi Lain-...
Zen pun tersadar dari lamunannya, ia kebingungan karena ia berada di tempat yang tidak ia kenali, walau begitu terlihat Asuka dan yang lainnya tertidur pulas di dekatnya yang membuatnya sedikit terkejut.
"Apa waktu benar benar terulang kembali?!" Gumam Zen.
Ia pun melihat tubuhnya, tetapi tubuhnya tidak memiliki luka sedikitpun, seingatnya ia pernah bertarung melawan Torita dan menerima luka parah, hal tersebut membuatnya menjadi yakin jika waktu kembali terulang, tetapi ia tetap saja bingung, jika waktu benar benar terulang, kenapa ia tidak memiliki bekas luka saat bertarung melawan Torita.
Ia pun merasakan tangan kanannya yang memegang sesuatu yang lembut, "Apa ini?" Gumam Zen sembari menoleh ke tangan kanannya.
Saat ia melihat tangan kanannya ia pun sedikit terkejut karena ada seekor kucing berwarna biru di bawah tangan kanannya yang sedang tertidur.
"Kucing?" Bingung Zen.
Zen tidak mengingat jika yang membantunya sadar adalah gadis yang berada di alam bawah sadarnya, bahkan ia sudah lupa kejadian yang baru saja terjadi di alam bawah sadarnya karena gadis tersebut yang bisa membuat seseorang melupakan hal hal yang ia inginkan.
Waktu yang terulang kembali membuat Zen mendapatkan kesempatan kedua, tetapi Zen tidak memiliki kesempatan ketiga jika ia membuang waktu singkat yang ia miliki.
Saat ia sedang termenung tiba tiba terlintas suara gadis yang mengatakan "Dungeon barat" Seketika Zen mengingat teriakan Valine yang meminta agar Zen menolongnya di dungeon barat.
"Aku harus menyelamatkannya!" Gumam Zen perlahan bangun.
"Miaw...." saat ia bangun kucing yang berada di dekatnya pun ikut terbangun seakan akan baru bangun tidur, hal tersebut membuat Zen kebingungan karena kucing tersebut yang memiliki warna unik dan juga ia merasakan energi sihir yang kuat dari kucing itu.
...~Bersambung~...