
Veliona pun tersadar dari tidurnya dan kebingungan kenapa ia bisa tidur di lantai, Veliona pun bangun dan melihat ke arah jam dinding, ia pun kaget ketika melihat sudah pukul sembilan malam.
"Apa aku ketiduran?" Bingung Veliona.
Veliona pun melihat Zen yang masih tertidur, ia pun tidak jadi memanggil Zen karena ia pikir Zen sedang kelelahan dan butuh waktu istirahat.
Veliona pun memutuskan untuk kembali ke ruangannya dan beristirahat.
Sesampainya di ruangannya Veliona pun masuk ke kamar dan memutuskan untuk mengganti pakaiannya, Veliona yang sedang mencari pakaiannya tidurnya tiba tiba teringat dengan sifat Zen saat ia memberi tau bahwa kakaknya adalah Iblis, Zen malah tidak memperdulikan ucapan Veliona dan tidak menjauhinya, padahal semua orang yang mengetahui kakak Veliona adalah Iblis malah berniat untuk membunuh Veliona.
Veliona pun mengganti pakaiannya dan memutuskan untuk tidur.
...-Time skip-...
Zen pun terbangun dari tidurnya, tetapi tidak seperti biasanya, Zen kali ini bangun dengan tatapan hampa dan tidak mengucapkan sedikit katapun.
Zen pun melihat sekeliling kamarnya yang sangat rapi, tetapi ia tidak memperdulikan isi kamarnya, Zen benar benar terlihat sangat kosong dan hampa.
(Knock! knock!)
"Zen aku masuk ya" Teriak Veliona dari kejauhan.
...-Disisi lain-...
"Kenapa tidak ada jawaban?" Gumam Veliona sedikit kebingungan.
Veliona yang penasaran pun membuka pintu ruangan Zen dan langsung memasukinya, ia berjalan ke kamar Zen dan kembali mengetuk pintu.
(Knock! knock! knock!)
Tetapi sama, Veliona tidak mendapat jawaban dari Zen, ia pun membuka pintu kamar Zen, dan ternyata Zen ada di dalam.
Veliona pun masuk dan mendekati Zen sambil bertanya "Kamu kenapa Zen?" Bingung Veliona yang melihat tingkah Zen seketika menjadi aneh.
"Zen??" Bingung Veliona.
Zen pun bangun dari tempat tidurnya dan berjalan keluar dari kamarnya.
Veliona seketika menjadi sangat kebingungan dengan tingkah Zen hari ini, padahal Zen tidak pernah seperti ini sebelum sebelumnya, Veliona yang merasa ada yang aneh pun memutuskan untuk mengikuti Zen.
Zen pun terus berjalan keluar dari ruangannya dan keluar dari asrama, ia terus berjalan tak tentu arah seperti orang yang sudah putus asa dan berniat bunuh diri, Veliona pun terus mengikuti Zen kemanapun dia pergi karena ia berfikir Zen yang ia lihat bukanlah Zen yang ia kenal.
Saat Zen dan Veliona berjalan melewati ruangan latihan, tiba tiba Rio, Siyon, Yuuiki, Ayani, dan Rias pun menghampiri mereka berdua.
"Hei Zen!" Teriak Siyon dari kejauhan sambil mendekati Zen.
"Siyon!" Teriak Veliona sambil melambaikan tangannya, Siyon pun merasa terpanggil dan ia tidak jadi menghampiri Zen dan pergi ke tempat Veliona.
Saat mereka sampai di tempat Veliona, Rias pun bertanya "Kalian mau kemana?" Tanya Rias.
Veliona pun menjawab "Zen sedang bertingkah aneh" Ucap Veliona.
Rias yang tidak percaya pun melihat Zen dan benar, Zen berjalan seperti orang yang benar benar putus asa dan tidak memiliki tujuan hidup.
"Ba!!" Tiba tiba Endo pun muncul bersama Uika yang mengagetkan mereka semua.
"Bisakah kau tidak mengagetkan kami seperti itu?" Kesal Rio.
"Hahaha. maaf maaf.." Ucap Endo sembari menggaruk kepalanya.
Endo yang melihat Zen berjalan sangat aneh pun bertanya "Zen kenapa?" Tanya Endo kepada teman temannya.
"Aku juga tidak tau" Ucap Veliona.
Endo pun berlari mendekati Zen dan memukul bahu Zen sambil mengucapkan "Hai Zen, sudah lama sekali tidak bertemu!.." Ucap Endo sembari tersenyum.
Zen pun tidak merespon dan tetap berjalan tak tentu arah, Endo pun merasa aneh dan mencoba memanggil Zen sekali lagi, ia pun memukul bahu Zen, tiba tiba Zen pun berhenti dan perlahan melihat kebelakang dan menatap Endo dengan tatapan yang sangat hampa dan putus asa.
Endo pun merasakan firasat yang sangat buruk dan ia langsung melompat kebelakang menjauhi Zen
Veliona dan yang lainnya pun kaget melihat mata Zen.
Zen pun terlihat sangat tertekan karena kematian Ice Zen, tetapi teman temannya tidak mengetahui apa yang terjadi kepada Zen.
"Di.. ma.. na.." Ucap Zen putus putus dan sedikit mengeluarkan airmata.
"Dimana ka.. mu.." Ucap Zen sambil menangis
Veliona yang melihat Zen menangis pun mengetahui bahwa Zen sedang depresi tetapi ia tidak tau apa yang terjadi kepada Zen sehingga membuatnya depresi.
...-Disisi lain-...
Zen pun merasa sangat hampa, putus asa karena kehilangan Ice Zen yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri.
Ia pun mengingat semua kenangan ia bersama Ice Zen, dari awal bertemu, bermain bersama, belajar bersama, latihan bersama, sampai Ice Zen yang berkorban demi
dirinya yang membuat ia merasa sangat frustasi.
"Haaa!!!!!!" Teriak Zen sambil menangis
Yuuiki dan yang lainnya pun merasa sangat kebingungan dan aneh terlebih lagi Zen yang menyebut namanya sendiri.
Tetapi Veliona sedikit merasakan perasaan Zen dari mata, tingkah laku dan rasa frustasinya.
Zen pun meringkuk dan menangis sangat histeris, Veliona pun berlari mendekati Zen dan berniat memeluknya.
Saat Veliona sudah dekat dengan Zen, tiba tiba ia di tendang oleh petinggi akademi Arsenal dan terpental sangat jauh.
"Apa yang kau lakukan!!!?" Seru Siyon.
"Swift!" Siyon pun bergerak sangat cepat dan muncul tepat di depan petinggi tersebut, Siyon pun menendang petinggi tersebut tetapi tendangannya dapat di tahan dengan mudah, petinggi itu pun memukul perut Siyon yang membuatnya terpelanting sangat jauh.
(Bom!!)
Zen yang masih frustasi pun kembali berteriak dengan histeris.
Tiba tiba hujan salju pun turun yang membuat seluruh murid akademi Arsenal kebingungan, karena seharusnya musim dingin masih lama.
Petinggi akademi yang berfikir Zen adalah ancaman berniat membunuhnya langsung.
"C'A Sword" Pedang berduri duri pun muncul di tangan petinggi tersebut, petinggi tersebut pun mengayunkan senjatanya ke Zen
(Slash!!!)
(Ting!!!!!!!!!)
(Bom!!!!!!)
Ledakan pun terjadi yang membuat petinggi tersebut kebingungan.
"Siapa yang menahan seranganku!?!" Gumam petinggi tersebut.
Tiba tiba muncul Haxor dari asap kabut, ternyata yang menahan serangan petinggi tersebut adalah Haxor.
Seketika petinggi tersebut pun langsung duduk dan meminta maaf kepada Haxor.
"Maaf tuan!!" Ucapnya sambil menundukkan kepalanya.
"Siapa yang menyuruhmu menyerang murid akademi ini!!!?!" Seru Haxor.
Petinggi tersebut pun merasa sangat ketakutan dan langsung diam tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Jangan selalu bertindak sendirian dan bertingkah seperti pahlawan hanya untuk mendapatkan nama!!!!!" Haxor pun menendang petinggi tersebut yang membuatnya terpelanting sangat jauh.
Saat Haxor melihat Zen, ternyata Zen terluka akibat serangan dari petinggi tersebut walau tidak mengenainya.
Haxor pun berniat menyembuhkan Zen, tiba tiba Zen pun bangun walau ia terluka cukup parah, ia pun mengingat kata kata terakhir Ice Zen.
"Aku hanyalah roh yang sudah mati, jadi kamu tidak perlu menangis seperti itu, kamu adalah laki laki, kamu harus terus hidup, perjalananmu masih panjang" Kilasan ingatan Zen
"C'Sword" Zen pun menciptakan senjata dan berniat untuk bunuh diri, beruntung Haxor masih dapat menahan Zen.
"Kak Zen!!!!!!!!!!!!!!!!!" Teriakan seseorang pun terdengar jelas di telinga Zen.
"Semua tidak akan berubah kak Zen!!!!, sadarlah!!!. Jika kakak menangis bisa merubah masa lalu, semua orang pasti menginginkan itu!!!" Teriak Sayu dari alam bawah sadar Zen
"Jika kakak bunuh diri apa dia akan senang!!!?!, dia telah mengorbankan nyawanya untuk kak Zen!! tetapi kenapa kak Zen malah ingin bunuh diri!!?!, sama saja kakak menyianyiakan nyawanya!!!" Teriak Sayu sembari menangis
Zen pun kembali mengingat ucapan Ice Zen
"Kamu harus hidup, perjalananmu masih panjang" Zen pun seketika sadar
Perlahan senjata Zen pun hilang dan ia menangis, Haxor yang penasaran dengan apa yang terjadi kepada Zen pun mencoba untuk menerawang pikiran Zen
"Memories!" Haxor pun menerawang pikiran Zen
...-Disisi lain-...
Koruga pun menyadari bahwa Haxor sedang mencoba untuk menerawang pikiran Zen
"Hahaha.. menarik sekali! hahahaha!!" Ucap Koruga sambil tertawa
Koruga pun menjentikkan jarinya
...-Disisi lain-...
Haxor yang perlahan dapat melihat ingatan Zen pun tiba tiba pandangannya langsung gelap dan ia seperti di tarik paksa keluar dari pikiran Zen.
Haxor pun seketika keluar dari pikiran Zen dan gagal menerawang pikiran Zen
"Kenapa aku tidak bisa menerawang pikirannya!!?" Gumam Haxor kebingungan
...~Bersambung~...