
Di dalam hutan, Verina menceritakan semua tentang pengetahuan sihir termaksud kenapa Zen dan Veliona tidak dapat mendengarkan ucapannya saat itu.
Walau begitu, Verina masih saja kebingungan karena ia tidak menduga jika Veliona dan Zen benar benar tidak dapat mengerti perkataannya.
"Begitukah..." Paham Veliona.
"Berarti sihir akan semakin kuat jika mengerti tentang siklus sihir dan meningkatkan sihir sampai ke kemampuan maximalnya dan memberikan sebuah nama?" Tanya Zen.
"Iya.. kurang lebih seperti itu.." Ucap Verina.
"Baiklah kalau begitu.." Paham Zen perlahan menutup matanya.
Rambutnya pun berubah menjadi putih dan matanya yang menjadi merah, tetapi saat ia membuka matanya tak di duga, matanya pun sudah berubah menjadi mata Iblis, Verina yang melihatnya menjadi sangat terkejut dan tangannya pun sedikit bergetar karena ia merasakan hawa keberadaan Zen yang bahkan melebihi hawa keberadaan raja Iblis.
Veliona yang melihatnya pun ikut terkejut, tetapi saat ia akan bertanya, suara langsung terlintas di kepalanya.
"Jangan ucapkan itu!" Verina pun melakukan telepati sebelum Veliona mengucapkannya.
"Jika Zen tau, mungkin akan berdampak buruk pada dirinya! Aku mohon" Pinta Verina sembari menatap Veliona dengan tatapan penuh kekhawatiran.
Veliona yang awalnya ingin bertanya pun terdiam dan menuruti permintaan Verina.
"Verina, apa kamu boleh mengucapkan kalimat yang sebelumnya kamu ucapkan?" Tanya Zen.
"Ten.. Tentu saja" Jawab Verina sedikit terkejut.
"Katana, Aka No Hakai" Ucap Verina.
Zen yang mendengarnya pun terkejut.
"Kalimat ini hanya seperti bahasa jepang biasa pada dunia lamaku, apa benar ia mengucapkan ini sebelumnya?" Gumam Zen terkejut.
"Begitu kah..." Paham Zen.
Zen pun bangun dari duduknya dan mengangkat tangannya.
"Kalau begitu lebih baik aku coba saja" Gumam Zen.
"U-otaboru"
...•...
...ウ...
...ォ...
...ー...
...タ...
...ー...
...ボ...
...ー...
...ル...
...•...
...(Bola Air)...
Bola air yang sangat besar pun tercipta, Zen yang menyadarinya pun langsung menahan diri, ia menahan bola air itu yang akan semakin membesar sebelum mencapai batasnya.
Verina dan Veliona pun sangat terkejut karena Zen mampu dengan mudah menamai sihir walau ia baru mempelajari yang di katakan Verina sebelumnya.
"Ternyata memang benar, bahasa di dunia ini mempengaruhi kekuatan sihir juga jika sudah memahami seluruh elemen siklus sihir" Gumam Zen terkejut.
Bola air itu pun perlahan mengecil dan menghilang, Verina dan Veliona kembali terkejut karena Zen yang mampu mengendalikan sihir dengan sempurna.
Verina yang mendengarnya pun bertanya kepada Zen "Apa maksudmu Zen? Apa itu jepang?" Bingung Verina.
Zen yang mendengarnya pun sadar jika ia baru saja mengatakan hal aneh kepada mereka.
"Bodohnya aku, mereka tidak mungkin tau apa itu jepang, aku kan orang yang bereinkarnasi ke dunia ini, sedangkan mereka adalah penghuni asli dunia ini" Gumam Zen.
Disisi Lain Veliona yang mendengar ucapan Zen pun terkejut karena ia mengerti apa maksud Zen.
"Zen?! berarti bukan hanya aku yang bereinkarnasi ke dunia ini!?" Gumam Veliona sangat terkejut.
Ternyata Veliona juga adalah orang yang bereinkarnasi, dan ia mengerti semua maksud Zen, ia mengenal jepang, dan bahkan ia juga sadar jika ia memiliki kenalan yang bernama Zen saat ia masih hidup di dunianya sebelumnya.
...-Time Skip-...
Satu hari pun berlalu, Asuka pun terbangun dari pingsannya, saat ia terbangun seseorang pun langsung memanggilnya.
"Kak Asuka!" Panggil Siyon khawatir.
Asuka pun kebingungan karena ia hanya mendengar suara Siyon, sedangkan pandangannya masih buram.
"Siyon?.." Bingung Asuka.
Siyon pun langsung memeluk kakaknya dengan erat karena sangat khawatir, Asuka yang di peluk Siyon pun sedikit terkejut, walau pandangannya belum sempurna, ia membalas pelukan Siyon karena ia mengenali suara Siyon dan sifat Siyon.
"Aku tidak apa apa kok.. tenang saja Siyon..." Ucap Asuka sembari mengelus kepala Siyon.
"Aku sangat khawatir, jika kakak menghilang dariku, aku sudah tidak memiliki keluargaku lagi.." Ucap Siyon sedih dan ketakutan.
"Apa maksudmu Siyon... kakak kakakmu yang lain kan masih ada..." Ucap Asuka berniat menenangkan Siyon.
"Aku tidak menganggap mereka kakakku, mereka hanya terus menyiksaku setelah kakak meninggalkanku, aku tidak akan pernah menganggap mereka sebagai anggota keluargaku lagi!" Kesal Siyon sedikit menangis.
Asuka yang mendengarnya pun tidak begitu peduli dengan ucapan Siyon, ia hanya peduli dengan Siyon karena ia juga tau sifat adik adiknya yang lain.
"Begitu ya.. Aku paham sekarang..." Ucap Asuka kembali mengelus kepala Siyon.
Siyon pun menangis karena ia merasa hanya Asuka lah satu satunya orang selain Rara yang mengerti penderitaannya walau mereka telah berpisah cukup lama.
...-Disisi Lain-...
Pertandingan Akhir pun dimulai, terlihat Veliona dan Luca yang sudah berada tepat di dalam arena di sertai sorakan sorakan meriah dari para penonton.
"Pertandingan akhir dari turnamen antar akademi akhirnya tiba di depan mata, pertarungan yang di tunggu tunggu oleh semua orang, siapakah yang akan memenangkan turnamen antar akademi kali ini??!.. apakah Veliona dari guild Eternal Fire?!! ataukah Luca dari guild Blue Predator?!!. Mari kita saksikan pertandingan final babak terakhir kali ini! tanpa berlama lama!!.."
"Tiga!! Dua!!!" Aba aba komentator di ikuti oleh seluruh penonton yang menonton pertandingan.
(Ngom!!!!)
"Satu!!!!!" Pertandingan pun dimulai, terlihat Luca dan Veliona sama sama tidak bergerak sedikitpun, tetapi Veliona tiba tiba melontarkan pertanyaan kepada Luca.
"Apa kamu yakin akan bertarung dengan keadaanmu seperti itu?" Tanya Veliona dari kejauhan.
Luca yang mendengarnya pun merespon pertanyaan Veliona dengan tidak ramah, ia pun mengucapkan "Jangan pedulikan aku, aku punya urusanku sendiri, dan kamu hanya perlu mengurus dirimu sendiri" Ucap Luca menatap Veliona dengan tatapan tajam.
"Aku ingatkan, aku tidak selembut lawan lawanmu yang sebelumnya!" Ucap remeh Luca menatap Veliona yang perlahan berubah.
Veliona yang mendengarnya pun menjawab "Baiklah kalau begitu, maaf sudah mencampuri urusanmu" Ucap santai Veliona.
Tiba tiba kupu kupu merah sudah memenuhi seisi arena, Veliona pun menjentikkan jarinya dan ledakan pun tercipta.
(Boomm! Bom!! Boomm!!! Bom! Bomm!!! Bom!! Boooommm!!! Bom!! Boooommm!! Booommm!! Bomm!! Booooommm!!! Booomm!! Boooooooomm!!!)
Penonton pun langsung bersorak ria, ada yang terkagum dan ada yang terkejut karena pertunjukan awal pertandingan langsung di sajikan ledakan dasyat.
Arena pun hancur berantakan akibat ledakan dari kupu kupu milik Veliona, arena hanya di penuhi kabut asap yang tebal.
...~Bersambung~...