
"Maksudmu apa? aku nggak ngerti sama sekali dengan semua ucapanmu. Dan siapa wanita ular yang kau maksudkan tadi?" tanyaku bingung.
"Wanita yang aku maksud tidak lain dan tidak bukan adalah Tasya. Saat ini dia sedang mengincar suamimu!" jawab Dinda.
Aku terperanjat mendengar ucapan Dinda. Apa yang dikatakan olehnya sama dengan yang dikatakan Mas Abhi. Tapi rasanya aku masih tak percaya. Tidak mungkin Tasya mengkhianatiku lagi.
"Kamu jangan nuduh gitu deh, nanti jadinya fitnah. Emang kamu punya bukti yang menunjukkan kalau Tasya ingin merebut Mas Abhi dariku?" tanyaku.
"Aku memang belum mempunyai bukti kalau Tasya ingin melakukan hal itu. Tapi mataku tidak pernah salah dalam menilai orang" jawab Dinda.
Aku tersenyum mendengar jawaban Dinda.
"Udah, kamu nggak usah curigaan gitu sama si Tasya. Nanti malah nggak baik jadinya" ujarku, menepuk lengan Dinda.
"Apapun pendapatmu, itu terserah kamu. Yang penting aku sudah memperingatkanmu!" ujar Dinda tegas.
"Iya iya aku akan berhati-hati" ujarku menenangkan Dinda.
"Aku harap kau mau menganggap serius ucapanku ini!" ujar Dinda lagi.
"Oh ya, Din, kamu udah makan malam belum?" ujarku mengalihkan pembicaraan agar tidak tegang terus.
"Belum!" jawab Dinda singkat.
"Gimana kalau kita makan malam bareng disin?" ujarku menawarkan.
"Boleh, dah lama juga nggak ngerasain masakan kamu!" jawab Dinda antusias.
"Ya udah, kita ke meja makan sekarang yuk. Kebetulan sebelum kamu datang, aku udah selesai masak" ajakku.
Kami pun berjalan beriringan menuju meja makan, dan kami duduk bersebelahan. Saat hendak menyendok makanan, Dinda terlihat celingak-celinguk mencari sesuatu.
"Hey, lagi cari apa?" tegur ku sambil menepuk bahunya.
"Eh tidak, aku cuma mencari keberadaan Abhimana. Dari tadi dia nggak kelihatan. Ada dimana dia?" tanya Dinda.
"Mas Abhi hari ini pulang terlambat. Katanya dia lagi meeting dengan klien. Mungkin bentar lagi datang" ujarku.
"Oh gitu" ujar Dinda manggut-manggut.
Kami pun mulai menikmati makanan kami. Tak berselang lama Mas Abhi pun datang.
"Mas Abhi udah datang!" tegur ku.
"Mas udah datang dari tadi. Kamunya aja yang nggak denger. Dari tadi Mas manggil-manggil kamu tapi kamunya nggak ngejawab" ujar Mas Abhi.
"He he he maaf Mas, nggak kedengeran" ujarku nyengir kuda.
"Oh ternyata ada Dinda disini. Pantas kamu nggak denger panggilan Mas tadi!" ujar Mas Abhi, menoleh kearah Dinda dan tersenyum.
"Hai abhi" sapa Dinda.
"Mas Abhi ikutan makan bareng juga yuk!" ajakku.
"Nggak deh. Mas udah makan tadi. Kamu sama Dinda aja yang makan. Mas mau bersihin badan dulu" tolak Mas Abhi.
Mas Abhi pun berlalu dari hadapan kami, sedang kami melanjutkan makan kembali.
...****************...
Tasya mulai menjalankan rencananya. Dia mengikuti Mas Abhi saat ia berangkat ke kantor. Dia terus mengikuti sampai Mas Abhi memarkirkan mobilnya diparkiran dan masuk ke kantornya.
Saat itulah Tasya memulai taktiknya yang pertama. Dia membuka pintu mobil Mas Abhi dan meletakkan sesuatu disana saat tidak ada orang yang memperhatikannya. Kemudian dia menutupnya kembali.
"Aku yakin dengan ini Kania akan masuk dalam jebakan ku" ujar Tasya, tersenyum menyeringai.
Tasya segera pergi dari sana dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Ia datang ke toko bunga dan melakukan semua pekerjaan seperti biasa, agar Dinda juga tidak curiga dengannya.
Menjelang malam Mas Abhi kembali dari kantor, tanpa menyadari adanya barang tersebut dalam mobilnya. Ia masuk kedalam rumah dan menyapaku seperti biasa.
"Honey, Mas udah pulang nih" ujar Mas Abhi.
"Mas, tas kamu mana? kok nggak dibawa?" tanyaku. Ya, sesuatu yang kurang itu adalah tas kerjanya. Karena setelah mencium tangannya aku biasanya membawakan tasnya.
"Eh, ketinggalan di mobil. Sebentar, Mas ambil dulu" ujar Mas Abhi memutar tubuh hendak mengambil tasnya.
Buru-buru aku mencegahnya." Udah Mas, nggak usah, biar aku aja yang ambil".
"Boleh!, sekalian tolong buatkan teh hijau juga ya. Mas capek banget hari ini" ujar Mas Abhi.
"Iya, Mas. Nanti aku buatin!" ujarku tersenyum.
"Makasih ya, honey. Kalau gitu Mas ke kamar dulu ya" ujar Mas Abhi tersenyum padaku.
Aku pun mengangguk. Kemudian Mas Abhi masuk ke kamar, dan aku segera ke mobil untuk mengambil tasnya.
Aku membuka pintu mobil Mas Abhi dan mencari tasnya, dan aku pun menemukannya.
"Ini dia tasnya!" ujarku.
Aku pun hendak menutup kembali pintu mobil, tapi tiba-tiba pandanganku tertuju pada sebentuk kecil benda di kursi depan. Benda yang tidak mungkin dimiliki Mas Abhi. Karena benda itu adalah sebuah jepit rambut, dan benda itu bukanlah milikku.
"Ini jepit rambut siapa? selama ini aku tidak pernah melihatnya" gumam ku dalam hati.
Tiba-tiba ponselku berdering. Aku merogoh kantong ku dan meraih benda pipih berlogo bekas apel digigit dari sana. Tertera sebuah nama dilayarnya, ternyata Tasya yang menelepon. Aku pun segera memencet tombol hijau untuk menerima panggilan darinya.
"Assalamualaikum, Tasya" ujarku dari balik telepon.
"Waalaikum salam. Kania, sebelumnya aku minta maaf karena menelponmu malam-malam" sahut Tasya dari seberang.
"Tidak apa. Oh ya ada perlu apa kamu menelponku?" tanyaku.
"Emm.....aku nggak enak ngomongnya" ucap Tasya ragu.
"Udah ngomong aja, nggak usah ragu gitu" ujarku meyakinkannya.
"Tapi aku minta maaf kalau ucapanku nanti salah. Aku bukannya mau ikut campur urusanmu, tapi aku harus menyampaikan hal ini padamu. Ini mengenai Abhimana, suamimu" ujar Tasya.
"Mas Abhi? ada apa memangnya?" tanyaku bingung.
"Tadi siang aku melihat suamimu sedang bersama wanita lain. Mereka bahkan berada dalam satu mobil" ujar Tasya.
Deg.
Pikiranku mulai berkecamuk mendengar ucapan Tasya, tapi aku mencoba untuk berbaik sangka.
"Mungkin wanita itu salah satu klien Mas Abhi" ucapku.
"Awalnya aku juga berpikiran begitu, Nia. Tapi mereka terlihat sangat dekat. Jadi tidak mungkin hubungan mereka sebatas rekan kerja biasa" ujar Tasya.
Pikiranku kembali berkecamuk. Aku memandang kearah jepit rambut yang masih kupegang.
'Apakah benar Mas Abhi selingkuh dariku? dan jepit rambut ini, apakah milik wanita itu?' gumamku dalam hati.
"Halo Kania, Kamu masih ada disitu kan?" ujar Tasya menyadarkanku dari lamunan.
"I...iya, Aku masih ada disini!" jawabku gelagapan.
"Kamu nggak pa pa kan?" tanya Tasya lagi, nada suaranya terdengar mencemaskan ku.
"Nggak, aku nggak pa pa kok. Aku tutup dulu ya teleponnya. Mas Abhi manggil aku" ujarku beralasan.
Aku pun mematikan sambungan telepon dan memasukkannya kembali kedalam saku. Pikiranku terus berkecamuk memikirkan perkataan Tasya tadi.
Sedang diseberang sana, Tasya terlihat tersenyum puas setelah mematikan teleponnya.
"Bagus!. Rencana pertama berjalan mulus. Kania sudah masuk dalam perangkapku".
"Kamu memang bodoh Kania. Kamu sangat mudah untuk ditipu!".
"Besok, kamu akan mendapatkan kejutan yang lebih menyenangkan" ujar Tasya menyeringai.