Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 123



Tiba-tiba Tasya bangkit kembali dari rebahannya. "Aha, aku mendapat sebuah ide yang sangat bagus!" menjentikkan jari.


"Aku akan berpura-pura mengalami pendarahan dan keguguran setelah pernikahan nanti. Aku akan membuat Kania yang disalahkan dalam hal ini. Aku sangat yakin, Abhimana akan langsung mengusir Kania dari rumah ini. Karena menganggap tidak terima dengan pernikahan kami".


"Rencana yang sangat sempurna, Tasya. Sekali dayung, dua pulau terlampaui. Kau bukan hanya bisa berhenti berpura-pura hamil, tapi sekaligus menyingkirkan Kania dari rumah ini" memuji diri sendiri.


"Wah wah wah, benar-benar rencana yang sangat sempurna, Tasya. Aku ucapkan selamat padamu. Kau patut mendapatkan penghargaan untuk kepandaian mu ini" sambil bertepuk tangan.


Tasya sangat terkejut mendengar suara itu. Ia menghadap ke sumber suara. "Ka...Kania, Kau..." mengucap dengan terbata-bata. Sontak ia bangkit dari tempat tidur, cepat-cepat memakai kembali pakaiannya.


Ya, suara itu, juga tepuk tangan itu, semua berasal dariku. Aku tak bisa menahan diri lebih lama lagi setelah mendengar rencananya tadi. Aku langsung masuk ke dalam dan menangkap basah dirinya. Mama pun turut serta di belakangku.


"Kenapa kau masuk begitu saja kedalam kamarku tanpa mengetuk pintu dulu?" ucap Tasya, menatap tak suka.


"Memang kenapa? suka-suka aku dong. Rumah ini milikku, jadi aku bebas melakukan apapun yang kusuka!" berucap dengan sinis.


"Bu...bukan begitu maksudku, tapi..." ucap Tasya terbata-bata.


Belum sempat Tasya menyelesaikan ucapannya, aku sudah memotongnya "Tapi apa? kamu takut rahasia mu terbongkar kalau aku langsung masuk begitu saja!" memandang dengan tatapan menusuk.


"Maksud kamu apa? rahasia apa? aku tidak mengerti dengan yang kau maksudkan" ujar Tasya, masih berpura-pura tak mengerti.


"Alah, nggak usah berlagak tidak mengerti dengan maksudku deh!. Aku sudah tahu kok semua kebohonganmu. Bukankah selama ini kau hanya berpura-pura hamil!" ucapku tajam.


Tasya sangat terkejut mendengar perkataanku. Ia tak mengira kebohongannya akan terbongkar secepat ini. Mulutnya sampai menganga karena tak percaya.


"Kenapa? terkejut karena kebohonganmu telah terbongkar?" ucapku, tertawa sinis.


"Bukan hanya kebohonganmu saja yang telah terbongkar, aku bahkan telah mengetahui semua rencana jahatmu. Bukankah kau ingin mengusirku dan Naila dari rumah ini? Sayangnya, Tuhan telah melindungiku dan keluargaku dari semua rencana mu".


Tasya semakin terkejut mendengar pengakuanku. Ia tak menyangka aku telah mengetahui semua rencana jahatnya. "Dari mana kau tahu?".


"Aku mendengar semua yang kau katakan tadi. Dan bukan hanya aku, Mama pun telah mendengar semuanya. Kau pasti tidak sadar kalau sedari tadi aku dan Mama telah menguping pembicaraanmu!".


"Benar itu! Aku juga mendengar semua dengan jelas!" ucap Mama, mempertegas pengakuanku.


Tasya salah tingkah. Ia terlihat kebingungan. "Kau pasti salah dengar Kania. Aku bisa jelaskan semuanya".


"Apa lagi yang ingin kau jelaskan? kau ingin mengatakan betapa bodohnya aku karena begitu percaya dengan semua perkataanmu?" ucapku tajam.


"Bu...bukan begitu, Kania. Dengarkan aku dulu!".


"Aku tidak mau mendengar apa-apa lagi dari mulut berbisa mu itu. Sekarang juga, pergi dari rumah ini!" ucapku, mengusirnya dengan kasar.


Tasya terlihat panik karena tidak bisa lagi membuat alasan untuk menutupi kejahatannya. Ia semakin ketakutan saat mendengar aku mengusirnya. Ia langsung bersimpuh di kakiku, memohon maaf padaku dengan kepala tertunduk. "Maafkan aku, Kania. Tolong jangan usir aku. Aku mengaku salah padamu. Beri aku satu kali lagi kesempatan. Aku janji, aku akan berubah. Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi".


"Aku sudah memberimu kesempatan itu, Sya, tapi sayangnya kau malah menyia-nyiakan kesempatan itu" ucapku lirih sambil menggelengkan kepala.


"Apa kau sudah lupa, dulu kau pernah sangat menyakiti hatiku saat perusahaan Papa terancam bangkrut. Kau mencampakkan ku begitu saja. Kau bahkan tidak menghargai arti persahabatan kita".


"Maafkan aku, Kania. Aku benar-benar menyesal. Tolong jangan usir aku dari sini" ujar Tasya, air mata meleleh di pipi. Ia menggenggam erat kedua kakiku.


Sepertinya Tasya benar-benar menyesal, tapi aku tak mau tertipu untuk kedua kali. Aku tak boleh percaya dengan air mata buayanya.


"Bangun, Tasya. Jangan berpura-pura lagi. Aku sudah muak dengan semua sandiwara mu itu. Sekarang, angkat kaki dari rumah ini. Aku tak mau melihat wajahmu lagi!" ucapku, mendorong tubuhnya dengan kasar.


"Aku tidak bersandiwara, Kania aku benar-benar menyesal. Tolong maafkan semua kesalahanku" ucap Tasya dengan tergugu.


"Kalau kau tidak memaafkanku, bagaimana aku akan melanjutkan hidup?" lanjutnya.


"Kenapa kau tak berpikir dulu sebelum melakukan kesalahan?" ucapku sengit.


Tasya terdiam, tak mampu menjawab pertanyaanku.


"Kau bisa menyusun rencana jahat sesuka hatimu, Tasya. Tapi kau mungkin telah lupa. Tuhan selalu melindungi semua hamba-Nya yang tidak bersalah. IA tidak akan membiarkan hamba-Nya terus disakiti" lanjutku.


"Sekarang semua telah terbukti, kan. Tuhan menunjukkan kebenaran padaku sebelum semuanya hancur".


Tasya masih terdiam, tak mampu membantah kata-kataku.


"Dulu aku membawamu hanya dengan sehelai kain yang melekat ditubuhmu. Sekarang tinggalkan rumah ini dalam keadaan yang sama. Jangan membawa apapun dari rumah ini" ucapku dingin.


"Kalau kau mengusirku dari rumah ini, kalau kemana aku akan pergi?" tanya Tasya.


"Itu terserah padamu. Aku tak tahu dan tak mau tahu. Yang jelas, kau tidak diterima lagi dirumah ini. Aku juga memecatmu dari pekerjaanmu saat ini".


"Kau tidak bisa melakukan ini padaku, Kania. Aku calon istri Abhimana. Aku juga berhak untuk tinggal dirumah ini" ujar Tasya, tak terima aku mengusirnya.


Aku tertawa terbahak-bahak mendengar ucapannya. Aku geli saat mendengarnya mengatakan sebagai calon istri Mas Abhi.


"Kau ini bodoh atau tidak waras? Kau pikir Mas Abhi masih mau menikahimu setelah ia tahu semuanya? Dia pasti sangat bersyukur karena batal menikah denganmu" hina ku.


Aku mengambil nafas sejenak, menjeda ucapanku, membiarkan Tasya mencerna semua kata-kataku. "Kau pasti sudah tahu, kan. Mas Abhi setuju untuk menikahimu itu semua karena aku. Dia melakukan semua ini hanya untuk memenuhi permintaanku. Jadi jangan pernah berharap untuk menjadi istri Mas Abhi. Atau mengatakan hak mu atas rumah ini. Karena kau sama sekali tidak berhak atasnya. Hanya akulah yang berhak".


"Kau memang serakah, Kania. Apa kau masih belum cukup dengan semua yang kau miliki? kenapa kau tidak mau melepaskan Abhimana untukku?" kecam Tasya, ia kembali berdiri.


Aku semakin terpingkal-pingkal mendengar ucapannya. "Apa aku tidak salah dengar? bukankah kau yang ingin merebut Mas Abhi? ngaca dulu sebelum menilai orang lain".


"Aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang, Kania. Aku akan menghancurkan mu" ujar Tasya mengancam.


"Aku tidak takut dengan ancamanmu!" ucapku tegas.


Pandangan Tasya tertuju pada pisau buah yang terletak diatas nampan yang tadi kubawa. Aku tadi meletakkan nampan itu diatas meja, disamping tempat tidur tasya.


Dengan gerakan secepat kilat, ia pun mengambilnya. Entah bagaimana pisau itu sudah berada dalam genggamannya. Dan sebelum kami menyadari semuanya, ia sudah menarik tubuh Mama, menjadikannya sebagai sandera. Pisau ia letakkan didepan leher Mama. "Serahkan semua surat-surat rumah ini dan barang berharga lainnya, atau Mama mu aku bunuh!" ancamnya.