Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 31



Selama berhari-hari aku masih menolak untuk menggendong bayiku sendiri,selama itu Dindalah yang merawat bayiku dengan cekatan.


Terkadang aku merasa kasihan dengannya,bayi itu adalah anakku tapi malah Dinda yang terus aku repotkan untuk merawatnya.


Berulangkali Dinda mencoba membujukku agar mau menggendong anakku sendiri,tapi entah kenapa setiap aku melihat bayi itu ada perasaan marah yang begitu besar dalam hatiku terhadap bayi itu.


Bayi itu, ya anak yang berada dalam kandunganku selama sembilan bulan terlahir dengan wajah yang begitu mirip dengan Arsen.Melihatnya membuatku terus teringat pada orang yang sudah menghancurkan hidupku.


Karena anak itu jugalah yang membuat Papa tega mengusirku dari rumah.Hidupku, impianku, cita-citaku,dan masa depanku semua telah hancur karena anak itu.


Obat itu, ya barang haram itulah yang menjadi pelarianku saat aku teringat dengan kejadian buruk yang menimpaku setelah melihat bayi itu.


Dinda berulangkali memarahi dan menasehatiku untuk menghentikan kebiasaan burukku itu,tapi tak sedikitpun aku mengindahkan nasehat darinya hingga Dinda pun pasrah karena sudah lelah menasehatiku.


...****************...


Hari ini Dinda belum juga bangun padahal hari mulai siang,mungkin ia kelelahan karena dini hari tadi ia baru pulang dari tempatnya kerja.


Sementara bayi itu terus saja menangis sedari tadi,aku tak tahu sebabnya mengapa bayi itu terus saja menangis.Aku mencoba menghentikan suara tangisnya tapi tak jua berhasil.


Aku pun akhirnya menyerah,kuputuskan untuk membangunkan Dinda saja dan meminta bantuannya untuk menenangkan bayi itu.


Kuketuk pintu kamar Dinda berulangkali tapi tak jua ada sahutan,aku pun memutuskan untuk langsung masuk saja.


Terlihat Dinda tengah tertidur pulas dengan gurat-gurat kelelahan yang masih nampak diwajahnya.


Sejenak aku terdiam memandanginya yang masih tertidur,rasanya tak tega untuk membangunkannya, tapi suara tangis bayi itu semakin kencang saja membuatku tak punya pilihan lain selain membangunkan Dinda.


"Din.....Dinda bangun Din...." kataku sambil menepuk pipi Dinda pelan.


"eng...." erang Dinda sambil matanya tetap tertutup dan menarik selimutnya kembali.


Aku pun kembali mencoba membangunkannya


"Din....Dinda bangun dong.....tolongin aku" kataku sambil menepuk pipinya kembali.


"Tolongin apa sih? maaf aku nggak bisa aku masih ngantuk" jawab Dinda sambil menggeliat dan kembali memejamkan matanya.


"Din bayi itu terus saja menangis dari tadi,aku sudah berusaha menenangkannya dan memberinya susu formula tapi dia menolak dan masih saja terus menangis!"


"Coba kau susui dia,mungkin dia ingin menyusu darimu!" sahut Dinda.


"Kau tahu sendiri kan aku tak bisa melakukannya!"


"Ayolah Dinda bangunlah,tolongin aku!" kataku lagi terus memaksa Dinda untuk bangun.


Dinda yang merasa tidurnya terusik pun langsung bangkit


"Kau ini kenapa sih? sampai kapan kau akan seperti ini terus? dia itu kan anakmu sendiri?" teriak Dinda marah.


"Aku ini sahabatmu bukan pelayanmu atau baby sitter anakmu,aku juga butuh waktu untuk diriku sendiri!" teriak Dinda terus marah.


Aku begitu terkejut melihat Dinda yang berteriak marah padaku,belum pernah kulihat Dinda semarah ini padaku.


"Aku membiarkanmu tinggal dirumahmu dan membantu merawat anakmu dengan harapan suatu hari kau akan sadar dan mau menerima kehadiran anakmu sendiri,tapi sepertinya aku salah kau tidak juga mau mengerti!" lanjut Dinda sambil tangannya menuding kearahku.


"Dinda aku tahu selama ini kau sudah banyak membantuku,tapi tak sepatutnya kau bicara seperti itu!" teriakku marah.


"Kalau kau sudah mengerti lalu mengapa kau belum juga sadar!" teriak Dinda tak mau kalah.


"Apa hakmu mengaturku? aku cukup tahu diri kalau aku numpang tinggal dirumahmu tapi bukan berarti kau bisa bicara seperti itu!" teriakku semakin marah.


"Kalau kau tak ingin membantuku baiklah tidak apa jangan lagi membantuku,tapi jangan bicara seperti itu!


Disaat kami terus bersitegang tiba-tiba muncul Abhimana didepan kami.Hari ini kebetulan dia mengunjungi rumah kami,tapi saat mendengar pertengkaran kami ia pun memutuskan untuk langsung masuk kedalam dan menghentikan pertengkaran kami.


"Ada apa ini? kenapa kalian bertengkar?" ujar Abhimana melerai pertengkaran kami.


bertepatan dengan itu dia menengok kearah bayi itu saat mendengar suara tangisnya.


"Astaga,kenapa kalian biarkan bayi ini menangis terus dan malah sibuk bertengkar? kasihan kan bayi ini!" kata Abhimana sambil mengambil bayi itu diatas tempat tidurnya dan menggendongnya.


"Cup...cup....cup anak manis kenapa nangis?" ujarnya lagi mencoba menenangkan bayi itu.


"Oh popok kamu sudah penuh ya,sini om gantiin sekalian om mandiin juga ya" kata Abhimana saat menyadari pakaian bayi itu yang basah.


Abhimana pun segera melepas pakaian bayi itu dan segera memandikannya setelah sebelumnya memasakkan air hangat untuknya mandi.


Selesai mandi Abhimana pun memasangkan popok dan bajunya,sesekali ia mengajak bayi itu bicara sambil tersenyum.Setelah semuanya selesai Abhimana pun kembali menimang anak itu.


Aku begitu tersentuh saat melihat Abhimana mengurus anakku.Apalagi saat melihatnya menimang anakku dengan penuh kasih sayang,aku seperti melihat seorang ayah yang tengah menimang anak kandungnya sendiri.


Andai itu memang benar terjadi mungkin aku akan menjadi wanita yang paling bahagia,tapi sayang itu hanya tinggal khayalan,tak terasa air mata pun menetes membasahi pipiku.


Aku pun segera mengusap air mataku dan membuang khayalan itu,tapi ternyata Abhimana menyadari apa yang tengah aku lakukan.


"Kenapa kau menangis Kania? apa kau ingin menggendong anakmu?" tanya Abhimana sambil berjalan ke arahku.


tanpa menunggu jawabanku Abhimana langsung meletakkan bayi itu diatas pangkuanku.


Aku sangat terkejut saat Abhimana tiba-tiba meletakkan bayi itu diatas pangkuanku,tapi saat tubuh kami saling bersentuhan tiba-tiba tubuhku terasa bergetar.


Secara refleks aku pun memeluk bayiku.Kuusap kepalanya dan kuciumi kedua pipinya berulangkali,ada perasaan hangat dalam hatiku saat aku melakukannya.


Bayi itu pun menggeliat dan membuka kedua matanya,ia pun tersenyum padaku.Aku terus memandangi wajahnya dan dia pun memandangiku seakan-akan ia mengajakku bicara lewat kedua matanya.


Kemudian aku membuka kancing bajuku dan memberikan ASI ku pada bayi itu, perlahan ia pun membuka mulutnya dan mulai menghisap ASI ku.


Ada sebuah perasaan aneh yang sulit untuk diartikan saat pertama kali ia menghisap ASI ku,mungkin inilah yang dinamakan ikatan batin antara seorang ibu dan anak.


Bayi itu terus menghisap ASI ku sambil aku terus mengelus kepalanya,lalu ia pun kembali tertidur setelah ia merasa kenyang.


Aku pun kembali meletakkan bayi itu kedalam box bayi dan menyelimuti tubuhnya yang mungil.


Aku tak henti-hentinya memandangi wajah bayi itu,entah kenapa perasaan marah itu berubah dengan sebuah perasaan kasih sayang saat aku menyusuinya.


Melihat semua yang kulakukan Abhimana dan Dinda pun merasa bahagia,mereka tersenyum gembira melihat perubahan yang ada pada diriku saat ini.