Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 89



"Bagaimana keadaan istri saya, dok?" tanya Mas Abhi.


"Anda tenang saja, Tuan. Istri anda baik-baik saja. Dia hanya pingsan saja karena kelelahan setelah mengeluarkan tenaga banyak. Biarkan beliau beristirahat dulu. Anda semua bisa langsung menemuinya setelah dipindahkan ke ruang perawatan" terang dokter.


Mas Abhi dan Papa tersenyum lega, senyum mengembang terbit dari masing-masing bibir mereka. Mas Abhi dan Papa mengucap syukur.


"Terimakasih ya Allah. Terimakasih, dokter!" ujar Mas Abhi.


"Sama-sama. Kalau begitu saya permisi dulu" ucap dokter.


"Silahkan, dok!" jawab Papa.


Mas Abhi memeluk Papa untuk meluapkan kegembiraannya. "Pa, apa Papa sekarang nggak ingin melihat cucu Papa?" tanya Mas Abhi.


"Iya, Bhi. Papa sangat ingin melihat cucu Papa" jawab Papa antusias.


"Ayo, Pa. Kita tengok dia sekarang".


Berjalan beriringan menuju ruang bayi. Mereka hanya bisa melihat bayiku dan Mas Abhi dari luar saja. Dia tengah tertidur bersama bayi-bayi yang lain.


...****************...


Aku sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Mas Abhi duduk dikursi disamping tempat tidurku. Ia terus menggenggam tanganku, sesekali ia mengecupnya, berharap aku segera sadar.


Perlahan jemariku bergerak, dan aku mulai membuka mata. Mas Abhi mengusap kepalaku."Honey, kamu sudah sadar!" pekik Mas Abhi gembira.


"Mas Abhi...." ucapku lirih.


"Iya, honey. Ini Mas!" jawab Mas Abhi lembut.


"Mas, anak kita mana?" tanyaku.


"Dia ada di ruang bayi. Dia sangat lucu dan cantik, sama seperti Bundanya" jawab Mas Abhi.


"Jadi anak kita perempuan, Mas?" tanyaku lagi.


"Iya, anak kita berjenis kelamin perempuan " tersenyum dan mendaratkan ciuman di keningku.


Pintu ruangan terbuka. Papa dan Dinda masuk, mereka datang untuk menjengukku. Aku memandang kearah Papa."Pa...anak kania," ujarku dengan mata berkaca-kaca.


"Iya,nak. Akhirnya impian Papa untuk menimang cucu terkabul" ujar Papa ikut terharu.


Dinda mendekat ke arahku." Selamat ya, Nia. Akhirnya kau memiliki anak kembali. Jaga dan rawatlah dia dengan sepenuh hatimu" ucap Dinda sambil tersenyum.


"Iya, Din. Makasih banyak. Aku janji, kali ini aku akan merawat anakku dengan sepenuh hati" ujarku ikut tersenyum.


Pintu kembali terbuka, kali ini Suster yang masuk. Ia datang sambil mendorong kereta bayi berisi anakku dan Mas Abhi. Dengan hati-hati ia menyerahkan bayi itu padaku. Aku menerima bayi itu dengan penuh gembira. Suster keluar kembali setelah melakukan tugasnya.


"Dia memang sangat cantik,"


ucapku sambil membelai wajahnya.


Aku membuka kancing bajuku dan segera memberikan ASI eksklusif padanya. Ia segera menyambutnya dan menghisap ASIku dengan kuat. Setelah puas, ia kembali tertidur.


Aku meletakkan bayiku kembali ke box bayi, dan setelah itu barulah Papa dan Dinda mengerubunginya.


"Oh ya, Bhi, siapa nama bayi kalian?" tanya Papa.


"Kamu ingin memberinya nama siapa, honey?" tanya Mas Abhi memandang kearahku


"Naila Samma Fatimah. Yang bermakna anak yang ramah, baik hati, mulia, dan cantik. Aku berharap semoga kelak ia selalu diberikan kemuliaan oleh Allah" ujarku sambil tersenyum.


"Amin...." jawab mereka bersamaan.


"Nama yang sangat bagus" ucap Mas Abhi, ia setuju dengan nama yang kuberikan.


"Hai Naila..." sapa Papa dan Dinda bersamaan.


Bayiku menggeliat dan menguap karena merasa terganggu, tapi itu malah membuatnya semakin tampak lucu dan menggemaskan. Papa dan Dinda tertawa melihat tingkahnya. Mas Abhi segera mengabadikan momen itu.


...****************...


Sesampainya dirumah, Papa menyambut kedatangan kami dengan senyum gembira. Ia sudah menyiapkan aqiqah untuk anakku dan Mas Abhi, sekaligus sebagai bentuk rasa syukur kami atas kelahirannya.


Semua tamu undangan sudah banyak yang datang. Kebanyakan mereka adalah kolega Papa dan Mas Abhi. Mereka memberikan banyak bingkisan hadiah untuk bayi kami.


Aku dan Mas Abhi pamit ke kamar sebentar, sekedar untuk ganti baju dan bersiap. Sedang bayiku berada dalam gendongan Dinda.


Tak berselang lama acara segera dimulai. Seorang ustadz ternama sengaja Papa datangkan untuk memimpin jalannya acara.


Acara dibuka dengan pembacaan sholawat nabi. Suaranya menggema hingga seluruh ruangan. Air mataku menitik karena haru, aku teringat


pada sosok Emir." Emir, lihatlah. Adikmu sekarang sudah lahir".


Pada bagian mahallul qiyam, Ustadz menyuruh kami berdiri untuk melakukan Sunnah nabi, yaitu memotong sebagian rambut bayi.


Aku segera bangkit dan menggendong bayiku, berjalan mengitari keluarga dan teman-teman kami. Mas Abhi ikut berdiri di sampingku sambil membawa baki berisi gunting.


Aku berjalan menghampiri Papa, aku ingin dialah yang pertama kali memotong rambut bayiku.


Papa mengambil gunting yang dibawa Mas Abhi dan memotong sedikit rambut bayiku. kemudian ia mengusap dan mencium wajahnya.


"Semoga kelak kau menjadi anak yang hebat dan berbudi mulia, nak" ucap Papa memberikan doa'.


"Amin" sahutku sambil tersenyum.


Kemudian aku beralih menuju Dinda. Ia pun melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Papa.


"Semoga kelak kau menjadi anak yang bisa membanggakan kedua orangtuamu" doa Dinda.


"Amin..." sahutku lagi.


Selanjutnya aku beralih menuju Aditya, asisten Mas Abhi. Dia juga melakukan hal yang sama.


"Semoga kau menjadi orang yang sukses seperti Ayahmu" doa Aditya.


"Amin..." sahutku.


Terakhir, ustadz lah yang memotong rambut anakku.


Setelah seluruh rangkaian acara usai, ustadz menutup acara dengan pembacaan doa, dan berlanjut dengan ramah tamah.


"Mari, silahkan menikmati hidangan yang sudah kami sediakan" ucap Papa


pada para tamu undangan.


Aku ikut duduk disalah satu kursi. Aku merasa sedikit lelah dan haus karena terus menggendong Naila. Aku memanggil seorang petugas catering yang berada tidak jauh dariku.


"Mas, saya haus. Tolong ambilkan saya minum" pintaku.


"Baik, Nyonya!" jawab petugas catering itu. Berlalu ke belakang mengambilkan air minum untukku.


Papa menangkap ada yang tidak beres dengan orang tersebut. Ia terlihat berbeda dengan petugas catering yang lain. Ia mengenakan masker dan topi untuk menutupi wajahnya. Papa memutuskan untuk mengikutinya.


Benar saja kecurigaan Papa, ia melihat dengan mata kepala sendiri saat orang itu membubuhkan sesuatu dalam minumanku. Orang tersebut segera memyelipkan bungkusan itu kembali dalam saku bajunya saat melihat tidak ada orang yang menyadari perbuatannya. Orang tersebut kembali kedepan sambil menenteng baki berisi minuman dan menyuguhkannya padaku.


Cepat-cepat Papa merebut minuman itu dari tanganku sebelum aku sempat meminumnya. Sebagian minuman itu tumpah mengenai bajuku.


"Pa, apa yang Papa lakukan?. Lihat, sekarang bajuku jadi basah, kan!" ujarku, bangkit berdiri karena terkejut dengan tindakan Papa.


"Maafkan Papa, nak. Papa terpaksa melakukannya, karena Papa tidak ingin kau meminum minuman ini" ujar Papa.


"Tapi kenapa, Pa!?. Apa alasannya?" tanyaku tak mengerti.


"Karena minuman ini sudah diberi racun olehnya" jawab Papa menunjuk ke orang tersebut.


Sontak kami pun terkejut mendengar jawaban Papa.