Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 70



Setelah berlibur selama sepekan di Paris,hubungan kami semakin kuat,semakin lama rumah tangga kami semakin harmonis.Aku selalu berdoa semoga rumah tangga kami senantiasa dilimpahi kebahagiaan.


Kami kembali disibukkan dengan rutinitas harian kami.Semua berjalan seperti biasa, hingga suatu hari aku merasakan sesuatu yang aneh pada diriku.


Beberapa hari ini saat bangun tidur aku sering mual dan muntah,Mas Abhi sampai terlambat masuk kantor karena mencemaskan keadaanku.


Seperti halnya hari ini,aku kembali mengalami mual dan muntah,aku segera berlari kearah kamar mandi dan mengeluarkan seluruh isi perutku.


Mas Abhi pun berlari mengejarku dan membantu memijit tengkukku agar aku sedikit lega.


Wajahku pucat setelah mengeluarkan seluruh isi perutku,tubuhku pun terasa lemas.Melihat itu Mas Abhi pun segera membopong tubuhku dan menidurkan ku diatas ranjang.


"Kita ke dokter aja ya, Mas khawatir sama keadaan kamu!," ujar Mas Abhi dengan wajah penuh kekhawatiran.


"Nggak usah Mas,aku baik-baik aja kok!,mungkin aku cuma masuk angin biasa,bentar lagi juga sembuh" tolakku.


Aku pun memijit keningku untuk menghilangkan pusing dikepalaku.Tiba-tiba perutku kembali mual,aku segera berlari menuju kamar mandi dan mengeluarkan isi perutku lagi.


Mas Abhi pun kembali mengejarku dan membantu memijit tengkukku.


"Kita pergi ke dokter sekarang!, Mas nggak mau mendengar penolakan kamu lagi,dari tapi kamu mual dan muntah terus, Mas nggak mau terjadi sesuatu sama kamu" ujar Mas Abhi.


Aku pun mengangguk pasrah mengikuti ajakannya.


Aku segera bersiap dan berganti pakaian,setelah selesai Mas Abhi pun langsung membawaku menuju rumah sakit.


"Bagaimana keadaan istri saya, dok? dia sakit apa?" tanya Mas Abhi setelah dokter selesai memeriksaku.


"Istri anda tidak apa-apa,dia hanya mual muntah biasa saj!" jawab dokter.


"Tapi beberapa hari ini setiap pagi istri saya selalu mual dan muntah dok?" ujar Mas Abhi tak terima dengan apa yang dikatakan dokter.


"Itu normal terjadi pada usia kandungan yang masih muda," jawab dokter.


"Maksud dokter?" tanya Mas Abhi masih tak mengerti dengan maksud dokter itu.


"Jadi anda belum tahu?,kalau begitu selamat karena sebentar lagi Anda akan menjadi seorang Ayah!" ujar dokter itu sambil menjabat tangan mas Abhi.


Mas Abhi sangat terkejut sekaligus gembira mendengar ucapan dokter.


"Istri saya hamil,dok?" tanya Mas Abhi masih tak percaya.


"Benar,pak!.Sekali lagi saya ucapkan selamat pada anda" ujar dokter itu sambil tersenyum.


"Terimakasih banyak dokter!" ujar Mas Abhi sambil tersenyum gembira.


"Honey, kamu akan menjadi ibu lagi,aku sangat senang mendengar kabar ini" ujar Mas Abhi sambil memeluk tubuhku,matanya berbinar-binar menampakkan betapa bahagianya dia saat ini.


"Iya Mas,aku juga senang.ini adalah buah cinta kita" ujarku sambil mengelus perut rataku.


"Mulai sekarang kamu harus banyak istirahat,kamu nggak boleh capek-capek dan harus makan yang banyak!" ujar Mas Abhi posesif.


"Iya mas!" sahutku.


"Oh ya satu lagi,mulai sekarang Mas melarang kamu untuk bekerja,untuk sementara selama kamu hamil biar Dinda saja yang mengurus toko bunga" ujar Mas Abhi lagi.


"Tapi Mas....".


"Tidak ada tapi-tapian!,Mas nggak mau terjadi sesuatu sama kandungan kamu dan mengganggu pertumbuhan janin dalan kandunganmu" ujar Mas Abhi tegas memotong ucapanku.


"Iya deh Mas!" ujarku pasrah,aku tak ingin berdebat dengannya lagi karena ini juga demi kebaikanku.


"Saya akan meresepkan beberapa vitamin agar Ibu tidak lemas lagi saat mengalami mual dan muntah.Jangan lupa obatnya diminum secara teratur ya" ujar dokter itu sambil tersenyum dan menyerahkan secarik kertas pada kami.


Mas Abhi pun segera mengambil kertas itu dari tangan dokter.


"Terimakasih banyak,dok!,kalau begitu kami permisi dulu" ujar Mas Abhi.


"Iya mari!" sahut dokter mempersilahkan kami keluar.


Kami pun segera keluar dari ruangan dokter dan melangkah menuju apotik rumah sakit.


Sesampainya di apotik mas Abhi mendudukkan ku disebuah kursi.


"Iya mas!" sahutku.


Mas Abhi pun segera berlalu dari hadapanku untuk mengambil obatku,dan setelah beberapa saat ia pun kembali lagi.


"Kita pulang sekarang yuk!" ajak Mas Abhi, tangannya tampak menenteng sebuah kantong berisi obat-obatan.


"Ayo Mas!" sahutku.


Mas Abhi pun meraih tanganku dan menggandengku penuh mesrah.


Selama dalam perjalanan pulang Mas Abhi tak berhenti tersenyum,ia sangat bahagia dan tak sabar menanti kelahiran anak kami.


Sesampainya dirumah mas Abhi langsung menggendong tubuhku dan merebahkanku diatas kasur.


"Sekarang kamu istirahat dulu ya, Mas akan buatkan makanan untuk kamu,dan setelah itu kamu minum obat" ujar Mas Abhi.


"Loh emangnya Mas Abhi nggak ke kantor?" tanyaku.


"Tidak,hari ini Mas nggak masuk kerja dulu!" ujar Mas Abhi.


"Kenapa emangnya Mas? aku bisa lakuin sendiri kok,aku baik-baik saja,jadi Mas kerja saja" ujarku.


"Nggak!, selama kamu hamil Mas nggak akan ngebiarin kamu melakukan apapun sendiri" ujar Mas Abhi mempertegas ucapannya tadi.


"Masak Mas Abhi mau bolos kerja terus selama aku hamil? terus Mas mau kasih makan apa anak kita nanti kalau sudah lahir?" ucapku memprotes keputusannya.


Mas Abhi terdiam mendengar ucapanku,ia tampak berpikir untuk mencari jalan keluar.


"Gini aja, Mas akan carikan asisten rumah tangga buat kamu,jadi kamu nggak perlu ngelakuin apapun sendiri dan Mas pun bisa bekerja dengan tenang" ujar Mas Abhi memberikan suatu ide.


"Terserah Mas aja deh gimana enaknya!" ujarku pasrah.


"Nah gitu dong!" ujar Mas Abhi sambil tersenyum dan mengusap kepalaku.


"oh ya Mas,tolong ambilkan handphoneku dong,aku ma berbagi kabar bahagia ini sama Dinda" ujarku.


"Oh ya Mas sampai lupa!,karena semua kebahagiaan ini Mas sampai lupa buat mengabari Dinda" ujar Mas Abhi sambil menepuk dahinya.


"Sebentar ya Mas ambilkan dulu!".


Mas Abhi pun segera mengambil handphoneku dan menyerahkannya padaku.


Aku pun menerima handphoneku dan mulai mencari nomor Dinda.


"Oh ya,tadi katanya Mas Abhi mau bikinin aku makanan!" ujarku mengingatkannya pada perkataannya tadi.


" oh iya, Mas sampai lupa lagi!" ujar Mas Abhi sambil menepuk jidatnya kembali.


"Kalau gitu mas tinggal ke dapur dulu ya!" pamit Mas Abhi sambil berlalu menuju dapur.


Aku pun tersenyum melihat Mas Abhi.


Setelah Mas Abhi berlalu aku segera menghubungi Dinda.


Tut


Tut


Tut


"Iya halo Kania,ada apa?" tanya Dinda setelah ia mengangkat telepon dariku.


"Hai Dinda,aku mau berbagi kabar bahagia nih sama kamu!" ujarku.


"Kabar bahagia apa? ayo cepat katakan!" ujar Dinda.


"Coba deh kamu tebak kabar bahagianya apa?" kataku mencoba bermain tebak-tebakan.


"Udah deh nggak usah main tebak-tebakan,langsung aja kamu bilang kabar bahagianya itu apa" ujar Dinda.


"Iya deh aku langsung bilang,dengerin ya!,kabar bahagianya itu adalah.....".