
Setelah semua acara selesai kami pun berniat untuk kembali kerumah,tapi tiba-tiba Arsen datang dan membuat keributan disana.
"Kania kenapa kau tak mau menikah denganku dan malah memilih menikah dengan pria itu" teriak Arsen dengan amarah yang meletup-letup, tangannya menunjuk kearah Abhimana.
"Maafkan aku Arsen,tapi kan aku sudah pernah bilang aku tak ingin
mengulang kesalahan untuk yang kedua kalinya" jawabku.
"Sekarang aku sudah resmi menjadi istri sah mas Abhi" kataku lagi.
"Tidak,aku tidak akan pernah menerima pernikahan ini!" teriak Arsen.
"Kau terima atau tidak, tapi kenyataannya kami sudah resmi menjadi suami istri,baik secara hukum maupun agama" jawab Abhimana ikut menimpali.
"Diam kau, ini semua gara-gara kamu!" tuding Arsen.
"Kumohon Arsen,jangan ganggu aku lagi,kita sudah punya kehidupan masing-masing, lagi pula bukankah kau sudah ada Dona yang kini menjadi istrimu?" tanyaku.
"Dia sudah bukan istriku lagi, dia menuntut cerai dariku saat ia tahu perusahaanku bangkrut!" jawab Arsen.
Aku terkejut mendengar pengakuan Arsen,aku tak mengira bahwa inilah alasan dibalik keinginannya untuk kembali padaku.
Aku sangat bersyukur ternyata keputusanku untuk menolak permintaan Arsen itu benar,ternyata ia tidak benar-benar menyesali perbuatannya,ia ingin kembali padaku hanya karena ingin memanfaatkan ku lagi seperti dulu.
"Apapun itu jangan pernah berani mengganggu atau menyakiti Kania lagi,Karena Kania sekarang sudah sah menjadi istriku,atau aku akan memberimu pelajaran!" kata Abhimana.
"Siapa takut,ayo sini maju kalau kau berani!" tantang Arsen.
Abhimana pun bersiap hendak melayangkan tinjunya pada Arsen tapi gagal karena keburu dihadang oleh salah satu tamu undangan.
"Maaf mas ini tempat ibadah,tolong jangan bikin keributan disini,kalau mas mas mau bikin keributan silahkan cari tempat lain!" kata salah satu tamu undangan.
aku pun segera maju dan menarik lengan mas Abhi.
"Cukup mas,jangan diteruskan lagi!" kataku pada Abhimana.
"Dan kau Arsen,kumohon pergilah dari sini,tolong jangan ganggu aku lagi" kataku lagi,pandanganku beralih menatap Arsen.
"Baiklah sekarang aku akan pergi,tapi ingat aku tidak akan pernah membiarkanmu hidup bahagia,apalagi setelah kau menolak kembali padaku,aku akan membuat hidupmu semakin menderita!" ancam Arsen.
"Kau boleh lakukan apapun yang kau mau,tapi aku tidak akan pernah membiarkanmu mendekati apalagi menyakiti kania!" kata Abhimana menjawab ancaman Arsen.
"Kita lihat saja nanti,apa yang akan aku lakukan pada kalian!" kata Arsen.
Setelah berkata begitu Arsen pun berlalu pergi,sedangkan aku semakin ketakutan mendengar ancaman Arsen tadi.
"Mas Abhi bagaimana ini?" kataku sambil memegang erat lengan Abhimana.
"Tenanglah Kania, ada aku disampingmu,aku tidak akan pernah membiarkan Arsen menyakitimu!" jawab Abhimana menenangkanku.
Setelah aku sedikit tenang,Abhimana pun beranjak mendekati Emir yang berada diluar masjid.
Saat kejadian tadi berlangsung,Dinda segera mengajak Emir keluar agar Emir tak melihat kejadian tadi.
"Emir nggak pa pa kan nak?"tanya Abhimana memastikan keadaan Emir.
"Emir nggak pa pa kok om" jawab Emir.
"Kok manggilnya masih om sih?" tanya Abhimana sambil merajuk.
"Oh iya Emir lupa,kan sekarang om Abhi sudah menjadi ayahnya emir!" kata Emir sambil menepuk jidatnya sendiri.
"Maafin Emir ya ayah,Emir baik-baik saja kok!" kata Emir lagi mengulang perkataannya tadi.
Abhimana pun tersenyum mendengar ucapan Emir,kemudian ia pun membawa Emir dalam gendongannya.
"Kamu nggak pa pa kan din?" tanya Abhimana lagi yang kali ini ditujukan pada Dinda.
"Kamu tenang aja abhi,aku nggak pa pa kok!" jawab Dinda.
dan mereka pun segera masuk lagi kedalam.
"Bapak-bapak ibu-ibu terimakasih banyak atas kehadirannya,dan kami juga minta maaf atas keributan tadi,kalau bapak-bapak dan ibu-ibu ingin pulang maka kami persilahkan!" kata Abhimana setelah ia masuk kedalam.
Para tamu undangan pun mulai meninggalkan tempat acara,begitu pula dengan kami.
Kami memutuskan untuk segera pulang kerumah dan mengistirahatkan tubuh kami.
...****************...
Tak terasa sudah sepekan aku resmi menjadi istri mas Abhi,aku kembali melanjutkan aktifitasku seperti biasa.
Hari ini aku berniat untuk menjemput Emir disekolahnya,kebetulan aku sudah tidak sibuk,tapi sesampainya aku disekolah Emir ternyata sekolah sudah sepi.
Aku bergegas masuk kedalam dan bertanya pada guru kelas Emir,dia bilang bahwa hari ini anak-anak dipulangkan lebih awal karena ada rapat guru.
Aku kembali berlari menuju pos satpam dan bertanya pada penjaga disana,dia bilang bahwa Emir sudah pulang dari tadi,tadi ada seseorang yang datang menjemputnya.
Pikiran buruk pun mulai berkecamuk dalam pikiranku,aku mencoba menghubungi Dinda, barangkali dialah yang menjemput Emir,tapi ternyata bukan Dinda yang menjemput Emir.
Aku pun semakin kalut,kali ini aku mencoba menghubungi mas Abhi dan bertanya padanya.
"Halo mas Abhi,apa mas yang sudah menjemput Emir disekolah?" tanyaku langsung setelah telepon tersambung.
"Tidak,aku tidak menjemput Emir,bukannya kamu tadi bilang kalau kamu yang akan menjemput Emir disekolah?" tanya mas Abhimana balik.
"Iya mas memang benar,ini juga aku ada disekolah Emir,tapi penjaga bilang Emir sudah pulang dari tadi dijemput oleh seseorang" kataku semakin panik karena bukan mas Abhi juga yang menjemput Emir.
"Coba kau tanya Dinda, barangkali dia yang sudah menjemput emir!" kata mas Abhi
"Aku tadi sudah menghubungi Dinda mas,dia bilang bukan dia yang menjemput emir" jawabku.
"Kalau begitu siapa yang menjemput Emir?" tanya mas Abhi.
"Aku juga nggak tahu mas!" jawabku.
"Mas Abhi perasaanku jadi nggak enak mas, jangan-jangan Emir diculik!" kataku mengungkapkan kekhawatiranku.
"Kau tenanglah dulu Kania,lebih baik sekarang kau pulang dulu kerumah,aku juga akan pulang sekarang,nanti kita bicarakan lagi hal ini dirumah" kata mas Abhi memberikan saran.
"Baiklah mas,kalau gitu aku matikan dulu ya teleponnya" kataku.
dan telepon pun terputus.
Setelah mematikan telepon aku pun bergegas pulang kerumah.
Sesampainya dirumah aku segera masuk kedalam,kebetulan mas Abhi sudah sampai rumah lebih dulu.
"Gimana sih kejadian sebenarnya? coba kau ceritakan semua dari awal!" tanya mas Abhi setelah aku masuk kedalam.
Aku pun mulai menceritakan kejadian tadi disekolah tanpa ada sedikitpun yang terlewatkan.
Setelah aku selesai menceritakan semuanya, tiba-tiba teleponku berbunyi dan itu dari nomer yang tidak dikenal.
Cepat-cepat kuangkat telepon itu.
"Halo ini siap?" tanyaku.
tapi setelah bertanya cukup lama ternyata tidak ada jawaban.
"Halo ini siapa? kalau tidak ada jawaban maka akan kututup!" kataku.
"Tunggu dulu Kania,jangan buru-buru kau matikan telepon ini!" jawab seseorang dari seberang.
"Kau pasti tidak lupa dengan suaraku kan?" tanya orang itu lagi.
Aku terdiam mendengar suara itu,ya suara itu sangat kukenali, suara itu adalah .....