Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 20



Sesampainya di bar itu Dinda mengajakku menemui manager bar,ia memperkenalkan aku dan menjelaskan maksud kedatanganku kalau aku ingin ikut bekerja sebagai pelayan.


Manager itu pun mengijinkan ku untuk bekerja,ia memintaku untuk segera berganti pakaianku dengan seragam disini dan langsung bekerja.


Aku pun segera melakukan apa yang diperintahkan oleh sang manager,setelah berganti pakaian aku segera menghampiri meja pengunjung dan melayani mereka,kebetulan hari ini hari biasa jadi pengunjung tidak terlalu ramai.


Tepat tengah malam pengunjung sudah sepi,kami segera pulang kerumah setelah sebelumnya membersihkan dan menutup bar.


Mobil Dinda segera meluncur membelah jalanan yang sepi,tak berselang lama kami pun sampai didepan rumah.


Sesampai didalam Dinda berpamitan padaku ingin langsung ke kamar dan tidur karena ia sudah mengantuk,aku sendiri memutuskan untuk membersihkan badanku lebih dulu sebelum pergi tidur.


Selesai mandi aku segera merebahkan tubuhku diatas ranjang,tubuhku rasanya penat sekali. Sekian lama aku mencoba memejamkan mataku,tapi tak kunjung jua terpejam, berulangkali juga aku mengubah posisi tidurku,tapi tetap tak berhasil.


Kupandangi langit-langit kamar,pikiranku menerawang kembali mengingat semua kejadian yang telah menimpaku.


Pertama, kedua temanku Nita dan Tasya,mereka yang semula aku anggap sebagai sahabat baikku tenyata mau berteman denganku hanya karena aku anak orang kaya,aku baru sadar jika selama ini akulah yang selalu mengeluarkan uang saat kami jalan bareng,dan disaat orang tuaku hampir bangkrut mereka memutuskan pertemanan denganku.


Yang kedua Mamaku,wanita yang paling aku sayangi dan yang telah melahirkan ku,ia tega berselingkuh dan bercerai dengan Papa yang begitu mencintainya,lalu pergi meninggalkan kami tanpa memperdulikan perasaanku sedikit pun,dan sampai


sekarang aku tak mendengar lagi kabar tentangnya.


Lalu ketiga kekasihku Arsen,ia tega mencampakkanku setelah ia merenggut sesuatu yang paling berharga dariku,dan kini ia berselingkuh dengan sekretarisnya sendiri bahkan berencana untuk menikahinya disaat aku tengah mengandung anaknya.


Dan terakhir Papaku,cinta pertama dalam hidupku,ia tega mengusirku hanya karena aku tak menuruti kemauannya untuk menggugurkan kandunganku,bahkan ia tega menutup semua fasilitas yang kumiliki darinya,hingga terpaksa aku harus bekerja di bar itu untuk memenuhi semua kebutuhanku.


Air mataku terus mengalir dan dadaku terasa sesak mengingat semua penderitaanku.Kenapa dunia begitu kejam padaku,apakah aku tidak berhak untuk bahagia,tiadakah cinta yang tulus untukku.


Tiba-tiba aku teringat dengan obat yang diberikan oleh Dinda waktu itu,aku seperti terbang bebas tanpa beban dan segala yang kulihat terlihat begitu indah setelah aku meminum obat itu,sungguh belum pernah aku merasakan perasaan sebebas itu.


Aku segera bangkit dari tempat tidurku dan berjalan menuju kamar Dinda,aku ingin menanyakan padanya tentang obat itu,tapi sesampainya didepan pintu kamarnya aku mengurungkan kembali niatku untuk bertanya,suara dengkuran Dinda terdengar hingga depan pintu,rasanya tak tega bila harus mengganggu tidurnya.


'Ah biarlah besok pagi saja aku tanyakan soal ini padanya' kataku dalam hati,dan aku pun kembali masuk ke kamarku.


...****************...


Pagi hari tampak Dinda tengah memasuki pagar rumah,sepertinya dia baru keluar membeli makanan di warung,terlihat dari tangannya yang menenteng kantong kresek berisi dua buah nasi bungkus.ia tersenyum saat melihatku melakukan olahraga ringan di teras.


"Udah selesai olahraganya,masuk yuk kita sarapan bareng,nih aku bawain nasi uduk!" ajaknya sambil menunjukkan kantong kresek yang dibawanya.


aku pun menyudahi olahragaku dan mengikuti langkah Dinda masuk dalam rumah.


"Aku ambilkan peralatan makan dulu ya" kataku sambil berlalu menuju dapur.


Aku segera kembali ke ruang tamu sambil membawa peralatan makan dan menaruh makanan diatas piring,kami pun duduk menikmati makanan itu bersama-sama beralaskan tikar lusuh.Walau rumah ini sederhana tapi aku merasakan kehangatan didalamnya,Dinda terlihat sangat tulus membantuku.


Selesai makan aku segera membersihkan sisa makanan kami,aku teringat akan hal yang ingin aku tanyakan semalam.


"emh....Dinda boleh aku tanya sesuatu?" tanyaku ragu-ragu.


"Apa? katakan saja jangan ragu-ragu!"


"Sebenarnya obat apa yang kau berikan padaku waktu itu?".


"Oh mengenai itu,itu pil ekstasi!"


"Jadi yang aku minum waktu itu adalah ....."aku menutup mulutku dengan telapak tanganku karena sangat terkejut mendengar jawaban Dinda.


"Tapi kenapa kau berikan barang haram itu padaku?"


"Malam itu kau terlihat sangat kacau,kau mabuk berat,aku seakan melihat bayangan diriku sendiri di dirimu,karena itu aku memberikan obat itu padamu agar kau bisa melupakan masalahmu!" terang Dinda.


"Sebenarnya nasibmu tidak jauh beda denganku!" lanjut Dinda sambil tertunduk lesu.


aku terhenyak mendengar penuturan Dinda.


"Maukah kau membagi dukamu denganku?" kataku sambil menggenggam tangan Dinda.


"Apa kau yakin ingin mendengar ceritaku?"


aku pun mengangguk mengiyakan,tampak Dinda menghela nafas panjang sebelum akhirnya ia memulai ceritanya.


"Aku bukan berasal dari kota ini,dulu aku juga anak orang kaya,malam itu aku diculik dan diperkosa oleh orang suruhan pamanku sendiri waktu aku masih duduk di bangku SMA dan kedua orangtuaku pun dibunuh olehnya tepat di hadapanku,dan setelah itu ia merampas semua harta peninggalan Papa"


Tampak tetesan air mata mengalir di pipi Dinda saat ia menceritakan kisahnya,aku sangat terenyuh mendengar kisahnya,ternyata apa yang dialami Dinda lebih pahit dari yang aku alami.


"Apa kau tidak melaporkan kejadian itu pada polisi? ini termasuk tindakan kriminal!"


"Kau pikir aku diam begitu saja,aku sudah pernah mencoba melaporkannya pada polisi tapi karena tidak mempunyai cukup bukti maka ia pun dibebaskan,dan sebagai ganti karena aku sudah berani melaporkannya ia pun mengurungku diruang bawah tanah hingga datanglah seorang pelayan setia Papa yang membantuku melarikan diri karena merasa kasihan padaku".


"Setelah berhasil melarikan diri aku pergi ke kota ini dan menghapus identitas asliku untuk menyembunyikan diri,bar itu sendiri adalah salah satu usaha milik pamanku dan aku sengaja bekerja di bar itu selain untuk memenuhi semua kebutuhanku juga karena ingin mencari bukti tentang kejahatannya,disana jugalah aku mulai mengenal tentang barang haram itu,sesekali aku memakainya saat pikiranku sedang kalut!"


"Lalu bagaimana kalau pamanmu tahu kau bekerja disana?"


"Kau tenang saja aku tak sebodoh itu, sebenarnya wajah ini juga bukan wajah asliku,aku sengaja mengubah wajahku dan menguburnya bersama identitas asliku,dan lagi pamanku tak pernah datang mengunjungi barnya itu" terang Dinda sambil tertawa kecil.


"Benarkah? lalu seperti apa wajah aslimu dulu?" tanyaku.


"Tunggu sebentar!"


Dinda pun masuk kedalam kamarnya dan mengambil sebuah foto didalam lemari pakaiannya lalu menyerahkan foto itu padaku.


"Lihatlah ini!"


"Ini beneran kamu?"


"Hemmm...."


"Kau sangat cantik" pujiku sambil berdecak kagum setelah melihat wajah asli Dinda difoto itu,difoto itu ia tampak tersenyum sambil menggandeng tangan seorang lelaki paruh baya.


"Dinda apakah pria yang berfoto bersamamu ini Papamu?"


"Iya benar,dia Papaku!"


"Aku seperti pernah mengenal pria ini,inikan...."kataku ragu-ragu sambil mencoba mengingat-ingat.


*


*


*