
Dinda pun terduduk lesu setelah pintu ditutup,tapi tak berselang lama dia pun bangkit
"Abhimana tolong tunggu disini sebentar,aku mau menyelesaikan administrasi dulu!"pamit Dinda.
"Baiklah!"jawab Abhimana.
Dinda pun berlalu menuju bagian administrasi
"Permisi mbak saya mau menyelesaikan administrasi!"
"Pasien atas nama siapa ya mbak?"
"Atas nama Kania Larasati"
"Sebentar ya mbak saya periksa dulu"
petugas pun segera mengecek data,tak berselang lama ia pun membuka suara
"Mbak diharuskan membayar biaya operasi sebesar sepuluh juta rupiah!"terang sang petugas.
Dinda tampak terperanjat mendengar besarnya nominal yang harus ia bayarkan
"Bisa saya kasih DP dulu nggak mbak,saat ini saya belum ada uang segitu"
"Maaf mbak nggak bisa!"
"Tolonglah mbak,kasihan teman saya!"kata Dinda mengiba.
"Baiklah,tapi mbak harus meninggalkan KTP mbk sebagai jaminan".
"Makasih mbak ini uangnya dan ini KTP saya"kata Dinda sambil menyerahkan sejumlah uang beserta KTP nya.
petugas pun menerima uang dan KTP yang disodorkan oleh Dinda,kemudian menulis sesuatu dilayar komputernya.
"Baik mbak uang sudah kami terima dan ini bukti pembayarannya" kata petugas sambil menyerahkan sebuah kuitansi pembayaran.
"Secepatnya mbak harus melunasi kekurangannya ya" lanjut petugas.
"Baik mbak saya usahakan secepatnya saya akan melunasi kekurangannya,kalau begitu saya permisi dulu mbak dan saya ucapkan terimakasih karena sudah membantu saya!"
dan Dinda pun berlalu dari tempat itu kembali menuju ruang operasi.
"Bagaimana operasinya Bhi? apa dokter sudah keluar?"tanya Dinda sambil duduk didekat Abhimana.
"Entahlah Din,dokter juga belum keluar!"
mendengar jawaban Abhimana Bunda pun tertunduk lesu, air matanya menetes membasahi pipinya yang putih bersih.
"Tenangkan dirimu Din,kita do'akan saja semoga operasinya berjalan lancar dan Kania serta bayinya diberi keselamatan" kata Abhimana sambil memegang pundak Dinda.
"Ini semua salahku,andai saja waktu itu aku tak memberinya obat itu pasti keadaannya takkan seperti ini!"jawab Dinda sendu.
"Coba kau ceritakan padaku bagaimana kejadiannya sampai Kania jadi seperti ini!"
"Ceritanya panjang Bhi!"
"Ceritakanlah,aku akan dengarkan!"
Dinda pun mengambil nafas panjang sebelum akhirnya mulai membuka suara
"Semua berawal dari pertemuan kami di bar malam itu,saat itu aku melihat Kania dalam keadaan mabuk,ia terlihat sangat kacau.Saat melihatnya aku seperti melihat diriku sendiri dalam diri Kania karena itulah aku menghampirinya dan membawanya kerumahku dan memberikannya sebuah obat yang bisa membuatnya melupakan semua masalahnya".
"Memangnya obat apa yang sudah kau berikan?" tanya Abhimana sambil mengernyitkan dahi.
"Ekstasi!" jawab Dinda lirih.
"Apa???,apa kau sudah tidak waras?" teriak Abhimana terkejut.
"Aku tahu aku sangat bodoh telah memberikannya obat itu,tapi sungguh aku tak memiliki maksud apa-apa.Aku hanya merasa kasian melihat kondisinya saat itu!".
"Keesokan paginya aku baru tahu kalau dia dalam keadaan hamil, aku pun sangat terkejut saat mengetahui hal itu" lanjut Dinda.
"Kekasihnya sendirilah yang sudah membuat dia hamil!".
"Waktu itu Kania akan melanjutkan studi di Inggris atas permintaan Papanya dan bertepatan dengan itu kekasihnya pun melamarnya.Kania sempat mengalami dilema saat itu tapi pada akhirnya ia memutuskan untuk tetap melanjutkan studinya".
"Saat musim liburan Kania memutuskan untuk pulang ke Indonesia dan ingin membuat kejutan untuk kekasihnya,tapi naas dia malah dijebak dan diperkosa olehnya"
"Lalu?"
"Setelah kejadian itu Kania memutuskan untuk kembali ke Inggris dan melupakan semua kejadian yang sudah menimpanya,tapi setelah beberapa bulan dia baru mengetahui kalau dia tengah hamil akibat kejadian itu"
"Setelah mengetahui bahwa ia tengah hamil ia terus mencoba untuk menghubungi kekasihnya dan meminta pertanggung jawabannya,tapi selama beberapa bulan kekasihnya tak juga menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan menemuinya,akhirnya Kania memutuskan untuk pulang ke Indonesia dan menemui sendiri kekasihnya"
"Lalu apa yang terjadi selanjutnya" Kata Abhimana terus menyimak cerita Dinda
"Begitu tiba di Indonesia Kania langsung menuju kantor kekasihnya tapi disana dia dikejutkan dengan apa yang dia lihat,dan saat ia meminta penjelasan atas apa yang telah terjadi,dengan terang-terangan kekasihnya mengakui perselingkuhannya serta mencampakkan Kania"
"Setelah melihat kenyataan yang terjadi Kania pun pulang kerumahnya dengan perasaan hancur,dan setelah Papanya mengetahui bahwa ia tengah hamil ia pun diusir dari rumah hingga menyebabkan Kania semakin hancur dan mabuk-mabukan di bar.Itulah saat kami bertemu untuk pertama kalinya!"ujar Dinda menutup ceritanya.
"Sungguh tragis nasib yang dialami oleh Kania!" ujar Abhimana mengomentari.
"Itulah sebabnya aku mengajak Kania untuk tinggal di rumahku dan menawarinya untuk ikut bekerja denganku di bar.Saat itu perlahan-lahan Kania mulai bangkit dari keterpurukannya tapi malam itu ia kembali bertemu dengan kekasihnya dan dengan tega ia mempermalukan serta menghina dirinya dihadapan semua pengunjung"
"Dasar laki-laki pengecut!" geram Abhimana.
"Setelah kejadian itu Kania kembali terpuruk dan terus mengkonsumsi obat itu.Aku sudah berusaha untuk menghentikannya, tapi setelah mendengar pertanyaan yang kau ajukan saat itu Kania semakin terpuruk dan akhirnya ia pun terjatuh dan mengalami pendarahan saat aku mencoba menghentikan perbuatannya" terang Dinda sambil kembali meneteskan air mata.
"Aku sungguh minta maaf,aku tidak tahu jika kejadiannya seperti ini!" kata Abhimana.
"Akulah yang salah,sebagai seorang sahabat aku tidak becus menjaga Kania!" ujar Dinda sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya dan menangis sesenggukan.
"Sudahlah tenangkan dirimu,jangan terus-terusan menyalahkan dirimu sendiri!" kata Abhimana sambil menepuk bahu Dinda.
"Aku rasa ini semua bukan salahmu.Sebagai seorang sahabat kau sudah cukup berusaha,dan seandainya waktu itu Kania tidak bertemu denganmu mungkin keadaannya akan bertambah buruk" tambah Abhimana.
"Aku sudah menganggapnya seperti saudaraku sendiri,saat ini dialah satu-satunya keluargaku,aku sangat takut kehilangan dia Bhi" ujar Dinda sambil terus meneteskan air mata.
"Kita do'akan saja semoga Kania dan bayinya diberi keselamatan!" ujar Abhimana.
"Amin..."
dan mereka pun kembali terdiam,tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Tak berselang lama dokter pun keluar dari ruang operasi
"Keluarga nona Kania"
"Iya saya dok,bagaimana operasinya?" kata Dinda cepat.
"Operasinya berjalan lancar.Bayinya lahir dengan selamat dengan jenis kelamin laki-laki,rahim nona Kania juga sudah kami jahit!"
"Alhamdulillah!" ujar Dinda dan Abhimana bersamaan.
"Lalu bagaimana dengan kondisi Kania dok?,apa saya sudah bisa menengoknya" tanya Dinda.
"Itulah yang ingin kami sampaikan.Kondisi pasien saat ini mengalami koma dan kami tak tahu kapan ia akan sadar!"terang dokter.
"Tidakkk..." teriak Dinda histeris.
"Dinda tolong tenangkan dirimu!" ujar Abhimana mencoba menenangkan Dinda.
"Kami akan segera pindahkan Pasien keruang ICU,setelah itu anda bisa menengoknya" kata dokter.
"Baiklah dok,terimakasih!"
ucap Abhimana.
tak berselang lama aku pun dipindahkan ke ruang ICU, Abhimana dan Dinda ikut mengiringiku dengan bercucuran air mata.