
"Syukurlah Kania, akhirnya kau sadar juga!"kata Abhimana sambil tersenyum gembira.
"Sebentar,aku panggilkan dokter dulu ya!"lanjut Abhimana.
Tak berselang lama dokter dan beberapa perawat pun masuk keruangan ku,dengan cekatan dokter memeriksa keadaanku.
"Ini suatu keajaiban dari Tuhan kita semua patut bersyukur akan hal ini,kondisi nona Kania mulai stabil kita tinggal menunggu untuk pemulihan saja!" kata dokter sambil tersenyum.
"Kami akan pindahkan Pasien keruang rawat inap dan dalam beberapa hari bila tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi maka pasien sudah diperbolehkan untuk pulang!" lanjut dokter.
"Syukurlah,aku sangat senang mendengarnya" kata Abhimana sambil tersenyum bahagia.
"Kalau begitu kami permisi dulu!" pamit dokter
"Baik dok, terimakasih" jawab Abhimana
dan dokter beserta perawat pun berlalu meninggalkan ruanganku.
setelah kepergian dokter Abhimana kembali duduk didekatku.
"Kania aku sangat senang melihat kondisimu sekarang" kata Abhimana,wajahnya tampak berbinar-binar.
"Terimakasih Abhi" kataku tulus.
"Untuk....."kata Abhimana sambil mengerutkan keningnya.
"Terimakasih karena kau sudah menjagaku, karenamulah aku sekarang bisa sadar!"
"Maksudmu...."jawab Abhimana masih tak mengerti.
"Tadi aku seperti berada disebuah taman yang sangat indah hingga rasanya aku tak ingin meninggalkan tempat itu,tapi tiba-tiba sebuah cahaya yang diiringi oleh sebuah suara menarikku keluar hingga aku pun tersadar" terangku.
"Dan saat aku membuka mata aku melihat ada kamu yang sedang melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an,suara itulah yang membawaku kembali ke dunia nyata!" kataku lagi
Abhimana pun manggut-manggut mendengar penjelasan ku.
"Ini semua karena kebesaran Allah,Dialah yang memberimu kesembuhan dan aku hanya sebagai perantara saja!" jawab Abhimana sambil tersenyum.
aku pun ikut tersenyum kecil mendengar perkataannya.
"Oh ya hampir lupa aku akan beritahukan kabar gembira ini pada Dinda,ia pasti sangat senang mendengar hal ini!" kata Abhimana lagi.
dan dia pun mulai menghubungi Dinda, setelah selesai ia kembali memandang ke arahku.
"Kau tahu Kania,saat kau mengalami koma Dinda lah orang yang paling terpukul melihat keadaanmu.Setiap hari ia selalu menangis menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang sudah terjadi padamu,ia bahkan sampai tidak pergi bekerja selama berhari-hari untuk menemanimu!" kata Abhimana.
Benar sekali apa yang dikatakan oleh Abhimana tadi.Sahabatku Dinda,ia adalah sahabat yang paling baik,selama ini ia sudah banyak berkorban untuk membantuku dan mungkin tak akan kutemukan lagi sahabat sebaik dirinya di dunia ini.
Aku kembali menitikkan air mata mendengar ucapan Abhimana,tapi ini bukanlah air mata kesedihan,melainkan air mata kebahagiaan karena memiliki sahabat sebaik Dinda.
Tak berselang lama perawat pun masuk dan memindahkanku keruang rawat inap,setelah semua selesai ia kembali meninggalkan kami berdua.
Tidak ada yang kami lakukan selepas kepergian perawat itu,kami hanya terdiam tenggelam dalam pikiran masing-masing,hingga Abhimana mulai angkat bicara memecah kebisuan kami
"Kania aku mau keluar dulu sebentar mau cari makanan,kamu aku tinggal dulu tidak apa-apa kan?" kata Abhimana.
"Pergilah!" jawabku.
"Apa kau tak ingin membeli sesuatu?" tanyanya lagi
"Tidak!" jawabku sambil menggelengkan kepala.
"Baiklah kalau begitu aku pergi dulu!"
dan ia pun pergi meninggalkanku.
Setelah kepergian Abhimana aku memutuskan untuk kembali memejamkan mataku,tapi entah kenapa rasanya mataku sulit sekali untuk ku pejamkan.
Aku pun memutuskan untuk bersandar saja diatas ranjang,aku bersandar sambil menekuk kedua lututku,pkiranku kembali melayang mengingat semua kejadian yang telah menimpaku.
Tiba-tiba terdengar ketukan dari luar pintu membuyarkan semua lamunanku
tok!
tok!
tok!
dan masuklah seorang wanita kedalam ruanganku yang ternyata ia adalah
Dinda, sahabatku.
Dinda segera berlari dan memelukku begitu ia melihatku
"Kania syukurlah akhirnya kau sadar juga" teriak Dinda sambil tersenyum gembira.
aku melonggarkan sedikit pelukan Dinda ketika kurasa aku sedikit kesulitan bernafas akibat begitu kuatnya ia memeluk tubuhku.
"Eh maaf" kata Dinda saat ia menyadari pergerakanku dan segera melepaskan pelukannya.
"Tidak apa!" jawabku sambil tersenyum tipis.
"Ada apa denganmu? kenapa kau terlihat begitu sedih? apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Dinda saat melihat. kegelisahan yang tampak diwajahku.
"Tidak ada,aku tidak sedang memikirkan apa-apa" kataku sambil tersenyum menyembunyikan kesedihan yang nampak diwajahku.
"Jangan berbohong padaku Kania,aku sahabatmu,aku tahu ada sesuatu yang sedang kau sembunyikan dariku!"
aku pun tertunduk diam,aku tahu aku tidak akan bisa menyembunyikan apapun dari Dinda karena ia begitu tahu mengenai diriku.
"Berapa lama aku koma?" tanyaku akhirnya.
"Kau koma selama dua minggu Kania, tapi ada apa?" kata Dinda.
"Kalau aku mengalami koma selama itu pasti biayanya sangat banyak, aku tidak memiliki banyak uang" jawabku sendu.
"Kau jangan banyak berpikir dulu kau kan baru sadar!"kata Dinda.
"Dan mengenai biaya pengobatanmu kau jangan pikirkan itu,aku sudah menawarkan mobilku kebeberapa orang untuk membayar biaya rumah sakitmu!" kata Dinda lagi.
Aku begitu terkejut dengan apa yang dikatakan Dinda
"Kau akan menjual mobilmu,itu kan satu-satunya barang berharga milikmu!"
"Jangan pikirkan itu!"
"Tapi kalau kau menjual mobilmu lalu kau akan pergi bekerja baik apa?" tanyaku lagi.
"Aku bisa naik taksi atau ojek kan!" jawab Dinda.
"Tidak Dinda kau sudah cukup banyak membantuku,kau ingat dengan jam tangan yang kupakai saat kita pertama bertemu?" kataku saat aku teringat dengan jam tangan yang sempat terbawa olehku saat aku pergi dari rumah.
"Iya ingat, waktu itu kau pernah bilang itu adalah hadiah ulang tahun dari Papamu"
"Jual saja jam tangan itu!"
"Tapi itu kan jam tangan hadiah ulangtahun dari Papamu, barang itu sangat berarti buatmu kan!"
"Kau lebih berarti bagiku dari pada jam tangan itu,dengan adanya dirimu disampingku sebagai seorang sahabat tidak ada hal lain yang lebih penting bagiku!" tukasku sambil menggenggam tangan Dinda.
"Tapi......" Dinda masih terlihat ragu.
"Sudahlah jangan banyak berpikir lagi jual saja jam tangan itu,aku meletakkan jam tangan itu didalam almari,ambil dan jual lah!" jawabku menepis keraguan di hati Dinda.
"Itu adalah jam tangan mahal,aku rasa hasilnya akan cukup untuk membayar biaya rumah sakitku!" kataku lagi.
"Baiklah aku akan menjual jam tangan itu tapi sekarang kau makan dulu ya,kau pasti belum makan kan? tadi aku membawa makanan kesukaanmu,biar aku yang menyuapimu" kata Dinda panjang lebar sambil mengambil paper bag yang tadi ia bawa.
"Baiklah!" kataku sambil tersenyum melihat Dinda yang begitu cerewet.
dan Dinda pun mulai menyuapiku.
"Oh ya dari tadi aku tidak melihat Abhimana,kemana dia? apa dia sudah pulang?" tanya Dinda setelah beberapa lama ia menyuapiku.
"Belum,dia hanya keluar sebentar untuk beli makanan" jawabku.
"oh begitu,kirain sudah pulang!" kata Dinda sambil manggut-manggut.
dan ia pun kembali menyuapiku.