Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 14



Dibelahan dunia lain,seorang lelaki tengah mabuk berat disebuah bar karena merasa sangat kecewa,dialah Arsen.


"Kania kenapa kau tega meninggalkanku,kau tahu aku sangat mencintai dirimu,aku ingin menikahi mu,tapi mengapa kau tetep pergi juga?" racau Arsen meluapkan semua kekecewaannya.


"Tambah lagi minumannya!" katanya sambil meletakkan gelasnya.


seorang bartender pun menuangkan kembali minuman kedalam gelas Arsen.


"Apakah cintaku tidak cukup besar untukmu hingga kau tega meninggalkan aku?" racaunya lagi sambil mengangkat gelas minumannya.


Seorang lelaki tiba-tiba merebut gelas itu sebelum ia sempat meminumnya,lelaki itu adalah David asisten pribadi Arsen.


"Sudah cukup Tuan,hentikan semua ini, jangan minum lagi,Tuan sudah terlalu banyak minum!" ujar David.


"Kembalikan David,aku masih mau minum!" tukas Arsen berusaha merebut kembali gelasnya.


"Tidak Tuan,tuan sudah terlalu banyak minum,jangan minum lagi,lebih baik sekarang kita pulang saja!"jawab David berusaha menjauhkan gelas dari jangkauan Arsen.


"Kau mau aku pecat!! cepat kembalikan gelas itu!"bbentak Arsen.


"Tuan bisa melakukan itu nanti,tapi sekarang kita pulang dulu tuan,tuan sudah mabuk berat!"


Arsen pun berdiri,ia berjalan sempoyongan hingga menabrak sebuah meja,dengan sigap David menarik tangan Arsen sebelum dia terjatuh.


"Mari saya bantu tuan" kata David sambil membantu Arsen berjalan.


David pun membawa Arsen ke mobil dan mendudukkannya di kursi,ia memasang seltbeth ditubuh Arsen dan segera membawanya melesat kembali kerumah Arsen. Arsen terus meracau tak jelas sepanjang perjalanan.


Sesampainya dirumah David segera membawa Arsen masuk ke kamarnya dan membaringkannya diatas ranjang,kemudian melepas sepatu dan mengganti bajunya.


'Keadaan tuan muda sangat memprihatinkan,sungguh seandainya Nona Kania tahu akan keadaan tuan muda sekarang dia tak mungkin tega pergi meninggalkannya' batin David sambil memandangi Arsen.


David pun kembali pulang ke apartemennya setelah memastikan Arsen telah tertidur.


ARSEN POV


Aku sungguh kecewa dengan keputusan Kania,padahal aku benar-benar mencintainya dan ingin menikah dengannya.


Aku sudah berusaha menahannya agar tak pergi,tapi ia tetap pergi juga. Aku tidak melarangnya untuk melanjutkan studinya,tapi tidak bisakah kita menikah dulu baru dia pergi.


Andai dia mau melakukannya,aku rela tiap akhir pekan bolak balik Indonesia-Inggris untuk menemuinya.


Saat di Bandara tadi aku melihatmu sangat menanti kedatanganku,tapi aku tak kuasa untuk melepas kepergianmu,hatiku menangis saat melihat tubuhmu menghilang dibalik pesawat.


ARSEN POV END


...****************...


Aku mulai melakukan rutinitas perkuliahanku, pagi-pagi sekali aku harus berdesakan dengan mahasiswa lainnya untuk mengejar kereta komuter yang berangkat pukul 09.44 waktu setempat, aku juga mulai berbaur dengan penghuni hall of Residence lainnya.Lambat laun aku bisa beradaptasi dengan lingkungan baruku.


Aku mendapat banyak pengalaman baru disini,mulai riset,kegiatan mentoring yang tidak hanya mengakrabkan antar mahasiswa,tapi juga bisa membuka koneksi yang menjanjikan saat memasuki dunia kerja kelak,serta kegiatan perkuliahan yang melelahkan tapi mengasikkan lainnya.


Saat malam tiba kerinduanku pada Arsen selalu menghantuiku,tapi entah kenapa ia sangat sulit untuk dihubungi.


Berulangkali aku mencoba tapi tetap ia tak mau menjawab telepon dariku,tapi aku tak mau menyerah,aku akan terus mencoba untuk menghubunginya.


tuttttt


tuttttt


"Halo...."


Tuhan.... syukurlah akhirnya ia mau mengangkat telepon dariku


"Halo Arsen,bagaimana kabarmu?mengapa kau tak pernah mengangkat telepon dariku? apa kamu sudah makan?bagaimana bisnismu?" aku langsung memberondongnya dengan banyak pertanyaan.


"Aku baik-baik saja,maaf aku sibuk,aku tutup dulu teleponnya!" jawab Arsen singkat.


"Tunggu Arsen,aku mohon jangan tutup dulu teleponnya,kau tahu aku sangat merindukan dirimu,berulangkali aku mencoba menghubungimu tapi tak pernah kau jawab,ada apa denganmu? apa kau marah dengan keputusanku?"


terdengar helaan nafas dari seberang


"Bagaimana kuliahmu?" tanya Arsen.


"Kuliahku baik-baik saja, aku....."belum selesai aku bicara Arsen sudah memotong ucapanku.


"Cepat selesaikan dan segeralah kembali,aku sangat merindukanmu!" jawabnya.


"Iya Arsen aku mencintaimu"


"Aku tutup dulu teleponnya!"


'kenapa Arsen sekarang berubah,kenapa ia menjadi dingin padaku? apakah keputusanku salah?' batinku.


aku kembali mengalami dilema setelah bicara dengan Arsen,aku sangat bingung sekarang.


'Tuhan tolong bantu aku,tunjukkan apa yang harus aku lakukan' batinku sambil memijit keningku yang pening.


Malam semakin larut aku memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhku,kepalaku sangat pusing memikirkan semua ini,semoga ada jalan keluar dari masalah ini.


Kutarik selimut menutupi tubuhku dan mataku pun terpejam masuk ke alam mimpi.


...****************...


Sekarang sedang musim liburan aku memutuskan untuk kembali ke tanah air,sengaja aku tak memberitahu Papa dan Arsen,aku ingin membuat kejutan untuk mereka.


Aku segera mengemasi barang-barangku dan bersiap,aku senyum-senyum sendiri saat membayangkan ekspresi mereka saat tahu aku pulang.


Setelah semua selesai aku menarik koperku dan memanggil taksi yang kebetulan sedang mangkal didekat sini,dan taksi pun segera meluncur ke arah bandara Gatwich.


Sesampai di Bandara,aku segera turun dan membayar ongkos taksi kemudian masuk kedalam.


Aku segera melakukan check-in karena aku sudah memesan tiket jauh-jauh hari dan bergegas menuju jalur keberangkatan,tak berselang lama pesawat pun lepas landas.


Perjalanan berlangsung selama hampir tujuh belas jam,rasanya tak sabar ingin segera sampai.


Aku memutar musik dan menggunakan headphone di telingaku untuk mengusir kebosanan.Hingga tak terasa pesawat telah mendarat di Bandara Juanda.


Aku bergegas keluar Bandara dan mencari taksi lalu segera meluncur kearah rumahku.


Malam mulai merambat saat aku tiba di rumah,suasana nampak sepi,kulihat mobil Papa telah terparkir didepan rumah menandakan Papa sudah berada di rumah.


Aku bergegas masuk kedalam rumah, kulihat Papa sedang bersantai sambil menonton televisi,aku pun berjalan mengendap-endap menuju kearahnya. Saat aku sudah berada dibelakang Papa,aku segera menutup matanya


"Siapa ini? cepat lepaskan,berani sekali berbuat seperti ini pada saya!" teriak Papa marah.


"Coba tebak siapa yang datang?" kataku sambil tersenyum simpul.


"Kania" jawab Papa sambil memutar badannya menghadap ke arahku.


"Kok kamu bisa ada disini nak,kapan kamu datang?" lanjut Papa.


"Kampus lagi musim liburan Pa,jadi aku putuskan untuk pulang kerumah,ini aku baru nyampek!" jelasku.


"Papa apa kabar?" tanyaku sambil mencium punggung tangan Papa.


"Papa baik nak,oh ya kamu sudah makan belum?" tanya Papa.


"Belum Pa,Kania sengaja belum makan biar bisa makan di rumah bareng Papa soalnya Kania udah rindu sama masakan Papa,Papa juga belum makan kan?" kataku.


"Ya udah Papa masakin dulu buat kamu,kamu bersih-bersih dulu sana!" ujar Papa.


"Iya Pa,Nia ke kamar dulu ya Pa" dan aku pun berlalu menuju kamarku.


Sesampainya dikamar aku merebahkan tubuhku sejenak,rasanya capek sekali. Aroma masakan Papa menggelitik indera penciumanku,membuat perutku keroncongan karenanya.


Aku bergegas mandi dan segera turun kebawah,kulihat Papa tengah menata hidangan diatas meja.


"Kamu sudah selesai mandinya,kita makan sekarang yuk!"


"Yuk Pa!" jawabku sambil menghempaskan pantatku diatas kursi.


"Hmmm aromanya sangat lezat,Papa memang koki yang paling hebat" pujiku sambil mengangkat kedua jempolku.


"Kamu bisa aja,udah ah ayo kita makan!"


aku pun mengambil nasi serta lauk bergantian dengan Papa,kemudian kami menikmatinya bersama-sama.


Selesai makan kami duduk bersantai diruang tengah


"Gimana kuliah kamu?" tanya Papa membuka obrolan.


"Kuliah Nia lancar Pa,Nia senang kuliah disana,banyak hal baru yang Nia pelajari disana!" jawabku.


Kami saling bercerita tentang banyak hal,hingga tak terasa malam semakin larut dan kantuk pun mulai datang.


"Pa udah malam Nia udah ngantuk,Nia ke kamar dulu ya" pamitku.


"Iya nak Papa Juga udah ngantuk, Papa juga mau istirahat!" sahut Papa.


kami pun segera masuk ke kamar masing-masing,dan mulai berselancar di alam mimpi.