Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 111



Hari berganti hari, minggu berganti Minggu. Aku kembali berdamai dengan keadaan dan mencoba melupakan semua yang terjadi. Walau kini semua takkan lagi sama seperti dulu. aku pun masih menolak untuk tidur sekamar dengannya.


Hari ini Mas Abhi mengajak kami pergi keluar dan makan siang bareng. Sudah lama kami tidak menghabiskan waktu bersama. Sebenarnya aku enggan untuk ikut, tapi Naila terus memaksa. Akhirnya dengan sangat terpaksa aku pun ikut. Itu semua demi membuat hati anakku senang.


"Ayah, Naila pengen naik rumah balon disitu" ujar Naila sambil menunjuk ke pusat permainan yang ada di dalam mall yang kami kunjungi.


"Boleh, ayo kita kesana!" jawab Mas Abhi, tersenyum.


"Hore!" teriak Naila berjingkrak kegirangan.


"Ayo, Ayah, Bunda" lanjutnya, menggandeng tangan kami berdua.


Kami berjalan beriringan menuju permainan itu. Dalam situasi seperti ini, kami seperti keluarga kecil yang bahagia. Tapi sayangnya itu hanya terlihat diluar saja, didalam hanyalah kehampaan saja.


Sesampai disana Naila tak sabar untuk segera menaiki permainan tersebut. "Ayah, Naila langsung naik ya".


"Naila berani naik sendiri?" tanya Mas Abhi.


"Berani dong, Yah. Naila kan anak pemberani" jawab Naila membusungkan dada agar Ayahnya tidak meremehkannya.


Mas Abhi tertawa kecil melihat tingkah Naila. " Ya sudah sana!".


Naila segera berlari menaiki rumah balon tersebut. Ia melompat kesana-kemari sambil tertawa lepas. Ia juga jungkir-balik diatas permainan itu. Ia terlihat sangat menikmati permainan tersebut, ditambah dia memang tipe anak yang aktif. Hatiku menghangat melihat tawa cerianya.


Mas Abhi berdiri tidak jauh disana. Ia ikut tertawa melihat tingkah Naila. Tak lupa ia mengabadikan momen bahagia ini.


Melihat kegembiraan yang terpancar di wajah naila , juga kedekatan antara dirinya dan Mas Abhi, membuatku seakan memjadi ibu yang egois karena sempat membuat mereka terpisah.


Ah, andai semua itu tidak terjadi. Andai Mas Abhi tidak mengkhianatiku. Pasti kita akan menjadi keluarga kecil yang bahagia.


Melihat aku sedari tadi hanya diam, Mas Abhi pun menghampiriku. "Kamu kenapa, honey?".


"Aku nggak pa pa, Mas. Aku hanya berpikir seandainya kau tidak melakukan hal itu, mungkin kita akan menjadi keluarga yang bahagia" ujarku, tersenyum tipis.


"Apa kamu masih tidak percaya denganku?" tanya Mas Abhi lirih.


"Tolong, Mas. Jangan bertanya hal yang sama terus. Kau pasti sudah tahu jawabannya apa kan!".


Mas Abhi menghela nafas berat. "Semoga suatu hari kau mengetahui kebenarannya. Dan semoga saat itu terjadi, semua tidak akan terlambat".


Aku memalingkan wajah darinya. Aku paling tidak bisa memandang bola matanya yang meneduhkan. Aku takut hatiku akan terbawa emosi sesaat.


"Kamu mau shopping nggak? ayo Mas temenin. Mumpung Naila lagi asyik main. Sudah lama juga kan kamu nggak belanja" tawar Mas Abhi, mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Nggak, Mas. Aku lagi nggak pengen. Aku mau disini aja ngeliat Naila main" jawabku datar.


Mas Abhi kembali menghela nafas mendengar penolakan ku. "Ya, sudah. Kita duduk disana saja" menunjuk ke sebuah bangku yang berada tidak jauh dari sana.


Aku pun mengikuti langkah Mas Abhi, memilih berjalan di belakangnya. Sebenarnya aku ingin bergelayut manja di lengannya seperti dulu. Tapi aku ragu untuk melakukannya. Hatiku masih bimbang dengan semuanya. Aku ingin menjaga hatiku sampai semua terbukti dengan jelas. Semua ini membuatku ragu dalam mengambil sikap.


"Tidak, Mas. Aku dibelakang mu saja".


Aku memalingkan wajahku darinya, menyembunyikan wajah meronaku setelah menabrak tubuhnya tadi. Ada getaran halus yang menyelimuti hatiku saat kulit kami saling bersentuhan.


"Tapi kita kan suami istri. Akan lebih baik kalau kita berjalan berdampingan".


"Tidak, Mas. Maaf".


Lagi, Mas Abhi menghela nafas berat. Ia kecewa denga penolakan ku. Ia mengira aku memalingkan wajah karena tidak sudi berjalan berdampingan dengannya. Ditambah dengan jawabanku tadi yang semakin memperkuat dugaannya.


Mas Abhi mengusap dadanya pelan, mencoba menguatkan hatinya mengahadapi sikapku. Mengumpulkan kesabaran dalam dirinya.


Kami pun sampai di bangku itu. Kami masih bisa memandang Naila dari sini. Tidak ada yang bisa kami lakukan. Kami sama-sama diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing.


Tak berselang lama Naila menghampiri kami.


"Kok Naila udahan mainnya?" tanya Mas Abhi.


"Naila udah puas main, Yah" jawab Naila, terengah-engah sambil tersenyum puas.


"Bunda, kita makan yuk!. Naila udah lapar nih" lanjutnya, mengusap perutnya.


Aku pun tersenyum melihat tingkahnya. "Ya sudah, ayo kita makan".


"Kita makan di restoran itu saja, yuk. Kayaknya enak!" ujar Mas Abhi, menunjuk ke sebuah restoran yang berada tidak jauh dari sana.


Aku pun mengangguk setuju. Naila kembali menggandeng tangan kami, berjalan beriringan seperti tadi. Agaknya dia tidak ingin melewatkan kesempatan ini. Ia ingin kembali mempersatukan kami dengan caranya sendiri.


Kami pun memasuki restoran tersebut. Mencari kursi yang masih kosong dan memesan makanan. Dan tak butuh waktu lama makanan yang kami pesan pun telah terhidang diatas meja.


Kami menyantap makanan pesanan kami diselingi candaan ringan yang lebih banyak berasal dari Naila dan Mas Abhi. Sedang aku lebih memilih menjadi pendengar yang baik.


Naila terus berceloteh dengan tingkahnya yang lucu dan menggemaskan. Aku mencoba menanggapi dengan menyunggingkan senyuman manis. Sesekali Aku menimpali ucapannya. Aku tak ingin dia kecewa dengan sikapku.


Tak jauh dari meja kami, ada sepasang mata yang sedari tadi terus memandang kebersamaan kami. Ia terlihat tidak suka dengannya. Ia memutuskan keluar meninggalkan restoran tersebut. Ia pergi dengan muka merah padam menahan amarah yang bergejolak dihati.


Dia adalah Tasya. Dia memang sudah mengetahui bahwa aku pulang kembali ke rumah. Awalnya dia santai saja menanggapinya. Ia menganggap kalau aku tidak akan mau kembali lagi dengan Mas Abhi walau kami tinggal di atap yang sama. Ia berpikir aku melakukan ini hanya demi Naila. Tapi melihat kebersamaan kami hari ini membuatnya kelabakan.


Tasya terus tersungut-sungut dan mengumpatiku sepanjang perjalanan. Ia khawatir semua rencana yang disusunnya gagal. "Ini tidak boleh dibiarkan. Aku harus menyusun rencana baru untuk memisahkan mereka berdua".


Tiba-tiba langkahnya terhenti di sebuah toko perlengkapan bayi. Terbersit sebuah ide di kepalanya. "Aku punya sebuah ide yang sangat bagus. Aku sangat yakin setelah ini Abhimana dan Kania akan langsung bercerai," tersenyum menyeringai.


Tasya segera memasuki toko tersebut dan membeli barang yang ia butuhkan untuk memuluskan rencananya kali ini. Dan setelah ia mendapat semua yang ia butuhkan, ia bergegas pulang ke rumah.


Sementara itu, selesai menyantap makanan, kami memutuskan kembali lagi ke rumah. Kami sudah penat dan ingin langsung beristirahat. Kami tidak menyadari apa yang akan terjadi lagi setelah ini.