Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 69



Maaf nih reader, author baru bisa up.seharian author ngebleng nggak bisa mikir,terlalu banyak yg dipikirkan hingga tak bisa fokus,maaf ya....


terus dukung author ya dengan cara like koment favorit n vote juga biar author makin semangat up nya 🤗


*


*


.*


*


Mas Abhi pun tersenyum melihat jawabanku, ia kembali mendaratkan ciumannya diatas bibirku dan membawaku masuk kedalam kamar tanpa melepaskan ciumannya padaku.


Ciuman itu semakin lama makin menuntut.Mas Abhi menahan tengkukku agar bisa memperdalam ciumannya,aku pun membalasnya dengan melingkarkan kedua tanganku dilehernya.


Lidah Mas Abhi menerobos masuk kedalam mulutku dan membelit lidahku,kemudian ia mengabsen barisan gigi-gigi putihku.Kami saling mencecap dan bertukar air liur.


Sejenak kami melepaskan ciuman saat kami sama-sama kehabisan napas,tapi tak berselang lama kami pun melanjutkan ciuman kami.


Setelah puas ******* habis bibirku, Mas Abhi turun kebawah.Ia menyusuri dan menyesapi leher jenjangku,meninggalkan bekas kemerahan disana.


Semakin lama Mas Abhi semakin turun kebawah, deru nafasnya semakin hangat menerpa tubuhku.Aku pun tak mampu lagi menahan gejolak asmaraku menerima semua sentuhan lembutnya.


Mas Abhi pun membawaku kearah tempat tidur dan merebahkanku diatasnya,kemudian ia kembali mendaratkan ciumannya disekujur tubuhku.


Tubuhku menggelinjang hebat merasakan sensasi yang kini kurasakan,aku mengerang kenikmatan,hingga Mas Abhi semakin terbakar asmaranya mendengar eranganku.


Dinginnya malam tak mampu menghalangi hasrat dalam diri,malah semakin menambah gairah untuk segera mencapai penyatuan kami.


Malam semakin larut,aku pun semakin tenggelam didalam surga cinta Mas Abhi,hingga akhirnya aku pun terlena dan tertidur dalam pelukannya.


Menjelang subuh aku pun terbangun,kupandangi wajah Mas Abhi yang tengah tertidur di sampingku sambil tersenyum.Aku sangat bahagia karena kali ini suamiku lah yang menyentuh tubuhku.


Semalam setelah permainan panas kami,kami terkapar lemas dengan tubuh polos,hanya sebuah selimut saja yang menutupi tubuh kami.


Mas Abhi pun tertidur di sampingku dengan posisi tangannya memeluk erat pinggangku,aku pun semakin merapatkan tubuhku ke dada bidang Mas Abhi saat hawa dingin menusuk tubuhku.


Aku menggeliat hendak mencium pipi Mas Abhi,tapi tenyata pergerakanku membuatnya terbangun.


"Kamu sudah bangun,honey?" tanya Mas Abhi sambil memandang kearahku.


Aku tersenyum mendengar pertanyaan Mas Abhi,aku tak menjawabnya dan malah mendaratkan ciumanku diatas bibirnya.


"Aku sangat bahagia,Mas!,aku rasa sekarang aku sudah jatuh cinta padamu,dan sekarang aku adalah milikmu seutuhnya" ucapku sambil tersenyum.


Mas Abhi pun ikut tersenyum mendengar ucapanku.


"Aku sangat senang mendengar ucapanmu,honey.Terimakasih karena sudah menerimaku seutuhnya" ujar Mas Abhi sambil mendaratkan ciuman diatas keningku.


"Kita lakukan itu sekali lagi yuk!" ajak Mas Abhi.


Aku pun menjawab ajakan Mas Abhi dengan menganggukkan kepala.


Mas Abhi pun segera bangkit dan menyibak selimut yang menutupi tubuh kami,dan pergumulan kami pun terjadi lagi.


...****************...


Tak terasa sudah sepekan kami berlibur ke Paris, hari ini kami harus segera kembali ke Indonesia karena besok Mas Abhi harus kembali bekerja.


Sebelum bertolak ke Indonesia,aku mengajak Mas Abhi untuk berbelanja oleh-oleh dan beberapa sovenir,setidaknya ada yang bisa kami bawa sebagai kenang-kenangan selama kami berlibur disini.


Selesai berbelanja,kami segera menuju ke bandara,dan setelah beberapa saat, pesawat pun lepas landas meninggalkan bandara.


Perjalanan dari Paris menuju Indonesia memakan waktu tujuh belas jam,kami menggunakan waktu itu untuk mengistirahatkan tubuh kami.


Tak terasa pesawat telah mendarat di bandara Soekarno-Hatta,kami segera turun dari pesawat dan menuju ke parkiran, ternyata sudah ada Dinda disana,ia segera menghampiri kami untuk menyambut kedatangan kami.


"Akhirnya kalian sampai juga!,selamat datang kembali di Indonesia,aku senang bisa melihat kalian lagi" ujar Dinda sambil tersenyum.


"Aku juga senang bisa melihatmu kembali," ucapku sambil tersenyum pula.


"Oh ya kamu tau nggak,selama aku disana aku terus saja merindukanmu".


"Oh ya?," ujar Dinda tak percaya.


"Tentu saja iya!,aku tuh sangat rindu mendengar ocehan kamu yang udah kayak burung beo kalau lagi ngambek pas aku goda" ujarku menjelaskan maksudku.


aku segera bersembunyi di balik tubuh Mas Abhi dan menghindar dari serangannya.


"Kalian ini!,kalau ketemu udah kayak tom and Jerry aja,selalu ribut" ujar Mas Abhi sambil tersenyum melihat polah kami.


Aku pun keluar dari balik tubuh Mas Abhi.


"Udah udah,aku minta maaf,aku tadi cuma bercanda kok!" ucapku.


"Maaf diterima,tapi ada syaratnya!" ujar Dinda.


"Memang syaratnya apa?" tanyaku.


"Kamu harus memberiku oleh-oleh dari Paris!" ujar Dinda menyebutkan syaratnya.


"Beres!, kamu tenang aja,aku udah bawain oleh-oleh buat kamu kok!" jawabku.


"Benarkah? kamu ini memang sahabatku yang paling baik,kemanapun kau pergi kau tidak pernah melupakanku!" ujar Dinda memujiku.


"Mana bisa aku melupakanmu? kau adalah sahabat terbaik yang pernah kupunya, terimakasih karena sudah mau menjadi sahabatku!" ujarku setulus hati.


"Sama-sama!" jawab Dinda.


Kami pun berangkulan sebagai tanda terimakasih dan juga sebagai pelepas kerinduan kami.


"Mas nggak dipeluk juga? masak Dinda doang yang dipeluk?" protes Mas Abhi.


Aku pun melepaskan pelukanku pada Dinda.


"Ish Mas Abhi ini,apaan sih!" ujarku sambil tersipu malu.


"Ciye ciye yang lagi kasmaran," ujar Dinda menggodaku.


Aku pun semakin tersipu mendengar ucapan Dinda.


"Kamu ini ikut-ikutan saja, awas kamu ya!" ujarku sambil melirik kearah Dinda.


"Udah udah,nanti lagi dilanjut ributnya.Sekarang kita pulang dulu,aku sudah capek nih,mau istirahat!" ujar Mas Abhi melerai keributan kami.


"Iya mas,maaf!" ujarku sambil nyengir kuda.


Kami pun bergegas menuju mobil Dinda dan segera pulang kerumah.


Sesampainya di rumahku,aku segera memberikan oleh-oleh yang sengaja aku beli untuk Dinda.


"Din,ini oleh-oleh buat kamu!" ujarku sambil menyerahkan sebuah paper bag pada Dinda.


"Wah terimakasih banyak ya!" ujar Dinda sambil menerima paper bag dari tanganku.


"Isinya apaan nih?".


"Kamu buka aja!" sahutku.


"Enggak deh,nanti aja dirumah,sekarang aku mau pamit dulu!" ujar Dinda.


"Loh,emangnya kamu mau langsung balik?"tanyaku.


"Iya nih,aku masih ada urusan setelah ini!" jawab Dinda.


"Oh gitu!,ya udah kamu hati-hati ya, dan terimakasih karena sudah menjemput kami tadi!" ujarku.


"Sama-sama!" jawab Dinda.


"Abhi,aku pamit pulang dulu ya!" ujar Dinda pada Mas Abhi.


"Iya Din,makasih banyak ya!" ujar Mas Abhi.


Dinda pun menganggukkan kepala dan berlalu meninggalkan rumah kami.


Sepeninggal Dinda, Mas Abhi pun berpamitan padaku hendak menuju kamar.


"Honey,Mas ke kamar dulu ya! Mas masih capek" ujar Mas Abhi


"Iya Mas!" sahutku.


Mas Abhi pun segera berlalu menuju kamar, sedangkan aku membereskan barang-barang kami tadi terlebih dahulu sebelum akhirnya aku menyusul Mas Abhi ke kamar dan ikut beristirahat.