Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 60



" Tolong minggir sebentar!, biar kami yang menangani pasien!" ujar dokter itu.


Kami pun segera menyingkir agar dokter bisa mengambil tindakan.


Dokter pun segera melihat mata Emir dan juga detak jantungnya.


"Suster,tolong siapkan defribrilator segera!.Kita harus memompa jantung pasien untuk menyelamatkan nyawanya!," ujar dokter tiba-tiba.


Aku semakin ketakutan mendengar ucapan dokter tadi.


"Baik,dokter!" jawab suster.


Suster pun segera mengambil alat itu dan menyerahkannya pada dokter.


"Ini dok!" ucap suster.


Dokter pun segera mengambil alat itu dan mulai memacu jantung Emir.


Satu kali.


Dua kali.


Tiga kali.


tutttt


nampak sebuah garis lurus dilayar monitor.


Dokter pun menghentikan usahanya dan berbalik menghadap kami.


"Kami mohon maaf!.Kami sudah berusaha sebaik mungkin,tapi Tuhan berkehendak lain,nyawa pasien sudah tidak bisa diselamatkan lagi!," ujar dokter itu.


jduarr


Serasa bagai sebuah sambaran petir yang menghantam tubuhku.Aku pun berteriak histeris dan berlari menuju Emir.


"Emir bangunlah,nak!,bukalah matamu!.Kau tidak boleh meninggalkan Bunda seperti ini!" teriakku histeris sambil menguncang tubuh Emir mencoba membuatnya sadar kembali.


Mas Abhi pun berlari menghampiriku dan mencoba menenangkanku.


"Sadarlah Kania, Emir sudah meninggal!" ujar Mas Abhi.


"Tidak Mas, Emir belum meninggal!,aku tahu anakku masih hidup!" jawabku bersikukuh.


"Tidak Kania!,Emir memang sudah meninggal!" ujar Mas Abhi lagi.


"Tidak Mas!, Emir tidak boleh mati,dia tidak boleh meninggalkanku seperti ini!" ucapku,air mataku tumpah ruah membasahi pipiku.


"Tenanglah Kania,ikhlaskan kepergiannya!" ujar Mas Abhi,mencoba menguatkanku.


"Suster,tolong lepas semua alat-alat ditubuh pasien!" ujar dokter kemudian.


"Baik,dok!" jawab suster.


Suster pun mulai mencopoti semua alat yang menancap ditubuh Emir.


Melihat itu,aku pun semakin kalap.


"Tidak sus,jangan lepas alat-alat ini!.Anakku masih hidup,dia belum meninggal!" ujarku sambil berusaha menghalangi suster menjalankan tugasnya.


Mas Abhi pun segera meraihku dan membawaku kedalam pelukannya.


"Kumohon Kania,kuatkan dirimu!,terimalah kenyataan ini,Emir sudah meninggal!" ujar Mas Abhi sambil mengusap kepalaku,air matanya pun ikut mengalir.


"Tidak Mas!, Emir ku belum meninggal,dia masih hidup!" ujarku bersikukuh menganggap bahwa Emir masih hidup.


"Sudahlah Kania,terima kenyataan ini!" ujar Mas Abhi sambil tetap mengusap kepalaku.


"Silahkan dilanjutkan lagi,sus!" ucap Mas Abhi kepada suster.


Suster pun kembali melakukan tugasnya.sementara itu Mas Abhi segera membawaku menjauh dari sana.


Aku terus menangis dan meratapi kepergian Emir.Tiba-tiba dunia terasa gelap bagiku,dan aku pun kehilangan kesadaran.


"Kania,kau kenapa? sadarlah Kania!" ujar Mas Abhi sambil menepuk pipiku.


Mas Abhi pun segera membopong tubuhku dan membawaku menuju ruangan lain.


Sesampainya disana, dokter segera memeriksa tubuhku.


"Bagaimana keadaan istri saya, dok? tanya Mas Abhi saat melihat dokter selesai memeriksa tubuhku.


"Istri anda tidak apa-apa,dia hanya masih syok aja!" ujar dokter memberi penjelasan.


Mas Abhi pun bernapas lega mendengar penjelasan dokter itu tadi.


"Saya sudah menyuntikkan obat penenang agar dia bisa tenang, sementara ini biarkan dia beristirahat dulu!" ujar dokter lagi.


"Baik dok, terimakasih!" ucap Mas Abhi.


"Kalau begitu saya permisi dulu!" pamit dokter itu.


Setelah dokter itu pergi Mas Abhi pun menghampiriku.


"Kania, beristirahatlah dengan tenang.Nanti aku akan kesini lagi!" ujar Mas Abhi sambil mengusap kepalaku.


Mas Abhi pun segera pergi dari ruanganku dan menuju kearah Dinda yang sedang sibuk mengurus jenazah Emir.


"Bagaimana Din?," tanya Mas Abhi pada Dinda.


"Semua sudah selesai,Bhi,kita hanya tinggal membawa jenazah Emir pulang!" jawab Dinda.


"Baiklah kalau begitu!" ucap Mas Abhi.


"Bagaimana keadaan Kania?," tanya Dinda.


"Dia hanya masih syok.Tadi dokter sudah memberikan obat penenang agar dia bisa tenang.Sementara ini kita biarkan dulu dia beristirahat!" ujar Mas Abhi memberi penjelasan.


"Syukurlah kalau begitu," ujar Dinda bernapas lega.


"Sekarang kita harus bagaimana? apa kita bawa aja dulu jenazah Emir pulang kerumah?" tanya Dinda.


"Sebaiknya memang begitu. kita harus memakamkan jenazah Emir segera!" jawab Mas Abhi.


"Apa kita tidak menunggu Kania aja dulu,baru kita makamkan jenazah Emir?" tanya Dinda lagi.


"Sebaiknya tidak,itu hanya akan membuat Kania semakin sedih!" ujar Mas Abhi.


"Baiklah,kalau itu memang yang terbaik menurutmu!" ujar Dinda.


Dinda dan Mas Abhi pun segera membawa jenazah Emir pulang dan memakamkannya segera.


...****************...


Sudah sepekan sejak Emir meninggal dunia,sejak itu pula aku terus mengurung diri didalam kamar.


Aku sangat terpukul dengan kepergian Emir,aku tak menyangka bahwa ia akan pergi secepat ini.


Mas Abhi terus berusaha menghiburku dan membuatku kembali tersenyum,tapi aku tetap tak mau tersenyum.


Dunia terasa hampa bagiku,hidupku terasa kosong tanpa kehadiran Emir disisiku.


Emir adalah segalanya bagiku,dia adalah sumber kekuatanku.Kepergiannya seakan membawa semua kebahagiaanku.


Semakin hari aku semakin terpuruk dalam kesedihanku,hingga akhirnya aku memutuskan untuk menggunakan barang haram itu lagi untuk melupakan semua kesedihanku.


Aku segera mencari barang haram itu kesalah satu orang yang pernah kukenal dulu,dan setelah aku mendapatkannya aku pun segera meminumnya.


Tiba-tiba saja Mas Abhi muncul dan merebut barang haram itu dari tanganku sebelum aku sempat meminumnya.


"Apa kau sudah tidak waras? kenapa kau menggunakan barang haram ini lagi?" teriak Mas Abhi marah.


"Kembalikan barang itu Mas,aku ingin meminumnya!," ujarku sambil berusaha merebut kembali barang haram itu dari tangan Mas Abhi.


"Tidak!,aku tidak akan membiarkanmu menggunakan barang haram ini lagi!" sergah Mas Abhi.


Mas Abhi pun segera keluar menuju tong sampah dan membuang barang haram itu,kemudian dia pun membakarnya.


"Kenapa kau membakar barang itu Mas?" tanyaku berteriak marah.


"Apa kau sudah kehilangan akal? kau lupa dengan perjuanganmu dulu untuk lepas dari benda itu?" tanya Mas Abhi dengan sedikit emosi.


"Itu sekarang sudah tidak berarti lagi Mas!," jawabku sambil menggelengkan kepala.


"Emir adalah satu-satunya alasanku untuk berubah,tapi sekarang dia sudah tidak ada!".


"Aku tahu kau sangat terpukul dengan kepergian emir,aku juga sama!.Tapi bukan berarti kau boleh menggunakan benda itu lagi!" jawab Mas Abhi mencoba memberiku pengertian.


"Lalu apa lagi alasanku sekarang,Mas? ayo coba jelaskan!" ucapku mendesaknya untuk memberiku alasan.


Mas Abhi pun diam sejenak mendengar ucapanku.


"Sekarang ikut aku!," ujar Mas Abhi setelah beberapa saat sambil menarik pergelangan tanganku.


"Kau mau membawaku kemana,Mas?" tanyaku.


"Sudah ikut saja!" jawab Mas Abhi.


Aku pun terpaksa mengikuti langkah mas Abhi.


"Sekarang masuk ke dalam mobil!" ujar Mas Abhi lagi.


aku pun menuruti perintah Mas Abhi dan segera masuk ke mobil.


Mas Abhi pun masuk juga kedalam mobil disisi lainnya dengan cara mengitarinya.


"Kita mau kemana, Mas?" tanyaku lagi setelah Mas Abhi masuk.


"Kita akan pergi ketempat dimana kau akan sadar!" jawab Mas Abhi singkat.


Mas Abhi pun segera menyalakan mesin mobil dan mulai melajukan kendaraannya.