
Setelah beberapa saat memeriksa tubuhku dokter Faruq memandang Papa sejenak dan kemudian menghela nafas panjang.
"Bagaimana keadaan putri saya dok?"
"Sepertinya putri anda mengalami trauma berat!" jawab dokter Faruq
"Saya tidak tahu apa yang sudah dialaminya,tapi saya harap anda tidak memaksanya untuk menceritakan masalahnya karena bisa membuat keadaanya semakin buruk"
"Biarlah dia tenang dulu dan menceritakan sendiri masalahnya"
"Saya sudah memberikan dia suntikan obat penenang biarkan dia istirahat dan ini saya buatkan resep obat,nanti kalau dia sudah sadar berikan obat ini padanya"
"Oh ya jangan lupa makan dulu sebelum meminum obatnya ya!" kata dokter Faruq menjelaskan panjang lebar.
"Baiklah dokter!" jawab Papa
"Kalau begitu saya permisi dulu tuan!"
"Iya dok, makasih banyak atas bantuannya"
"Sama-sama, permisi....."
dan dokter itu pun berlalu pergi.
Setelah kepergian dokter itu Papa masih setia menungguku membuka mata,ia duduk di sampingku sambil menggenggam tanganku dan mengusap rambutku.
"Kania,apa sebenarnya yang sudah terjadi sama kamu sampai kamu jadi seperti ini nak?"
bersamaan dengan itu bik Ijah datang membawakan minuman hangat untukku
"Permisi Tuan,ini minumannya buat non Kania!"
"Taruh aja disitu bik,oh ya tolong buatin Kania bubur juga ya bik biar nanti kalau dia sudah sadar bisa langsung makan!"
"Baik Tuan!"
dan bik Ijah pun kembali lagi ke dapur.
Setelah sekian lama akhirnya aku mulai membuka mataku.
"Arrg....!"erangku merasakan sakit disekujur tubuhku.
"Kania akhirnya kamu sadar juga nak,apa yang sudah terjadi hingga kamu bisa seperti ini nak?"
aku tak menjawab pertanyaan Papa,hanya air mataku yang mulai menganak sungai.
"Hiks....hiks ..."
"Tenangkan dirimu nak,kalau kamu nggak mau jawab pertanyaan Papa sekarang nggak pa pa nak,kamu bisa cerita saat kamu sudah siap!" kata Papa sambil mengusap air mataku.
"Ini diminum dulu biar badan kamu hangat!" ujar Papa menyodorkan sebuah minuman padaku.
aku pun meminum minuman yang disodorkan oleh Papa,tak berselang lama bik Ijah pun datang membawa nampan berisikan bubur yang masih hangat
"Sekarang kamu makan dulu ya,biar Papa yang suapin kamu" kata Papa sambil tersenyum dan mengambil bubur ditangan bik Ijah.
Dengan telaten Papa mulai menyuapiku satu persatu.Aku sangat tersentuh dengan perhatian yang ditunjukkan Papa padaku sekarang,ternyata Papa sangat peduli padaku.
Dilain sisi aku menjadi bimbang bagaimana reaksi Papa kalau ia tahu yang sebenarnya,apa sebaiknya aku simpan saja masalah ini sendiri.
Tak berselang lama Papa pun usai menyuapiku.
"Sekarang kamu minum obatnya dulu ya!"
aku pun menuruti ucapan Papa,kuambil obat ditangan Papa dan meminumnya.
"Sekarang kamu istirahat dulu!" kata Papa selanjutnya sambil menyelimutimu dan mengecup keningku.
"Papa pergi dulu!"
aku pun mengangguk membiarkan Papa pergi.
Setelah kepergian Papa aku kembali menangis meratapi nasib diriku hingga aku kembali tertidur karena lelah menangis.
...****************...
Semenjak kejadian itu aku terus menangis dan mengurung diri dikamar,aku tak mau beranjak dari tempat tidurku walau sekedar untuk makan.
Setiap hari bik Ijah membawakan makanan untukku,tapi tak pernah kusentuh. Papa semakin khawatir dengan keadaanku,dia terus membujukku untuk makan.
Setiap hari juga Arsen terus menelfonku,tapi tak satupun telfonnya yang kuangkat hingga dia pun nekat mendatangi rumahku.
terdengar pintu kamarku diketuk
"masuk!"
aku sangat terkejut saat melihat siapa yang datang,aku langsung berteriak menyuruhnya pergi.
"Ngapain kamu kesini,keluar dari kamarku sekarang!" usirku.
"Aku mau minta maaf Kania,aku bisa jelasin kenapa aku melakukan itu padamu!"
"Tidak,aku nggak mau mendengar apapun darimu!" jawabku sambil menutup kedua telingaku.
"Kania aku terpaksa melakukan itu padamu untuk menahanmu agar kau tak pergi lagi dariku"
bayangan akan kejadian malam itu kembali terlintas di pikiranku,aku semakin teriak histeris.
"Pergi!!!!"
Papa langsung berlari memasuki kamarku saat mendengar aku berteriak histeris.
"Ada apa nak kenapa kamu berteriak histeris?" tanya Papa sambil memelukku mencoba menenangkanku.
"Pa tolong usir pria itu dari kamarku,aku tak ingin melihat mukanya lagi!" kataku sambil menuding kearah Arsen.
"Arsen bisakah kau keluar,biarkan Kania tenang dulu nak!"
"Baiklah om,saya permisi dulu!" jawabnya kemudian berlalu pergi.
Setelah Arsen pergi aku pun kembali tenang.
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi nak?, kenapa kamu jadi seperti ini?"
"Dia pria jahat Pa,aku benci dia!"
"Bukankah dia kekasihmu nak? kenapa kau membencinya? apa yang sudah terjadi?"
aku tak menjawab satu pun pertanyaan Papa,hanya air mataku yang terus mengalir.
"Baiklah kalau kamu masih nggak mau cerita ke Papa,sekarang kamu istirahat saja!" tukas Papa sambil membaringkanku, dan Papa pun berlalu pergi.
...****************...
Tiga Minggu telah berlalu,aku memutuskan untuk kembali ke Inggris,aku ingin melupakan semua kejadian buruk yang menimpaku dan lagi musim liburan hampir usai.
"Apa kamu yakin dengan keputusan kamu saat ini nak?" tanya Papa mencoba menghentikan ku saat berada di Bandara,raut wajahnya melukiskan kecemasan akan kondisiku.
"Papa jangan khawatir Kania baik-baik saja kok Pa,Kania ingin melupakan semua kejadian yang sudah menimpa diri Kania,dan lagi musim liburan hampir habis Pa,aku harus segera kembali untuk melanjutkan studiku Pa banyak yang harus dipersiapkan disana!" jelasku panjang lebar mencoba mengusir kekhawatiran Papa.
"Baiklah kalau ini kemauanmu nak tapi kalau ada apa-apa segera hubungi Papa ya nak!"
"Pasti Pa!" jawabku meyakinkan Papa.
"Ya sudah Pa Kania pamit dulu ya Pa pesawat Kania sudah mau berangkat!" pamitku sambil mencium punggung tangan Papa.
"Iya nak, hati-hati dijalan jangan lupa kabari Papa kalau kamu sudah sampai disana"
aku pun mengangguk mengiyakan.
Aku segera menuju ke jalur keberangkatan,aku menoleh ke arah Papa dan melambaikan tangan sebelum akhirnya tubuhku menghilang dibalik badan pesawat.
Aku segera mencari tempat dudukku dan menghempaskan tubuhku diatasnya.Perjalanan berlangsung selama beberapa jam,aku mencoba memejamkan mata untuk sejenak melupakan beban pikiran.
...****************...
Aktifitas perkuliahan kembali berlangsung dan aku kembali disibukkan dengan banyak kegiatan,hingga aku hampir melupakan semua kejadian yang sudah menimpaku.
Tapi akhir-akhir ini aku mudah sekali lelah bahkan aku seringkali pingsan ditengah-tengah kegiatan dan berakhirlah aku dirumah sakit.
Seperti hari ini aku tiba-tiba saja pingsan saat sedang melakukan riset ilmiah,beberapa temanku membawaku kerumah sakit terdekat.
Aku tersadar bersamaan dengan seorang dokter dan suster masuk kedalam ruanganku,dia memandangku sejenak dan tersenyum
"Gimana rasanya,apa sudah baikan?" tanya dokter itu.
"Dok kenapa akhir-akhir ini saya mudah sekali lelah dan seringkali pingsan,apa sebenarnya yang sudah terjadi pada saya?"
"Kapan terakhir kali nona datang bulan!"
aku sangat terkejut mendengar pertanyaan dokter itu,aku baru sadar bahwa bulan ini aku belum datang bulan.