Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 64



"Kania,besok lusa aku mau ngajakin kamu liburan berdua ke Paris!" ujar Mas Abhi suatu hari saat ia hendak berangkat kerja.


"kenapa mendadak sekali Mas!" protesku.


"Aku sudah merencanakan ini jauh-jauh hari,kebetulan lusa aku dapat cuti,makanya sekarang aku ngomong ke kamu!" ujar Mas Abhi.


"Tapi aku nggak bisa ikut Mas!" tolakku.


"Eits nggak ada tapi-tapian,kali ini aku nggak mau ada penolakan lagi darimu apapun alasanmu!,anggap saja ini adalah bulan madu pertama kita setelah menikah!" ujar Mas Abhi.


Aku pun menghela napas panjang.Aku kesal dengan keputusannya barusan tanpa mau mendengarkan dulu penjelasan dariku.


Baru kali ini Mas Abhi memaksakan kehendaknya padaku.Padahal tadi aku cuma mau bilang kalau lusa aku juga ada janji sama Dinda.Sepertinya aku harus menelepon Dinda untuk membatalkan janjiku padanya.


"Baiklah Mas,aku akan mempersiapkan semuanya!" ujarku akhirnya.


"Tidak usah,aku sudah siapkan semuanya disana,kita nanti hanya tinggal berangkat saja!" ujar Mas Abhi.


"Ya sudah kalau begitu!" jawabku.


"Kalau begitu aku berangkat dulu!" pamit Mas Abhi.


"Iya Mas!" jawabku.


Aku pun meraih tangan Mas Abhi dan mencium punggung tangannya,yang kemudian dibalas Mas Abhi dengan mencium keningku dengan penuh mesrah.


Sepeninggal Mas Abhi, aku segera menelpon Dinda.


"Iya halo Kania,ada apa? kenapa kau menelfonku pagi-pagi?," tanya Dinda setelah ia mengangkat telepon dariku.


"Nggak,aku cuma mau bilang kalau besok lusa aku nggak jadi ikut kamu!" jawabku.


"Kenapa?," tanya Dinda lagi.


"Tiba-tiba saja tadi Mas Abhi bilang kalau besok lusa ia mau ngajakin aku liburan berdua ke Paris!" jawabku.


"Oh baguslah kalau begitu,mending kamu pergi aja ama suamimu!" sahut Dinda.


"Tapi kamu nggak pa pa kan?" tanyaku nggak enak hati.


"Nggak pa pa,kita kan bisa pergi lain kali!" jawab Dinda.


"Ya sudah kalau begitu,aku tutup dulu ya teleponnya," ucapku.


"Iya!" sahut Dinda.


dan telepon pun terputus.


Setelah menelpon Dinda aku kembali meneruskan untuk membereskan sisa makan kami tadi.


...****************...


Hari itu pun tiba, kami akan berangkat menuju Paris untuk berlibur.Pagi-pagi sekali aku sudah bangun dan segera bersiap,rencananya pesawat akan berangkat pukul delapan pagi.


Setelah selesai bersiap, aku menyempatkan diri untuk memasak sarapan pagi dulu.


Aku segera berkutat dengan bahan-bahan masakan didapur,dan tak butuh waktu lama makanan pun telah siap.


Aku segera menghidangkan makanan tadi diatas meja makan dan mengajak Mas Abhi untuk sarapan bersama.


Selesai makan,Mas Abhi mengajakku untuk segera berangkat.


"Kita berangkat sekarang yuk, nanti kita ketinggalan pesawat!" ucap Mas Abhi mengajakku.


"Iya Mas!" sahutku.


Kami pun berjalan beriringan menuju mobil dan berangkat menuju bandara.


Sesampainya kami di bandara, ternyata Dinda sudah ada disana,dia sengaja datang untuk melepaskan keberangkatan kami.


"Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga!" ucap Dinda saat ia melihat kedatangan kami berdua.


"Kamu udah datang dari tadi?" tanyaku.


"Aku tuh udah datang dari tadi!, sampek jamuran tau nggak nungguin kalian!" ujar Dinda sewot.


Aku hanya bisa tertawa mendengar ocehan Dinda.


"Maafin kita ya!,tadi kita nyempetin buat sarapan dulu sebelum berangkat" ujarku.


"Ya sudah nggak pa pa,tapi kalian harus janji buat ngasih aku kabar yang baik sepulang bulan madu kalian disana!" ujar Dinda.


"Kamu ini apaan sih!" ujarku sambil membuang muka karena malu.


Tiba-tiba terdengar panggilan bahwa pesawat kami akan berangkat.


"Kalian berangkat sekarang gih,udah dipanggilin tuh!" tukas Dinda.


"Ya sudah,kami berangkat sekarang ya!" ujarku berpamitan.


"Iya!" ujar Dinda mengiyakan.


Dinda segera mendekat padaku dan berbisik di telingaku.


"Jangan lupa dengan pesanku.Bukalah hatimu dan terima Abhimana seutuhnya,biar bagaimanapun dia sekarang sudah resmi menjadi suamimu!" ujar Dinda.


"Aku akan mencobanya!" jawabku.


Kemudian Dinda beralih menuju Mas Abhi dan berbisik padanya.


"Abhi,aku cuma mau berpesan,saat disana buatlah suasana romantis dan buat Kania senyaman mungkin bersamamu!" ujar Dinda.


"Aku akan usahakan sebaik mungkin!" jawab Mas Abhi.


"Ya sudah sana, kalian berangkat!" ujar Dinda sambil menepuk bahu Mas Abhi.


Kami pun berjalan beriringan menuju gerbang keberangkatan.Sebelum masuk ke pesawat,aku berbalik arah dan melambaikan tanganku untuk berpamitan pada Dinda.


Dinda pun membalas lambaian tanganku dengan melambaikan tangan juga,dan tubuh kami berdua pun menghilang dibalik badan pesawat.


Sesampainya di dalam pesawat, kami segera mencari kursi kami dan menghempaskan tubuh kami diatasnya.


Perjalanan dari Jakarta menuju Paris memakan waktu kurang lebih tujuh belas jam,aku memutuskan untuk mengikuti saran Dinda dengan cara bersandar di bahu Mas Abhi.


Mas Abhi menoleh ke arahku dan nampak terkejut dengan apa yang barusan aku lakukan.


"Ada apa Mas? apa aku mengganggumu?" tanyaku sambil mengangkat kepalaku kembali.


"Tidak,sama sekali tidak!," sahut Mas Abhi cepat sambil menggelengkan kepalanya.


"Aku bahkan sangat suka dengan apa yang kau lakukan," ujar Mas Abhi lagi sambil tersenyum ke arahku.


Aku pun membalas dengan senyuman pula.


Mas Abhi merengkuh tubuhku dan membawaku kedalam pelukannya,membuatku berada dalam posisi senyaman mungkin.


"Tidurlah!,perjalanan masih sangat panjang," ujar Mas Abhi sambil merebahkan kepalaku kembali di bahunya.


Kehangatan pun menyelimuti tubuhku.


Awalnya aku memang terasa canggung,tapi semakin lama aku semakin nyaman berada dalam posisi seperti ini,hingga tanpa sadar aku terlelap dalam dekapannya.


"Beristirahatlah dengan tenang,semoga setelah ini kau bersedia menerimaku seutuhnya!" ujar Mas Abhi lirih saat melihatku sudah terlelap dalam pelukannya.


Mas Abhi pun kemudian mengecup pucuk kepalaku dengan penuh kasih sayang,dan ia pun ikut bersamaku memejamkan matanya.


...****************...


Tak terasa pesawat telah mendarat di bandara Charles de Gaulle,salah satu pusat penerbangan utama di dunia,dan bandar udara internasional di Paris.


Kami segera keluar dari badan pesawat dan menuju area parkir.Ternyata sudah ada dua orang berbadan kekar yang menyambut kedatangan kami disana,mereka mengenakan setelan jas berwarna hitam dan juga kacamata hitam.


"Selamat datang Tuan, Nona,mari silahkan masuk!" ujar salah satu diantara mereka sambil membukakan pintu mobil untuk kami.


"Apa kalian sudah mengatur semuanya?" tanya Mas Abhi.


"Sudah Tuan!,kami sudah melakukan sesuai dengan apa yang Tuan perintahkan!" jawab salah satu orang.


"Bagus!" ujar Mas Abhi.


Mas Abhi pun menggandeng tanganku dan segera masuk ke mobil.


"Mereka siapa Mas?" tanyaku sambil mengernyitkan dahi,aku tak mengerti kenapa mereka berdua menyambut kedatangan kami.


"Mereka berdua adalah pengawalku!" jawab Mas Abhi singkat.


"Pengawal?" tanyaku lagi,aku masih tak mengerti dengan maksud Mas Abhi.


"Nanti kau juga akan tahu," jawab Mas Abhi sambil menyunggingkan sebuah senyuman.


Aku tak mengerti dengan semua ini,aku semakin penasaran dengan jati diri Mas Abhi sebenarnya.


Mobil pun segera meluncur membelah jalanan kota,membawa kami menuju ke sebuah hotel yang sudah dipesan oleh Mas Abhi.