
Mas Abhi menggila, ia seperti orang kesetanan saat mendapati aku sudah tidak ada dirumah. Ia terus mencoba menghubungi ponselku, tapi tak jua ada jawaban dariku.
Mendengar adanya keributan, Mama keluar dari kamarnya. "Ada apa Abhi? kenapa kamu terlihat sangat marah?".
"Kania tidak ada dirumah, Ma!" jawab Mas Abhi resah.
"Memang dia kemana? coba kamu telpon lagi, mungkin dia sedang ada urusan".
"Dari tadi sudah saya hubungi terus, Ma. Tapi Kania tetap tidak mau jawab".
Hening...
"Kania pergi dalam keadaan marah, Ma.Aku takut dia kenapa-napa".
"Memang kalian sedang ada masalah apa? Kenapa Kania sampai meninggalkan rumah?".
Mama baru datang tadi sore. Selama beberapa bulan ini Mama tidak ada dirumah. Ia memutuskan untuk mendalami ilmu agama di pesantren. Itu sebabnya ia tidak tahu permasalahan yang sedang kami hadapi.
Mas Abhi menghela nafas berat. "Ini semua karena ulah Tasya. Dia sudah membuat Kania salah paham dan marah padaku".
"Memang apa yang sudah dia perbuat?".
Mas Abhi menceritakan semua kejadian yang yang menimpanya, juga pengakuan Tasya yang mengatakan kalau dia sedang hamil anaknya.
"Sumpah demi Tuhan!. Aku tidak pernah melakukan apa yang dia tuduhkan. Aku bahkan tidak mengerti bagaimana mungkin dia bisa hamil" ujar Mas Abhi mengakhiri ceritanya.
Mama sangat terkejut mendengar penuturan Mas Abhi. "Mama tidak mengira Tasya berbuat sekejam itu. Sejak awal Mama memang tidak menyukainya. Mama sudah curiga dengan tingkah lakunya" menggelengkan kepala.
"Apa itu artinya Mama percaya denganku?" tanya Mas Abhi, mencari kepastian dari perkataan Mama.
Mama tersenyum mendengar pertanyaan Mas Abhi. "Tentu saja, Abhi!. Mama sangat percaya denganmu. Kamu laki-laki yang baik dan bertanggungjawab. Mama sangat yakin, kau tidak akan pernah bisa melakukan hal serendah itu".
Mas Abhi tersenyum lega mendengar jawaban Mama. "Aku sangat senang mendengar Mama percaya denganku. Bagiku, itu lebih berharga dari apapun. Sungguh, perkataan Mama membuatku sangat lega".
Mama ikut tersenyum melihat Mas Abhi. "Kamu tenang saja, Abhi. Mama akan mencoba membantu menyelesaikan masalah kalian".
"Terimakasih banyak, Ma!" ucap Mas Abhi tulus.
Sesaat mereka sama-sama diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Setelah beberapa lama, Mama mulai ingat sesuatu. Sedari tadi ia belum melihat sosok Naila. Dia pun mulai angkat suara, dan bertanya. "Abhi, dari tadi Mama tidak melihat Naila? ada dimana dia, nak?".
"Naila sekarang bersama Dinda, Ma. Tadi dia yang menjemputnya di sekolah. Dari dia jugalah Abhi tahu, kalau Kania tidak ada dirumah. Tadi saat dia hendak mengantarkan Naila pulang, rumah dalam keadaan kosong. Saat itulah dia langsung memberitahuku kalau Kania sudah meninggalkan rumah" jelas Mas Abhi panjang lebar.
Mama manggut-manggut mendengar penjelasan Mas Abhi. "Untuk sementara waktu, Mama pikir memang lebih baik dia disana dulu. Setidaknya dia tidak akan tahu dengan apa yang terjadi diantara kalian berdua. Mama takut dia mengalami trauma kalau mengetahui semuanya".
"Iya, Ma. Mama benar sekali!" ujar Mas Abhi, setuju dengan pendapat Mama.
Hening....
"Kamu sudah makan belum?" tanya Mama, memecah keheningan.
"Belum, Ma. Sedari tadi Abhi belum makan apapun. Abhi terus kepikiran tentang kania" menggelengkan kepala.
Mas Abhi mengangguk, menuruti ucapan Mama. Mereka pun makan malam bersama. Tapi dimeja makan, Mas Abhi tidak begitu menikmati makanan yang tersaji dihadapannya. Pikirannya masih berputar mengenai keberadaanku.
Malam semakin merayap, menciptakan kesunyian diseluruh alam semesta. Mama memutuskan untuk segera masuk ke kamar tidur. Mengistirahatkan tubuhnya yang semakin cepat lelah karena rapuh dimakan usia.
Begitu juga dengan Mas Abhi. Ia pun turut masuk ke kamar juga, tapi rasanya sulit untuknya memejamkan mata. Bayangan diriku terus saja mengganggu. Hingga tidak sadar bila pagi mulai datang menyapa.
...****************...
Sudah tiga hari aku berada di villa ini. Selama itu pula aku memutus semua akses komunikasi dengan dunia luar. Aku benar-benar ingin menenangkan diri dulu, tanpa ada gangguan dari siapapun.
Hari ini aku berniat pergi ke kantor. Aku ingin melihat langsung perkembangannya. Belakangan ini aku jarang mengunjunginya karena banyaknya masalah yang menghampiriku. Aku mempercayakan semua urusan kantor pada orang kepercayaan ku.
Aku mengaktikan kembali ponselku. Banyak pesan dan panggilan yang masuk selama beberapa hari ini. Sebagian besar berasal dari Mas Abhi. Dia terus bertanya tentang keberadaanku. Dia juga terus memintaku untuk pulang kembali kerumah. Ia ingin menyelesaikan semua kesalahpahaman yang terjadi diantara kita.
Membaca pesan darinya membuatku kembali lemah. Aku sangat mencintainya, dan hatiku pun ingin memaafkan semua kesalahannya. Tapi sayangnya akal sehatku melarangnya. Semua karena aku memikirkan bayi dalam kandungan Tasya yang membutuhkan pengakuan darinya.
Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Rasa cinta itu masih tumbuh subur di dalam hati. Tapi mengingat kondisi Tasya saat ini, membuatku tidak bisa abai dengannya. Aku tidak boleh egois dengannya, membiarkan bayinya lahir tanpa seorang Ayah.
Selain itu, ada juga pesan dari Naila. Aku pun membaca pesan darinya. 'Bunda, Bunda ada dimana? Kenapa tidak menjemput Naila sepulang sekolah?'.
'Bunda, Naila kangen. Bunda kapan pulangnya? Naila ingin tidur ditemani Bunda'.
Membaca pesan darinya membuat air mataku luruh. Aku sangat merindukan gadis cantik ku itu. Gadis yang selalu membuatku tersenyum dengan tingkahnya yang lucu dan menggemaskan.
'Maafkan Bunda, nak. Saat ini Bunda belum bisa menemuimu. Bunda belum siap menjelaskan semuanya padamu. Bunda tidak ingin melihatmu kecewa saat mengetahui semuanya,' gumamku lirih.
Ku hapus air mata yang membasahi pipiku. Aku tidak ingin kesedihan terus mengganggu pikiranku. Biarlah waktu yang menjawab semuanya.
Kulajukan kendaraanku dengan kecepatan sedang. Membelah jalanan kota yang masih lenggang. Karena pagi baru saja datang.
Setelah beberapa lama berkendara, aku pun sampai juga di kantor. Aku segera menuju ke ruanganku.
Alangkah terkejutnya aku saat membuka pintu, ternyata Mas Abhi ada disana. Aku segera menutup pintu kembali dan gegas pergi dari sana sebelum Mas Abhi melihatku, tapi ternyata Mas Abhi lebih dulu melihat kedatanganku.
Mas Abhi segera melesat keluar dan menahan langkahku saat ia berhasil mengejar. Tangannya menggenggam erat tanganku. "Kita harus bicara!".
"Lepaskan, Mas. Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan!".
"Kumohon, beri aku sedikit waktu untuk menjelaskan semua. Paling tidak, lakukan ini demi anak kita, Naila. Dia sangat merindukanmu" ucap Mas Abhi sendu.
Aku memalingkan wajahku dari pandangannya. Aku paling tidak bisa melihat wajah sedihnya. Apalagi dia menyebut nama Naila tadi. "Baiklah, Mas Kita bicara dimana?," menghela napas berat.
Mas Abhi terlihat sangat senang mendengar aku menerima permintaannya. "Kita bicara di kafe depan kantormu saja!" jawabnya cepat.
Aku pun mengangguk tanda setuju. Kami melangkah beriringan, menuju kafe tersebut.
Walau kami melangkah bersama, tapi tetap saja rasanya berbeda. Seperti ada jarak yang memisahkan kita.