
"Tunggu dulu Kania,jangan buru-buru kau tutup telepon ini!" kata seseorang dari seberang.
"Kau pasti tidak lupa dengan suaraku kan? tanya suara itu lagi.
Aku terdiam mendengar suara itu,ya suara itu teramat sangat kukenali, karena suara itu adalah suara Arsen.
"Mau apa lagi kau meneleponku?" teriakku marah.
Abhimana pun segera mendekat padaku saat mendengar perubahan suaraku.
"Jangan marah dulu sayang,aku punya sesuatu yang pasti bikin kamu senang,dengerin ya!" kata Arsen.
Aku pun memasang telingaku lebar-lebar mencoba menangkap apa yang dimaksudnya.
tiba-tiba terdengar suara tangis seseorang meminta tolong dari seberang.
"Bunda tolongin Emir bunda,Emir takut!"
deg,hatiku bergetar mendengar suara itu,itu adalah suara Emir.
"Diam!" bentak Arsen sambil merebut telepon itu kembali.
"Gimana sayang,kamu suka nggak?" tanya Arsen padaku.
"Kenapa kau menculik Emir Arsen? apa maumu?" tanyaku dengar air mata yang berderai.
"Kau pasti kau betul kan apa yang kuinginkan!" jawab Arsen.
"Kumohon Arsen lepaskan Emir,jangan sakiti dia!" kataku mengiba.
"Baiklah karena aku baik hati maka aku akan melepaskan Emir,tapi dengan satu syarat!"jawab Arsen.
"Cepat katakan apa syaratnya,aku pasti akan memenuhi semua permintaanmu!" kataku.
"Benarkah,kalau begitu tinggalkan Abhimana dan menikahlah denganku!" jawab Arsen.
Tubuhku seketika jatuh, terduduk diatas lantai mendengar permintaan Arsen.Aku terdiam tak mampu menanggapi permintaanya tadi, menurutku itu bukanlah suatu perkara yang mudah bagiku.
"Itu tidak mungkin Arsen,pernikahan bukanlah sebuah mainan yang bisa kau ambil saat kau suka lalu kau buang saat kau sudah bosan" jawabku lirih.
"Berarti kau menolak permintaanku!, baiklah itu tidak mengapa.Tapi besok, pagi-pagi sekali kau akan melihat mayat anakmu didepan pintu rumahmu!," ancam Arsen.
Seketika aku bangkit lagi saat mendengar ancaman Arsen.
"Tunggu dulu Arsen, kumohon jangan sakiti Emir!," kataku mengiba.
Aku pun menghela napas panjang sebelum meneruskan ucapanku.
"Baiklah, aku akan turuti semua permintaanmu!"
"Pilihan yang bagus!," ucap Arsen.
"Kalau begitu besok malam datanglah ke rumah yang ada di jalan xx, kita akan menikah disana saat itu juga!"
"Tapi bukankah pernikahan itu membutuhkan banyak persiapan?" kataku mencoba bernegosiasi.
"Kau tenang saja sayang, aku sudah mempersiapkan semuanya.Besok kau tinggal datang saja kesana sebagai pengantin wanitaku" jawab Arsen.
"Ingat, jangan pernah coba-coba untuk menghubungi polisi,atau kamu akan tanggung sendiri akibatnya!," ancam Arsen lagi.
klik
Arsen pun mematikan teleponnya.
"Halo Arsen,halo...".
Tubuhku seketika oleng karena kehilangan keseimbangan,dengan sigap Mas Abhi menopang tubuhku sebelum aku terjatuh.
"Ada apa Kania?, siapa yang menelepon tadi?," tanya Abhimana.
Tangisku pun semakin kencang, air mataku tumpah membasahi baju Mas Abhi.
"Katakan Nia!, ada apa?," tanya Abhimana.
"Ternyata Arsen yang sudah menculik Emir,Mas!" ujarku sambil terisak.
"Kurang ajar!" teriak Abhimana, tangannya terkepal erat karena menahan amarah.
"Terus dia bilang apa tadi?" tanya Abhimana lagi.
"Dia bilang, kalau ingin Emir selamat, maka aku harus meninggalkanmu dan menikah dengannya," ujarku sambil masih terisak.
"Kau tenang saja Kania, aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi pada Emir!" ucap Mas Abhi sambil membelai kepalaku, mencoba menenangkanku.
"Tapi bagaimana caranya mas?, aku tak mungkin pergi meninggalkanmu!," ucapku sambil melepaskan pelukannya dari tubuhku.
"Tentu saja bukan dengan cara itu!,kita akan mencari cara lain untuk membebaskan Emir!" jawab Abhimana.
Kami pun berpikir keras mencari jalan lain untuk membebaskan Emir.
Setelah cukup lama berpikir akhirnya kami berdua sepakat.Besok malam aku akan menemui Arsen ditempat yang sudah ditunjukkannya dan berpura-pura mau menikah dengannya.
...****************...
Keesokan malam aku segera bersiap menuju tempat yang sudah ditunjukkan oleh Arsen.Sebelumnya aku sudah menghubungi Dinda dan menceritakan semuanya padanya, dia berjanji akan membantuku membebaskan Emir.
Aku pun segera meluncur menggunakan mobilku, sementara Mas Abhi mengikuti mobilku dari kejauhan.
Tak butuh waktu lama akhirnya mobilku pun sampai,aku segera melepas sabuk pengaman dan turun dari mobil.
Kuedarkan pandanganku mengamati sekeliling rumah itu, suasana nampak sunyi,tak menunjukkan tanda-tanda adanya seseorang.
Aku pun mulai melangkah memasuki rumah itu dan mencari keberadaan Arsen.
"Dimana kau Arsen?, lihatlah, sekarang aku sudah datang!" teriakku sesampainya aku didalam rumah itu.
Terdengar suara hentakan kaki seseorang dari arah ruang tengah.
"Bagus, akhirnya kau datang juga!" ujar suara itu yang ternyata adalah Arsen.
"Sekarang cepat katakan,dimana Emir?," ujarku.
"Eits tenang,jangan buru-buru gitu,nanti kau juga pasti akan bertemu emir!," jawab Arsen dengan penuh keangkuhan.
"Sekarang cepat ganti bajumu dan bersiaplah,aku sudah menyiapkan gaun pengantin untukmu dikamar itu,tiga puluh menit lagi kita akan segera menikah!," kata Arsen sambil menunjuk kesalah satu kamar disitu.
"Ingat, berdandanlah yang cantik dan jangan coba-coba untuk kabur,atau kau akan tahu akibatnya!".
Terpaksa aku pun menuruti ucapan Arsen,aku tak ingin mengambil resiko yang nantinya malah akan membahayakan keselamatan Emir.
Aku hanya bisa berharap, semoga Mas Abhi dan Dinda dapat segera menyelamatkan Emir.
Aku pun segera melangkah menuju kamar yang ditunjukkan Arsen tadi, kulihat ada sebuah gaun pengantin berwarna putih tergeletak diatas kasur.
Aku pun segera mengambil gaun itu dan mengenakannya,dan tak butuh waktu lama aku pun telah selesai bersiap.
Aku segera keluar dari kamar itu dan kembali menuju ke tempat dimana aku pertama kali datang tadi.
Tampak seorang penghulu dan juga dua orang saksi telah siap disana, begitu juga dengan Arsen.Ia nampak mengenakan setelan jas berwarna hitam dan duduk dihadapan penghulu.
"Cantik!," gumam Arsen saat pertama kali ia melihatku, tapi dengan segera ia kembali menguasai dirinya.
"Sekarang duduk!," ujar Arsen memerintahkan ku untuk duduk disampingnya.
"Silahkan dimulai pak penghulu," ucap Arsen kepada penghulu.
"Tunggu dulu Arsen, katakan dulu dimana Emir?" ujarku.
Arsen pun menepuk tangannya dua kali dan keluarlah dua orang berbadan kekar sambil memegangi tubuh Emir.
"Bunda, tolongin Emir!," lirih Emir.
Tampak tubuh Emir terlihat sangat lemah dalam genggaman kedua pria tersebut
"Emir!," pekikku saat melihat Emir.
Aku segera bangkit dan menuju kearah Emir, tapi dengan segera Arsen menarik lenganku.
"Tunggu dulu!, kau harus menikah dulu denganku baru kau boleh menemui Emir," ujar Arsen.
Aku pun kembali duduk disamping Arsen dengan air mata bercucuran.
"Pak penghulu,segera nikahkan kami berdua!," perintah Arsen kepada penghulu.
"Bab… baik pak!," jawab penghulu dengan terbata-bata.
Penghulu pun menjabat tangan Arsen dan bersiap menikahkan kami, tapi tiba-tiba terdengar suara teriakan dari luar.
"Berhenti!, hentikan pernikahan ini sekarang!" ujar suara itu.