Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 38



Hari ini Abhimana datang mengunjungiku di pondok pesantren,dia bercerita banyak hal tentang tumbuh kembang Emir.


"Kania,Emir sekarang mulai belajar berjalan, dia juga bisa mengucap beberapa kata, Dinda sampai kewalahan mendengar celotehannya!" kata Abhimana.


"Oh ya?" jawabku antusias mendengar cerita Abhimana.


"Bukan hanya itu saja,tingkahnya sekarang juga semakin menggemaskan ada saja yang dia perbuat,kadang aku jadi pengen nyubit pipinya yang gembul kalau sudah begitu!" kata Abhimana lagi sambil tertawa kecil.


aku pun ikut tersenyum mendengar cerita Abhimana.


"Aku kangen Emir Bhi,andai aku bisa bertemu dengannya" kataku sendu.


"Kenapa kau sedih? kau ingin bertemu Emir kan,sekarang pun kau bisa bertemu dengannya!" kata Abhimana.


"Tapi bagaimana caranya?" tanyaku.


"Sebentar!" kata Abhimana.


Abhimana pun mengeluarkan handphonenya dari saku celananya dan memencet nomor seseorang.


telepon pun tersambung


"Halo....." jawab seseorang dari seberang sana.


"Halo Dinda ini Abhimana!" kata Abhimana.


"Oh kamu Bhi,ada apa?" kata suara dari seberang yang ternyata adalah Dinda.


"Kamu lagi sibuk nggak?" 5anya Abhimana.


"Nggak kok,ada apa?" kata Dinda.


"Ini Din aku lagi jengukin Kania di pondok pesantren,dia kangen sama Emir katanya,kamu bisa nggak video call in Emir?" kata Abhimana.


"Bisa bisa, bentar ya aku panggilan Emir dulu!" sahut Dinda.


tak berselang lama tampak Dinda bersama Emir dilayar handphone Abhimana.


"Hai Bunda apa kabal? ini Emil, Emil kangen cama bunda" kata Dinda menirukan suara anak kecil yang masih cadel sambil menggerakkan tangan Emir melambai-lambai padaku dilayar handphone.


aku pun segera mengambil handphone Abhimana dari tangannya dan segera membalas lambaian tangan Emir.


"Hai Emir ini bunda, kabar bunda disini baik-baik saja, Emir sendiri gimana kabarnya?" kataku sambil menangis bahagia karena bisa melihat wajah anakku.


Benar kata Abhimana tadi, Emir ku kini semakin besar,wajahnya sangat tampan dan menggemaskan.


"Emil baik aja bunda,bunda kapan pulang? Emil pingin peluk bunda"


"Tidak lama lagi bunda pasti pulang nak,Emir doain bunda ya biar bunda cepat sembuh dan kita bisa kumpul bareng lagi" kataku.


"Iya bunda,Emil pasti doain bunda!"


"Emir sudah makan belum?" tanyaku.


"Sudah bunda,tadi Emil disuapin sama Tante Dinda"


"Ya udah Emir baik-baik disana ya nak,jangan nyusahin Tante Dinda!"


"Nggak kok bunda Emil nggak pelnah nyusahin Tante Dinda!"


"Dah Emir!" kataku sambil melambaikan tangan.


"Dah bunda!" Emir ikut melambaikan tangannya dibantu Dinda.


"Bunda sayang Emir" kataku lagi.


"Emil juga sayang bunda"


"Dinda makasih banyak ya kamu sudah merawat anakku dengan baik" kataku kemudian setelah beberapa saat berbicara dengan Emir.


"Sama-sama,kamu jaga diri baik-baik ya dan cepat pulang!" jawab Dinda.


"Iya tentu!" jawabku.


"Ya sudah aku tutup dulu ya!"


"Iya!"


Sambungan telepon pun terputus,kemudian aku menyerahkan kembali handphone Abhimana padanya.


"Kamu senang sekarang?" kata Abhimana.


"Ya Abhi, makasih banyak ya berkat kamu rasa kangenku jadi sedikit terobati" kataku.


"Sama-sama,ya udah aku pulang dulu ya,udah sore juga" pamit Abhimana.


"Kamu juga jaga diri baik-baik, besok-besok aku kesini lagi!" kata Abhimana.


"Iya, makasih banyak untuk semua yang sudah kamu lakukan buatku" kataku tulus.


"Aku pergi dulu!" kata Abhimana.


Abhimana pun berlalu dari hadapanku,sedangkan aku sendiri segera bersiap ke masjid.


...****************...


Tak terasa sudah tiga bulan aku berada di pondok pesantren ini,aku telah dinyatakan sembuh total dan sudah diperbolehkan untuk pulang.


Aku segera mengemasi barang-barangku dan berpamitan pada penghuni inaba lainnya,tak lupa juga aku mengucapkan terimakasih pada Ning Zahra.


"Ning Zahra terimakasih banyak atas bimbingan Ning selama saya berada disini" kataku.


"Sama-sama,saya minta maaf ya kalau selama membimbing mbak kania saya ada salah!" kata Ning Zahra.


"Saya juga minta maaf Ning karena sudah merepotkan Ning Zahra selama saya ada disini" jawabku.


"Pesan saya setelah mbak Kania berada dirumah jangan sampai mbak Kania jatuh kedalam lubang yang sama untuk kedua kalinya" kata Ning Zahra sambil tersenyum dan menepuk bahuku.


"Iya Ning, saya sudah kapok dan nggak ingin terjerumus lagi!" jawabku ikut tersenyum.


"Satu lagi,sebarkanlah ilmu yang sudah mbak Kania peroleh selama mbak berada disini,semoga ilmu yang mbak Kania peroleh menjadi ilmu yang bermanfaat di dunia dan di akhirat kelak!" kata Ning Zahra lagi.


"Amin,saya akan berusaha sebaik mungkin untuk mengamalkan ilmu yang sudah saya pelajari Ning" jawabku lagi.


"Oh ya Ning Abah kyai ada dirumah nggak Ning?" tanyaku.


"Abah sedang pergi keluar kota nanti malam baru kembali!" kata Ning Zahra.


"Terus saya pamitannya gimana Ning? apa saya pulang besok saja kalau Abah kyai sudah pulang" kataku.


"Nggak usah,mbak kania langsung pulang aja sekarang nanti biar saya yang sampaikan soal ini ke Abah" kata Ning Zahra.


"Ya sudah kalau begitu saya pamit dulu Ning,tolong sampaikan terimakasih saya pada beliau dan sampaikan juga permohonan maaf saya ke beliau" kataku.


"Insyaallah nanti saya sampaikan!" jawab Ning Zahra sambil tersenyum.


"Sampaikan salam saya buat keluarga dirumah ya mbak!" kata Ning Zahra lagi.


"Iya Ning nanti saya sampaikan,kalau begitu saya permisi dulu Ning, assalamu'alaikum!" kataku.


"Waalaikum salam!" Jawab Ning Zahra sambil tetap tersenyum.


Aku pun segera pergi meninggalkan pondok pesantren, rasanya sudah tak sabar untuk bertemu dan berkumpul kembali dengan anakku.


Setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam akhirnya aku tiba juga dirumah,aku segera masuk ke pekarangan rumah dan mengetuk pintu.


tok tok tok


"Sebentar!" terdengar sahutan dari dalam.


tak berselang lama pintu pun dibuka.


"Kania,kok kamu ada disini?" kata Dinda terbengong melihat kedatanganku.


"Iya Din aku sudah sembuh, makanya aku cepet-cepet pulang kerumah udah kangen berat nih sama Emir,Emir mana Din?" kataku panjang lebar dan menanyakan keberadaan Emir anakku.


"Emir ada didalam lagi nonton tv,ayo masuk dulu kedalam!" kata Dinda dan mengajakku masuk kedalam.


Aku segera mengangkat barangku yang dibantu oleh Dinda,kemudian kami segera masuk kedalam.


Sesampainya di dalam rumah aku segera menghampiri Emir yang tengah asik nonton tv,setelah berada di dekatnya aku langsung memeluk dan menciuminya.


"Emir Bunda sudah pulang,bunda kangen sama Emir" kataku sembari mendudukkannya diatas pangkuanku.


sejenak ia memandangi wajahku


"Bunda"


"Iya sayang ini bunda" kataku gembira,aku sangat senang karena anakku bisa mengenali wajahku dan dia juga sudah bisa memanggilku bunda.


Selama ini Dinda memang selalu menunjukkan fotoku pada Emir,ia ingin Emir selalu ingat dengan wajahku.


Setelah melihat aku puas melepas kerinduanku dengan Emir Dinda pun mulai angkat bicara


"Kamu kenapa nggak bilang kalau sudah boleh pulang,kan aku bisa menjemputmu kalau kamu beritahu!" kata Dinda.


"Aku sengaja nggak bilang karena aku nggak mau merepotkanmu,kan kamu mesti jagain Emir!" kataku


Setelah berbincang beberapa saat aku pun pergi ke kamarku untuk mengistirahatkan tubuhku yang penat.