
Hatiku hancur berkeping-keping. Cintaku kembali kandas, kecewa karena hal yang sama, sebuah penghianatan. Orang yang selama ini aku cinta ternyata telah melukai hatiku dengan teramat sangat dalam. Ia telah menghamili wanita lain. Yang lebih menyakitkan lagi, wanita itu adalah temanku sendiri.
Saat memutuskan untuk membuka hati kembali, kukira aku tidak akan terluka. Sikapnya yang lemah lembut, serta perhatiannya yang begitu tulus, membuatku yakin untuk membuka hatiku untuknya. Tapi nyatanya, dia tak lebih dari seorang pembohong besar.
Aku tidak bisa lagi bertahan dengan pernikahan ini. Tekadku sudah bulat, aku akan mundur dari hubungan ini.
Mendengar deru mobil Mas Abhi meninggalkan halaman rumah, aku segera mengemasi barang-barang ku. Hari ini juga aku akan meninggalkan rumah ini.
Sejenak kupandangi rumahku dari luar, rumah yang menyimpan banyak kenangan indah dalam hidupku. Rumah yang menjadi saksi bisu tujuh tahun pernikahan kami. Senyum, tawa, tangis, suka dan duka, semua tersimpan didalamnya. Semua itu akan kuingat dalam hati.
Kulangkahkan kaki dengan gontai, sejenak menepi untuk menenangkan diri. Meresapi semua yang telah terjadi.
Aku dihadapkan pilihan....
Antara benar dan salah....
Aku mencintai kamu
sangat mencintai....
Kamu berjalan bersamanya.....
Selama kamu denganku.....
Begitu rumitnya dunia
Hanya karena sebuah rasa cinta....
Jadilah aku, kamu, dan dirinya....
Berada didalam dusta yang tercipta...
Mengapa kah harus kurasa...
Sepenting itukah cintamu.....
Kita berawal karena cinta....
Biarlah cinta yang mengakhiri...
Mengapa kah harus kurasa...
Sepenting itukah egomu...
Kita berawal karena cinta...
Biarlah cinta yang mengakhiri...
Kamu dihadapkan pilihan...
Antara aku dengan dia...
Begitu rumitnya dunia
Hanya karena sebuah rasa cinta...
( song by Agnes Mo )
...****************...
Dipinggiran kota, tepatnya di daerah puncak, suasana begitu tenang dan damai. Aku mempunyai sebuah villa pemberian Papa disana, sebuah hadiah yang kudapat saat aku lulus kuliah dulu. Villa yang hanya aku dan Papa saja yang mengetahui tempatnya.
Aku memutuskan untuk tinggal disana sementara waktu. Aku ingin menenangkan diri dulu sebelum menentukan langkah yang harus kuambil selanjutnya.
Kupandangi bangunan Villa itu lamat-lamat, semua masih sama seperti saat terakhir kali aku mengunjunginya. Villa itu dijaga oleh orang kepercayaan Papa. Mereka adalah sepasang suami-istri yang telah lama mengabdi pada keluarga kami.
Melihat kedatanganku, mang Ade gegas menghampiri dan menyambutku. Dialah orang yang selama ini merawat villa ini, sedang istrinya bernama bik Surti.
"Neng Kania kesini kok nggak ngabarin dulu?" tanya mang Ade.
"Iya, mang, maaf!. Tiba-tiba saja Kania ingin kesini" jawabku tersenyum ramah.
"Mari atuh, masuk kedalam dulu" ajaknya.
Tak berselang lama bik Surti kembali datang sambil membawa nampan ditangan. Ia menghidangkan minuman itu di depanku. "Silahkan diminum, Non!".
"Makasih banyak, bik!" ujarku. Gegas aku meraih gelas tersebut dan meminum isinya, membasahi kerongkongan yang sedari tadi sudah kehausan.
Mang Ade ikut duduk di hadapanku. "Bagaimana kabar Tuan Pramono, Non?".
"Papa sudah lama meninggal, mang".
"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un. Kenapa saya tidak pernah di kabari, Non?" tanya mang Ade, jelas terlihat keterkejutan diwajahnya mendengar kabar yang kuberikan.
"Maaf, mang, semua terjadi begitu cepat. Saya bahkan tidak menyangka semua akan berakhir seperti itu".
"Memang apa yang sudah terjadi, Non?".
"Papa meninggal karena tertembak saat mencoba menyelamatkan saya" jawabku lirih, ingatanku kembali pada kejadian naas itu.
"Astaga! kok bisa?" kembali ia dikejutkan dengan berita yang ku sampaikan.
"Ceritanya panjang, mang. Semua terjadi karena mantan kekasih saya yang tidak terima karena saya telah menikah dengan laki-laki lain".
"Lalu?".
Aku menanggapi pertanyaan mang Ade dengan mengulas sebuah senyuman tipis."Lain kali saja saya ceritakan semuanya. Saat ini saya tidak ingin mengingat kejadian itu lagi".
Mang Ade menundukkan kepala, ia terlihat menyesal telah bertanya. "Maafkan saya sudah membuat Non mengingat kembali kejadian itu".
Aku kembali tersenyum melihat mang Ade. "Mang Ade nggak usah merasa bersalah begitu. Mamang bertanya karena peduli dengan keluarga kami, kan? aku hanya belum siap untuk menceritakannya kembali".
Mang Ade ikut tersenyum mendengar ucapanku. "Tuan orang yang sangat baik. Semoga beliau ditempatkan di surganya Allah".
"Amin!" sahutku.
"Oh ya, suami Non Kania mana? kok nggak diajak kesini juga?".
"Kami sedang ada masalah, mang. Itu sebabnya saya kesini untuk menenangkan diri".
"Cobalah bicara baik-baik dengan suami Non. Carilah solusi bersama-sama. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Lari bukanlah solusi terbaik, dan tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah".
"Semua sudah tidak bisa diperbaiki lagi, mang. Semua sudah berakhir. Saya sudah memutuskan untuk meminta cerai darinya".
"Seberat apa masalah yang sedang non Kania hadapi, sehingga Non memutuskan untuk meminta cerai".
"Dia sudah memperkosa teman saya, dan sekarang ia sedang hamil".
Mang Ade sangat terkejut mendengar jawabanku, tapi ia mencoba bersikap bijaksana. "Apa Non sudah meminta penjelasan darinya?".
"Apalagi yang perlu dijelaskan, mang. Semua sudah sangat jelas. Saya melihatnya dengan mata kepala sendiri".
"Tidak semua yang terlihat adalah nyata, bisa saja itu hanya tipuan semata".
Aku terdiam mendengar ucapan mang Ade, mencoba mencerna makna dibalik perkataannya. Aku kembali teringat dengan ucapan Dinda. Ucapannya sama persis dengan yang mang Ade katakan barusan.
Aku kembali dilema, aku tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Aku menghela nafas panjang, mencoba melepaskan beban berat dalam pikiranku. "Entahlah, mang. Aku bingung memikirkannya".
Mang Ade tersenyum mendengar perkataanku. "Pikirkan semuanya baik-baik, jangan buru-buru mengambil keputusan. Saya hanya tidak ingin Non Kania menyesal kemudian".
"Makasih banyak, mang, sarannya. Kania akan memikirkannya kembali".
"Kalau begitu non Kania istirahat saja dulu. Saya mau melanjutkan pekerjaan lagi. Nanti kalau ada apa-apa, Non bisa panggil saya atau istri saya".
"Iya, mang, makasih".
Mang Ade pun kembali melanjutkan pekerjaannya, sedangkan aku memutuskan untuk ke kamar, sejenak mengistirahatkan penat yang sedari tadi mendera.
Malam mulai merayap, gelap menyelimuti bumi. Matahari tergantikan posisinya oleh bulan dan bintang. Aku duduk di halaman depan. Memandang ke arah langit yang cerah, melihat bulan yang menampakkan sinarnya dengan malu-malu. Tapi sayangnya tidak mampu menerangi hatiku yang kelabu.
Ingatanku kembali berputar bagai sebuah film yang sedang dimainkan. Aku mencoba memahami semua yang terjadi padaku belakangan ini. Hidup memang tidak pernah lepas dari yang namanya masalah. Hanya kita lah yang harus pandai dalam menyikapi.
Aku membuka ponselku yang sedari tadi terus berdering, ternyata panggilan dari Mas Abhi. Aku mematikan ponselku kembali, aku masih enggan berbicara dengannya. " Biarkan aku sendiri dulu, Mas. Aku butuh waktu untuk menenangkan diri" ucapku lirih.
Malam semakin larut. Aku memutuskan untuk kembali lagi ke kamar untuk beristirahat. Sejenak melepas beban pikiran yang menyesakkan.