Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 22



Aku segera pergi meninggalkan tempat ini kearah belakang,aku menangis sesenggukan disana.


Tak lama kemudian Dinda pun datang menghampiriku,sebenarnya ia sempat melihat kejadian tadi,tapi ia tidak berani untuk ikut campur


"Kania jangan nangis,aku tahu kamu sedih dengan kejadian tadi tapi kumohon berhentilah menangis" Kata Dinda mencoba menenangkanku,tangannya memeluk tubuhku.


"Kenapa ini terjadi padaku Din,kenapa harus aku yang disalahkan?" kataku sambil terisak.


"Aku tahu ini bukan kesalahan kamu,tapi kita bisa apa kita hanya pegawai rendahan!"


"Kau tau Din,tadi saat pria itu mencoba menyentuhku bayangan kejadian kelam itu kembali menghantuiku,aku begitu takut hingga reflek menampar pria itu"


"Aku tahu kau trauma dengan peristiwa kelam itu dan siapapun pasti berbuat sepertimu jika diperlakukan seperti tadi, tapi sudahlah berhentilah menangis jangan dipikirkan lagi cobalah melupakan semua kejadian itu dan lebih baik sekarang kita kembali bekerja"


aku pun mengangguk mengiyakan,segera kuhapus air mataku dan merapikan kembali pakaianku yang sedikit berantakan lalu kembali bekerja.


Aku berjalan menghampiri beberapa pengunjung yang datang dengan berat hati dan juga senyum yang sedikit dipaksa.Aku tak lagi fokus dengan pekerjaanku,pikiranku terus terbayang dengan kejadian tadi,aku hanya bisa berharap agar bar ini segera tutup supaya aku bisa segera pulang dan menenangkan diri.


Tak berselang lama pengunjung pun telah sepi,kami segera menutup bar ini dan kembali pulang.Diperjalanan aku lebih memilih diam,Dinda pun tak berani membuka suara karena ia tahu apa yang sedang kupikirkan, tak terasa mobil pun telah sampai didepan rumah.


Aku pun segera masuk kedalam dan merebahkan tubuhku diatas ranjang,air mataku kembali tumpah membasahi pipi.Dinda pun mengikutiku masuk kedalam kamarku,ia terus mencoba untuk menenangkanku.


"Kumohon Kania berhentilah menangis,apa kau tidak lelah menangis dari tadi" kata Dinda setelah melihatku yang tak kunjung berhenti menangis.


"Berikan aku barang haram itu lagi!" kataku tiba-tiba sambil menyeka lelehan air mataku.


"Apa kau sudah kehilangan akal,bagaimana dengan kandunganmu?apa kau tidak kasian dengan bayi dalam kandunganmu kalau kau mengkonsumsi obat itu lagi?" kata Dinda terkejut dengan permintaanku.


"Aku tidak perduli lagi dengan bayi ini,cepat berikan obat itu!" kataku bersikeras ingin meminum obat itu.


"Tapi aku masih perduli dan aku tak akan membiarkan kau meminum obat itu lagi!" jawab Dinda tegas.


Aku terus mendesak Dinda agar memberikan obat itu padaku,akhirnya dengan terpaksa ia pun menurutiku karena ia tak tega melihatku yang semakin kacau.


"Baiklah aku akan ambilkan obat itu,tapi kau harus janji ini yang terakhir kali kau meminumnya"


aku pun hanya menanggapinya dengan anggukan kecil,aku tak perduli dengan permintaanya tadi,masalah itu bisa dipikir belakangan yang terpenting sekarang aku bisa mendapatkan obat itu agar bisa segera melupakan semua kejadian tadi.


Tak berselang lama Dinda pun kembali ke kamarku dengan membawa barang haram itu ditangannya,melihatnya aku segera merebut barang haram itu dari tangannya dan langsung meminumnya.


Sesaat setelah meminum obat itu aku kembali merasakan sensasi itu,semua beban seakan hilang dari pikiranku,hanya perasaan bebas yang kini menghampiriku.


Setelah melihatku tenang Dinda pun kembali ke kamarnya,ia merebahkan tubuhnya yang terasa penat.'Kuharap kau mau menuruti perkataanku tadi,ini semua demi kebaikanmu' kata Dinda dalam hati. Tak berselang lama ia pun memejamkan matanya dan masuk ke alam mimpi.


...****************...


Tak terasa sudah satu bulan lamanya aku bekerja ditempat ini dan hari ini sebelum bar tutup aku menerima gaji pertamaku.


"Kania ini gaji kamu bulan ini"kata manajer sambil menyerahkan sebuah amplop padaku


"Terimakasih pak,kalau begitu saya permisi dulu"kataku setelah menerima amplop itu.


"Tunggu dulu"kata manajer sambil mengambil sebuah amplop lagi.


"Ini bonus buat kamu"


aku pun menerima kembali amplop itu dan membukanya,aku sangat terkejut setelah melihat isinya.


"Pak ini banyak sekali saya kan hanya karyawan baru,saya rasa saya tak pantas mendapatkannya"kataku merasa tak enak.


"Nggak pa pa anggap saja ini sebagai permintaan maaf karena sudah memaksamu untuk meminta maaf saat kejadian waktu itu"


"Tapi pak...."


"Sudah jangan menolak terima saja"


"Baiklah pak saya terima,kalau begitu saya permisi dulu"


aku pun berlalu dari hadapan manager dan mencari keberadaan Dinda,dalam hati aku merasa ada yang janggal dengan manager itu tapi aku tak tahu itu apa.


"Dinda sepertinya ada yang janggal dengan manager itu"kataku setelah masuk kedalam mobil


"Memangnya kenapa?"


"Aku kan karyawan baru,tapi ia memberikanku bonus yang sangat banyak"


"Oh ya?"


"Beneran,nih lihat banyak kan isinya"kataku sambil menunjukkan isi dalam amplop tadi.


"Iya benar,kok bisa?"


"Makanya itu aku bingung,katanya sih sebagai permintaan maaf karena sudah memaksaku minta maaf waktu itu"


Dinda pun tertawa kecil melihatku yang bingung


"Udah nggak usah terlalu dipikirin,anggap saja memang seperti itu atau mungkin ini memang rezeki kamu"kata Dinda sambil menepuk bahuku.


"Iya juga ya ngapain juga aku pikirin"


"Udah ah yuk kita pulang sudah larut malam nih aku sudah capek!"


"Iya sama aku juga sudah capek,yuk kita pulang"


Dinda pun segera menancap gas dan mobil pun meluncur membelah jalanan,tak butuh waktu lama mobil pun sampai didepan rumah.


"Aku langsung ke kamar ya,capek mau tidur"


"Iya aku juga mau langsung tidur"


kami pun segera masuk ke kamar masing-masing dan pergi ke alam mimpi.


...****************...


Keesokan hari aku terbangun saat matahari mulai menampakkan sinarnya,aku menggeliat untuk merenggangkan otot-ototku yang kaku.


Tak lama kemudian aku berjalan kearah dapur dan mulai memasak karena perutku sudah keroncongan.Sesuai janjiku setiap hari akulah yang memasak,sesekali Dinda pun ikut membantu


"Kamu masak apa hari ini?"tanya Dinda yang muncul tiba-tiba mengagetkanku.


"Issh kamu nih ngagetin aku aja"


"He he he..."Dinda pun cengengesan melihatku yang cemberut.


"Kamu masak apa?"kata Dinda mengulang kembali pertanyaannya tadi.


"Nih aku masak nasi goreng Jawa sama udang goreng tepung"


"Aku bantuin ya!"


"Nggak usah udah mau selesai juga kok"


"Bantuin ngabisin makanannya maksudnya he he he..."kata Dinda terus menggodaku.


"Kamu ini ya bercanda terus dari tadi,sekarang kamu tata makanan ini diatas piring"


"Ye... katanya tadi nggak mau dibantuin sekarang malah nyuruh"kata Dinda sambil tangannya mengambil piring


"Biarin"kataku tak memperdulikan protes dari Dinda.


Setelah semua telah siap kami pun membawa makanan ke ruang tamu yang merangkap sebagai ruang makan buat kami.


Kami menata hidangan diatas tikar lusuh dan mulai menikmati hidangan bersama-sama.Selesai makan aku berniat mengajak Dinda pergi keluar,kebetulan hari ini kita libur jadi kita bisa bebas dan lagi semalam aku mendapat bonus yang cukup banyak.Dinda pun menyetujui ajakanku,kami segera bersiap dan pergi keluar.