Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 44



Keesokan hari di jam yang sama kami kembali membuka toko bunga kami,tapi tak berselang lama setelah kami buka, ada sebuah mobil yang berhenti didepan toko bunga kami


Awalnya kukira itu adalah seorang pembeli,aku segera menghampirinya dan berniat untuk melayaninya.Tapi ternyata aku salah,dia adalah seorang pegawai dari sebuah showroom mobil,dan dia ingin mengantarkan sebuah mobil pada kami,terutama Dinda.


"Permisi,apa benar ini mbak dinda?" kata pegawai itu.


"Dinda itu teman saya dia ada didalam,kalau boleh tahu masnya ada perlu apa ya cari dinda?" kataku.


"Saya kesini mau mengantarkan sebuah mobil pesanannya,apa bisa mbaknya panggilkan dia sebentar?" kata pegawai itu.


"Tunggu sebentar ya,biar saya panggilkan dulu!" kataku.


Aku pun segera masuk kedalam untuk memanggil Dinda.Dalam hati timbul berjuta pertanyaan,sejak kapan Dinda membeli mobil,dan mengapa dia tak pernah bicara apapun padaku mengenai hal ini.


"Din ada orang yang nyariin kamu tuh didepan!" kataku sesampainya aku dihadapan Dinda.


"Siapa?" tanya Dinda.


"Seorang pegawai showroom" jawabku.


"Untuk apa dia nyariin aku?" tanya Dinda sambil mengernyitkan dahi tak mengerti.


"Tadi sih katanya mau mengantar mobil pesanan kamu,oh ya kamu kok nggak pernah bilang sama aku sih kalau mau beli mobil?" kataku.


"Mengantarkan mobil?,tapi aku nggak pernah merasa membeli mobil tuh!" jawab Dinda.


Kini aku semakin bingung mendengar jawaban Dinda,kalau memang benar Dinda tak pernah membeli mobil lalu kenapa pegawai showroom itu bilang mau mengantarkan mobil pesanannya.


"Kalau kamu nggak pernah merasa membeli mobil lalu kenapa tadi pegawai itu bilangnya begitu?" tanyaku bingung.


"Mana aku tahu, dia salah orang kali!" jawab Dinda sambil mengangkat sebelah bahunya.


"Kita samperin dia aja dulu yuk, setelah itu baru kita cari tahu kebenarannya, kasian juga kan orangnya nungguin dari tadi! kataku.


"Ya udah yuk kita kesana!" jawab Dinda.


Aku dan Dinda pun segera kedepan untuk menemui orang itu.


"Maaf mas saya Dinda,mau apa ya nyariin saya?" kata Dinda.


"Oh ini mbak,saya mau mengantarkan sebuah mobil untuk mbak dinda" kata pegawai itu.


"Tapi saya nggak pernah merasa membeli mobil kok mas,atau mungkin masnya salah orang?" kata Dinda.


"Kalau begitu apa benar nama mbak adalah Dinda pratiwi?" tanya pegawai itu lagi.


"Iya benar,itu memang nama saya!" jawab Dinda.


"Berarti benar,mobil ini memang milik mbak!" kata pegawai itu.


"Tapi saya memang nggak pernah memesan apalagi membeli mobil mas" jawab Dinda tak mengerti.


"Sebenarnya mobil ini dipesan oleh seseorang,dan beliau meminta saya untuk mengantarkan mobil ini pada anda!" terang pegawai itu.


"Seseorang? siapa?" tanya Dinda makin tak mengerti.


"Maaf mbak saya nggak bisa ngasih tahu siapa orangnya,karena beliau berpesan untuk merahasiakan siapa namanya" kata pegawai itu.


"Kalau begitu saya minta maaf,saya tidak bisa menerima barang dari orang lain tanpa tahu siapa yang sudah memberikannya!" jawab Dinda tegas.


"Saya mohon mbak,terima saja mobil ini" kata pegawai itu.


"Maaf saya nggak bisa!" jawab Dinda kekeh untuk menolak.


"Tolonglah mbak, saya mohon terima mobil ini,kalau mbak tidak mau menerimanya nanti saya bisa dipecat mbak" kata pegawai itu dengan muka memelas.


"Udahlah Din kamu terima saja mobilnya,kasihan juga kan masnya,ntar kita cari tahu siapa orang yang sudah mengirimkan mobil ini padamu" kataku akhirnya karena merasa kasihan dengan pegawai itu.


"Baiklah!" jawab Dinda akhirnya.


"Makasih banyak mbak,silahkan tandatangan dulu disini!" kata pegawai itu dengan muka berbinar sambil menyerahkan secarik kertas dan pena pada Dinda.


Dinda pun menerima kertas itu dan segera membubuhkan tandatangannya diatasnya kemudian mengembalikannya lagi pada pegawai itu.


"Makasih banyak mbak,ini surat-suratnya dan ini kunci mobilnya" kata pegawai itu sambil menyerahkan surat-surat dan kunci mobil itu.


"Tolong ucapkan terimakasih saya pada orang itu" kata Dinda setelah menerima surat-surat dan kunci mobil.


"Baik mbak nanti saya sampaikan!" kata pegawai itu.


Aku dan Dinda semakin tak mengerti dengan keanehan ini.


"Kalau begitu saya permisi dulu mbak!" kata pegawai itu.


"Iya iya, makasih ya mas!" kataku dan Dinda bersamaan.


dan pegawai itu pun berlalu dari hadapan kami.


Sepeninggal pegawai itu aku masih penasaran dengan orang yang sudah memberikan mobil ini pada Dinda.


"Siapa ya kira-kira orang yang sudah memberikan mobil ini?" tanyaku.


"Entahlah aku juga tak mengerti!" jawab Dinda sambil mengedikkan bahu.


"Apa mungkin Abhimana ya orangnya?" tanyaku lagi.


"Abhimana? kenapa kau berpikir begitu?" kata Dinda bertanya balik.


"Aku kan cuma nebak, siapa tahu memang benar dia orangnya, secara kamu tahu sendiri selama ini dia itu baik banget sama kita" kataku.


"Mungkin juga ya" jawab Dinda sambil manggut-manggut.


"Ntar deh kita tanyain dia kalau dia udah dateng" kata Dinda lagi.


Ditengah kebingungan kami pada si pengirim misterius, tiba-tiba Abhimana muncul dihadapan kami dan mengagetkan kami.


"Mobil siapa tuh didepan?" tanya Abhimana tiba-tiba.


Aku dan Dinda pun terkejut melihat kehadiran Abhimana,aku begitu serius tadi hingga tak menyadari kedatangannya.


"Eh Abhi,itu tuh mobil baru Dinda!" jawabku setelah mengatasi keterkejutanku.


"Mobil baru,wah selamat ya, mobilnya bagus " kata Abhimana memberi ucapan selamat pada Dinda atas mobil barunya.


"Sebenarnya bukan aku yang membeli mobil itu,lebih tepatnya mobil itu pemberian orang misterius" jawab Dinda sambil tersenyum kecil.


"Oh ya, siapa?" tanya Abhimana.


"Mana aku tahu, namanya juga orang misterius!" jawab Dinda sewot.


"Idih nggak usah ngegas juga kali,ntar aku cubit loh tuh bibir" kata Abhimana.


aku pun tergelak melihat tingkah mereka berdua.


"Abhi,aku mau nanya serius nih ke kamu!" kataku.


"Mau nanya apa?" tanya Abhimana.


"Sebenarnya apa benar kamulah orang yang telah mengirim mobil itu?" tanyaku dengan ragu-ragu.


Tiba-tiba Abhimana tertawa terbahak-bahak setelah mendengar pertanyaanku membuatku kebingungan.


"Kenapa kau tertawa? memangnya ada yang lucu ya dari pertanyaanku tadi?" tanyaku sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal.


"Eh maaf maaf,bukannya gitu tapi pertanyaanmu tadi memang membuatku tertawa,aku mana ada uang untuk membeli mobil sebagus itu!" kata Abhimana setelah ia menguasai tawanya.


"Jadi itu bukan kamu?" kataku mencari kebenaran.


"Aku mana pernah bohong sama kalian!" kata Abhimana meyakinkan.


"Kalau itu bukan kamu lalu kira-kira siapa ya orangnya?" kata Dinda ikut menimpali.


"Entahlah,aku juga bingung!" jawabku.


"Udah nggak usah terlalu dipikirin,ntar kepala kalian botak kayak profesor loh kalau kebanyakan mikir!" kata Abhimana.


aku dan Dinda pun mendengus kesal mendengar ucapan Abhimana, bisa-bisanya dia membandingkan kami yang unyu-unyu ini dengan profesor berkepala botak.


"Oh ya, Emir mana? kok nggak kelihatan dari tadi?" tanya Abhimana kemudian sambil celingak-celinguk mencari keberadaan Emir.


"Tuh dikamar belakang, lagi asik main!" jawabku sambil menunjuk kearah kamar belakang menggunakan kepalaku.


"Ya udah aku samperin Emir dulu ya!" kata Abhimana.


Abhimana pun segera menghampiri Emir dikamar belakang,sedangkan aku dan Dinda kembali melanjutkan pekerjaan kami yang sempat tertunda karena pegawai showroom tadi.