
Tak terasa usia kandunganku sudah memasuki lima bulan.Perutku sudah agak buncit sekarang, baju-bajuku pun sudah banyak yang tidak muat.
Aku pun membawa beberapa bajuku ke ruang keluarga untuk kutunjukkan pada Mas Abhi,kebetulan ia sedang bersantai disana.
"Mas Abhi,baju-bajuku banyak yang udah nggak muat!" keluhku.
"liat ini,nggak muat kan!,terus ini,ini lagi!" ujarku sambil cemberut dan menunjukkan baju-bajuku pada Mas Abhi.
"Ya udah,ntar kita pergi cari baju hamil buat kamu ya!,sekalian kita makan siang juga,udah lama juga kan kamu nggak jalan-jalan!" ujar Mas Abhi.
"Beneran!" ujarku dengan mata berbinar-binar.
"Iya istriku yang cantik!" ujar Mas Abhi sambil mencubit hidungku gemas.
"Ye makasih banyak ya, Mas!" teriakku kegirangan,sontak kupeluk Mas Abhi erat.
"Eits, hati-hati dong honey,ntar anak kita kejepit kalau kamu meluk aku erat-erat kayak gini!" ujar Mas Abhi sambil melonggarkan pelukanku.
"He he he maaf Mas,aku tadi reflek saking senengnya" ujarku sambil nyengir kuda.
"Maafin Bunda ya sayang, Bunda nggak sengaja,kamu nggak marah kan sama Bunda?" ujar Mas Abhi sambil mengelus perutku penuh kasih sayang.
"Auch!" ringisku.
"Kenapa honey? apanya yang sakit? kita ke rumah sakit sekarang ya?" tanya Mas Abhi panik saat melihatku meringis kesakitan.
"Nggak usah Mas,aku nggak pa pa kok!" ujarku menenangkan kekhawatiran Mas Abhi.
"Terus kenapa tadi kamu meringis kesakitan gitu?" tanya Mas Abhi.
"Tadi itu anak kita nendang perutku kenceng banget!,makanya aku meringis kesakitan!" ujarku menjelaskan penyebab aku kesakitan.
"Eh anak Ayah nggak boleh gitu,kasihan Bundanya jadi kesakitan kan!" ujar Mas Abhi seolah-olah memarahi anaknya sambil mengelus perutku lembut.
Terasa gerakan diperutku lagi,sepertinya anak dalam kandunganku ini merespon ucapan dan sentuhan dari Ayahnya.
"Dia gerak lagi,mas! nih liat!" ujarku sambil menunjuk perutku yang bergerak-gerak.
"Anak Ayah mau main ya sama Ayah?, boleh!,tapi ntar ya,kalau kamu sudah lahir.Nanti ayah pasti ngajakin kamu main sepuasnya,tapi sekarang baik-baik disana dulu, jangan bikin Bunda susah ya!" ujar Mas Abhi mengajak bicara anak dalam kandunganku.
Aku pun tertawa kecil mendengar ucapan Mas Abhi.
"Sepertinya dia merespon ucapan kamu tadi Mas.Lihat! sekarang dia sudah nggak gerak-gerak terus" ujarku sambil menunjuk kearah perutku.
Mas Abhi pun tersenyum dan kembali mengusap perutku lembut.
"Nah gitu baru anak Ayah yang pinter!" ujar Mas Abhi.
"Ya udah sekarang kamu siap-siap dulu ya honey,setelah itu kita pergi jalan-jalan" ujar Mas Abhi padaku.
"Tunggu bentar ya, Mas,aku siap-siap dulu!" ujarku.
Aku pun segera menuju kamarku kembali dan segera bersiap.
Tak butuh waktu lama aku pun segera menghampiri Mas Abhi kembali.
"Aku sudah siap nih, Mas! kita berangkat sekarang yuk!" ajakku.
"Ayuk!" sahut Mas Abhi
Kami pun melangkah beriringan menuju mobil di garasi,dan tak butuh waktu lama mobil pun segera meluncur menuju salah satu pusat perbelanjaan.
Jarak dari rumah ke pusat perbelanjaan memakan waktu empat puluh lima menit,dan setelah beberapa lama akhirnya kami pun sampai disana.
Mas Abhi segera memarkirkan mobilnya di area parkir pusat perbelanjaan,dan kami pun segera masuk kedalam.
Sesampainya didalam,kami segera menuju toko yang menjual baju-baju hamil,seorang karyawan pun menyambut kedatangan kami.
"Selamat datang Tuan,nona,ada yang bisa kami bantu?" sapa karyawan itu ramah.
"Iya mbak,saya mau cari baju-baju hamil,ada kan?" tanyaku.
"Oh ada,mari silahkan masuk,kami akan tunjukkan pada anda!" jawab karyawan itu.
Kami pun mengikuti langkah kaki karyawan itu.
"Ini Nona!,ini adalah baju hamil koleksi terbaru kami" ujar karyawan itu sambil menunjukkan beberapa baju padaku.
Aku pun melihat baju-baju itu.
"Ini kayaknya bagus!,gimana menurutmu Mas?" tanyaku meminta pendapat Mas Abhi.
"Ya udah aku cobain dulu ya, Mas!" ujarku.
Aku pun segera menuju ruang ganti dan mencoba baju itu.
"Gimana menurutmu, Mas?" tanyaku menunjukkan baju yang kupilih tadi.
"Bagus! kamu sangat cocok memakainya!" ujar Mas Abhi berkomentar.
Aku pun tersenyum mendengar ucapan Mas Abhi.
"Ya udah aku pilih yang ini ya!" ujarku.
Aku pun segera kembali ke ruang ganti dan melepas baju tadi,kemudian aku segera kembali menghampiri Mas Abhi lagi.
"Kamu nggak ingin cari yang lain lagi,honey?" tanya Mas Abhi setelah aku sampai didekatnya.
"Iya Mas!,aku masih ingin mencari beberapa baju lagi!" jawabku.
Aku pun segera mencari beberapa baju dengan model yang lain lagi,dan setelah mendapatkan apa yang kuinginkan Mas Abhi pun segera membayar semuanya.
"Kita makan sekarang yuk, Mas! aku udah laper nih!" ajakku.
"Ayo!" sahut Mas Abhi.
Kami pun bergandengan tangan menuju salah satu restoran yang berada tidak jauh dari sana.
Kami segera masuk ke restoran tersebut dan memesan beberapa makanan,dan tak berselang lama pesanan kami pun sampai.
Kami segera menyantap hidangan yang tersaji dihadapan kami sambil mengobrol ringan.
"Makasih banyak ya mas!,hari ini aku senang sekali,kamu sudah belanjain aku baju-baju banyak sekali!" ujarku sambil tersenyum pada Mas Abhi.
"Sama-sama,honey!.Apapun yang kamu inginkan Mas akan coba untuk memenuhi semuanya!" ujar Mas Abhi.
"Kamu memang suami terbaik di dunia,aku beruntung bisa menjadi istrimu, Mas!" pujiku.
Mas Abhi pun tersenyum mendengar pujian dariku.
"Ya udah ayo dilanjut lagi makannya" ujar Mas Abhi sambil menyendok kan makanannya padaku.
Aku pun membuka mulutku dan menerima suapan darinya.Tiba-tiba wajahku berubah sendu seketika, Mas Abhi pun segera bertanya padaku saat melihat perubahan diwajahku.
"Kamu kenapa, honey? kok mukamu jadi sedih gitu?" tanya Mas Abhi.
"Nggak pa pa kok, Mas,aku cuma teringat pada Papa saja,aku sangat merindukannya saat ini" jawabku.
"Kalau kamu rindu,lalu kenapa kau tidak mendatanginya?" tanya Mas Abhi lagi.
"Aku tidak bisa,Mas!" tolakku.
"Kenapa tidak bisa?" tanya Mas Abhi tak mengerti.
"Terakhir kali bertemu, Papa sangat marah padaku,ia bahkan tidak ingin melihatku menginjakkan kaki lagi dirumahnya" ujarku menjelaskan alasanku.
Mas Abhi meletakkan sendoknya dan menatap kearahku.
"Dengerin ya!,semarah-marahnya orang tua pada anaknya,dia pasti akan luluh juga kalau kita mau minta maaf padanya" ujar Mas Abhi menasehatiku.
"Kau belum tahu gimana Papa,Mas!, kemarahannya tidak mudah untuk diluluhkan" ujarku.
"Mas emang belum tahu gimana Papamu kalau sedang marah,tapi setahu Mas, semarah-marahnya orang tua,dia tidak mungkin bisa berpisah jauh dari anaknya".
"Kau tahu, honey! kemarahan orang tua adalah salah satu bentuk kekecewaannya pada kita" nasehat Mas Abhi lagi.
"Entahlah, Mas!,aku hanya merasa belum siap untuk bertemu Papa!" ujarku.
"Mas tidak akan memaksamu untuk bertemu Papa,tapi kalau kau ingin bertemu dengannya,dengan senang hati Mas akan mengantarkanmu kesana!" ujar Mas Abhi sambil tersenyum.
"Iya, Mas,makasih banyak!" ujarku.
"Udah ah jangan sedih terus!,ntar kasian anak kita kalau Bundanya sedih terus gitu" ujar Mas Abhi.
Aku pun langsung melemparkan senyumanku mendengar ucapan Mas Abhi.
"Nah,kalau tersenyum gitu kan lebih cantik!".
"Ya udah,yuk dimakan lagi!" ujar Mas Abhi.
Kami pun melanjutkan makan kami,dan setelah selesai kami pun segera pulang.