
Hari ini aku mengadakan rapat penting dengan para petinggi perusahaan Papa. Aku ingin memperkenalkan diriku, sekaligus mengambil alih posisi Papa di perusahaan. Sebelumnya aku sudah mengabari pak Aditama mengenai keputusanku, dan aku meminta beliau untuk datang ke kantor hari ini.
Aku datang bersama Mas Abhi. Aku sengaja memintanya untuk mendampingiku hari ini. Aku merasa sangat gugup, karena ini adalah pertama kalinya aku melakukan ini.
aku masuk ke ruang rapat, para petinggi perusahaan sudah ada disana menunggu kedatanganku. Dan tanpa berlama-lama, rapat dimulai.
Pak Aditama berdiri terlebih dulu dan membacakan isi surat wasiat Papa. Dan setelah usai, aku pun berdiri untuk memperkenalkan diri.
"Perkenalkan, saya Kania Larasati, putri bapak Pramono. Sesuai dengan isi surat wasiat tadi, mulai hari ini saya akan mengambil alih kepemimpinan perusahaan. Dan disamping saya adalah suami saya, Abhimana Haidar. Dia akan menjadi tangan kanan saya dalam memimpin perusahaan. Jika ada hal-hal yang ingin disampaikan, saya persilahkan untuk berbicara" ujarku memperkenalkan diri secara singkat.
Para petinggi itu pun menyuarakan suara mereka. Sebagian ada yang tidak terima dengan keputusan ini. Mereka meragukan kemampuanku dalam memimpin perusahaan.
Mas Abhi bangkit dan menjawab semua keraguan mereka.
"Nona Kania mungkin belum berpengalaman dalam memimpin sebuah perusahaan. Tapi kalian jangan khawatir, kalian pasti tahu siapa saya. Saya adalah direktur utama perusahaan Jaya Makmur. Saya akan pastikan, kedepannya perusahaan ini akan semakin maju dibawah kepemimpinannya" ujar Mas Abhi.
Setelah Mas Abhi usai berbicara, aku pun bangkit.
"Saya tidak akan membuat janji-janji manis untuk membuat kalian percaya dengan saya. Tapi saya akan membuktikan semuanya dengan kerja keras dan dedikasi yang tinggi" ujarku mantap.
Aku pun memberi kode pada pak Haris untuk menutup rapat hari ini. Dia dulu adalah asisten pribadi Papa.
Pak Haris bangkit dan mengikuti perintahku," Sekian rapat hari ini. Kalian semua diperbolehkan untuk keluar".
Semua yang hadir di rapat itu satu persatu keluar dari ruangan, begitu juga dengan aku dan Mas Abhi. Tapi baru beberapa langkah, pak Haris menghentikanku.
"Selamat Nona Kania. Anda hebat sekali. Anda bisa membuat mereka diam dengan ucapan anda" ujar pak Haris, mengulurkan tangan padaku.
Aku pun membalas uluran tangannya," Terimakasih, pak, dan mohon kerjasamanya!".
Setelah itu kami pun meninggalkan ruang rapat.
...****************...
Sejak hari itu aku terus bekerja keras untuk mengembangkan perusahaan Papa. Aku ingin menutup mulut mereka yang meragukan ku dengan hasil yang kudapatkan.
Dalam waktu singkat aku berhasil membuat perusahaan Papa semakin maju dibawah kepemimpinan ku. Tentu saja ini semua berkat dukungan dan bantuan dari Mas Abhi. Kini tidak ada lagi yang meragukan kemampuanku. Mereka bahkan memuji dengan semua pencapaian ku.
Sebentar lagi adalah seribu hari meninggalnya Papa. Aku ingin mengadakan pengajian untuk mendoakan arwahnya. Selain itu, aku juga ingin memberikan santunan bagi orang yang tidak mampu sebagai wujud rasa syukur atas semua yang kudapatkan.
Aku segera mengutarakan keinginanku ini pada Mas Abhi
"Mas Abhi, lusa adalah seribu hari meninggalnya Papa. Aku ingin mengadakan pengajian untuk mendoakan arwah Papa. selain itu, aku juga ingin mengadakan santunan sebagai wujud rasa syukur. Gimana menurut Mas?" ujarku.
"Itu ide yang sangat bagus, honey. Mas sangat setuju denganmu. Mas akan membantumu untuk mempersiapkan semuanya" jawab Mas Abhi.
Makasih banyak ya, Mas" ujarku tersenyum gembira.
Kami pun mulai mempersiapkan semuanya. Rencananya pagi aku mengadakan santunan, dan malamnya baru diadakan pengajian.
Semuanya telah dipersiapkan dengan baik. Hari ini aku akan memulai acaranya. Aku membagikan sebuah bingkisan berupa paket sembako untuk para pengemis dan orang yang tidak mampu yang berada disekitarku. Dan aku sendirilah yang membagikannya.
Semua berbaris secara rapi dan teratur. Tapi dari semua yang datang hari ini, mataku terus memandang ke arah wanita paruh baya yang ikut mengantri disana. Aku seakan mengenali wajah orang itu.
Wanita itu mengenakan pakaian compang-camping. Cara jalannya terpincang-pincang. Wajah dan tubuhnya sangat kotor, dan ada banyak luka disekujur tubuhnya.
Aku segera menghampiri orang tersebut untuk memastikan jika mataku tidak salah. Dan alangkah terkejutnya saat aku melihat wajahnya dari dekat.
"Mama!!!" pekikku tertahan.
"Kamu siapa?" tanya wanita itu.
"Ini Kania, Ma. Anak Mama. Apa Mama tidak mengenali wajahku? " tanyaku.
Sejenak Mama memandangi wajahku. Tapi setelah beberapa saat, ia langsung berlari menjauh. Aku pun turut berlari untuk mengejarnya.
"Mas Abhi, bantu aku mengejar wanita itu. Dia adalah Mama, Mas!" teriakku.
"Mama?" tanya Mas Abhi tak mengerti.
"Iya, Mas, dia Mama. Nanti aku akan jelasin semuanya. Tapi sekarang kejar dia dulu, Mas" jawabku.
"I... iya!" ujar Mas Abhi.
Kami pun melanjutkan mengejar Mama sambil meneriakinya.
"Ma, berhenti, Ma. Tolong jangan lari lagi".
"Tidak nak, tolong jangan kejar Mama terus" ujar Mama.
"Kania akan terus mengejar Mama sebelum Mama mau berhenti" jawab.
Setelah lama mengejar, akhirnya kami bisa menangkap Mama.
"Ma, jangan lari. Tolong jangan tinggalkan Kania lagi" ujarku, memegangi lengan Mama.
"Lepaskan Mama, nak. Mama sangat malu bertemu denganmu" jawab Mama menundukkan kepala.
"Kenapa Mama harus malu? Kania kan anak Mama!" ujarku.
"Mama malu karena dulu sudah meninggalkan kalian" ujar Mama sendu.
"Mama jangan mikirin itu lagi. Mama tahu, Kania sangat senang bisa bertemu Mama lagi" ujarku, air mataku menetes karena haru.
"Maafkan Mama,nak. Mama sangat menyesal" ujar Mama menangis sedih.
"Cukup, Ma. jangan bicara itu lagi" tukasku, menutup mulut Mama dengan satu jariku.
..."Oh ya, Ma. kenalin, ini Mas Abhi, suami Kania" ujarku memperkenalkan Mas Abhi yang sedari tadi berdiri mematung di sampingku, melihat pertemuanku dengan Mama...
Mama pun tersenyum kikuk ke arah Mas Abhi.
"Mama kemana aja selama ini? kenapa Mama bisa seperti ini? apa yang sudah terjadi dengan Mama?" tanyaku.
"Ceritanya sangat panjang, nak. Yang pasti ini adalah hukuman untuk semua kesalahan mama" jawab Mama.
"Ya sudah, lebih baik kita kerumah Kania dulu biar Mama bisa beristirahat. Nanti Mama bisa menceritakan semuanya disana" ajakku.
"Baiklah, nak!" jawab Mama
Kami pun kembali ke rumah. Sesampainya disana, aku meminta Mama untuk membersihkan tubuh dan berganti pakaian lebih dulu. Dan setelah selesai aku mengajak Mama untuk makan bersama.
Di meja makan Mama terlihat sangat rakus saat memakan semua makanan. Mungkin karena ia sangat lapar atau karena ia sudah lama tidak makan. Aku dan Mas Abhi saling pandang melihat Mama.
Selesai makan, aku mengajak Mama duduk di ruang tengah. dan aku pun meminta Mama untuk menceritakan tentang dirinya.