
Setelah beberapa saat berjalan, akhirnya kami sampai juga di kafe yang dimaksud. Kami duduk disalah satu meja yang masih kosong, kemudian kami memesan sebuah minuman.
"Kamu mau bicara apa, Mas?" tanyaku usai memesan minuman.
"Tidak bisakah kau bertanya bagaiman kabarku lebih dulu?" ujar Mas Abhi bertanya balik.
"Maaf!" jawabku singkat, menundukkan kepala. Hanya permintaan maaf lah yang bisa aku katakan saat ini.
"Tidak, apa, aku bisa mengerti. Sepertinya kau mulai membenciku sekarang" ujar Mas Abhi lirih.
"Aku tidak bermaksud begitu, Mas!" sergahku cepat.
Mas Abhi tersenyum tipis melihat reaksiku. "Sudahlah, kita lupakan saja masalah itu. Ada hal penting yang ingin aku sampaikan padamu!".
"Apa, Mas?".
"Bisakah kau ikut pulang dengan ku? kembali lagi ke rumah kita" pinta Mas Abhi, memandangku dengan penuh harap.
"Maafkan aku, Mas. Aku tidak bisa!" jawabku lirih, memalingkan wajahku dari pandangannya.
"Tapi kenapa?"
"Apa kau masih juga bertanya apa penyebabnya, Mas. Kau pasti sudah tahu dengan sangat jelas, kan!" ujarku dengan suara meninggi.
"Tidak bisakah kau memberiku kesempatan untuk membuktikan diri kalau aku tidak bersalah?" tanya Mas Abhi sendu.
Aku kembali memalingkan wajahku dari pandangannya. "Sayangnya kesempatan itu sudah tidak ada. Bukti yang dibawa oleh Tasya kemarin sudah cukup bagiku".
"Tapi aku benar-benar tidak melakukan apapun padanya. Aku bahkan tidak mengerti bagaiman mungkin Tasya bisa hamil".
"Cukup, Mas. Kalau kau ingin berdebat, lebih baik aku pulang saja sekarang!" ujarku, bangkit dari tempat duduk.
"Tunggu, Kania. Aku mohon, jangan pergi dulu!" ujar Mas Abhi mencegah, menggenggam tanganku erat.
"Lepaskan tanganku, Mas!" menghempaskan genggaman Mas Abhi dari tanganku.
"Maaf!" ujar Mas Abhi lirih.
Aku kembali menghempaskan tubuhku diatas kursi, begitu pula dengan Mas Abhi. Tak berselang lama minuman yang kami pesan telah datang. Pelayan menghidangkan diatas meja, kemudian kembali lagi.
Mas Abhi menghela napas berat. "Baiklah, aku tidak akan berkata apa-apa lagi. Tapi kuharap kau bersedia untuk kembali lagi ke rumah".
"Mas....".
"Jika kau tidak ingin melakukan ini untukku, tidak apa. Setidaknya lakukan ini demi Naila, anak kita. Dia sangat merindukan dirimu. Dia terus bertanya tentangmu" ujar Mas Abhi, memotong ucapanku.
"Beri aku sedikit waktu untuk berpikir, Mas!".
"Baiklah, kalau itu maumu. Aku harap kau benar-benar memikirkannya. Kau tidak bisa mengabaikan Naila begitu saja hanya demi Tasya. Dia itu anakmu, darah dagingmu".
"Aku mengerti, Mas!".
"Aku akan menghargai apapun keputusanmu nanti. Kalau kau sudah punya jawaban, segera hubungi aku, dan kuharap kabar yang kau berikan nanti adalah kabar yang baik".
Aku hanya menanggapi ucapan Mas Abhi dengan mengulas sebuah senyuman tipis.
"Kalau begitu, aku permisi dulu!".
Mas Abhi bangkit dari tempat duduknya. Pergi meninggalkanku yang masih termenung memikirkan semua. Aku baru menyadari kepergiannya setelah ia sudah agak jauh.
Kupandangi punggung Mas Abhi yang mulai menghilang dari pandangan. Entah mengapa saat melihatnya pergi meninggalkanku, membuat dadaku terasa sesak. Seperti ada sebuah beban yang menghimpit.
"Andai kau tahu isi hatiku, Mas, kau tidak mungkin bisa meninggalkanku dalam keadaan seperti ini. Aku sudah menyerahkan jiwa dan ragaku untukmu. Tapi sayangnya, seberapa pun besarnya cintaku padamu, tidak bisa menghapus kesalahan yang sudah kau lakukan".
"Andai semua ini tidak pernah terjadi, mungkin saat ini kita masih bersama. Menjadi keluarga yang paling bahagia".
Aku melangkah meninggalkan kafe tersebut dengan gontai. Kembali menuju kantor, melanjutkan niat awalku tadi.
Saat mata memandangmu
Aku terikat padamu
Hati tak bisa terkendali lagu
Cinta adalah kehidupan tanpa batas
Saat mata memandangmu
Saat hati bersatu denganmu
Aku mendapat kehidupan
Kenapa lilin ini meleleh
Kenapa kunang-kunang ingin terbakar
Semua ini adalah ujian kehidupan
Jika cinta memaafkan, itulah kehidupan
Atau kisahnya akan berakhirnya dengan kematian
Bagaimana aku bisa hidup tanpa cinta
Tak ada manusia yang bisa hidup tanpa cinta
Setiap kali haus akan cinta
Dan pertanyaan muncul dalam hati
Dimana ada cinta, disitu ada kehidupan
Jika tidak ada cinta, maka tidak akan ada kehidupan
Sepasang mata sedari tadi terus memperhatikan kami. Memandang dengan tatapan tak suka. Telinga ia pasang lebar-lebar untuk mencuri dengar pembicaraan kami. Dia adalah Tasya.
"Ini tidak boleh dibiarkan!. Aku harus meyakinkan kania untuk segera bercerai dengan Abhimana, atau mimpiku untuk bersanding dengannya akan terancam gagal" gumamnya dalam hati.
Tasya turut meninggalkan kafe tersebut setelah melihatku pergi dari sana. Sebuah rencana baru telah tersusun di otaknya.
...****************...
Setelah lama berpikir, akhirnya aku memutuskan untuk kembali lagi ke rumah. Aku merasa kasihan dengan Naila. Bagaimanapun dia tidak bersalah dalam hal ini, lalu kenapa aku harus menghukumnya juga.
Aku segera menghubungi Mas Abhi untuk memberitahukan keputusanku ini. Ia terlihat sangat senang saat mendengarnya.
"Ini kabar yang sangat menggembirakan, Kania. Aku sangat yakin, Naila juga pasti ikut senang nantinya" ujar Mas Abhi dengan sorot mata berbinar-binar.
Aku menanggapi ucapan Mas Abhi dengan mengulas senyum tipis.
Hari ini juga aku pulang ke rumah. Naila menyambut kedatanganku dengan gembira. Ia segera berhambur ke dalam pelukanku saat aku tiba.
"Bunda, Naila kangen sama Bunda" ujar Naila, bergelayut manja di pangkuanku.
"Bunda juga kangen sama Naila".
"Bunda kemana aja selama ini? kenapa nggak kasih kabar sama Naila? Naila udah bikin Bunda marah, ya? atau Bunda udah nggak sayang lagi sama Naila? " tanyanya beruntun.
Aku tersenyum mendengar banyaknya pertanyaan yang diajukan Naila padaku. "Bukan begitu, nak. Bunda cuma sedang ada sedikit urusan saja. Maafin Bunda, ya, sudah membuat Naila sedih".
"Bunda nggak lagi bohong, kan, sama naila? Bunda emang beneran sedang sibuk saja, kan?" tanya Naila lagi, mencari kepastian dari jawabanku tadi, menatapku penuh selidik.
Aku gelagapan mendengar pertanyaan Naila, tapi aku segera menguasai diri agar dia tidak menaruh curiga. "Tentu saja tidak. Untuk apa Bunda bohong sama Naila".
"Ya udah deh kalau begitu. Tapi sekarang Bunda harus janji!" memandang penuh arti padaku.
"Janji apa?" tanyaku, mengerutkan dahi tak mengerti.
"Bunda harus janji, setelah ini Bunda tidak akan meninggalkan Naila lagi, apapun yang terjadi!" ujar Naila, penuh penekanan disetiap katanya. Ia menunjukkan jari kelingkingnya untuk memintaku berjanji.
Aku tersenyum mendengar permintaan Naila. "Baiklah, Bunda janji!. Bunda nggak akan meninggalkan Naila lagi apapun yang terjadi" ucapku, menautkan jari kelingking ku pada jarinya.
Naila tersenyum bahagia mendengar janji yang ku ucapkan. "Sekarang Bunda buatin Naila makanan, ya. Naila kangen sama masakan Bunda" pintanya.
"Ok, putri Bunda yang cantik!" ujarku, mencubit pipinya gemas.
Aku segera melangkah menuju dapur berkutat dengan bahan-bahan masakan, membuat makanan kesukaan Naila.
Naila terus mengikuti kemana aku pergi. pandangannya tidak pernah lekat dariku. Sepertinya ia takut aku akan pergi lagi.
Sementara Mas Abhi sedari tadi terus memperhatikan interaksi kami. Ia tersenyum bahagia melihat kebersamaan kami.
"Aku tahu, kau tidak mungkin tega dengan anakmu sendiri, Nia. Semoga kita bisa menyelesaikan semua masalah yang terjadi diantara kita. Tanpa ada perceraian sebagai jalan keluar" ujar Mas Abhi penuh harap.