
"Kita mau kemana,Mas?" tanyaku setelah Mas Abhi masuk.
"Kita akan pergi ketempat dimana kau akan sadar!" jawab Mas Abhi singkat.
Mas Abhi pun segera menyalakan mesin mobilnya dan mulai mengemudikan kendaraannya.
Setelah beberapa lama berjalan Mas Abhi menghentikan mobilnya didepan area pemakaman,kemudian Mas Abhi membuka pintu mobil dan mengajakku turun.
"Kenapa kau mengajakku ketempat seperti ini Mas?,kita mau ngapain?" tanyaku kebingungan.
"Sudahlah,kamu ikut saja!," ujar Mas Abhi.
Mas Abhi pun menggenggam tanganku dan menuntunku memasuki area pemakaman, tiba-tiba Mas Abhi menghentikan langkahnya disebuah makam yang masih baru.
"Ini makam siapa,Mas?kenapa kita kesini?" tanyaku.
"Ini adalah makam Emir!" jawab Mas Abhi singkat
Aku pun duduk didekat makam itu,begitu juga dengan Mas Abhi.Kuusap dan kuciumi pusara Emir,air mataku pun jatuh bercucuran.
"Emir,bagaimana keadaanmu disana,nak? apakah kau baik-baik saja?" tanyaku pada pusara Emir.
Hening, tak terdengar suara sahutan.
"Emir, kenapa kau tinggalkan Bunda secepat ini?.Kita bahkan belum sempat bikin foto keluarga seperti yang Emir inginkan selama ini " ucapku lagi sambil menangis sesenggukan.
"Tenangkan dirimu, kania!,kuatkan hatimu. Saat ini Emir sudah bahagia di alam sana," ujar Mas Abhi sambil menepuk bahuku mencoba menenangkanku.
Aku pun. beralih menatap Mas Abhi.
"Kenapa Tuhan sangat kejam padaku,Mas?" tanyaku dengan air mata bercucuran.
"Disaat aku sudah berubah dan mulai menata hidupku kembali,kenapa Tuhan malah mengambil Emir dariku?".
"Tuhan tidak kejam pada kita,Kania.Dia hanya ingin menguji seberapa kuat keimanan kita!".jawab Mas Abhi.
"Tapi kenapa harus dengan mengambil nyawa Emir, Mas?" tanyaku lagi.
"Tuhan lebih tahu mana yang terbaik untuk kita, Kania!" jawab Mas Abhi.
Hening....
Mas Abhi pun menghela napas panjang sebelum melanjutkan kembali ucapannya.
"Kau tahu,Nia,Tuhan tidak akan menguji umatnya diluar batas kemampuannya!"
"Tapi ini terlalu berat bagiku, Mas!" ucapku.
"Tuhan tahu kalau kau mampu dan kau pasti bisa melewati cobaan ini,Nia!" ujar Mas Abhi.
"Entahlah, Mas,Aku tidak tahu!" jawabku lirih.
"Emir adalah segalanya bagiku,dia adalah sumber kekuatanku.Jiwaku serasa ikut menghilang bersama dengan kepergiannya," ucapku lagi.
"Kenapa kau bicara seperti itu, Nia?.Bukankah masih ada aku,suamimu dan Dinda,sahabatmu?" tanya Mas Abhi.
"Aku tahu itu Mas,tapi kalian berdua tidak sama dengan Emir!" sahutku.
Hening...
"Aku tahu kau sangat terpukul dengan kepergian Emir,kita semua pun juga begitu.Kau juga pasti tahu kalau aku sangat menyayangi Emir ,tapi itu bukan berarti kita harus terus tenggelam dalam kesedihan dan menghancurkan diri kita sendiri!" ujar Mas Abhi.
Hening..
"Aku sangat tahu kalau kita berdua menikah bukan atas dasar cinta,aku juga tahu kalau kau belum sepenuhnya menerimaku!,tapi pernahkah kau berpikir sedikit saja tentang perasaanku?" tanya Mas Abhi.
"Kau pikir aku tidak sedih melihatmu terus begini?,kau pikir aku tidak akan terluka melihatmu menghancurkan dirimu sendiri?".
"Bukalah hatimu untukku, Kania!,biarkan aku menyembuhkan semua lukamu".
Hening...
"Sekarang coba kau bayangkan, seandainya Emir masih hidup,apa dia tidak akan sedih melihat Bundanya terus menangis seperti ini?" tanya Mas Abhi.
Aku terdiam mendengar pertanyaan Mas Abhi.
"Ikhlaskan kepergian Emir,kania!,lepaskan kepergiannya!" ucap Mas Abhi.
Hening kembali.
"Kau tahu Kania,apabila ada anak yang meninggal dunia diusia yang masih kecil,maka Tuhan akan menempatkannya di surga-Nya"
Hening....
"Kau ingat Kania, sebelum Emir meninggal,Emir pernah meminta kita untuk berjanji agar kita tidak akan pernah menangis lagi setelah kepergiannya" ucap Mas Abhi mengingatkanku pada janji kita kepada Emir disaat-saat terakhirnya.
Aku terdiam mendengar semua ucapan Mas Abhi,semua yang dikatakannya adalah benar,dan sekarang aku pun mulai sadar akan kesalahanku.
"Maafkan aku Mas Abhi,aku sudah melakukan kesalahan!" ucapku sambil tertunduk.
"Tidak apa Kania,aku senang kalau kau sudah sadar!" jawab Mas Abhi sambil tersenyum.
aku pun kembali menatap pusara Emir dan mengusapnya.
"Maafkan Bunda Emir, Bunda sudah bersalah sama Emir,seharusnya Bunda tidak menghancurkan diri Bunda sendiri dan membuat Emir bersedih," ucapku pada pusara Emir.
"Sudahlah Kania,aku yakin Emir juga pasti senang melihatmu menyadari kesalahanmu," ujar Mas Abhi sambil menepuk bahuku.
"Bunda janji, setelah ini Bunda tidak akan pernah menangis lagi!" ucapku.
"Tunggulah Bunda di surga Emir,kelak kita akan berkumpul lagi disana,"
"Bunda akan terus berdoa semoga Emir senantiasa bahagia disana!" ujarku sambil tersenyum.
"Amin..." ucap Mas Abhi mengaminkan doaku.
"Kalau begitu kita pulang sekarang ya,udah mau hujan juga!" ajak Mas Abhi.
Aku pun memandang kearah langit dan memang sudah sangat mendung.
"Iya Mas,kita pulang sekarang!" jawabku.
Aku pun beralih menatap pusara Emir lagi untuk berpamitan.
"Emir, Bunda pamit pulang dulu ya, lain kali Bunda pasti kesini lagi!" ucapku.
"Yuk kita pulang sekarang!," ajak Mas Abhi sambil mengulurkan tangannya.
"Yuk, Mas!" sahutku sambil menerima uluran tangannya.
Kami pun melangkah beriringan meninggalkan makam Emir,hatiku terasa ringan setelah mengungkapkan semua kesedihanku.
...****************...
Seiring waktu aku mulai belajar untuk mengikhlaskan kepergian Emir,aku tak lagi terpuruk dalam kesedihanku,tapi bukan berarti aku sudah melupakan Emir.
Kenangan ku bersama Emir tidak akan pernah terlupakan,ia akan senantiasa ada didalam hatiku.
Hari ini aku berniat untuk kembali bekerja agar aku bisa melupakan kesedihanku, lagi pula sudah lama juga aku tidak ikut Dinda mengurus toko bunga kami.
Aku segera bersiap dan segera meluncur kesana setelah Mas Abhi berangkat kerja,dan tak butuh waktu lama aku pun sampai juga di toko bunga kami.
Dinda segera menyambut kedatanganku saat melihat mobilku terparkir didepan.
"Kania,aku senang sekali melihatmu ada disini," teriak Dinda bahagia sambil berhambur memelukku.
"Ish kamu ini apa-apaan sih! main peluk orang begitu aja,udah kayak Teletubbies tau nggak!" ujarku sewot.
"Ye gitu aja marah!,lagi dapet ya non?" ujar Dinda menggodaku.
"Kamu ini ya,dasar!!" ucapku sambil menarik sudut bibirku berpura-pura marah.
"Kamu lucu deh kalau lagi manyun gitu!,jadi pengen nyium" goda Dinda lagi sambil memajukan bibirnya hendak mencium ku.
"Enak aja!,emangnya aku penyuka sesama jenis,main cium istri orang aja!" teriakku marah sambil mendorong tubuh Dinda agar menjauh dariku.
"Ha ha ha gitu aja marah" ujar Dinda sambil tertawa terbahak-bahak.
Aku pun semakin cemberut melihat Dinda tertawa.
"Udah nggak usah marah gitu,aku cuma bercanda aja kok.Emangnya aku beneran mau nyium kamu?, nggak kali,aku juga masih normal" ujar Dinda setelah ia bisa mengatasi tawanya.
"Kali aja kamu berubah jadi penyuka sesama jenis karena kelamaan ngejomblo!" ujarku sekenanya.
"Enak aja!" sergah Dinda sambil melotot kan matanya.
Aku yang melihat reaksi Dinda saat kukatai begitu pun menjadi tertawa.
"Ha ha ha sekarang giliran kamu yang sewot!" ujarku sambil tertawa.
"Sialan, ternyata kamu balas dendam ya!,sekarang rasakan ini!" ujar Dinda.