
Setelah pertemuanku dengan Abhimana aku kembali terpuruk.Setiap hari aku selalu mengurung diri dikamar,pertanyaan yang Abhimana ajukan waktu itu terus terngiang di telingaku.
Bersamaan dengan itu tubuhku terus menerus menagih untuk kembali mengkonsumsi barang haram itu.Aku pun terus memenuhi hasrat tubuhku itu karena aku juga butuh barang haram itu sebagai pelarian dari semua dukaku.
Seperti halnya hari ini tubuhku kembali mengalami sakaw.Aku terus berusaha untuk mencari barang haram itu tapi tak juga aku temukan, ku obrak-abrik seisi rumah tetap juga tak berhasil.Sepertinya Dinda benar-benar menyembunyikan barang itu agar aku tak bisa lagi meminumnya.
Dengan terpaksa aku pun menyayat lenganku sendiri dengan sebilah pisau lipat
srettt!!!
darah segar pun mengalir dari bekas sayatan ku,dengan segera aku meminum darahku sendiri.Akan tetapi sebelum aku sempat meminumnya Dinda pun telah tiba,ia sangat terkejut melihat apa yang tengah aku lakukan dan mencoba menghentikanku
"Kania apa yang kau lakukan? apa kau sudah gila? kenapa kau melukai dirimu sendiri!" teriak Dinda marah.
"Jangan hentikan aku Dinda,biarkan aku meminum darah ini!" teriakku mencoba menjauhkan Dinda.
"Tidak,aku tidak akan membiarkanmu melakukan ini!" jawab Dinda sambil menarik lenganku mencoba untuk menghentikan darah yang keluar darinya.
terjadilah tarik menarik lenganku,tapi sayang saat menarik lenganku aku kehilangan keseimbangan dan akhirnya aku terjatuh.
Aku jatuh terjerembab dengan posisi perut membentur tembok.Seketika darah merembes keluar dari selangkanganku,aku pun berteriak kesakitan
"argk....Dinda tolong perutku sakit!!"teriakku kesakitan sambil memegangi perutku yang sakit.
"Astaga Kania kau mengalami pendarahan,kita harus segera ke rumah sakit!" teriak Dinda panik saat melihat darah yang keluar dari selangkanganku.
Dinda segera mengambil kunci mobil lalu memapah ku dan merebahkanku dikursi belakang,ia pun segera mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi.
"Dinda tolong sakit!!!" teriakku.
aku terus meringis kesakitan sambil memegangi perutku,Dinda pun sesekali melihat kearahku dari kaca spion depan sambil terus mengemudikan laju kendaraannya.
"Sabar ya Kania,kita akan segera sampai!" kata Dinda mencoba menenangkanku.
"Sakit Din,tolong!"
"Iya Nia aku tahu kamu yang kuat ya!"
Disaat genting seperti ini tapi kami malah mengalami kesialan,saat ditengah jalan tiba-tiba saja mobil mogok.
"Dasar mobil tua kenapa juga mogok disaat seperti ini sih!" umpat Dinda sambil memukul setir mobil.
Dinda pun segera keluar dan membuka kap mobil untuk mencari tahu bagian yang rusak
"Duh apanya yang rusak sih,mana aku nggak ngerti mesin lagi!"kata Dinda sambil celingak-celinguk mencari bagian yang rusak.
Dinda pun kembali menutup kap mobilnya dan memutuskan untuk mencari taksi saja
Berulang kali ia mencoba untuk menghentikan taksi yang lalu-lalang tapi tak satupun taksi yang mau berhenti.Dinda pun semakin panik melihatku yang terus berteriak kesakitan
"Kamu yang kuat ya Kania,aku lagi nyari taksi!" kata Dinda dari luar mobil mencoba menenangkanku.
Dinda terus berusaha menghentikan taksi tapi tak kunjung jua membuahkan hasil.Disaat ia hampir putus asa tiba-tiba sebuah mobil berhenti didekat mobil kami dan keluarlah Abhimana,rupanya ia melihat saat tadi Dinda mencoba menghentikan taksi.
"Dinda,ada apa dengan mobilmu?" tanya Abhimana saat tiba dihadapan Dinda.
"Syukurlah ada kamu Abhimana,tolongin Kania mobilku mogok dan dia mengalami pendarahan!" kata Dinda panik.
"Astaga cepat bawa Kania ke mobilku!"ujar Abhimana ikut panik.
Abhimana ikut membantu mengangkat tubuhku dan memindahkanku kedalam mobilnya.
"Letakkan kepalanya diatas pangkuanku bhi!" ujar Dinda.
mobil pun segera meluncur menuju rumah sakit terdekat.
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi sampai Kania mengalami pendarahan?" tanya Abhimana.
"Nanti saja aku ceritakan,sekarang tolong bawa mobilnya lebih cepat lagi!" jawab Dinda.
"Dinda tolong,aku sudah tidak kuat lagi" rintihku melemah,keringat terus menetes dari keningku.
"Kumohon bertahanlah Nia aku tahu kau wanita yang kuat,kita akan segera sampai di rumah sakit!"ujar Dinda mencoba menguatkanku sambil menggenggam tanganku,diusapnya peluh yang membasahi keningku.
"Aku rasa aku tidak akan selamat Dinda,aku mohon kalau nanti aku tiada sampaikan permohonan maafku ke Papa" pintaku saat aku merasa bahwa aku tidak akan tertolong.
"Kau ini bicara apa aku tidak akan mengatakannya,kau sendirilah yang harus mengatakan permintaan maafmu itu!" hardik Dinda saat mendengar permintaanku.
"Kumohon bertahanlah sedikit lagi kau dan bayimu pasti akan selamat!"lanjut Dinda sambil terus menggenggam tanganku,perlahan air matanya mulai menetes.
Aku tak kuat lagi menahan rasa sakit ini,perlahan kesadaran ku pun mulai hilang.Melihatku yang mulai kehilangan kesadaran Dinda pun semakin panik.
"Kumohon bertahanlah Kania,kita akan segera sampai,kau adalah satu-satunya keluargaku saat ini kumohon bertahanlah!" ujar Dinda sambil menepuk-nepuk pipiku mencoba mengembalikan kesadaran ku.
"Abhimana tolong percepat mobilnya!"lanjut Dinda sambil bercucuran air mata.
Abhimana pun ikut panik,ia semakin menambah kecepatan mobilnya.Tak berselang lama kami pun sampai juga di rumah sakit.
"Suster.....suster tolong sus!"teriak Abhimana sesampainya didalam.
Suster pun datang tergopoh-gopoh sambil mendorong brangkar.
"Letakkan dia diatas sini!"kata suster itu.
aku pun segera dibawa menuju ruang UGD untuk mendapatkan pertolongan secepatnya.
"Tolong tunggu dulu diluar biar kami yang menangani pasien!"ujar Suster sambil menutup pintu.
Tak berselang lama dokter pun keluar
"Apa kalian keluarga pasien?" tanya dokter.
"Saya saudaranya dok!"jawab Dinda cepat.
"Kami harus segera mengambil tindakan operasi untuk menyelamatkan nyawa pasien dan bayinya!"lanjut dokter.
"Lakukan apapun yang terbaik asal mereka selamat dok!"
"Baiklah kalau anda sudah setuju tapi saya mau bertanya satu hal lagi,seandainya kami hanya bisa menyelamatkan salah satunya,mana yang harus kami selamatkan lebih dulu?" tanya dokter.
Dinda pun terdiam tak mampu menjawab,ini adalah pilihan yang sulit.Disatu sisi ada Kania yang sudah dianggapnya seperti saudara sendiri dan disisi lain ada bayinya,apa yang harus ia katakan nanti jika Kania sadar dan bertanya tentang anaknya.
Dinda mengusap rambutnya dengan gusar dan akhirnya dia pun mengambil keputusan.
"Selamatkan saja Kania dok,itu lebih penting untuk saat ini!"jawab Dinda dengan lirih.
"Baiklah kalau begitu,tapi ada satu hal lagi yang ingin kami sampaikan!" lanjut dokter.
"Apa itu dok?"
"Akibat dari benturan itu rahim pasien pun robek cukup lebar dan kami harus menjahitnya,tapi bagian terburuknya adalah kemungkinan pasien akan sulit untuk hamil lagi!"terang dokter.
Dinda semakin frustasi mendengar penjelasan dokter
"Lakukan apapun yang terbaik untuk menyelamatkan nyawa Kania dok,selebihnya biar nanti saya yang jelaskan padanya!"ujar Dinda lemah.
"Baiklah kami akan segera membawa pasien keruang operasi,sementara itu silahkan kebagian operasional untuk menyelesaikan administrasi!"
"Baik dok"
dan aku pun segera dibawa ke ruang operasi.
"Silahkan tunggu diluar!"kata suster sambil menutup pintu.
Dinda pun terduduk lesu saat pintu telah ditutup.