
Tujuh tahun telah berlalu. Aku tak pernah mendengar kabar tentang Tasya lagi. Ia bagai hilang ditelan bumi. Ada sedikit kekhawatiran kalau dia akan kembali untuk menuntut balas, mengingat dia belum juga ditemukan sampai saat ini.
Ah sudahlah, untuk usah terlalu dipikirkan, ada hal yang lebih penting daripada ini. Aku hanya bisa berdoa, dimanapun Tasya berada, semoga Allah memberikan hidayah padanya.
Kedua anakku semakin besar. Tahun ini si sulung masuk sekolah dasar, sedang si bungsu mulai masuk sekolah untuk anak usia dini.
Hati ini aku mengantar keduanya pergi ke sekolah. Pertama aku mengantar si sulung, kemudian mengantar si bungsu. Aku lanjut pergi ke supermarket terdekat untuk membeli stok bahan-bahan makanan di rumah yang mulai habis.
Usai berbelanja, aku kembali pulang ke rumah. Di persimpangan jalan mobilku berhenti karena lampu merah.
Pandanganku tiba-tiba tertuju pada sesosok anak laki-laki di pinggir jalan. Usianya kira-kira lima tahun, sama seperti usia Faruq saat ini. Ia tampak meringis kesakitan sambil memegangi perutnya. Mungkin ia lapar karena belum makan. Wajahnya terlihat lusuh, pakaian yang ia kenakan juga sangat tidak layak. Aku jadi iba melihat kondisinya.
Aku memutuskan untuk turun dari mobil dan berjalan menghampirinya. "Kamu kenapa, nak?" tanyaku saat berada didekatnya. Aku duduk, mensejajarkan diri dengannya.
Anak itu sangat terkejut mendapati aku sudah berada disampingnya. Ia beringsut, sedikit menjauh dariku. Mungkin dia takut dengan keberadaanku. kepalanya tetap tertunduk sambil kedua tangan memegangi perut.
Aku tersenyum melihat sikapnya. Aku bisa memaklumi tindakannya."Jangan takut, nak. Tante tidak akan menyakitimu" ujarku menenangkan.
Anak itu mengangkat kepala, memandang ke arahku. "Maafkan aku kalau Tante tersinggung dengan sikapku. Aku menjauh bukan karena takut dengan Tante, tapi khawatir baju Tante ikutan kotor karena berdekatan denganku. Aku sadar dengan kondisiku".
Aku tersenyum mendengar alasannya menjauh. "Tidak apa, nak. Tante tidak masalah".
"Ngomong-ngomong kamu kenapa? dari tadi Tante lihat kamu terus memegangi perutmu?".
"Perutku sakit,Tante, aku sangat lapar. Dari kemarin aku belum makan apapun karena tidak memiliki sepeser uang" ucapnya lirih, hampir tidak terdengar.
"Ibumu kemana? kenapa dia tidak memberiku makan?".
"Ibuku dirumah, Tante. Dia sedang sakit keras".
"Lalu apa yang kau lakukan disini?".
"Aku sedang mengemis, berharap bisa membeli makanan dan obat untuk ibu dari uang yang kudapatkan".
Hatiku terenyuh mendengar jawaban darinya. Dia masih sangat kecil, tapi harus memikul tanggung jawab sebesar ini. Aku tak bisa membayangkan jika hal ini terjadi pada anakku. Tak terasa air mataku menetes karenanya.
"Kamu tunggu disini sebentar ya, nak. Tante akan belikan makanan untukmu" ucapku seraya bangkit.
Aku segera melangkah menuju toko yang berada tidak jauh dari sana. Aku membeli beberapa potong roti dan juga minuman untuknya. Dan setelah itu aku segera
kembali lagi.
"Ini, nak. Makanlah roti ini" ujarku sambil menyerahkan roti dan minuman yang tadi ku beli.
"Terimakasih banyak, Tante" ucapnya sambil menerima bungkusan itu dari tanganku. "Tapi maaf, aku tidak bisa memakannya sekarang".
"Kenapa, nak? bukankah kau lapar?" tanyaku tak mengerti.
"Itu benar, Tante, tapi ibuku juga belum makan. Aku akan memakannya nanti bersama ibu dirumah".
Aku terhenyak mendengar jawabannya. Dia sangat dewasa untuk anak seusianya.
"Kalau begitu biarkan Tante mengantarmu pulang kerumah, agar kau bisa segera makan bersama ibumu" ucapku.
"Apa tidak akan merepotkan, Tante?".
"Tidak, nak. Tante tidak merasa direpotkan. Selain itu Tante juga ingin menjenguk ibumu. Bolehkan?" tanyaku.
"Tentu saja boleh, Tante. Ibu pasti sangat senang mendapat kunjungan dari wanita sebaik Tante" ucap anak itu riang, matanya berbinar-binar.
"Kalau begitu kita kesana sekarang!". Kami pun segera memasuki mobil, dan berjalan menuju rumahnya.
Buru-buru ku tepis praduga dalam hatiku. 'Ah, mungkin wajah mereka saja yang mirip. Tidak mungkin dia adalah anaknya. Lagipula di dunia ini banyak orang memiliki wajah yang sama walau mereka tidak memiliki ikatan darah'.
Anak itu memandang kearah luar jendela. Senyuman terus terukir di wajah, tak sabar untuk segera sampai di rumah.
"Sedari tadi Tante belum tahu namamu. Nama kamu siapa, nak?" tanyaku, memecah kebekuan sambil tetap menyetir.
Anak itu tersentak dari lamunannya. "Namaku langit, Tante" jawabnya setelah bisa menguasai diri.
"Nama yang sangat bagus" pujiku. "Apa ibumu yang memberikan nama itu?" lanjutku.
"Iya, Tante" jawabnya singkat.
kembali diam, tapi kemudian aku kembali mengajukan pertanyaan. "Ayah kamu kemana, nak? kenapa dia tidak membawa ibumu ke rumah sakit?".
"Aku tidak pernah tahu soal Ayah, Tante. Aku belum pernah bertemu dengannya" jawab anak itu sendu.
"Kenapa? apa ibumu tidak pernah memberitahumu soal ayahmu?".
"Dulu pernah sekali aku menanyakan tentang ayah pada ibu, tapi ibu tidak berkata apa-apa. Dia hanya menangis sesenggukan. Sejak itu aku memutuskan untuk tidak bertanya soal Ayah lagi".
"oh!" jawabku singkat, sambil menganggukkan kepala. Aku semakin penasaran tentang sosok anak ini.
"Kalau Tante siapa namanya?"ujarnya balok bertanya.
"Namaku Kania, panggil saja Tante kania" jawabku sambil menatap dari kaca spion. "Oh ya, rumahmu ada dimana? apa masih jauh?".
"Tidak Tante, sedikit lagi kita akan sampai" jawabnya sambil terus mengarahkan jalan menuju rumahnya.
Tak berselang lama kami sampai di gang menuju rumahnya. Aku menepikan mobil, karena akses jalan menuju rumahnya tidak bisa dilalui mobil. kami segera turun dan berjalan menuju rumahnya yang berada tidak jauh lagi.
Sesampainya didepan rumah ia mengetuk pintu dan langsung masuk ke dalam. "Ibu, langit sudah pulang!. Langit bawa makanan untuk kita" ucapnya.
"Syukurlah, nak. Akhirnya hari ini kita bisa makan juga" jawabnya lirih.
Aku ikut masuk kedalam rumahnya, rumah kontrakan berukuran 4×5 yang jauh dari kata layak untuk ditinggali. Aku bahkan harus menundukkan kepala saat masuk tadi.
Pandanganku tertuju pada sesosok wanita yang tengah berbaring lemah diatas ranjang. Aku langsung menyimpulkan bahwa wanita itu adalah ibunya.
Tubuh wanita tersebut sangat kurus. Ada cekungan dimatanya, bahkan bola matanya nyaris keluar, membuatnya nampak lebih tua dari usianya. tubuhnya ditutupi dengan selembar selimut tipis yang sudah koyak disana sini.
"Maafkan ibu karena tidak bisa memberikan kehidupan yang layak untukmu, nak. Ibu hanya menjadi beban untukmu" ujar ibu tersebut, air mata menetes dari kedua matanya.
"Jangan berkata seperti itu, Bu. Ibu bukan beban untukku. Aku bersyukur karena masih bisa bersama ibu" ucap langit sambil menyeka air mata yang mengalir di pipi ibunya.
"Kau pulang cepat hari ini, nak. Apa kau mendapat uang banyak hari ini?".
"Langit tidak mendapat uang hari ini, Bu, tapi tadi seorang wanita yang memberikan makanan dan minuman pada Langit".
"Oh ya, dia pasti wanita yang sangat baik hati. Ucapkan terimakasih ibu padanya kalau kamu bertemu dengannya lagi".
Langit tersenyum mendengar ucapan ibunya. "Sepertinya ibu bisa mengatakan ucapan terimakasih secara langsung, karena sekarang dia ada disini. Dia ingin menjenguk ibu".
"Oh ya, mana dia?".
"Itu" ujarnya sambil menunjuk ke arahku.
pandangan ibu tersebut langsung beralih padaku. Aku tersenyum tipis, beringsut mendekatinya.