Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 80



"Hal apa yang tidak boleh diberitahukan padaku?" tanyaku tiba-tiba.


Papa dan Mas Abhi tampak salah tingkah mendengar pertanyaanku,mereka tampak terkejut melihat kedatanganku.


"Kok nggak ada yang mau jawab? ayo cepat katakan!, hal apa yang tidak boleh diberitahukan padaku?" tanyaku lagi menuntut jawaban.


"Emh itu, honey, aku tadi...!" ujar Mas Abhi kebingungan.


"Sebenarnya Abhimana tadi berniat ingin membuat kejutan untukmu,makanya dia meminta Papa untuk merahasiakan ini darimu" sahut Papa menutupi kegugupan Mas Abhi.


"Benar begitu, Mas?" tanyaku meminta kepastian jawaban dari Mas Abhi.


"Tentu saja benar!. Tapi sayangnya sekarang itu tidak akan menjadi sebuah kejutan lagi, karena kau sudah mengetahuinya" ujar Mas Abhi sambil tersenyum kecut.


"Maafin aku ya, Mas!. Harusnya aku tidak merusak kejutanmu itu" ujarku merasa bersalah,aku percaya begitu saja tanpa ada rasa curiga sedikitpun pada ucapan mereka berdua.


"Nggak pa pa, honey!. Oh ya, kok kamu tiba-tiba ada disini?" tanya Mas Abhi mencoba mengalihkan perhatianku.


"Iya, Mas!. tadi aku mau ke dapur untuk mengambil air minum karena aku merasa haus. Tapi kemudian aku mendengar kalian berdua sedang bicara, dan kelihatannya itu sangat serius, makanya aku kesini!" ujarku.


"Oh gitu, sekarang mana air minumnya?" tanya Mas Abhi.


"Belum kuambil, Mas, ini baru mau kesana!" jawabku.


"Ya udah sana buruan ambil, entar malah dehidrasi lagi!" ujar Mas Abhi.


"Ya udah aku ke dapur dulu ya!" ucapku.


"Iya!" jawab Mas Abhi sambil tersenyum.


aku pun segera berlalu dari hadapan mereka dan menuju kearah dapur untuk mengambil minuman.


"Huft, untung aja Kania belum sempat mendengar pembicaraan kita tadi!" ujar Papa setelah aku menghilang dari pandangan mereka.


"Iya, Pa, benar!, kalau dia sampai tahu bisa jadi masalah nantinya. Aku khawatir dia ikut terseret dalam masalah ini, itu sebabnya aku menyembunyikan hal ini darinya!" ujar Mas Abhi.


"Iya, Bhi, Papa bisa mengerti kekhawatiranmu!" ujar Papa


"Oh ya, Pa!, ngomong-ngomong,tadi makasih ya, Papa sudah membantuku mencari alasan ke Kania" ujar Mas Abhi lagi.


"Sama-sama!," ujar Papa sambil tersenyum.


"Dan makasih juga karena Papa sudah mau membantuku untuk mengungkap kebenaran tentang kecelakaan yang menimpa kedua orangtuaku" ujar Mas Abhi lagi.


"Sudah sepatutnya aku membantumu, karena sekarang kau sudah menjadi bagian dari keluargaku" ujar Papa.


Sementara itu sesampainya aku di dapur, aku meminta bik Ijah untuk membuatkan ku jus jeruk. Dan setelah jus itu sudah jadi, aku segera membawanya kembali ketempat Papa dan Mas Abhi sedang mengobrol tadi


Sesampainya aku didepan mereka, aku segera duduk disamping Mas Abhi.


"Oh ya, sejak kapan Mas Abhi berada disini?" tanyaku sambil meminum jus jeruk tersebut.


"Mas udah disini dari tadi!" jawab Mas Abhi.


"Terus kenapa tadi Mas Abhi nggak bangunin Kania?" tanyaku lagi.


"Papa yang melarang Abhimana untuk membangunkanmu. Papa hanya tak ingin mengganggu tidurmu" ujar Papa, kali ini dialah yang menjawab pertanyaanku.


"Oh gitu!" ujarku manggut-manggut.


"Kalau begitu kita pulang sekarang yuk, honey!. Ini udah malam juga" ajak Mas Abhi.


"Kenapa kalian tidak tidur disini saja?" tanya Papa.


Aku pun tersenyum tipis menanggapi pertanyaan Papa.


"Lain kali aja ya, Pa!" jawabku.


"Ya udah nggak pa pa!" tukas Papa.


"Sebentar ya, Mas!. Aku mau ambil tasku dulu" ujarku.


"Iya!" jawab Mas Abhi.


Aku pun kembali berlalu dari hadapan mereka dan mengambil tasku yang tadi kuletakkan di kamarku, dan setelah mendapatkannya aku segera kembali ke tempat semula.


"Yuk, Mas, kita pulang sekarang!" ajakku pada Mas Abhi.


"Yuk, honey!" jawab Mas Abhi.


"Iya, nak!, hati-hati dijalan ya!" ujar Papa sambil mengusap kepalaku.


Aku pun mengangguk sambil tersenyum kearah Papa,dan kemudian kami pun meninggalkan rumah Papa.


...****************...


Hari ini aku mengunjungi Dinda dirumahnya, kebetulan hari ini toko sedang tutup.


"Hai, Din, apa kabar?" sapaku saat Dinda membukakan pintu untukku.


"Baik!, tumben pagi-pagi kamu sudah ada disini? ada perlu apa?" tanya Dinda.


"Jadi ceritanya aku nggak boleh main kesini!" ujarku dengan muka cemberut.


"Bukan itu maksud aku!, cuman nggak biasanya aja kamu main ke rumahku tanpa memberitahuku dulu" ujar Dinda sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Aku pun tertawa melihat reaksi Dinda.


"Iya iya aku tahu, aku tadi cuma bercanda kok!. Aku tuh sengaja kesini buat ngajakin kamu ketemu sama Papaku" ujarku sambil tersenyum.


"Emang kamu sudah baikan sama Papamu?" tanya Dinda.


"Sudah!" jawabku singkat.


"Sejak kapan? kok kamu nggak pernah cerita ke aku?" tanya Dinda.


Aku terdiam mendengar pertanyaan Dinda, aku baru ingat kalau aku belum menceritakan hal ini pada Dinda.


"He he he maaf, aku lupa!" ujarku sambil nyengir kuda.


"Kebiasaan!" ujar Dinda sewot.


"Ya maaf! kan aku lupa" jawabku enteng.


"Ngomong-ngomong aku boleh masuk kedalam dulu nggak nih!, ntar aku ceritain semuanya disana".


"Oh ya, mari silahkan masuk!" ujar Dinda mempersilahkan ku untuk masuk.


Aku pun segera masuk kedalam dan duduk disalah satu kursi.


Dinda pun segera menyusul langkahku dan ikut duduk disana, kami duduk saling berhadap-hadapan.


"Sekarang kamu harus ceritain semuanya ke aku!" ujar Dinda setelah ia duduk.


"Masak aku nggak ditawari minum dulu?" tanyaku dengan muka memelas.


"He he he maaf, lupa!. Kamu mau minum apa?" tanya Dinda.


"Apa aja!" jawabku.


"Ya sudah!, aku buatin minuman untukmu dulu ya" ujar Dinda berpamitan.


Dinda pun segera berlalu menuju dapur untuk membuatkan minuman untukku. Dan setelah selesai, ia pun kembali sambil membawa segelas minuman untukku.


"Ini minumannya, silahkan diminum dulu!" ujar Dinda sambil meletakkan minuman itu diatas meja.


Aku pun meraih gelas tersebut dan segera meminumnya.


"Sekarang tidak ada alasan lagi, kau harus menceritakan semuanya padaku!" ujar Dinda setelah aku selesai minum.


"Baiklah,aku akan menceritakan semuanya!" tukasku.


Dan aku pun menceritakan semuanya pada Dinda. Dimulai dari pertemuanku dengan bik Ijah secara tidak sengaja sampai aku tahu tentang semua kebenaran yang tersimpan selama ini, dan pada akhirnya aku bertemu dengan Papa dan saling memaafkan.


Selain itu aku juga mengatakan ke Dinda kalau aku sudah menceritakan semua hal tentangnya ke Papa, juga janji Papa untuk membantu mencari bukti-bukti tentang kasus pembunuhan kedua orangtuanya.


"Untuk itulah aku sekarang kesini. Papa ingin bertemu denganmu dan bicara secara langsung denganmu!" ujarku mengakhiri ceritaku.


Dinda terlihat ikut bahagia mendengar aku sudah berkumpul kembali dengan Papa,ia juga terlihat sangat bahagia saat mendengar kalau Papa akan membantunya.


"Kau sungguh-sungguh kan dengan perkataanmu tadi?" tanya Dinda masih tak percaya.


"Untuk apa aku berbohong!, makanya sekarang kamu cepetan siap-siap, dan setelah itu kita kerumah Papa" ujarku meyakinkan Dinda akan perkataanku tadi.


"Tunggu sebentar!, aku akan bersiap dulu!" ujar Dinda sambil berlalu menuju kamarnya dan bersiap.


Tak butuh waktu lama Dinda pun selesai bersiap, dan kami pun segera meluncur ke rumah Papa.