
Entah kenapa sejak sore perasaanku terus merasa tak enak. Aku takut sesuatu yang buruk terjadi pada Mas Abhi. Aku mencoba menghubungi Mas Abhi dan menanyakan keberadaannya. Dia pun menjawab jika dia sedang dalam perjalanan pulang dan sebentar lagi akan sampai dirumah.
Hatiku menjadi lega setelah menelpon Mas Abhi. Setidaknya saat ini dia dalam keadaan baik-baik saja.
Waktu terus berputar dan malam semakin merayap, tapi Mas Abhi belum juga menampakkan batang hidungnya. Tadi dia mengatakan jika posisinya sudah dekat dengan rumah. Itu artinya dia tidak butuh waktu lama untuk sampai dirumah. Tapi kenyataannya, sampai sekarang dia belum juga datang.
Pikiranku kembali kalut, hal-hal buruk terus melintas di otakku. Aku takut Mas Abhi mengalami masalah di jalan.
'Ah, mungkin Mas Abhi ada urusan mendadak' batinku, menepis prasangka buruk dalam hatiku.
Aku mencoba menghubungi Mas Abhi kembali untuk memastikan bahwa keadaannya baik-baik saja, tapi Mas Abhi tak jua mengangkat panggilan telepon dariku, padahal nada panggilan menunjukkan jika sudah tersambung.
Aku mencoba menghubunginya kembali, tapi keadaan tetap sama. Mas Abhi tak jua mengangkat telepon dariku.
Aku semakin takut, pikiranku semakin kalut, aku bingung harus melakukan apa. Aku berjalan mondar-mandir seperti setrikaan saking resahnya. Aku ingin keluar dan mencari keberadaan Mas Abhi tapi bingung. Aku tidak mungkin keluar sendiri malam-malam begini.
Ditengah keresahan ku, tiba-tiba telepon berdering. Aku menatap ke layar handphone, ternyata Tasya yang menelepon. Aku pun segera menekan tombol hijau untuk menerima panggilan darinya.
"Halo, Sya, ada apa?" tanyaku.
"Apa kau bisa kerumahku sekarang, Nia" ujar Tasya.
Awalnya aku bingung mendengar permintaan Tasya, kenapa malam-malam begini dia memintaku kerumahnya.Tapi dari nada suaranya seperti dia sedang dalam masalah besar.
"Ada apa, Tasya? kau kenapa?" tanyaku lemah lembut. Aku bertanya untuk memastikan apa yang terjadi dengannya.
"Suamimu, Kania, Abhimana....".
Tubuhku bergetar mendengar nama Mas Abhi disebut. Pikiranku semakin panik.
"Di...dia sudah...." ujar Tasya terbata-bata, nada suaranya semakin bergetar.
Aku semakin khawatir dibuatnya. Aku mendesak Tasya agar mengatakan apa yang terjadi.
"Dia sudah memperkosaku" ujar Tasya, tangisnya pecah seketika.
Duarrr....
Pernyataan Tasya barusan bagaikan sambaran petir di siang bolong. Tubuhku lemas seketika.
"Aku akan segera kesana!" jawabku cepat.
Aku tak percaya Mas Abhi akan berbuat sehina itu, tapi aku juga tidak bisa mengabaikan pernyataan Tasya. Jalan satu-satunya adalah memastikan sendiri kebenarannya.
Aku segera menghubungi Dinda dan memintanya untuk menemaniku kesana, dan Dinda pun bersedia untuk menemaniku.
Awalnya aku ragu untuk meminta bantuan Dinda, aku malu dengannya. Terakhir kali kita bertemu, aku sudah sangat menyakiti hatinya. Tapi aku tidak mempunyai pilihan lain selain meminta bantuan darinya. Aku tidak mungkin menyetir sendiri dalam keadaan seperti ini, apalagi ini sudah sangat malam. Dan ternyata dia masih bersedia untuk membantuku.
Tak berselang lama Dinda sudah datang. Aku bergegas masuk kedalam mobilnya. Dinda segera meluncur membawaku ke tempat Tasya.
Setelah beberapa lama akhirnya kami sampai juga. Aku segera berlari dan masuk kesana. Ku susuri semua ruangan sambil berteriak mencari keberadaan Tasya.
"Tasya, dimana kamu?" teriakku.
Sayup-sayup kudengar suara tangis Tasya dari salah satu kamar. Aku segera berlari menuju sumber suara itu.
Alangkah terkejutnya aku setelah membuka kamar itu. Sebuah pemandangan yang tak layak untuk dilihat terpampang jelas di depanku.
Ternyata apa yang dituduhkan Tasya tadi memang benar. Mas Abhi tengah tertidur pulas diatas ranjang tanpa mengenakan pakaian. Sedangkan Tasya tengah meringkuk disudut ruangan dalam keadaan sangat kacau. Baju yang dikenakannya koyak disana-sini.
Setelah mengurus Tasya, aku berbalik menghadap Mas Abhi. Amarahku menggelegak seketika melihat keadaannya yang seperti itu. Kugoncang tubuh Mas Abhi keras-keras untuk membangunkannya.
"Mas Abhi, bangun!" teriakku.
Perlahan Mas Abhi mulai membuka matanya. Dia sangat terkejut melihat kehadiranku.
"Honey, kok kamu ada disini?" tanya Mas Abhi kebingungan.
Seketika ia bangkit dari tempat tidur. Kami yang melihatnya dalam keadaan hanya mengenakan boxer saja pun memalingkan wajah dan menjerit karena kaget.
Mas Abhi memandang kearah tubuhnya. Betapa terkejutnya ia saat menyadari keadaan dirinya. Ia menyambar selimut yang ada didekatnya dan segera menutupi tubuhnya setelah menyadari apa yang membuat kami menjerit.
"Ap...apa yang sudah terjadi? kenapa aku bisa berada disini?" tanya Mas Abhi kebingungan.
"Harusnya aku yang bertanya seperti itu, Mas! Apa yang sudah kamu lakukan pada Tasya?" tanyaku berapi-api.
Mas Abhi semakin bingung mendengar pertanyaanku. Ia mencoba mengingat-ingat semua yang terjadi. Ingatannya kembali pada kejadian yang dialaminya terakhir kali.
"Aku tidak tahu kenapa aku bisa ada disini. Terakhir kali kuingat, aku sedang bertarung dengan dua orang preman yang mencoba melukaiku. Kemudian salah satu preman memukul kepalaku, dan setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi" jawab Mas Abhi menjelaskan.
"Bohong, semua yang dikatakannya adalah bohong!" teriak Tasya histeris. Ia bangkit dari duduknya dengan berderai air mata.
"Kalian lihatlah ini. Ini semua adalah ulahnya" menunjukkan beberapa tanda merah yang membekas ditubuhnya.
Mas Abhi semakin kebingungan dibuatnya. "Ak...aku tidak melakukan apapun. Aku tidak mengerti kenapa dia seperti itu".
"Bohong, Kau berkata bohong. Tadi tiba-tiba kau datang kesini dan memaksaku untuk melayanimu. Semua ini adalah buktinya. Ka...kau sudah memperkosaku" menangis histeris dan terduduk dilantai.
"Aku benar-benar kecewa denganmu, Mas!. Tega sekali kau melakukan hal sekeji ini pada Tasya" ujarku lirih, penuh dengan kekecewaan.
"Tap...tapi aku benar-benar tidak melakukan apapun, honey!" bantah Mas Abhi, menghampiriku dan mencoba meraih tanganku.
"Cukup, Mas. Jangan berkata apa-apa lagi. Semua bukti sudah sangat jelas" ujarku menghempaskan tangan nya, air mata mulai menetes di pipiku.
"Tapi semua ini tidak benar, honey. Aku bisa jelasin semuanya" ujar Mas Abhi.
"Tega sekali kau berkata begitu, Abhi. Setelah semua yang kau lakukan padaku, kau tidak mau mengakuinya" ujar Tasya terisak-isak.
"Diam kau, ******!. Aku yakin ini semua hanya akal-akalan mu saja. Kau pasti sengaja menjebakku" bentak Mas Abhi.
"Aku bilang, cukup!. Aku tidak ingin mendengar apa-apa lagi" teriakku, menutup kedua telingaku dengan telapak tangan.
"Mulai sekarang aku ingin kita pisah ranjang. Aku akan tinggal di rumah Papa" berderai air mata.
Mas Abhi sangat terkejut mendengar keputusanku. "Tidak, honey, kau tidak boleh melakukannya. Aku tidak ingin kita pisah ranjang. aku akan jelasin semuanya".
"Keputusanku sudah bulat. Mulai malam ini aku akan tinggal di rumah Papa" menghapus air mata yang mengalir di pipi.
Aku bergegas pergi meninggalkan rumah itu, aku tidak ingin berlama-lama lagi berada disana. Hatiku hancur berkeping-keping melihat semuanya.
Dinda sedari tadi hanya diam terpaku. ia masih belum mengerti dengan semua yang terjadi.
Mas Abhi segera menghampiri Tasya dan menarik lengannya dengan kasar. " Dasar wanita ular!. Aku yakin ini semua pasti ulahmu, kan!" bentak Mas Abhi.
Tasya menghempaskan tangan Mas Abhi dari lengannya. Ia bangkit berdiri dan menghapus air mata. Sesaat kemudian ia tertawa terbahak-bahak.