Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 133



Hari ini aku kembali mengunjungi Tasya di rumah sakit. Kali ini aku datang tidaklah sendiri, melainkan dengan Mas Abhi. Setelah membujuk dengan berbagai cara, akhirnya ia setuju untuk ikut serta.


Sepanjang koridor rumah sakit Mas Abhi terus memasang wajah masam, bibir mengerucut kedepan, menandakan jika ia sedang begitu kesal. Tentu saja ia bersikap begitu, secara ia melakukan ini karena terpaksa, tadi aku mengancam akan tidur diruang tamu jika ia tidak mau ikut.


Mau bagaimana lagi, aku tidak punya cara lain untuk membujuknya agar mau ikut denganku. Aku hanya ingin Mas Abhi melihat sendiri bagaimana penderitaan Tasya sekarang. Bukan untuk mengolok-oloknya, melainkan agar Mas Abhi mau membuka hatinya untuk memaafkan Tasya.


kalau diperhatikan, wajahnya terlihat lebih menggemaskan kalau sedang merajuk seperti ini. Aku jadi senyum-senyum sendiri saat beberapa kali mencuri pandang.


Merasa diperhatikan, Mas Abhi menghentikan langkahnya. "Ada apa senyum-senyum?."


Aku yang tak tahu kalau Mas Abhi telah menyadari telah ku perhatikan pun jadi gelagapan. "Ti....tidak. Siapa yang senyum-senyum!."


"Tidak usah bohong. Aku tahu kalau kamu dari tadi terus memandangiku".


"Siapa juga yang memandangimu? GR amat!" ucapku mencoba berkelit.


"Semakin kau berkelit, semakin terlihat kalau kau memang melakukannya" ucap. Mas Abhi menohok.


Aku diam tak berkutik. "Udah, nggak usah diperpanjang lagi. Sebentar lagi kita sampai."


Mas Abhi menghela napas berat. "Kalau bukan karena kamu, aku tidak sudi datang kesini!."


"Iya, aku tahu. Aku senang akhirnya kau mau ikut bersamaku. Tapi aku akan lebih senang lagi kalau kau melakukannya dengan senang hati. Ingat, mas, berbuat baik itu harus ikhlas, jadi hasilnya juga akan bagus nantinya" ujarku sambil tersenyum manis.


"Tetap saja, aku tidak sudi!" ujar Mas Abhi bersikukuh.


"Terserah kamu deh Mas. Tapi jangan cemberut gitu dong, nanti hilang gantengnya. Bisa-bisa aku kepincut sama pria lain kalau kamu seperti itu terus."


"Coba saja kalau berani. Akan kupastikan pria itu tinggal namanya saja sebelum ia sempat memyentuhmu!" ucapnya dengan aura menakutkan.


Aku tergidik ngeri membayangkan kalau Mas Abhi benar-benar melakukan hal itu. "Nggak usah dimasukin hati. Aku cuma bercanda kok!."


"Bercandanya nggak lucu!."


Aku dibuat kesal sendiri dengan sikap Mas Abhi ini. "Udah ah. Yuk kita jalan lagi!."


Kami pun kembali melangkah menuju ruang ICU yang berada tidak jauh lagi. Sesampainya disana petugas meminta kami untuk menggunakan baju khusus sebelum masuk ke dalam.


Pintu terbuka, aku membiarkan Mas Abhi untuk masuk terlebih dahulu. Ia nampak tercengang melihat pemandangan didepannya. Berulang kali ia terlihat mengucek mata untuk memastikan jika apa yang ia lihat memang nyata.


Aku tahu apa yang tengah Mas Abhi pikirkan, untuk itulah aku mensejajarkan diri dengannya. "Yang kau lihat memang benar, Mas. Itu adalah Tasya."


Air matanya luruh seketika. Kemarahan yang sempat ia tunjukkan menguar tak bersisa. Hanya rasa kasihan yang saat ini tertinggal.


Ditengah-tengah ruangan, tampak seseorang tengah berjuang untuk tetap hidup. Tubuh yang kurus kering seperti sebuah tengkorak yang tertutup oleh kulit, atau bisa dikatakan seperti mayat hidup. Di sekujur tubuhnya tertancap berbagai alat untuk memastikan ia tetap ada.


Bertepatan dengan itu Langit pun datang. "Tante Kania!. Tante kesini lagi?" ucapnya sambil tersenyum tulus padaku.


Aku pun membalas senyuman anak berusia lima tahun itu dengan sebuah senyuman pula. "Iya, nak, Tante kesini lagi. Kan Tante udah janji sama langit" ucapku sambil mengusap rambutnya.


Pandangan Langit tertuju pada Mas Abhi. Ia seperti bingung melihat kehadirannya. "Oh ya, Langit, kenalkan, ini suami Tante, namanya Om Abhi" ucapku, mengerti dengan apa yang sedang ia pikirkan. "Mas Abhi, ini langit, anak yang aku ceritakan kemarin" kali ini aku berkata pada Mas Abhi.


Langit pun menghampiri Mas Abhi dan mencium punggung tangannya. "Hai, Om Abhi, namaku Langit. Senang berkenalan dengan Om" ucapnya sopan.


Mas Abhi terlihat tersentuh dengan sikap yang ditunjukkan oleh anak yang seusia dengan Faruq itu. "Hai, langit, senang juga berkenalan dengan kamu!."


Pintu kembali terbuka, kali ini dokter yang masuk. Kami pun mundur kebelakang, memberikan ruang agar dokter lebih leluasa menjalankan tugasnya. Selama beberapa saat ia terlihat tengah sibuk memeriksa kondisi Tasya.


"Bagaimana perkembangannya, dok?" tanyaku saat kulihat ia telah selesai memeriksa.


Dokter menghela napas berat. "Bisa kita bicara di ruangan saya?" ucap dokter tersebut.


"Bisa, dok!" jawabku cepat.


"Kalau begitu, mari ke ruangan saya sekarang!."


Aku dan Mas Abhi pun mengangguk dan gegas mengikuti langkah dokter tersebut menuju ruangannya. Dari nada bicaranya, aku bisa menyimpulkan jika ada hal serius yang ingin ia sampaikan.


Setelah beberapa saat kami pun sampai juga di ruangannya. Dokter mempersilahkan kami untuk duduk, dan kami pun melakukan apa yang ia katakan.


Aku menunggu dengan harap-harap cemas dengan apa yang akan dia sampaikan. Hal-hal buruk mulai bermunculan di benakku. Aku takut sesuatu yang buruk akan terjadi.


Benar saja, kekhawatiran ku menjadi kenyataan. Dokter memvonis jika Tasya tidak akan bertahan lebih lama lagi. Mungkin ia hanya bisa bertahan sampai beberapa Minggu ke depan. Penyakit yang dideritanya sudah pada tingkat stadium akhir, dan dia tidak akan bisa disembuhkan lagi. Penyakit itu sudah sangat menggerogoti tubuhnya.


Aku begitu terpukul mendengar kenyataan ini. Aku sudah menduga bahwa hal ini akan terjadi. Mengingat penyakit HIV/Aids tergolong penyakit yang mematikan, dan sampai saat ini belum ditemukan obatnya. Tapi saat mendapati kekhawatiran itu menjadi kenyataan, aku tidak bisa menerimanya, aku bahkan histeris saat dokter mengatakan hal itu.


Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi anak itu jika mengetahui bahwa ibunya tidak bisa lagi diselamatkan. Ia pasti sangat hancur, mengingat ia tidak punya siapa-siapa lagi selain ibunya.


Ah kasihan anak malang itu. Diusianya yang masih kecil, ia harus menanggung beban yang sangat berat. Bahkan ia ikut menderita atas kesalahan yang tidak pernah ia perbuat.


Mas Abhi memeluk tubuhku, mencoba untuk menenangkan diriku. Ia membawaku ke taman sebelum kembali menemui Langit, memberikan aku sedikit waktu agar bisa menguasai diri kembali.


"Mas, aku tidak bisa mengatakan hal yang sebenarnya pada anak itu. Aku tidak tega melihat wajah polosnya. Ia pasti sangat terpukul kalau ia mengetahuinya" ucapku disela-sela Isak tangis.


"Aku tahu ini sangat berat, tapi dia juga berhak untuk tahu bagaimana kondisi ibunya sekarang!."


"Aku mengerti, Mas. Tapi tetap saja, aku tidak bisa mengatakannya. Aku tidak tahu bagaimana cara untuk menjelaskan pada anak sekecil itu."


"Tante tidak perlu bingung bagaimana cara untuk menjelaskan, karena aku sudah tahu semuanya."