Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 81



Sesampainya di rumah Papa, kami segera masuk kedalam dan menemuinya, kebetulan saat itu papa tengah bersantai sambil minum teh hangat di taman belakang.


"Assalamualaikum, Pa!" sapaku.


"Waalaikum salam!" sahut Papa sambil menoleh kearahku.


"Eh, kamu nak!".


"Iya, Pa!" sahutku sambil meraih tangan Papa dan mencium punggung tangannya.


"Oh ya Pa!, kenalin, ini Dinda, temen Kania yang pernah Kania ceritain waktu itu" ujarku memperkenalkan Dinda.


"Din, kenalin!, ini Papa".


Dinda pun maju dan menyalami Papa.


"Pagi, Om!" sapa Dinda dengan sopan.


"Pagi,nak!" sahut Papa.


"Jadi kamu yang namanya Dinda?".


"Iya, Om!" sahut Dinda.


"Ayo silahkan!,duduk dulu!" tawar Papa.


kami pun duduk berseberangan dengan Papa.


"Gimana kabar kamu?" tanya Papa berbasa-basi.


"Baik, Om!" jawab Dinda.


"Jadi bener,kamu ini anaknya Doni Irawan?" tanya Papa.


"Iya, Om, itu adalah nama Papa saya!" jawab Dinda.


"Sebelumnya Om mau ngucapin terimakasih sama kamu, karena kamu sudah banyak membantu Kania selama ini" ucap Papa.


"Saya ikhlas melakukannya Om, karena saya sudah menganggap Kania sebagai saudaraku sendiri!" jawab Dinda.


"Kamu memang memiliki hati yang tulus!, sama seperti Papamu dulu. Dulu Papamu juga banyak membantu Om waktu om masih kuliah!" ujar Papa memuji kebaikan Dinda.


Dinda hanya tersenyum tipis menanggapi pujian dari Papa.


"Kania sudah bercerita banyak tentang kejadian yang menimpa keluargamu waktu itu, tapi Om ingin mendengar semuanya secara langsung darimu!" ujar Papa.


"Baik, Om, saya akan menceritakan semua kejadian itu lagi!" jawab Dinda.


Dinda pun menghirup napas panjang sebelum menceritakan semua kejadian buruk yang menimpa keluarganya. Ia memutar ingatannya, kembali menuju ke peristiwa kelam yang sudah lama ia kubur dalam-dalam.


Dinda menceritakan semua kejadian itu secara rinci. Dimulai dari penculikan dirinya, hingga keputusannya untuk menghilangkan identitas aslinya untuk mencari bukti-bukti tentang kejahatan pamannya itu.


Papa nampak sangat serius mendengar semua cerita Dinda, sesekali ia manggut-manggut menanggapi ceritanya.


"Baiklah, Om akan membantumu mendapatkan bukti-bukti itu!" tukas Papa akhirnya setelah Dinda selesai menceritakan semuanya.


"Terimakasih banyak atas bantuannya, Om!" ucap Dinda.


"Sama-sama!" sahut Papa.


"Oh ya, siapa nama pamanmu itu?" tanya Papa.


"Namanya Alex Hitler!" jawab Dinda.


"Hitler? serem banget namanya Din!, udah kayak namanya Nazi di Jerman waktu perang dunia aja!" ujarku berkomentar.


Dinda pun tersenyum tipis mendengar ucapanku, sementara Papa nampak tengah berpikir mencoba mengingat nama itu.


"Alex Hitler!, sepertinya Om pernah mendengar nama itu" ujar Papa.


"Sebenarnya dia itu bukan saudara kandung Papa , Om!, melainkan hanya saudara tiri. Dia adalah anak bawaan dari istri kedua Opa" ujar Dinda menjelaskan.


"Baiklah!, Om akan mencari informasi mengenainya. Om akan segera mengabarimu jika om sudah mendapatkan bukti-bukti kejahatannya!" ujar Papa.


"Terimakasih banyak, Om!" jawab Dinda.


Setelah kepergian Papa,kami pun melanjutkan obrolan kami.


...****************...


Sementara itu, sesampainya Papa diruang kerjanya, ia segera membuka laptop canggihnya dan mengutak-atiknya. Ia mengeluarkan seluruh bakat hacker terpendamnya selama ini.


Papa mencari semua informasi mengenai Alex Hitler dari semua halaman web, bahkan dari dark web sekalipun.


Sepuluh jam lamanya Papa berkutat dengan laptopnya, ia tak ingin berhenti sebelum mendapatkan informasi yang dicarinya. Baginya masalah ini harus segera ia selesaikan. Ia ingin mengembalikan apa yang seharusnya menjadi hak Dinda.


"Ini dia!. Akhirnya sekali dayung dua tiga pulau terlampaui!" ujar Papa sambil tersenyum menyeringai saat ia mendapatkan informasi yang dicarinya, ia mendapatkan informasi itu dari halaman dark web. Ternyata Alex menjual semua informasinya disana.


Selain mendapatkan bukti-bukti mengenai peristiwa pembunuhan kedua orangtua Dinda, ternyata Papa juga menemukan informasi lain yang tidak terduga.


"Aku harus segera memberitahukan hal ini pada Abhimana!. Dia pasti sangat terkejut melihat semua ini!" ujar Papa lagi.


Papa pun mengambil handphonenya dan segera menghubungi Mas Abhi.


"Halo Abhi, apa kau ada waktu saat ini?" tanya Papa langsung setelah teleponnya diangkat.


"Ada apa Pa?" ujar suara dari seberang.


"Datanglah ke rumah Papa sekarang juga!, Papa ingin menunjukkan sesuatu yang sangat penting sama kamu!, ini mengenai kecelakaan yang menimpa keluargamu" ujar Papa.


"Baik, Pa!. Aku akan kesana sekarang juga!" ujar suara diseberang.


Papa pun meletakkan handphonenya kembali setelah sambungan telepon terputus.


...****************...


Sementara itu ditempat lain, Mas Abhi bergegas meninggalkan kantornya setelah mendapatkan telepon dari Papa, ia memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Ia sangat penasaran dengan informasi yang ingin disampaikan oleh Papa.


Sesamanya dirumah Papa,ia bergegas masuk kedalam. ia terlihat begitu tergesa-gesa hingga tak melihat keberadaan kami saat ia melewati ruang tengah.


"Mas Abhi!" ujarku menegurnya.


Mas Abhi pun menoleh kearahku.


" jam segini kok Mas Abhi ada disini?" sambungku lagi sambil berjalan menghampirinya.


"Iya!, tadi Papa menelfonku. Dia bilang ingin meminta bantuan untuk mengurus beberapa dokumen penting" ujar Mas Abhi sedikit berbohong.


Aku pun mengangguk-angguk mendengar penjelasan Mas Abhi.


"Oh ya, sekarang Papa ada dimana?" tanya Mas Abhi.


"Tuh, diruang kerjanya!" jawabku sambil menunjuk kearah ruang kerja Papa.


"Dari tadi Papa ada disana, sampai sekarang dia belum keluar-keluar juga!" sambungku lagi.


"Ya udah, Mas samperin Papa kesana sekarang ya!" ujar Mas Abhi sambil bergegas meninggalkanku begitu saja.


Sesampainya didepan ruang kerja Papa, ia segera masuk kedalam setelah ia mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Jadi, hal penting apa yang ingin Papa sampaikan padaku!" ujar Mas Abhi langsung pada topik pembicaraan, ia sudah tak sabar ingin mengetahuinya.


"Tenanglah dulu! sekarang kau duduk saja dulu!" ujar Papa.


Mas Abhi pun segera menghempaskan tubuhnya diatas kursi didepan Papa. Kemudian Papa membuka laptopnya dan menunjukkan sebuah video pada Mas Abhi.


Video itu memperlihatkan bagaimana mobil yang dikendarai oleh keluarga Mas Abhi disabotase oleh Alex, pamannya Dinda. Selain itu video itu juga memperlihatkan bagaimana ia merayakan keberhasilannya setelah ia berhasil melenyapkan keluarga Mas Abhi dan menguasai seluruh hartanya.


"Kurang ajar!" teriak Mas Abhi marah. Ia melampiaskan kemarahannya dengan meninju meja kaca yang ada dihadapannya hingga membuat meja itu hancur berkeping-keping. Darah segar pun mengalir seketika dari buku-buku jari tangannya.


"Jadi dugaanku selama ini memang benar!. Keluargaku tewas bukan karena kecelakaan biasa, tapi memang ada orang yang dengan sengaja sudah menyabotase mobil yang kami kendarai waktu itu" ujar Mas Abhi setelah kemarahannya sedikit mereda.


"Dan apakah kau tahu siapa Alex itu?" tanya Papa.


"Tidak!. Siapa dia, Pa?" ujar Mas Abhi bertanya balik.


"Dia adalah pamannya Dinda!, saudara tiri Papanya" jawab Papa.


Mas Abhi sangat terkejut mendengar jawaban Papa.