
Selepas kepergian ibu itu tadi aku langsung bersujud syukur,pasalnya uang tips yang diberikan olehnya tadi sangatlah banyak, membuatku semakin bersemangat untuk memberikan pelayanan yang terbaik untuk semua pelanggan.
Dan bukan hanya itu, setelah kepergian ibu itu,toko bunga kami pun mulai dibanjiri banyak pembeli,ya walaupun kebanyakan hanya membeli barang-barang kecil seperti pot bunga atau pupuk tanaman.
Kini aku percaya bahwa kalau kita mau memohon dengan sepenuh hati kepada Allah dan percaya dengan semua janji-janji-Nya,maka Allah akan menjawab dan mengabulkan semua doa-doa kita.
...****************...
Semakin hari toko bunga kami semakin ramai pembeli,aku sampai mengambil beberapa orang karyawan untuk membantu melayani pembeli di toko,sedangkan aku dan Dinda fokus pada perawatan dan pembiakan tanaman.
Ini semua tak lepas dari bantuan ibu yang datang ke toko bunga kami dan memberiku uang tips tempo hari,karena dia sudah mempromosikan toko bunga kami ini pada teman-teman arisannya seperti yang pernah dia katakan waktu itu,sehingga membuat toko bunga kami semakin ramai pembeli.
Belakangan aku ketahui bahwa ibu itu adalah istri dari salah satu pejabat di kota ini,dan dia adalah salah satu anggota klub pecinta tanaman hias.
Kini toko bunga kami sudah memiliki lima anak cabang yang tersebar dibeberapa kota.
Sekarang aku tak lagi tinggal dirumah dinda,aku sudah pindah kerumah yang aku beli dari hasil keringatku, ya walaupun rumah itu sederhana tapi sangat nyaman dan asri.
Semula aku mengajak Dinda untuk ikut serta tinggal dirumah baruku, tapi ia menolak, dengan alasan kalau ia tak ingin meninggalkan rumahnya yang memiliki banyak kenangan.
Selain rumah aku juga sudah membeli mobil sendiri agar memudahkanku kalau ingin bepergian atau mengajak Emir jalan-jalan.
Aku juga membeli beberapa hektar lahan perkebunan yang aku gunakan untuk memperbanyak pembudidayaan tanaman hias,terutama tanaman langkah yang banyak digemari oleh para pecinta tanaman hias.
Semua ini berkat Abhimana,dialah orang yang sudah mengajarkanku banyak hal dalam berbisnis,dia jugalah yang terus menyemangati ku kala aku mulai goyah.
Ternyata apa yang pernah dikatakan oleh Abhimana memang benar,merubah passion menjadi profesi memanglah mengasikkan,selain itu aku juga bisa bekerja sambil menjaga Emir.
...****************...
Kini Emir sudah semakin besar,usianya sudah tiga tahun.Dia tidak pernah bisa diam,malah semakin hari tingkahnya semakin aktif,dan rasa keingintahuannya juga besar.
Setiap hari ada saja yang dia tanyakan,kadang kepalaku sampai pusing menjawab semua pertanyaannya.
"Bunda,kenapa burung bisa terbang?" tanya Emir suatu waktu padaku saat kita sedang piknik bareng di puncak.
"Karena burung punya sayap" jawabku.
"Lalu kenapa manusia tidak punya sayap? kalau manusia punya sayap kan enak bisa terbang juga bunda!" tanya Emir lagi.
aku bingung mendengar pertanyaan Emir,aku tidak tahu harus menjawab apa.
Melihat aku kebingungan menjawab pertanyaan emir Abhimana malah tersenyum,ia segera meraih Emir dan mendudukkannya diatas pangkuannya.
"Emir,sebenarnya manusia itu bisa terbang loh!" kata Abhimana dengan lembut.
"Gimana caranya om? cepat kasih tahu Emir om,Emir kan juga ingin terbang kayak burung!" kata Emir dengan antusias.
"Dengan bantuan balon udara,kalau kita naik balon udara dan balon udaranya terbang kan sama aja dengan kita terbang!" jawab Abhimana.
"Oh gitu ya om!" kata Emir sambil manggut-manggut.
"He emh!" kata Abhimana sambil menganggukkan kepala.
"Emir juga ingin naik balon udara om, biar Emir bisa ngerasain gimana rasanya terbang!" kata Emir.
"Ya udah lain kali kita naik balon udara bareng,ok!" jawab Abhimana.
"Beneran nih om?" tanya Emir.
"Ya benerlah,masak om Abhi bo'ong sih sama emir!" jawab Abhimana.
"Hore!" teriak Emir sontak berdiri kegirangan.
"Kenapa kamu bilang begitu saja emir?" bisikku pada Abhimana sambil menyikut lengannya.
"Udah kamu tenang aja, yang penting Emir senang" kata Abhimana ikut berbisik.
"Om Abhi janji ya mau ngajakin kita baik balon udara?" tanya Emir lagi mencari kepastian pada Abhimana setelah ia tenang.
"Janji!" kata Abhimana sambil menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Emir sebagai tanda bahwa ia berjanji.
"Ok bunda!" sahut Emir.
Aku pun segera menata makanan yang tadi kubawa dari rumah, dan setelah semua siap kami pun segera menikmatinya dengan tenang.
Selesai makan aku kembali angkat bicara.
"Emir mau sekolah nggak?" tanyaku pada Emir.
Melihat rasa keingintahuannya yang tinggi ditambah dengan usianya yang cukup,kurasa sudah saatnya untuk Emir bersekolah.
"Sekolah bunda?" tanya Emir.
"Iya sekolah,Emir mau nggak?" tanyaku lagi.
"Mau mau,kapan Emir mulai sekolah bunda?"Branta Emir tak sabar.
"Besok bunda daftarin Emir ke sekolah,ok!" kataku.
"Asik besok Emir mau sekolah" teriak Emir kegirangan.
Aku pun tersenyum gembira melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah Emir, sungguh dia adalah sumber kekuatan terbesarku.
...****************...
Keesokan hari aku berniat untuk mengajak Emir pergi ke salah satu sekolah terbaik dikota ini,aku ingin memasukkannya kesekolah itu agar potensinya semakin berkembang.
Pagi-pagi sekali aku sudah membangunkannya dan menyuruhnya untuk bersiap-siap.
"Emir,ayo bangun nak!" kataku sambil menepuk pipi Emir pelan.
"Sebentar lagi Bun,Emir masih ngantuk!" kata Emir sambil menggeliatkan tubuhnya dan kembali tertidur.
"Ayo bangun Emir,kemarin katanya mau sekolah!" kataku mencoba membangunkannya lagi.
"Sekarang bunda!" kata Emir sambil membelalakkan matanya.
"Iya sekarang,makanya Emir buruan bangun dan bersiap,kita akan pergi ke sekolah sekarang!" kataku.
"Ok bunda,Emir akan bersiap sekarang!" kata Emir seraya bangkit dari tempat tidurnya.
Emir pun segera masuk ke kamar mandi dan bersiap,sedangkan aku mulai berkutat dengan bahan-bahan masakan didapur untuk membuat sarapan,tak lupa juga aku membuatkan bekal untuk Emir nanti disekolah..
Tak butuh waktu lama akhirnya makanan pun telah siap, bertepatan dengan itu Emir juga telah selesai bersiap.Aku pun mengajak Emir untuk sarapan terlebih dahulu agar dia lebih bertenaga untuk menjalani aktifitasnya nanti disekolah.
Tak berselang lama kami pun telah selesai sarapan,aku segera membereskan sisa makanan kami dan mengantar Emir kesekolah.
Tak butuh waktu lama kami pun telah sampai disekolah,aku segera membawa Emir ke kantor untuk menemui kepala sekolah dan memberitahukan maksud kedatangan kami.
Kepala sekolah pun mulai menanyakan seberapa banyak pengetahuan Emir,dan setelah melalui beberapa tes, akhirnya Emir diterima untuk bersekolah di sekolah ini.
"Emir, sekarang Emir sudah bisa bersekolah disini,nanti kepala sekolah akan mengantar Emir ke kelas!" kataku.
"Iya bunda" jawab Emir.
"Kalau gitu bunda tinggal dulu ya nak,nanti bunda kesini lagi buat jemput Emir,Emir nggak takut kan bunda tinggal sendiri?" kataku panjang lebar.
"Enggak dong,kan Emir anak jagoan!" kata Emir sambil membusungkan dadanya.
Aku pun tersenyum melihat tingkah Emir.
"Jagoan bunda emang pinter!" kataku sambil mencubit pipi Emir gemas.
"Ya udah kalau gitu bunda tinggal dulu ya nak,jangan lupa belajar yang rajin!" kataku.
"Ok bunda!" kata Emir.
aku pun segera berlalu meninggalkan ruang kepala sekolah,sedangkan Emir masuk ke kelasnya diantar oleh kepala sekolah.