Say No To Drugs

Say No To Drugs
Baba 92



Tak terasa sudah sebulan papa meninggal dunia. Aku belajar untuk ikhlas melepas kepergiannya. Aku menyibukkan diri dengan mengurus Naila agar aku tak terus tenggelam dengan kesedihan. Aku tak ingin mengulang kesalahan yang sama dengan yang dulu kulakukan pada Emir. Sekarang aku mengerti, jika kita ikhlas menerima segala kehendak-Nya, maka beban dihati kita akan ikut sirna.


Aku juga memutuskan untuk kembali lagi kerumah lamaku. Aku meminta bik Ijah merawat dan menjaga rumah Papa. Terlalu banyak kenangan bersama Papa yang tersimpan dirumah ini. Biarlah kenangan itu ada didalam hati saja.


Hari ini setelah Mas Abhi berangkat kerja, aku berniat untuk mengajak Naila jalan-jalan di taman dekat komplek rumahku. Sekadar untuk mencari udara segar agar tidak bosan berada di rumah terus. Tapi tiba-tiba suara bel rumah berbunyi. Aku yang saat itu tengah mengganti pakaian Naila pun berteriak memanggil bibik.


"Bibik, tolong buka pintunya. Lihat siapa yang datang!" teriakku.


"Baik ,non" jawab bibik, berlari tergopoh-gopoh membuka pintu.


Pintu terbuka, nampak seseorang mengenakan setelan jas rapi berdiri didepan pintu.


"Permisi. Apakah Nona Kania ada?" tanya orang tersebut.


"Ada. Tuan ini siapa ya?" tanya bibik.


"Saya pengacara Tuan Pramono. Bisa tolong panggilkan dia?" ujar orang tersebut.


"Tunggu sebentar, biar saya panggilkan Non Kania dulu!" jawab bibik, bergegas masuk kedalam dan memanggilku.


"Maaf, non.diluar ada tamu!" ucap bibik.


"Siapa bik?" tanyaku.


"Katanya dia pengacara Tuan Pramono, Non!".


"Pengacara Papa?. Ada perlu apa dia kesini!" tanyaku lagi, mengernyitkan dahi tak mengerti.


"Maaf, Non. saya kurang tahu" jawab bibik.


"Ya sudah, persilahkan dia masuk dulu, bik. Sebentar lagi saya akan menemuinya" ujarku.


"Baik, Non!" jawab bibik, kembali lagi ke pintu depan dan mempersilahkan pengacara itu masuk.


Pengacara pun masuk dan duduk di ruang tamu, tak berselang lama aku datang menemuinya.


"Maaf, anda siapa ya?" ucapku menegurnya.


Pengacara itu bangkit dari duduknya.


"Maaf, sebelumnya saya akan memperkenalkan diri dulu. Nama saya Aditama Putra, SH. Saya adalah pengacara mendiang Tuan Pramono" ucapnya, mengulurkan tangannya.


Aku pun membalas uluran tangannya.


"Mari, silahkan duduk!" ucapku.


Kami pun duduk kembali.


"Ada perlu apa ya bapak mencari saya?" tanyaku.


"Saya kesini untuk membacakan surat wasiat Tuan Pramono. Beliau meminta saya memberitahukan hal ini pada anda bila beliau sudah tiada" terang pengacara.


"Surat wasiat? kapan Papa membuat surat wasiat? kenapa saya tidak pernah tahu mengenai hal ini?" tanyaku tak mengerti.


"Beliau menemui saya lima bulan yang lalu. Beliau meminta saya membuatkan surat wasiat yang berisi penyerahan seluruh aset kekayaannya pada cucunya, yaitu anak kandung Nona Kania. Dan untuk sementara, beliau menunjuk anda untuk mengambil alih kepemimpinan perusahaan sampai anak tersebut dinilai mampu dan cukup umur untuk memimpin perusahaan. Beliau sengaja merahasiakan hal ini agar tidak menimbulkan masalah dikemudian hari" terang pengacara.


Sesaat aku terdiam mendengar penuturan pengacara. Aku tidak percaya Papa sudah mempersiapkan hal ini jauh-jauh hari, bahkan sebelum anakku lahir.


"Bolehkah saya melihat surat wasiat itu?" pintaku.


"Silahkan, Nona!" jawab pengacara, menyerahkan sebuah berkas padaku.


Aku pun menerima berkas tersebut dan membaca isi yang ada di dalamnya. Ternyata isinya sama persis dengan apa yang disampaikan pengacara itu barusan. Disitu juga ada tandatangan asli Papa, dan bahkan surat itu sudah terdaftar secara sah.


"Maafkan saya, Pak. Saya tidak bisa menerimanya" tolakku halus, mengembalikan berkas itu.


"Kenapa Nona?" tanya pengacara tak mengerti.


"Saya tidak mempunyai kemampuan untuk memimpin perusahaan. Biarkan orang kepercayaan Papa saja yang menjalankannya" jawabku.


"Tapi itu sangat beresiko, Nona. Daya takut akan ada perebutan kekuasaan nantinya" ujar pengacara.


Sesaat aku terdiam. Aku berpikir dan menimbang ucapan pengacara itu barusan. Apa yang dikatakannya memang ada benarnya.


"Baiklah, Pak. Saya akan menerimanya. Tapi beri saya sedikit waktu untuk membicarakan hal ini lebih dulu dengan suami saya" tukasku akhirnya.


"Baiklah, Nona. Saya akan memberi Anda waktu. Jika anda sudah siap, tolong segera hubungi saya. Saya ingin masalah ini cepat terselesaikan!" ujar pengacara.


"Oh ya, ini kartu nama saya!" menyerahkan sebuah kartu padaku.


"Kalau begitu saya permisi dulu!" pamit pengacara.


"Silahkan!" jawabku.


Pengacara itu pun berlalu meninggalkan rumahku. Sedang aku, membawa Naila ke taman seperti yang sudah kurencanakan tadi.


...****************...


Malam hari saat Mas Abhi tengah bersantai di ruang tengah, aku menghampiri dan duduk disampingnya. Kebetulan Naila sudah tidur sedari tadi.


"Mas, ada hal penting yang ingin aku bicarakan padamu!" ucapku serius.


"Hal penting apa? kok mukanya serius gitu!" ujar Mas Abhi, mencolek daguku berniat menggodaku.


"Ish... Mas Abhi ini apaan sih. Nggak usah mulai deh!" ujarku cemberut.


"Kalau cemberut gitu ntar aku cium loh!" ujar Mas Abhi, mendekatkan wajahnya padaku.


"Mas Abhi, aku tuh beneran pengen ngomong serius" ujarku dengan suara meninggi.


"Ha ha ha...marah ni ye..." ujar Mas Abhi, tertawa terbahak-bahak dan meledekku.


Aku pun semakin cemberut dibuatnya.


"Ya udah Mas dengerin. Emangnya kamu mau ngomong apa?" tanya Mas Abhi setelah ia puas tertawa.


"Tadi pagi setelah kamu berangkat kerja, ada seseorang yang datang kesini. Dia bilang dia adalah pengacara Papa" ujarku.


"Pengacara Papa? ada perlu apa dia kesini?" tanya Mas Abhi, mukanya berubah serius mendengar ucapanku.


"Dia bilang, dia ingin menyampaikan surat wasiat Papa" jawabku.


"Surat wasiat?" tanya Mas Abhi, semakin tak mengerti dengan yang kukatakan.


"Iya, Mas. Jadi gini ceritanya.....".


Aku pun menceritakan semua yang terjadi tadi pagi pada Mas Abhi, juga tentang isi surat wasiat itu yang memintaku untuk mengambil alih kepemimpinan perusahaan Papa.


"Jadi gitu ceritanya, Mas. Gimana menurut pendapat Mas Abhi?" tanyaku setelah selesai bercerita.


Sejenak Mas Abhi terdiam, tapi tak berselang lama ia mulai angkat bicara.


"Sebaiknya kamu memang menerima hal itu, Nia. Ini adalah pilihan yang terbaik. Lagipula ini adalah pesan terakhir Papa, amanat darinya" ujar Mas Abhi mengemukakan pendapatnya.


"Tapi kau tahu sendiri kan, Mas. aku tidak mempunyai kemampuan untuk memimpin perusahaan!" ujarku berargumen.


"Aku yakin kamu pasti bisa, kau hanya belum mencobanya" jawab Mas Abhi.


"Tapi bagaimana jika aku gagal, dan malah membuat perusahaan Papa bangkrut" ujarku.


"Kau jangan khawatir. Aku akan membantumu. Lagipula suamimu ini kan pengusaha yang hebat" jawab Mas Abhi.


"Mulai deh sok nya!" ujarku memutar bola mata malas.


"Bangga dengan diri sendiri kan tidak apa-apa" ujar Mas Abhi membela diri.


"Tapi bener kan, Mas. Kau akan membantuku kan!" ujarku meminta kepastian.


"Iya, honey. Tentu saja!" jawab Mas Abhi.


"Terimakasih banyak ya, Mas" berhambur ke pelukan Mas Abhi.


"Sama-sama" jawab Mas Abhi, balas memelukku.


"Oh ya, ngomong-ngomong Naila mana? kok dari tadi nggak kedengeran suaranya?" tanya Mas Abhi, menatap kearahku.


"Naila udah tidur dari tadi!" jawabku.


"Jadi boleh dong aku meminta jatahku malam ini?" tanya Mas Abhi, menarik turunkan alisnya menggodaku.


"Ish... Mas Abhi genit deh" ujarku, mencubit kecil lengannya.


"Genit sama istri sendiri nggak pa pa dong" jawab Mas Abhi tertawa kecil.


"Jadi gimana? boleh ya?" tanya Mas Abhi lagi.


Aku pun menjawab dengan sebuah anggukan. Tanpa berlama-lama, Mas Abhi membawa tubuhku ke kamar. Dan kami pun tenggelam dalam lautan asmara.