Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 75



Ditengah jalan aku terus memaksa Mas Abhi agar mempercepat laju kendaraannya.Hatiku tak tenang, pikiranku terus tertuju pada kesehatan Papa,selain itu aku juga ingin secepatnya bertemu dengannya dan meminta maaf padanya.


"Mas,lebih cepat lagi dong jalannya" ujarku memaksa.


"Iya honey,ini juga udah cepet!" jawab Mas Abhi.


"Tambah lagi kecepatannya, Mas!,aku sudah tidak sabar ingin bertemu Papa,aku harus secepatnya meminta maaf ke dia" ujarku tak sabar.


"Iya,aku tahu,honey.Tapi kalau kita semakin ngebut nanti malah bahaya,kita bisa mengalami kecelakaan nantinya" ujar Mas Abhi mencoba memberikan pengertian padaku.


"Tapi hatiku tidak tenang, Mas,aku khawatir sama keadaan Papa!" ujarku bersikukuh meminta Mas Abhi untuk menambah kecepatan mobilnya.


"Aden benar, non!.Kalau non terus memaksa seperti ini,nanti Aden malah tidak fokus nyetirnya.Dan yang lebih parah lagi, nanti kita bisa mengalami kecelakaan non" ujar bik Ijah dari arah belakang sambil menepuk bahuku mencoba menenangkanku.


"Lebih baik sekarang non Kania tenangkan diri non saja dulu,bibik yakin semuanya pasti baik-baik saja!".


Apa yang dikatakan oleh Mas Abhi dan bik Ijah memang benar,kalau aku seperti ini terus maka semuanya akan semakin kavau.Aku pun menghela napas panjang dan mencoba menenangkan diriku.


Tiba-tiba Mas Abhi menghentikan laju kendaraannya.


"Ada apa , Mas? kenapa kita berhenti?" tanyaku.


"Kita terjebak macet, honey.Lihat!, antriannya sangat panjang" ujar Mas Abhi sambil menunjuk ke barisan mobil didepan kita.


"Ada apa lagi ini? kenapa disaat seperti ini kita malah terjebak macet?" gerutuku.


"Mas juga nggak tahu, honey!.Sebentar! biar Mas coba cari tahu dulu!" ujar Mas Abhi.


Mas Abhi pun membuka kaca mobil disampingnya dan bertanya pada salah satu orang yang melintas disana.


"Permisi!,didepan ada apa ya? kenapa bisa macet begini?" tanya Mas Abhi.


"Oh itu,pak,didepan ada sebuah truk yang mengalami kecelakaan dan terguling ditengah jalan,saat ini polisi sedang mencoba mengevakuasi truk tersebut dengan bantuan alat berat" ujar orang tersebut memberi keterangan.


"Oh gitu!.Apa ada jalan lain lagi nggak pak,selain disini?" tanya Mas Abhi lagi.


"Oh maaf,pak! kalau itu saya kurang tahu" jawab orang tersebut.


"Baik,pak terimakasih banyak ya" ujar Mas Abhi.


Mas Abhi pun kembali menutup kaca mobilnya.


"Didepan ada truk terguling ditengah jalan, honey,saat ini polisi sedang mencoba memindahkannya menggunakan alat berat!" ujar Mas Abhi menerangkan padaku seperti apa yang dikatakan orang tersebut.


"Terus gimana,mas?. Apa tidak ada jalan yang lain?" tanyaku.


"Tidak ada, honey!.Ini adalah jalan satu-satunya" jawab Mas Abhi.


"Atau kita puter balik aja ya, Mas?" ucapku lagi.


"Gimana caranya kita puter balik, honey! kita aja sekarang terjebak ditengah-tengah" ujar Mas Abhi.


"Lalu kita harus gimana, Mas? masak kita harus nungguin sampai polisi selesai mindahin truk itu!" ujarku.


"Ya sepertinya memang harus begitu!" ujar Mas Abhi sambil mengangkat kedua bahunya.


Tiba-tiba arah mataku tertuju pada pangkalan ojek yang berada tidak jauh dari sana,timbul sebuah ide dalam pikiranku untuk naik ojek saja.


"Mas,lihatin deh,disana itu ada pangkalan ojek,gimana kalau aku naik ojek aja? biar cepet , Mas!" ujarku mengemukakan ideku.


Sontak Mas Abhi menolak ideku mentah-mentah,ia tidak setuju jika aku naik ojek.


"Tidak!, Mas tidak setuju,mas melarang keras kamu naik ojek.Itu bahaya sekali,honey,apalagi dalam kondisi hamil seperti ini.Mas tidak ingin terjadi sesuatu sama kamu dan calon anak kita!" ujar Mas Abhi tegas.


"Lalu kita harus gimana? masak kita harus nungguin terus?" ujarku putus asa.


"Mas rasa itu memang jalan satu-satunya" jawab Mas Abhi.


Aku pun semakin kesal mendengar jawaban Mas Abhi, dengan terpaksa aku pun menuruti perkataannya.


Setelah menunggu sekian lama, akhirnya polisi pun berhasil memindahkan truk tersebut,dan kini jalanan pun sudah bisa dilewati kembali.


Mas Abhi segera memacu kecepatan mobilnya setelah mobil bisa bergerak,dan setelah beberapa lama akhirnya kami sampai juga dirumah Papa.


Aku segera turun dari mobil dan berlari masuk kerumah, aku tak perduli lagi dengan teriakan Mas Abhi yang memintaku untuk berhati-hati.Dalam pikiranku hanya ada satu,aku harus bertemu Papa secepatnya dan meminta maaf padanya.


Aku segera menuju kamar Papa.Tadi kulihat mobil Papa ada didepan,jadi kupikir saat ini papa pasti ada di kamarnya,lagi pula tadi bik Ijah bilang kalau Papa sedang sakit.


Seandainya didepan kamar Papa kulihat pintunya sedikit terbuka,aku mencoba memberanikan diri untuk masuk kesana.


Kuedarkan pandanganku ke seluruh kamar Papa,tapi tidak ada tanda-tanda jika Papa ada disana.Aku pun segera keluar dari kamar Papa dan mencari keruangan lain.


Hampir setiap sudut yang ada dirumah ini sudah kudatangi,tapi tetap saja aku tidak menemukan keberadaan papa,hanya tinggal satu tempat lagi,yaitu taman belakang.


Aku segera berlari ke taman belakang dan mencari keberadaan Papa disana.Benar saja,sesuai dugaan ku Papa memang berada disana,ia sedang duduk melamun diatas bangku sambil menatap kosong kearah bunga-bunga yang ada didepannya.


Pelan-pelan kulangkahkan kakiku mendekati Papa.


"Pa...." panggilku dengan suara lirih.


Papa pun menoleh kearahku,tapi Tiba-tiba ia bangkit dan berdiri membelakangiku setelah tahu kedatanganku.


"Ada perlu apa kau kemari? untuk apa lagi kau datang kemari? bukankah kau sudah tidak perduli lagi dengan Papa?" ujar Papa,suaranya menggelegar menakutkan.


Kupandangi punggung Papa lekat-lekat,tubuhnya nampak kurus kering.Terlihat sekali jika ia tidak terurus dengan baik selama ini.


"Kania kesini mau minta maaf Pa!,Kania sudah sangat bersalah sama Papa" ujarku dengan berurai air mata.


"Untuk apa kau minta maaf? bukankah kau tidak salah sama sekali?" ujar papa lagi sambil tetap membelakangiku.


"Tidak Pa!,Kania memang bersalah.Kania sudah jadi anak yang durhaka," ujarku sambil bersimpuh dan memeluk kedua kakinya,berharap ia mau melihatku dan memaafkanku.


"Kau tidak bersalah!,jadi untuk apa kau meminta maaf.Sekarang, pergilah dari rumah ini" ujar Papa mengusirku sambil menarik kakinya dari dekapanku.


"Kumohon Pa,jangan usir Kania lagi!.Jangan membohongi diri papa dengan mengusir Kania seperti ini.Kania sudah tahu,selama ini Papa selalu memperhatikan dan membantu Kania dari jauh,bik Ijah sudah menceritakan semuanya pada Kania" ujarku dengan berlinangan air mata,aku tak sanggup menahan gejolak dalam hati ini.


Papa terdiam mendengar perkataanku,ia tak lagi menyangkal ucapanku.