Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 62



"Sialan,ternyata kamu balas dendam ya!,sekarang rasakan ini!" ujar Dinda.


Dinda pun segera meraih tubuhku dan menggelitik ku hingga aku semakin terbahak-bahak karena merasa kegelian.


"Udah udah,stop! berhenti menggelitikiku,aku sudah tidak kuat!" ujarku berusaha menghentikan Dinda.


"Minta maaf dulu baru aku berhenti!" ujar Dinda sambil terus menggelitikiku.


"Iya iya aku minta maaf,puas kamu!" ujarku.


dan Dinda pun berhenti menggelitikiku.


"Oh ya ngomong-ngomong ada apa kau kemari?" tanya Dinda setelah aku tenang kembali.


"Emang kenapa? nggak boleh? kamu mau mengusirku? ini kan juga toko bungaku!" jawabku.


"Bukannya gitu maksudku,tapi kan kamu udah lama nggak kesini,tumben-tumbenan aja kamu kemari" ujar Dinda kebingungan karena dikira aku salah faham dengan perkataannya.


aku pun kembali tertawa melihat reaksi Dinda.


"Iya iya aku tau,aku tadi cuma bercanda aja kok!" ujarku.


"Oh jadi kamu ngerjain aku lagi!,belum kapok ya aku gelitikin!,sini kamu!" ujar Dinda sambil mengambil ancang-ancang hendak menggelitikiku lagi.


Aku pun segera berlari menghindar dari Dinda.


"Cukup cukup! nggak usah ditambah lagi!,aku sudah kapok!" makanya jangan ngerjain aku terus!" ujar Dinda sewot.


"Iya iya berhenti," ucapku.


"Udah ah, dari tadi bercanda mulu!,jadi maksud kedatangan kamu kesini tuh apa?" tanya Dinda mengulang pertanyaannya tadi.


"Aku kesini tuh karena aku memutuskan untuk balik lagi bantuin kamu ngurus toko,ya biar aku ada kegiatan dan aku nggak teringat terus dengan kesedihanku" terangku sambil tersenyum.


Dinda pun ikut tersenyum mendengar penjelasanku tadi.


"Aku senang deh lihat kamu udah mau bangkit lagi!" ucap Dinda.


"Oh ya gimana keadaan toko selama aku tinggal?" tanyaku.


"Aman terkendali!" jawab Dinda sambil menghormat layaknya tentara.


Aku pun kembali tertawa melihat tingkah konyol Dinda.Sungguh, Dinda adalah sahabat terbaik di dunia.Dia selalu punya berbagai macam cara untuk menghiburku.


Kami pun kembali melanjutkan melayani setiap pengunjung yang datang sembari diselingi dengan candaan kala tak ada pengunjung yang datang.


Ternyata jika kita mau menerima segala kehendak-Nya dan ikhlas menerima segala yang telah digariskan-Nya, maka hidup kita akan terasa ringan.Mulai sekarang aku berjanji tidak akan pernah mengeluh atas apa yang sudah ditentukan-Nya.


Ketika diriku rapuh hampa tak bertepi,apakah aku masih boleh mendengarkan firman-Mu duhai Tuhanku.


***Aku telah terperangkap dalam dalam ego diri dan tak bisa menyadari bahwasanya hati dsn jiwa ini telah merindukan-Mu duhai Tuhanku.


Dan tak bisa dipungkiri lagi bahwa aku adalah makhluk lemah yang sejatinya hanya membutuhkan kehadiran-Mu dalam jiwaku.


Aku telah terlanjur terpuruk dalam ego. Sehingga membuat hati dan jiwaku sepi, padahal Allah selalu bersamaku.


Dia selalu menemani disetiap langkah hidupku dan kesendirian jiwaku, sehingga aku teringat akan janjiku dulu pada-Mu.


Dalam hidupku yang sekejap ini aku berjanji akan melakukan kewajibanku sepenuh hati, sampai aku tak perduli akan siang dan malam yang berganti.


Dan kuyakin sedihku ini bukanlah apa-apa karena ada Kau yang menjadi tumpuan dan sandaran dihati,ya hanya Kaulah sandaran hidupku.


Aku mohon pada-Mu duhai Tuhanku,peganglah tanganku dan bimbinglah aku menuju-Mu, karena aku akan hilang arah jika tanpa pertolongan-Mu didalam gelapnya hidupku tanpa Dirimu***.


...****************...


Tak terasa dua bulan sudah aku resmi menyandang status sebagai istri sah Mas Abhi,selama itu aku belum tahu apapun tentang dirinya.


Dia tidak pernah mau membahas apapun tentang siapa dirinya dan dimana keluarganya,bahkan saat pernikahan kami pun tidak ada satu pun keluarganya yang datang.


Pernah aku mencoba bertanya padanya tentang siapa dan dimana keluarganya,tapi ia hanya bilang bahwa ia hanya sebatang kara.Dan saat kuminta untuk menunjukkan dimana makam keluarganya,dia malah berlalu pergi dengan alasan bahwa dia sedang capek.


Pernah sekali aku mencoba mencari tahu sendiri tentang jati dirinya yang sebenarnya,tapi saat ia tahu ia malah marah padaku.


Dia bilang bahwa bila saatnya sudah tepat,maka dia sendirilah yang akan menjelaskan siapa sebenarnya dia padaku.


Kini aku pun tak lagi berusaha mencari tahu tentang dirinya,aku akan menunggu sampai dia mau menceritakannya sendiri.


Selama aku menjadi istrinya, dia selalu memperlakukanku layaknya seorang ratu.Dia tak pernah memaksakan semua kehendaknya padaku,walau itu adalah kewajibanku sebagai seorang istri.


Dia pernah berjanji padaku bahwa ia tidak akan pernah menuntut apa yang menjadi haknya jika aku belum bersedia untuk melakukannya.


Hingga suatu hari disaat aku sedang bersantai diruang tengah sambil menonton tv, tiba-tiba Mas Abhi datang dan langsung duduk disampingku.Saat itu kebetulan aku hanya memakai daster pendek tanpa hijab yang menutupi kepalaku.


Dia lantas memeluk tubuhku dengan sangat erat dan mencoba mencumbuku,aku pun sangat terkejut dan sontak mendorong tubuhnya menjauh dari diriku.


"Apa yang kau lakukan, Mas? mengapa kau menyentuhku tanpa seizinku?" teriakku marah.


"Ma maafkan aku Kania!,aku tidak sadar dengan apa yang aku lakukan tadi!" ujar Mas Abhi dengan terbata-bata.


"Apapun itu alasanmu,jangan pernah kau lakukan ini lagi, Mas!.Bukankah kau pernah berjanji bahwa kau tidak akan pernah memaksaku untuk melakukannya sebelum aku bersedia melakukannya!" ucapku dengan berapi-api.


"Aku minta maaf,Kania!.Sungguh, aku tidak berniat melakukan itu padamu" ujar Mas Abhi dengan penuh penyesalan.


Mas Abhi lantas berdiri dan pergi meninggalkanku masuk kedalam kamar.


Ada sedikit rasa bersalah dalam hatiku saat tadi aku menolaknya,biar bagaimana pun ini adalah haknya sebagai suamiku.


Aku lantas berdiri dan menyusulnya masuk kedalam kamar,kulihat dia tengah terbaring diatas ranjang dengan selimut dan menutupi seluruh tubuhnya.


Aku segera menghampirinya dan duduk disampingnya.


"Maafkan aku Mas Abhi,aku tidak bermaksud untuk menolak melayaniku tadi,aku hanya merasa belum siap untuk melakukannya" ucapku sambil menyentuh lengannya.


Mas Abhi lantas menarik selimut yang menutupi wajahnya dan duduk menghadapku.


"Sudahlah Kania,kita lupakan saja kejadian tadi.Lagi pula itu memang kesalahanku,tidak seharusnya aku melakukannya tanpa seizin darimu," ujar Mas Abhi dengan tersenyum.


"Maafkan aku Mas,aku hanya masih trauma dengan kejadian yang dulu menimpaku" ucap ku sambil tertunduk.


"Tidak apa,aku mengerti!" ucap Mas Abhi sambil tetap tersenyum dan mengusap rambutku.


"Oh ya ngomong-ngomong aku lapar nih,kamu masak apa tadi?" tanya Mas Abhi mengubah topik pembicaraan.


"Aku masak gurame bakar sambal jeruk sama lalapan daun kemangi" ujarku.


"Hemh kayaknya enak tuh!" ucap Mas Abhi.


"Ya udah kita makan sekarang ya!" ajakku.


Mas Abhi pun segera bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju meja makan beriringan denganku.