Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 86



Mas Abhi tidak fokus dengan apa yang sedang karyawannya sampaikan didepan. Matanya melihat karyawan itu mengoceh menjelaskan tentang proyek yang tengah mereka kerjakan, namun hati dan pikirannya melanglang buana entah kemana.


Aditya, asisten pribadi Mas Abhi menilik Mas Abhi yang sejak tadi tidak fokus pada rapat kali ini. Dia menyenggol siku Mas Abhi dan menggerakkan kepalanya seolah bertanya ada apa gerangan sebenarnya. Mas Abhi pun memberi kode pada Aditya untuk menghentikan rapat sejenak.


Aditya bangkit dari tempat duduknya," Rapat kali ini cukup sampai disini. kalian semua boleh bubar".


Semua karyawan yang ikut rapat pada membubarkan diri. Mas Abhi dan Aditya ikut keluar. Mereka menuju ruangan mereka masing-masing.


Aditya ikut masuk ke ruangan Mas Abhi. "Tuan sedang ada masalah?" tanya Aditya.


Mas Abhi menggeleng," Entah kenapa perasaanku tidak enak. Aku takut istriku kenapa-napa."


Aditya tersenyum simpul," Ya elah, Tuan. Saya kira ada apa. Ternyata sedang memikirkan istri toh."


"Ini tidak seperti biasanya," kesal Mas Abhi.


"Telepon saja istri Tuan," saran Aditya.


"Benar juga," jawab Mas Abhi.


Mas Abhi mendial nomorku. Tak lama telepon pun diangkat.


"Halo Kania .... kamu tidak apa-apa kan, honey?" tanya Mas Abhi dari balik telepon.


"Aku baik-baik saja, ada apa memangnya?" tanyaku balik.


"Tidak ada...aku. hanya khawatir saja. Ingat pesanku, segera pulang setelah semua urusanmu selesai!" ujar Mas Abhi.


"Iya!" jawabku.


Mas Abhi pun memutus sambungan telepon. Dia merasa lega karena aku baik-baik saja didalam toko bunga.


"Sudah lega?," tanya Aditya.


Mas Abhi nyengir," Sudah, pak!".


"Dasar bucin akut" ujar Aditya memutar mola mata malas.


"Biarin, dari pada kamu, jomblo akut" ujar Mas Abhi balik mengejek.


Tak berselang lama tiba-tiba ponsel Mas Abhi kembali berdering. Mas Abhi mengambil ponselnya dan melihat ke layar, tertulis nama Dinda disitu.


'Kenapa Dinda menelponku?, bukankah aku baru selesai menelpon kania?,' batin Mas Abhi dalam hati.


'Ah, aku angkat aja deh. Mungkin ada sesuatu yang penting".


"Halo, Din, ada apa?" ujar Mas Abhi dari balik telepon.


"Abhi, tolong cepat kesini. Kania mengalami kecelakaan" ujar Dinda panik.


"Apa?" teriak Mas Abhi terkejut seraya bangkit dari duduknya.


"Baik!, aku kesana sekarang" ujar Mas Abhi dan mematikan sambungan telepon.


"Aditya, istri saya mengalami kecelakaan. Saya harus kesana sekarang juga" ujar Mas Abhi berlari keluar.


"Astaga!, saya ikut, Tuan" ujar Aditya ikut berlari mengejar Mas Abhi.


Mas Abhi pun masuk kedalam mobilnya dan diikuti oleh Aditya. Mereka segera meluncur dengan kecepatan tinggi.


Jarak tempuh dari kantor Mas Abhi ke toko bunga tidak terlalu jauh, sehingga mereka tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai kemari.


Sesampainya disana Mas Abhi segera menghampiri kerumunan warga yang berkumpul di tempat terjadinya kecelakaan. Mereka semua beramai-ramai mengangkat tubuh yang bersimbah darah dan tidak sadarkan diri.


"Aditya, cepat bawa dia ke rumah sakit, biar sopir yang mengantarmu!" ujar Mas Abhi.


"Baik, Tuan!" jawab Aditya.


Aditya pun melaksanakan perintah Mas Abhi. Sejenak Mas Abhi merasa lega karena itu bukan aku, tapi kemudian ia panik kembali saat melihatku tidak ada disana.


Dinda keluar dari toko bunga saat tadi melihat kedatangan Mas Abhi.


"Abhimana" panggil Dinda.


Mas Abhi pun berlari menghampiri Dinda.


"Cepat katakan dimana Kania, Din?" ujar Mas Abhi cemas.


Mas Abhi berlari masuk ke dalam tanpa memperdulikan ucapan Dinda lagi.


"Honey, kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Mas Abhi setelah ia sampai di dekatku.


"Aku tidak apa-apa, Mas. Tapi salah satu anak buah kita,dia...".


"Ssst, tenanglah honey. Aditya sudah membawanya kerumah sakit. Kita do'akan saja semoga dia baik-baik saja" ujar Mas Abhi menenangkanku.


Sejak pagi Mas Abhi sudah merasakan firasat buruk, untuk itulah ia sengaja menyuruh beberapa anak buahnya untuk mengikutiku dari belakang.


Mas Abhi memeluk dan menciumi seluruh wajahku yang pucat, terlihat sekali aku tengah shock berat. Siapa yang tidak kaget, tiba-tiba saja ada mobil yang melaju kehadapanku.


Saat itu aku sudah melangkah untuk menyebrang jalan. Dan saat itu juga dua orang pengawal menarikku. Satu menarikku kebelakang dan satunya lagi mengorbankan diri.


"Kita kerumah sakit juga ya, honey" ujar Mas Abhi.


"Untuk apa, Mas?" tanyaku.


"Mas harus memastikan juga jika kamu tidak kenapa-kenapa. Mas tidak ingin terjadi sesuatu padamu dan juga calon anak kita" jawab Mas Abhi.


Tanpa menunggu persetujuan dariku, Mas Abhi segera membopong tubuhku dan memasukkan ku ke mobil, dan dia pun melajukan kendaraannya menuju rumah sakit terdekat.


Sesampainya diparkiran rumah sakit, Mas Abhi membukakan pintu mobil untukku dan langsung membopong tubuhku.


"Suster....suster tolongin istri saya. Dia baru mengalami kecelakaan" teriak Mas Abhi


Suster pun berlari menghampiri Mas Abhi sambil mendorong sebuah brangkar.


"Letakkan dia disini!" ujar perawat menunjuk kearah brangkar.


Suster pun membawaku ke ruang gawat darurat untuk diperiksa.


Mas Abhi mondar-mandir khawatir, dia tahu aku sangat terguncang. Dia berharap aku dan bayi dalam kandunganku tidak kenapa-kenapa.


"Siapa yang berani melakukan ini pada istriku. Awas saja, aku akan membalasnya!" geram Mas Abhi dengan tangan terkepal.


Tak berselang lama dokter pun keluar setelah selesai memeriksa keadaanku. Dengan segera Mas Abhi menghampiri dokter itu.


"Bagaimana keadaan istri saya, dok?" tanya Mas Abhi harap-harap cemas.


"Istri anda baik-baik saja, dia hanya shock saja. Bayi dalam kandungannya juga baik-baik saja. Anda jangan khawatir, saat inipun anda bila langsung menemuinya" jawab dokter menerangkan.


"Alhamdulillah. Terimakasih, ya Allah, terimakasih, dokter" ujar Mas Abhi bernapas lega.


Mas Abhi masuk kedalam dan menghampiriku.


"Honey, kamu baik-baik saja,kan?" tanya Mas Abhi mengecup tanganku.


"Maafkan aku, Mas. Harusnya aku tidak ke toko bunga. Andai aku menuruti perkataanmu, maka kejadiannya tidak akan seperti ini" ujarku berlinang air mata.


"Sudahlah, honey. Semuanya sudah terjadi. Yang terpenting sekarang kau dan calon anak kita baik-baik saja" ujar Mas Abhi.


"Sekarang beristirahatlah!" sambil mengusap kepalaku.


Aku pun memejamkan mataku. Tak berselang lama aku pun tertidur karena pengaruh obat.


Mas Abhi mengambil ponsel dari dalam sakunya. Dia mendial nomor Papa untuk mengabarkan hal ini. Disaat seperti ini dia membutuhkan Papa untuk berada di dekatku.


Tak berselang lama Papa pun datang.


"Bagaimana keadaan Kania?" tanya Papa.


"Dia baik-baik saja, Pa. Saat ini dia sedang tidur" jawab Mas Abhi.


"Apa kamu sudah tahu siapa yang sudah berani mencelakai Kania?" tanya Papa.


"Saat ini anak buahku sedang mengejar mobil itu. Kita tunggu saja kabar darinya" jawab Mas Abhi.


"Bagus!" jawab Papa.


Tak berselang lama ponsel Mas Abhi berdering, ternyata anak buahnya yang menelpon. Mas Abhi mengangkat telepon itu dan mendengar laporan darinya.


Setelah beberapa saat, Mas Abhi menyimpan kembali ponselnya.


"Sekarang aku sudah tahu siapa pelakunya, Pa. Dia adalah.....".