
"Sekarang aku sudah tahu siapa pelakunya, Pa. Dia adalah Alex!" ujar Mas Abhi.
"Apa?. Bukankah dia sudah mati?" ujar Papa terkejut.
"Tidak, Pa. Dia masih hidup!" jawab Mas Abhi.
"Tapi bukankah kita sama-sama melihat videonya kalau anak buahku sudah melempar tubuhnya kejurang".
"Itu karena mereka tidak tahu kalau sebenarnya Alex masih hidup waktu itu. Dia berhasil selamat setelah ada seorang warga yang menemukan dan merawatnya".
"Bodoh!, dasar tidak becus. Mengapa mereka bisa seceroboh ini?" maki Papa geram." Abhimana, sekarang kau tahu kan apa yang harus kamu lakukan?".
"Tenang saja, Pa. Aku akan mengurus masalah ini. Kali ini biar aku sendiri yang menghabisi nyawanya".
"Bagus!".
Saat itulah Dinda datang, dia langsung menyusul ke rumah sakit setelah membereskan sisa kecelakaan tadi.
"Bagaimana keadaan Kania?. Dimana dia sekarang?" tanya Dinda.
"Dia ada didalam. Dia baik-baik saja, saat ini dia sedang tidur karena pengaruh obat!" jawab Mas Abhi.
"Syukurlah!" ujar Dinda bernapas lega dan mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya.
"Dinda, bisakah aku meminta sedikit bantuan?" tanya Mas Abhi.
"Ada apa?. Katakan!" jawab Dinda.
"Tolong jaga Kania sebentar. Aku ada hal penting yang harus kuurus".
"Pergilah!. Aku akan menjaga Kania disini".
"Terimakasih.Kalau begitu aku pergi dulu, Pa".
"Papa ikut denganmu!".
"Baiklah, ayo!".
Mas Abhi merogoh ponselnya dan menghubungi anak buahnya.
"Bawa dia sekarang ke pelabuhan. Pastikan tidak ada orang disana. Kalian tahu kan, apa yang harus kalian lakukan" ujar Mas Abhi dari balik telepon.
"Baik, Tuan. Kami mengerti!" ujar suara diseberang.
Mas Abhi dan Papa pun meluncur ke tempat tersebut. Disana sudah ada beberapa anak buahnya yang menunggu kedatangannya di kapal. Kebetulan waktu itu hari sudah gelap, sehingga tidak nampak seorang pun disana.
Mas Abhi dan Papa segera naik ke kapal itu dan memerintahkan pengawalnya untuk membawanya langsung menuju ketengah laut.
"Mana dia?" tanya Mas Abhi pada anak buahnya setelah mereka sampai ditengah laut.
"Kami menyekapnya dibawah, Tuan. Ditempat penyiksaan!" jawab salah satu pengawal.
"Sudah lama aku tidak kesana. Tanganku rasanya gatal untuk memainkan alat-alat disana" ujar Mas Abhi menyeringai.
Mas Abhi dan Papa pun turun kebawah untuk menemui Alex. Disana ruangannya sangat gelap dan pengap, juga banyak debu beterbangan di sana-sini, terlihat sekali jika ruangan itu sudah lama tidak dijamah orang.
Dua orang pengawal mengikutinya dari belakang. Tampak kedua tangan Alex diikat kebelakang, begitu juga dengan kedua kakinya. Kepalanya ditutup menggunakan kain hitam. Empat orang pengawal berjaga disekitarnya.
"Buka penutup kepalanya sekarang!" perintah Mas Abhi.
"Baik, Tuan!" membuka penutup kepala Alex.
"Cuih, Kau lagi rupanya!" meludah ke arah Mas Abhi setelah penutup kepalanya dibuka.
"Berani sekali kau meludah kearahku!" menampar mulut Alex.
"Aku bahkan akan melakukan yang lebih dari itu jika tangan dan kakiku tidak terikat" jawab Alex.
Papa maju kedepan dan menarik rambut Alex hingga kepalanya mendongak keatas.
"Berani sekali kau mencelakakan anakku!" berteriak marah.
"Ha ha ha itu adalah balasan karena kalian sudah membuat ibuku tewas!" tertawa terbahak-bahak.
"Apa kau tidak sadar dengan perbuatanmu sendiri, hah!" bentak Mas Abhi.
"Aku yakin saat ini istrimu pasti sedang sekarat dirumah sakit, dan calon anakmu juga pasti tidak ikut selamat. Lalu lalian akan meratapi kepergiannya " tersenyum sinis.
"Sayangnya istri dan calon anakku baik-baik saja, karena yang kau tabrak tadi bukanlah istriku" tersenyum miring.
"Apa maksudmu?" teriak Alex.
"Yang kau tabrak adalah salah satu anak buahku, bukan istriku!".
"Bohong!. Aku yakin sekali kalau itu adalah istrimu" terkejut mendengar perkataan Mas Abhi.
"Silahkan saja kalau kau tak percaya!" jawab Mas Abhi sinis.
"Awas saja, aku akan menghabisi kalian semua!" berteriak marah.
"Kita lihat saja nanti, siapa yang akan lebih dulu mati. Kami, atau kau. Lagi pula siapa yang saat ini sedang terikat!" seringai Papa menakutkan.
"Itu tidak akan pernah terjadi!" ujar Papa sinis.
"Baiklah, kita akan sedikit bermain-main dulu. Pengawal, letakkan timah panas kedalam mulutnya sekarang!" perintah Mas Abhi.
"Baik, Tuan!" jawab pengawal. Mengambil timah panas dan memasukkannya kedalam mulut Alex.
"Argh panas!" berteriak kepanasan, bibir dan lidahnya sampai meleleh karenanya.
"Sekarang kita lihat, apa kau masih bisa bercakap besar setelah ini" ujar Papa sinis.
"Kurang ajar, aku akan membalas perbuatan kalian!" ancam Alex.
"Ha ha ha belum kapok dia rupanya. Baiklah, aku akan mengabulkan keinginanmu" ujar Mas Abhi tertawa terbahak-bahak.
"Pengawal, ambilkan pedang".
"Baik, Tuan!" jawab pengawal.
Pengawal pun mengambil pedang dan menyerahkannya pada Mas Abhi. Melihat itu tubuh Alex gemetar ketakutan.
"Apa lagi yang akan kau lakukan, hah!" berteriak untuk menyembunyikan ketakutannya.
"Ini yang akan kulakukan!" ujar Mas Abhi, mengayunkan pedang dan memotong lengan kanan Alex.
srekk
tes, darah segar pun mengalir dari lengannya.
"Argh sakit!" melolong panjang kesakitan.
"Ha ha ha itu adalah balasan karena kau sudah mencelakakan keluargaku dulu!" ujar Mas Abhi tertawa terbahak-bahak.
"Pa, apa kau tak ingin melakukan untuk yang satunya lagi?" tanya Mas Abhi mengulurkan pedang itu pada Papa.
"Tentu saja!. Dengan senang hati aku akan melakukannya" jawab Papa mengambil pedang itu dari tangan Mas Abhi.
"Jangan, tolong ampuni aku!" mengiba semakin ketakutan.
"Setelah apa yang kau lakukan pada putriku, sekarang kau mau minta maaf. Enak saja!. Rasakan ini" ujar Papa mengayunkan pedang kearah lengan kiri Alex.
Srekk
tes, darah segar kembali mengalir dari lengan kiri Alex.
"Argh sakit" melengking kesakitan.
"Ha ha ha itu adalah balasan karena kau sudah berani mencelakakan putriku" ujar Papa tertawa terbahak-bahak.
"Ampun, tolong lepaskan aku. Aku janji, aku tidak akan mengganggu keluarga kalian lagi" ujar Alex menangis mengiba.
"Tidak semudah itu. Aku akan terus menyiksa dirimu sebagai balasan atas perbuatanmu" ujar Mas Abhi tersenyum menyeringai.
"Kalau begitu habisi saja nyawaku langsung, jangan kau siksa aku seperti ini" ujar Alex pasrah.
"Permintaan dikabulkan. Pengawal, seret dia ke dek kapal sekarang" perintah Mas Abhi.
"Baik, Tuan" jawab pengawal.
Mas Abhi dan Papa naik ke dek kapal terlebih dahulu yang disusul oleh para pengawal dibelakangnya sambil menyeret tubuh Alex. Alex terus meronta-ronta meminta dilepaskan.
"Apa lagi yang ingin kalian lakukan. Kumohon lepaskan aku, ampuni nyawaku" menangis mengiba.
"Permintaan ditolak!" ujar Papa.
"Pengawal, siramkan darah itu kelaut sekarang!" perintah Mas Abhi.
Pengawal pun menyiramkan seember darah kelaut, ini dilakukan untuk memancing hiu mendekat. Dan benar saja, tak berselang lama dua ekor hiu mendekat karena mencium bau anyir darah tersebut.
Alex semakin ketakutan melihat hiu-hiu itu.
"Kumohon ampuni aku, aku sudah sadar sekarang" ujar Alex terus mengiba.
"Sekarang ajalmu sudah tiba. Kau akan mati saat ini juga!" ujar Papa.
"Pengawal, lemparkan dia kelaut sekarang. Biarkan dia menjadi santapan hiu-hiu disana" perintah Mas Abhi.
Pengawal pun menyeret tubuh Alex dan melemparnya ke arah hiu yang langsung disambut oleh para hiu tersebut. Dalam sekejap tubuh Alex habis talk bersisa,dan tamatlah riwayatnya.
Mas Abhi dan Papa terlihat sangat puas setelah menghabisi nyawa Alex.
"Kita pulang sekarang, Bhi" ajak Papa.
"Jangan, Pa. Apa Papa akan pulang dalam keadaan penuh darah begini?" ujar Mas Abhi.
"Lebih baik kita membersihkan tubuh kita dan berganti pakaian terlebih dahulu, setelah itu kita baru pulang. Aku sudah menyiapkan semuanya didalam".
"Kau benar sekali" jawab Papa.
Mas Abhi dan Papa pun membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian. Dan setelah semuanya selesai, mereka pun kembali kerumah.