
"Apa sudah ada tanda-tanda kalau kau hamil?" tanya Dinda tiba-tiba saat ia berkunjung kerumahku disuatu sore.
Aku pun terkejut mendengar pertanyaan Dinda.
"Kamu ini ngomongin apa sih? kenapa kau bertanya seperti itu?" tanyaku balik karena tak suka dengan pertanyaan Dinda tadi.
"Kenapa? memangnya ada yang salah dengan pertanyaanku? aku rasa pertanyaanku tadi wajar-wajar saja,kan kamu sudah menikah!" ujar Dinda tanpa ada rasa bersalah.
aku terdiam mendengar ucapan Dinda,aku rasa memang tidak ada yang salah dengan pertanyaannya tadi.
"Maafkan aku,aku tidak bermaksud marah padamu" ucapku tak enak hati.
"Jangan bilang kalau kau dan Abhimana belum...."
Belum selesai Dinda meneruskan ucapannya aku sudah memotongnya.
"Kau benar Dinda,aku dan Mas Abhi memang belum pernah melakukannya" jawabku lirih sambil menundukkan kepala.
"Astaga,kenapa kau sangat kejam pada Abhimana?,dia pasti sangat tersiksa selama ini" ujar Dinda terperanjat mendengar pengakuanku.
"Dia seorang lelaki beristri,tapi dia bahkan tidak bisa menyentuh istrinya" ujar Dinda melanjutkan ucapannya tadi.
"Aku hanya belum siap untuk melakukannya,aku masih trauma dengan sentuhan lelaki!" ujarku membela diri.
"Aku tahu kau masih trauma,tapi setidaknya berilah dia sedikit kesempatan untuk membuktikan diri!" ujar Dinda.
Diam,aku tak bisa berkata apa-apa lagi.
"Sekarang aku tanya sama kamu,apa selama ini Abhimana pernah memaksakan kehendaknya padamu?" tanya Dinda.
Aku menjawab dengan menggelengkan kepala.
"Apa pernah dia menyakiti hatimu?" tanya Dinda lagi.
Aku kembali menjawab dengan menggelengkan kepala.
"Apa pernah dia berlaku kasar padamu?" tanya Dinda lagi untuk ketiga kalinya.
"Tidak,dia bahkan memperlakukanku dengan sangat lembut" jawabku sambil menggelengkan suara, kali ini aku membuka suara.
"Nah, kau tahu itu!,jadi sekarang apa lagi yang kau takutkan!" ujar Dinda.
Aku kembali diam mendengar ucapan Dinda.
"Lupakan semua luka hatimu, bukalah pintu hatimu untuk Abhimana, dan terimalah dia dengan sepenuh hatimu,maka cinta diantara kalian akan tumbuh dengan sendirinya" ucap Dinda memberiku nasihat.
"Cinta itu ibarat sebuah bangunan.Bila ada dua pilar yang menyanggahnya,maka bangunan itu akan kokoh.Tapi sebaliknya,bila hanya ada satu tiang yang menyanggahnya,maka lama-kelamaan bangunan itu akan roboh karena tak kuat menopang bangunan itu seorang diri!" nasihat Dinda panjang lebar.
Aku masih terdiam mendengar ucapan Dinda,aku mencoba mencerna setiap kata-katanya.
"Aku akan mencoba melakukannya seperti yang kau katakan barusan" ucapku akhirnya.
"Baguslah kalau begitu,aku harap kau benar-benar melakukan apa yang kukatakan tadi" ujar Dinda.
"Aku minta maaf kalau aku terlalu ikut campur urusan rumah tanggamu,tapi aku melakukan ini juga demi kebaikanmu!".
"Aku tahu Din,aku juga mengerti dengan maksudmu,aku bahkan sangat berterimakasih karena kau sudah memikirkan tentang kebaikanku" ucapku sepenuh hati.
"Terimakasih karena kau sudah mau menerima semua saranku" ucap Dinda sambil tersenyum.
Bertepatan dengan itu Mas Abhi pun datang,dia baru saja pulang dari kerja.
"Lagi ngobrolin apa nih? kayaknya serius banget!" tanya Mas Abhi.
Kami pun sontak menoleh kearahnya.
"Eh Mas Abhi,sudah pulang Mas!" tanyaku berbasa-basi.
"Aku tuh udah nyampek dari tadi,kalian berdua aja yang keasikan ngobrol, sampai-sampai tak mendengar kalau aku sudah datang" ujar Mas Abhi.
"He he he maaf Mas!" ujarku cengengesan.
"Emangnya kalian lagi ngobrolin apa sih tadi?" tanya Mas Abhi kembali sambil duduk disalah satu kursi.
"Biasa,urusan perempuan" ujar Dinda,kali ini dialah yang menjawab pertanyaan Mas Abhi.
"Oh gitu!" kata Mas Abhi.
"Ngomong-ngomong aku boleh nggak minta tolong,tolong buatin aku minum dong,aku haus nih!" ujar Mas Abhi lagi.
"Mas mau dibikinin apa?" tanyaku.
"Teh hangat aja," jawab Mas Abhi.
"Ya udah aku bikinin dulu ya!" ujarku seraya bangkit menuju dapur.
"Belum lama kok!" jawab Dinda.
"Ya sudah,kalau gitu aku ke kamar dulu ya" pamit Mas Abhi.
"Eh tunggu dulu Bhi,ada sesuatu yang ingin aku omongin ke kamu!" ujar Dinda menghentikan Mas Abhi pergi.
"Ada apa? ngomong aja langsung!" jawab Mas Abhi.
"Emh sebelumnya aku mau minta maaf kalau ucapanku nanti menyinggung perasaanmu," ucap Dinda.
"Tidak apa,ngomong aja,aku tidak akan tersinggung!" ujar Mas Abhi menenangkan ketakutan Dinda.
"Tadi Kania sempat bilang kalau kalian berdua belum pernah melakukan hubungan suami-istri,kenapa Bhi?" ujar Dinda bertanya.
Mas Abhi diam sejenak mendengar pertanyaan Dinda,sebelum akhirnya dia mulai menjawab.
"Tidak kenapa-kenapa,aku hanya tidak ingin melakukannya sebelum dia merasa siap" jawab Mas Abhi.
"Sampai kapan kau akan menunggu? apa kau tidak merasa tersiksa selama ini?" tanya Dinda.
"Tidak apa,aku akan terus menunggu.Aku hanya tidak ingin memaksakan kehendakku" jawab Mas Abhi.
"Kalau begitu kenapa tidak kau coba untuk menciptakan kesempatan itu sendiri?" tanya Dinda.
"Maksudmu?" tanya Mas Abhi tak mengerti.
"Kenapa tidak kau ajak dia liburan yang romantis?, anggap saja ini adalah bulan madu pertama kalian setelah menikah" ujar Dinda mengutarakan idenya.
"Kau ajak dia liburan berdua,dan setelah disana kau coba ciptakan suasana yang romantis,buat dia senyaman mungkin bersamamu.Aku yakin,setelah itu Kania tidak akan lagi menolak untuk melakukannya" ujar Dinda menjelaskan maksudnya.
Mas Abhi terdiam mendengar perkataan Dinda,nampaknya ia tengah memikirkan saran yang diberikan olehnya.
"Baiklah,nanti aku akan memikirkan saranmu tadi!" jawab Mas Abhi akhirnya.
"Aku harap kau benar-benar mau memikirkan dan melakukan saranku tadi!" ujar Dinda.
"Tentu,aku akan melakukan semua saranmu.Aku ucapkan terimakasih banyak atas perhatianmu pada kami" ujar Mas Abhi.
"Sama-sama!" jawab Dinda.
Bertepatan dengan itu aku pun telah selesai membuatkan minuman untuk Mas Abhi,aku segera kembali ke mereka sambil membawa sebuah nampan berisikan secangkir teh hangat ditanganku.
"Ini Mas teh nya,silahkan diminum!" ucapku sambil menyuguhkan teh tadi dihadapan Mas Abhi.
"Terimakasih!" ucap Mas Abhi.
Mas Abhi pun segera meraih teh yang kusuguhkan tadi dan mulai meminumnya.
"Ah emang paling enak,pulang kerja minum secangkir teh hangat buatan istri tercinta!" ucap Mas Abhi.
"Ish apaan sih!" ucapku malu,wajahku tiba-tiba merona seperti tomat matang mendengar ucapannya.
Dinda pun tertawa melihat ekspresi diwajahku.
"Ha ha ha wajahmu udah seperti kepiting rebus kalau kayak gitu!" ujar Dinda mentertawakanku.
Aku pun memelototkan mataku kearah Dinda.
.
"Nyebelin!" ucapku.
Dinda malah semakin tertawa terbahak-bahak melihat tingkahku.
"Ha ha ha kamu makin lucu kalau begitu!" ujar Dinda sambil terus tertawa.
Melihat itu, Mas Abhi pun ikut tertawa,hingga aku semakin malu dibuatnya.
"Udah nggak usah malu gitu!" ujar Mas Abhi.
"Tapi ngomong-ngomong kamu kelihatan lebih cantik kalau sedang malu" ujarnya lagi.
aku tak bisa lagi menyembunyikan rasa maluku dihadapannya.
"Ini semua gara-gara kamu,awas saja nanti!" ancamku pada Dinda.
Mas Abhi pun kembali tertawa melihat tingkahku.
"Ya sudah, aku tinggal ke kamar dulu ya,kalian lanjutin aja obrolan kalian" ujar Mas Abhi seraya bangkit dari kursi.
Mas Abhi pun segera berlalu dari hadapan kami,dan kami pun melanjutkan obrolan kami.