Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 125



Sesampainya di ruang tamu, aku mengambil buku telepon. Aku membolak-balik buku tersebut, berpura-pura mencari nomor telepon pengacara kami. Aku sengaja berlama-lama saat mencari, memberi waktu sebanyak-banyaknya pada Mas Abhi agar bisa mempersiapkan rencana selanjutnya.


Tasya terlihat mulai tak sabar. Ia bertanya dengan wajah gusar. "Sudah ketemu belum nomornya?" bentaknya.


"Belum!" jawabku singkat.


"Cepetan nyarinya!".


"Iya iya, sabar dikit napa. Ini juga masih mencari!".


Tasya terlihat kesal karena menunggu terlalu lama, tapi aku tak perduli. Aku terus berpura-pura mencari nomor telepon dengan membolak-balik halaman buku telepon tersebut, tapi mataku tertuju ke arah Mas Abhi yang mulai berjalan mengendap-endap mendekati Tasya.


"Sudah ketemu belum?" bentak Tasya kembali setelah beberapa lama.


Aku yang saat itu sedang tidak fokus pun meloncat dari tempat duduk karena kaget. "Su...sudah!" ucapku tak sadar saking terkejutnya.


"Tunggu apa lagi, buruan telepon sekarang!".


"I....iya!" jawabku gugup.


Aku mulai memencet beberapa angka di telepon, dan menaruh gagangnya di telingaku. Tentu saja itu hanya berpura-pura. Aku melakukannya agar Tasya tak menaruh curiga.


Setelah beberapa saat, aku mulai bersuara, berpura-pura bicara dengan seseorang diseberang. Padahal aku hanya memberi kode pada Mas Abhi untuk segera melumpuhkannya. Karena Tasya sudah tidak fokus lagi dengan Mama. Ia terlihat mulai mengendurkan genggaman tangannya.


Dengan gerakan secepat kilat, Mas Abhi merebut pisau itu dari tangan Tasya, dan kemudian membuangnya jauh-jauh. Lalu ia memiting kedua lengannya ke belakang sebelum Tasya menyadari semuanya. Sedang aku gegas menarik tubuh Mama. Menjauhkannya dari jangkauan Tasya.


Tasya yang saat itu dalam keadaan tidak siap pun dengan mudahnya untuk dilumpuhkan. Mas Abhi mengunci pergerakannya, membuatnya sulit bergerak.


"Apa-apaan ini! Cepat, lepaskan aku!" bentak Tasya, berusaha memberontak.


"Aku tidak akan melepaskan dirimu begitu saja. Aku akan menyerahkan mu ke polisi. Kamu harus mempertanggungjawabkan semua perbuatanmu" ucap Mas Abhi.


Mendengar suara Mas Abhi dibelakangnya, Tasya semakin marah padaku. "Kurang ajar kamu, Kania. Kau telah menipuku. Kalian sudah bersekongkol untuk menjebak ku".


Aku tak memperdulikan kemarahan Tasya. Aku lebih mengkhawatirkan kondisi Mama. "Mama tidak apa-apa, kan? apa ada yang terluka?".


"Mama hanya sedikit tergores saja tadi. Selebihnya, Mama baik-baik saja" ucap Mama, tersenyum untuk menenangkanku.


Aku menatap ke leher Mama. Terlihat ada sedikit darah disana. "Ma, leher Mama berdarah" teriakku panik.


"Tenang, nak. Mama hanya sedikit terluka" ucap Mama, terus berusaha membuatku tenang.


"Tidak, Ma. Ini tidak boleh dibiarin. Mama harus segera diobati".


"Tidak usah, nak. Mama baik-baik saja" ucap Mama bersikukuh, menolak untuk diobati.


"Mama tidak usah membantah. Kania akan ambilkan kotak obat dulu. Mama tunggu sebentar disini".


Gegas aku mengambil kotak obat yang tersedia di ruang tengah. Dan setelah mendapatkannya aku kembali lagi kesana. Tak lupa aku juga membawa segelas air minum untuk Mama. Dia pasti sangat syok dengan kejadian tadi. Apalagi di usianya yang setua ini.


Perlahan aku membersihkan darah yang menempel dileher Mama. Mama meringis karena perih. "Auch.... ".


"Sakit ya, Ma?" tanyaku khawatir.


"Tidak, nak. Cuma agak perih sedikit" jawab Mama.


Aku kembali membersihkan luka Mama dengan pelan dan sangat hati-hati. Lalu aku membubuhkan cairan merah disana. Dan terakhir aku menutup lukanya menggunakan plester.


"Nah, sudah selesai, Ma!" ucapku sambil tersenyum ke arah Mama.


"Sekarang Mama minum dulu, ya. Biar Mama lebih tenang!" lanjutku sambil menyodorkan segelas air minum yang kubawa tadi.


"Makasih ya, nak!" ucap Mama tulus sambil tersenyum pula.


"Sama-sama, Ma!".


Perhatian Mas Abhi sedikit teralihkan pada Mama. Ia ikut khawatir juga dengan kondisi Mama tadi. Ia tak sadar jika genggamannya sedikit mengendur.


Melihat adanya celah, Tasya mulai bergerak. Ia menginjak kaki Mas Abhi kuat-kuat.


Mas Abhi berteriak keras saat Tasya menginjak kakinya. Sontak ia melepaskan genggaman tangannya.


Tasya tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia bergerak untuk membebaskan diri. Lalu ia meraih vas bunga dari kaca yang berada didekatnya dan memecahkannya. Kemudian ia memungut sebuah pecahan kaca yang agak besar dan menggunakannya sebagai senjata.


"Jangan mendekat! atau aku tidak segan-segan untuk melukai kalian" ancamnya.


Mas Abhi yang saat itu berusaha menangkap Tasya kembali pun mengurungkan niatnya. Ia mundur beberapa langkah.


"Kamu sudah membohongiku, Kania. Lihat saja, aku akan membalas perbuatanmu. Aku akan membuat hidup kalian seperti di neraka" ucap Tasya, menodongkan pecahan kaca ke arahku.


Mas Abhi masih terus berusaha. Perlahan ia mendekati Tasya. Tapi sayangnya saat ia tinggal selangkah lagi, Tasya lebih dulu melihatnya. Ia langsung mengayunkan pecahan kaca tersebut hingga mengenai lengan Mas Abhi.


"Arrgh...."jerit Mas Abhi. Darah mengucur dari lengannya yang terluka.


"Mas Abhi!!!!" pekikku.


"Bukankah aku sudah memperingatkan kalian untuk tidak mendekatiku, tapi kalian masih saja mendekat. Inilah akibatnya kalau kalian terus melawan!" menyeringai menakutkan.


Mas Abhi belum juga menyerah. Pandangannya tertuju pada kaki Tasya. Ia langsung menendang kaki itu hingga membuat Tasya terjatuh dan pecahan kaca itu terlempar dari tangannya.


Tasya kembali bangkit, ia gegas berlari untuk menyelamatkan diri. Sambil berlari ia berteriak mengancam, "Kali ini kalian boleh menang, tapi bukan berarti aku mengaku kalah. Aku akan kembali untuk menuntut balas. Aku akan menghancurkan hidup kalian sehancur-hancurnya".


Mas Abhi tidak tinggal diam, ia gegas mengejar Tasya. Aku ingin ikut mengejarnya juga, tapi Mama melarang. Ia menggenggam tanganku erat-erat. "Jangan, nak, kamu disini saja!".


"Tapi, Ma, aku mau membantu Mas Abhi" ujarku membantah.


"Sudah, serahkan saja pada suamimu. Biar dia yang mengejar si Tasya. Lagi pula sudah ada polisi juga, kan" ujar Mama, tak mau dibantah.


Akhirnya aku pun mengalah, membiarkan Mas Abhi yang menangani semua.


Setelah beberapa lama menunggu, Mas Abhi kembali lagi ke rumah. Ia datang dengan tertunduk lesu.


Melihat kedatangannya, aku segera menghampirinya dan bertanya, "Bagaimana, Mas? apa Tasya sudah berhasil diamankan?".


"Tasya berhasil kabur, Kania. Aku kehilangan jejaknya!" ujar Mas Abhi lesu.


"Kok bisa?" mengernyitkan dahi.


"Tadi saat di persimpangan jalan ada sebuah mobil yang melintas. Aku berhenti sejenak, menunggu mobil itu lewat. Tapi setelah mobil itu berlalu, Tasya sudah tidak terlihat lagi. Dan aku pun kehilangan jejaknya". terang Mas Abhi panjang lebar.


Aku menghela napas berat, ada sedikit kekecewaan mendengar Tasya berhasil lolos. Aku takut dia akan kembali lagi untuk menuntut balas.


Sepertinya Mama mengerti dengan apa yang ku khawatirkan. Ia mendekatiku untuk menenangkan. "Mama mengerti kekhawatiran mu. Kita berdoa saja semoga Tasya bisa segera ditangkap".


"Iya, Ma, semoga" ucapku penuh harap.


"Sekarang kamu obati suamimu dulu. Dia tadi sempat terkena pecahan kaca, kan!" lanjut Mama.


Aku tersentak, aku baru ingat dengan luka dilengan Mas Abhi. Untung Mama mengingatkan. Gegas aku meraih kotak obat dan mengobati lukanya.