Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 41



Saat aku tengah terlelap dalam tidurku bersama dengan Emir tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk.Aku segera membuka mataku dan melihat kearah jam dinding, ternyata waktu baru menunjukkan pukul sepuluh malam.


Aku pun mengernyitkan dahi tak mengerti,siapa gerangan yang mengetuk pintu malam-malam begini,apa mungkin itu maling.Tiba-tiba pikiran buruk pun berkelibat dipikiranku.


Aku segera mengambil sapu untuk berjaga-jaga kalau itu beneran maling dan berjingkat menuju pintu depan.Kusibak sedikit gorden dan mengintip siapa yang datang dari balik gorden,ternyata itu adalah Dinda.Aku pun mulai bernapas lega.


Tapi aku kembali bingung,kenapa jam segini Dinda sudah pulang,dan kenapa dia harus mengetuk pintu dulu,bukannya dia juga membawa kunci rumah sendiri.


Tak ingin lama-lama berpikir dan membuat Dinda lama menunggu,akhirnya aku pun segera membukakan pintu untuknya.


ceklek


"Maaf Din aku lama bukain pintunya,tadinya aku pikir kamu maling" kataku setelah pintu terbuka.


"Mana ada maling pake ngetuk pintu dulu!" jawab Dinda sewot.


"Oh iya ya" jawabku sambil nyengir kuda.


"Ya sudah ayo masuk!" kataku lagi.


Dinda pun segera masuk kedalam dan aku pun langsung menutup dan mengunci pintunya kembali.


"Tumben-tumbenan kamu jam segini sudah pulang,dan kenapa nggak langsung masuk saja!" kataku selesai mengunci pintu.


"Besok saja aku ceritain, sekarang aku mau istirahat dulu!" kata Dinda dengan muka tertekuk.


"Eh tunggu dulu,jawab dulu dong pertanyaanku tadi!" kataku mencoba menghentikan Dinda.


Dinda tetap tak memperdulikan kata-kataku dan langsung mengunci pintu kamarnya.


"Dinda kenapa? kok pulang-pulang wajahnya ditekuk begitu,apa mungkin dia lagi ada masalah ditempat kerjanya?" kataku bermonolog.


"Udah ah besok pagi saja aku tanya dia lagi!" kataku lagi.


Aku pun segera masuk ke kamarku dan melanjutkan tidurku yang sempat terganggu.


...****************...


Pagi harinya setelah selesai sarapan aku kembali mengajukan pertanyaanku tadi malam.


"Dinda sekarang kamu harus jelasin semuanya padaku!" kataku.


"Jelasin apa?" kata Dinda sambil mengernyitkan dahi tanda tak mengerti.


"Jangan pura-pura lupa non,apa lagi kalau bukan soal semalam!" kataku sambil menoyor dahi Dinda dengan jari telunjukku.


"Oh soal itu,ya udah aku jelasin!"


"Semalam saat aku tiba ditempat kerja tiba-tiba saja bar sudah dipasang garis polisi,dan kami para pelayan disana juga diberhentikan tanpa pesangon,yang membuatku pusing adalah aku harus kerja apa lagi sekarang, dan lagi kesempatanku untuk mencari bukti-bukti tentang kejahatan pamanku dulu semakin kecil!" jelas Dinda sambil menghela napas panjang.


"Kok bisa tiba-tiba gitu, memangnya ada masalah apa?" tanyaku.


"Aku juga nggak tahu apa masalahnya,tapi aku rasa ini ada hubungannya denganmu!" kata Dinda.


"Kok aku? apa hubungannya ditutupnya bar dengan aku?" kataku tak mengerti.


"Ye makanya dengerin dulu orang lagi ngomong,jangan asal main potong gitu aja!" jawab Dinda sewot.


"Iya iya aku dengerin" jawabku sambil mengangguk-anggukkan kepala.


"Kamu ingat nggak waktu kamu berhenti kerja dari sana dan pak manager memintaku untuk membujukmu agar kau mau kembali bekerja disana!" kata Dinda.


"Iya ingat,tapi apa hubungannya?" kataku makin tak sabar untuk mengetahui alasannya.


"Dengerin dulu!" kata Dinda sedikit kesal karena aku terus saja bertanya.


"Iya iya aku dengerin,makanya cepetan jelasin,bikin orang makin penasaran aja!" kataku sedikit kesal.


"Ok sekarang dengerin,waktu itu pak manager pernah bilang kalau kamu tak mau kembali bekerja disana maka semua orang yang bekerja disana akan mengalami masalah besar!" terang Dinda.


Aku sangat terkejut mendengar penjelasan Dinda, ternyata keputusanku saat itu untuk berhenti bekerja disana akan menimbulkan masalah besar untuk orang lain.


Satu hal yang masih tak kumengerti,kenapa keputusanku untuk berhenti bekerja disana bisa menyebabkan masalah bagi orang lain, padahal aku notabene termasuk karyawan baru disana.


"Kok bisa begitu?" kataku sambil berpikir keras.


Ditengah kebingungan kami tiba-tiba Abhimana sudah ada didepan pintu.


"Kalian lagi ngomongin apa sih? kok serius amat!" kata Abhimana memecah kebingungan kami.


kami berdua pun serempak menoleh kearah Abhimana.


"Eh Abhi,sejak kapan kamu ada di sana? ayo sini masuk!" kataku mempersilahkan Abhimana untuk masuk.


Abhimana pun segera masuk kedalam dan duduk berhadapan dengan kami setelah Dinda sedikit bergeser duduk didekatku.


"Aku baru saja tiba kok,oh ya kalian tadi lagi ngomongin apa sih!" kata Abhimana.


"Oh ini bhi,Dinda tadi cerita kalau bar tempatnya bekerja semalam dipasang garis polisi dan semua pekerja diberhentikan tanpa pesangon" kataku menjelaskan.


"Kok bisa?" tanya Abhimana.


"Itu dia yang aku masih tak mengerti!" kata Dinda.


"Tapi menurutku ini ada hubungannya dengan keluarnya Kania dari bar waktu itu!" kata Dinda!.


"Maksudmu?" tanya Abhimana tak mengerti.


"Waktu itu pak manager bilang kalau Kania nggak mau balik lagi kerja di bar itu maka semua pekerja di bar akan mengalami masalah besar" kata Dinda menjelaskan.


"Mungkin saja itu memang benar,tapi bisa juga karena memang ada masalah lain yang membuat bar itu dipasang garis polisi" kata Abhimana mengungkapkan pendapatnya.


.


"Sekarang yang membuatku bingung aku tak tahu harus kerja kemana lagi" tukas Dinda.


Sejenak Abhimana diam dan berpikir,tapi tak berselang lama ia pun kembali membuka suara.


"Kenapa kalian berdua tidak mencoba untuk membuka toko bunga!" kata Abhimana memberikan ide.


"Toko bunga??" kata kami bersamaan.


"Iya toko bunga" kata Abhimana memperjelas ucapannya tadi.


"Kenapa toko bunga? kataku sambil mengernyitkan dahi.


"Gini aku jelasin!" kata Abhimana sambil mengubah posisi duduknya.


"Kamu kan suka berkebun dan kamu juga pernah bersekolah tentang botani kan,jadi kenapa nggak kamu ubah pasionmu itu menjadi pekerjaan!" kata Abhimana menjelaskan.


Sejenak aku berpikir mengenai ide Abhimana,aku merasa masih ragu menerima usulannya.


"Tapi membuka toko bunga itu kan butuh biaya yang tidak sedikit,aku tidak mempunyai cukup uang untuk memulai usaha" kataku mencari alasan.


"Mengenai itu kita jual saja mobilku, nanti uangnya bisa kita gunakan untuk modal!" kata Dinda memberi solusi.


"Tapi aku tak begitu mengerti tentang bisnis" kataku kembali menolak.


"Aku bisa mengajarimu kalau kamu mau" kata Abhimana.


"Tapi aku tak suka bisnis" kataku masih ragu.


"Jangan pernah membuat alasan untuk menutupi kekuranganmu,kalau kau selalu membuat alasan maka kau tidak akan pernah bisa menjadi yang nomor satu,maksimal hanya menjadi yang kedua!" kata Abhimana.


"Belajarlah apapun itu walau itu adalah hal yang tidak kamu sukai,kalau kamu mau melakukannya maka suatu hari kau akan menjadi orang yang sukses!" kata Abhimana.


Aku terdiam mendengar ucapan Abhimana.Sejenak aku berpikir, apa yang dikatakan oleh Abhimana memang ada benarnya.


Dulu waktu aku masih sekolah aku tak pernah menjadi juara satu karena aku selalu menyalahkan guruku yang tidak bisa menerangkan pelajaran dengan baik kalau ada pelajaran yang tidak bisa aku kuasai.


Kini aku sadar itu semua bukan salah siapa-siapa,tapi murni karena kesalahanku sendiri.


"Baiklah aku akan mencoba" kataku akhirnya.


"Nah gitu dong,masak udah nyerah sebelum mencoba,itu sama aja dengan kalah sebelum berperang" kata Dinda.


aku pun hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Dinda.


Setelah berdiskusi mengenai beberapa hal akhirnya kami sepakat untuk memulai usaha toko bunga.