Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 97



Hari ini aku mengantar Tasya ke toko bunga. Sekalian aku juga ingin memperkenalkannya dengan Dinda.


"Dinda, perkenalkan, ini Tasya, temenku yang aku ceritain kemaren ke kamu" ujarku.


"Tasya, ini Dinda, sahabatku. Dialah yang menangani toko bunga ini. Jadi, kamu akan bekerja dengannya".


Mereka berdua saling berjabat tangan.


"Aku Tasya, salam kenal!".


"Aku Dinda, salam kenal juga!".


"Oh ya, Din. Aku minta kamu tunjukkin ke Tasya apa aja kerjaannya, ya" ujarku.


"Nggak masalah, tapi sebelumnya ada hal penting yang ingin aku tegaskan ke Tasya. Aku sudah mendengar semuanya tentang kamu. Jadi, aku akan selalu mengawasi mu".


"Aku tidak akan memberikan perlakuan istimewa hanya karena kamu teman Kania. Aku akan memperlakukanmu sama dengan karyawan yang lain. Aku juga akan memberikan gaji sesuai dengan apa yang kamu kerjakan!" ujar Dinda dengan muka serius.


"Iya, saya mengerti!" jawab Tasya.


"Bagus!. Kalau begitu kamu bisa langsung kerja sekarang!" ujar Dinda.


"Karin!" teriak Dinda memanggil salah satu karyawan.


"Iya, mbak" sahut Karin, berlari tergopoh-gopoh.


"Kamu tolong beritahu dia, apa yang harus dia kerjakan!" ujar Dinda.


"Baik, mbak!. Mari ikut saya" ujar Karin, berlalu hari hadapan kami yang diikuti oleh Tasya dibelakangnya.


"Din, kamu kok ngomongnya gitu sih sama Tasya!" ucapku setelah Tasya tidak nampak lagi.


"Emang kenapa? toko bunga ini kan juga milikku" jawab Dinda.


"Bukannya gitu, aku cuma nggak enak aja sama Tasya" ujarku.


"Aku sengaja berkata begitu agar dia tidak berlaku seenaknya disini dengan mengatasnamakan pertemanan antara kamu dengannya. Lagipula aku tidak percaya kalau dia sudah berubah" jawab Dinda.


"Kenapa enggak?" tanyaku.


"Gini ya, Kania, aku kasih tahu ke kamu!. Yang namanya pelakor, sampai kapanpun tidak mungkin bisa dipercaya. Mereka akan melakukan hal yang sama pada orang lain, dengan dalih terpaksa. Apalagi dari ceritamu kemarin, aku bisa menyimpulkan kalau dia adalah wanita materialis" ujar Dinda.


"Tapi semua orang kan bisa berubah. Aku yakin, Tasya juga pasti sudah berubah" ujarku penuh keyakinan.


"Mungkin perkataanmu benar, tapi apa salahnya berhati-hati. Aku hanya belajar dari pengalaman. Jangan mudah percaya dengan orang lain, apalagi orang itu pernah menyakitimu. Aku tidak ingin dia menyakitimu lagi dan merebut kebahagiaanmu!" jawab Dinda.


"Aku tahu kamu sangat perduli padaku. Tapi jangan sampai hal ini menimbulkan masalah lain kedepannya" ujarku.


"Kamu tenang saja. Aku tidak akan mencampuradukkan antara masalah pribadi dengan pekerjaan" jawab Dinda tegas.


"Ya udah deh, terserah kamu aja" jawabku mengalah.


"Kalau gitu, aku pamit ke kantor dulu, ya!".


"Kamu nggak mau disini dulu?" tanya Dinda.


"Lain kali aja. Aku ada rapat penting setelah ini" jawabku.


"Ya udah, kamu hati-hati dijalan, ya" ucap Dinda.


Aku menjawab dengan menganggukkan kepala. Aku masuk ke mobil dan segera berlalu menuju kantor.


...****************...


Dua bulan sudah Tasya ikut bekerja di toko bunga ku. Dari pantauan Dinda, sejauh ini tidak ada hal mencurigakan yang diperlihatkan oleh Tasya. Hal itu semakin memperkuat keyakinan ku jiga Tasya memang sudah berubah.


Hari ini Dinda ingin menyerahkan laporan bulanan padaku. Ini memang selalu dia lakukan setiap akhir bulan. Tapi karena dia sedang sibuk, maka dia meminta Tasya yang mengantarkannya.


"Tasya, tolong kamu antar laporan bulan ini ke rumah Kania. Aku ada sedikit urusan, jadi aku ingin kamu mengantar ini kesana" ujar Dinda.


"Tapi aku kan tidak tahu dimana alamat rumah kania!" ucap Tasya.


"Ini alamat rumah kania!" ujar Dinda, memberikan secarik kertas berisikan alamat rumahku.


Sekilas Tasya membaca kertas itu. Kemudian dia menganggukkan kepala tanda mengerti.


"Baik, aku tahu alamat ini!" ujar Tasya.


"Oh ya, biar lebih cepet, kamu pesan taksi online aja. Nanti biar aku yang membayar ongkosnya" ujar Dinda.


"Baik".


Tasya masuk ke mobil dan memberitahukan arah tujuannya pada sopir. Sopir pun segera meluncur membawa Tasya ke alamat tujuan.


Jarak dari toko bunga ke rumahku memakan waktu sekitar satu jam. Dan setelah beberapa lama akhirnya Tasya sampai juga.


Tasya segera turun dan meminta sopir untuk menunggu sebentar. Dan dia pun mengetuk pintu rumah.


Tok tok tok


"Sebentar !" teriakku saat mendengar suara ketukan itu.


Aku yang saat itu tengah bersantai di ruang tengah bersama Mas Abhi pun segera menghampiri pintu dan membukanya.


"Eh kamu Tasya. Ada perlu apa? kok kamu tahu apa rumahku?" tanyaku setelah membuka pintu.


"Ini Nia, Dinda memintaku untuk mengantar laporan ini ke kamu. Aku tahu alamat rumahmu ini juga dari dia" jawab Tasya.


"Kok kamu yang mengantarkan laporan ini? kenapa bukan Dinda saja? biasanya kan dia sendiri yang mengantarkannya?" tanyaku.


"Tadi Dinda bilang kalau dia sedang ada urusan, makanya dia memintaku yang mengantarkannya" jawab Tasya.


"Oh gitu. Ya udah, mana sini laporannya!" ucapku, mengulurkan tangan.


Tasya pun memberikan laporan tersebut. Saat itu Mas Abhi muncul.


"Siapa yang datang, honey?" tanya Mas Abhi.


Aku pun menengok kebelakang, aku terkejut melihat Mas Abhi tiba-tiba sudah ada dibelakang ku.


"Eh, Mas Abhi. Ini Mas, Tasya yang datang. Dia mengantarkan laporan bulanan toko bunga" jawabku.


"Siapa Tasya? karyawan baru?" tanya Mas Abhi. Dia bertanya begitu karena dia memang mengenal siapa saja yang bekerja disana, dan dia baru melihat Tasya.


"Tasya itu teman lamaku, Mas. Dia sekarang ikut kerja disana juga" ujarku menjelaskan.


"Oh gitu. Kok kamu nggak pernah cerita?" tanya Mas Abhi.


"He he he maaf, Mas, aku lupa. Nanti deh aku ceritain semua" ujarku nyengir kuda.


"Kamu itu kebiasaan, suka lupa!" ujar Mas Abhi mencubit kecil hidungku.


Aku meringis kecil merasakan cubitan Mas Abhi, tapi sebenarnya tidak terasa sakit sama sekali. Kemudian aku menoleh kembali ke arah Tasya untuk memperkenalkannya juga pada Mas Abhi.


Tasya terlihat bengong melihat kedatangan Mas Abhi, aku pun menepuk pundaknya untuk menyadarkannya.


"Hey, kok malah ngelamun" tegur ku.


"Eh, maaf maaf. Kamu bilang apa tadi?" tanya Tasya gelagapan.


"Kamu kenapa? kok malah ngelamun?" ujarku, mengulang pertanyaanku tadi.


"Nggak, nggak ada apa-apa kok" jawab Tasya, menutupi kegugupannya.


"Oh ya, kenalin. Ini suamiku, namanya Abhimana." ujarku memperkenalkan Mas Abhi padanya.


Tasya mengulurkan tangannya berniat mengajak bersalaman, tapi Mas Abhi tak kunjung menyambut uluran tangan darinya.


"Mas, itu si Tasya mau ngajakin kamu salaman" ujarku, berbisik pada Mas Abhi.


"Maaf, nggak perlu. Saya sudah tahu siapa kamu dari Istri saya!" jawab Mas Abhi datar dan berlalu begitu saja.


Aku melongok melihat Mas Abhi. Aku jadi nggak enak dengan Tasya karena tingkahnya.


"Maafin Mas Abhi ya, dia memang suka gitu kalau sama orang yang baru dia kenal" ujarku kikuk.


"Nggak pa pa" jawab Tasya, tersenyum.


"Kalau gitu aku pamit dulu. Aku harus segera kembali ke toko lagi!".


Aku menjawab dengan sebuah anggukan. Tasya pun segera berlalu meninggalkan rumahku. Aku pun menutup kembali pintu dan menghampiri Mas Abhi.


"Mas, kok tadi pergi gitu aja. Aku kan jadi nggak enak sama Tasya, Mas" tegur ku, mengeluarkan unek-unek.


"Biarin aja, aku memang sengaja melakukannya!" jawab Mas Abhi.


"Tapi akunya jadi nggak enak Mas,"


ujarku.


"Memangnya kamu nggak liat, gimana cara dia memandangku tadi?" tanya Mas Abhi.