Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 109



Singkat cerita, aku membawa Naila untuk ikut bersamaku. Dan tak butuh waktu lama kami pun sampai di rumah Papa.


Aku segera turun dan mengetuk pintu. Tak berselang lama pintu pun dibuka. Bik Ijah tampak terkejut melihat kedatanganku.


"Non Kania. Kok malam-malam begini kesini?" tanya bik Ijah, mengucek matanya yang masih setengah mengantuk.


"Iya, bik. Mulai malam ini Kania akan tinggal disini" jawabku lirih.


"Lah, Den Abhi nya mana? kok nggak kelihatan?" celingak-celinguk mencari keberadaan Mas Abhi.


"Mas Abhi ada dirumah!".


"Terus, Non Kania tadi kesini diantar sama siapa? kok mobilnya nggak kelihatan?"


"Aku tadi naik taksi, bik!".


"Kalau Non Kania tinggal disini, terus Den Abhi nya gimana? Non Kania nggak lagi berantem kan sama Den Abhi?" menatap mataku penuh selidik.


Aku membuang pandangan mata. Aku jengah melihat bik Ijah yang terus bertanya padaku.


"Bik, tolong, jangan bertanya terus!. Aku capek.Aku ingin beristirahat".


"Ma...maafkan saya Non" menundukkan kepala.


Aku berjalan melewati bik Ijah sambil membawa koperku. Melihat aku kerepotan membawa barang-barang, bik Ijah mengajukan diri untuk membantu. "Biar saya yang bawakan, Non!".


Aku menjawab dengan menganggukkan kepala. Kugenggam tangan Naila bersamaku. Sesampainya diruang tamu, aku menghempaskan tubuhku diatas sofa. Tubuhku terasa sangat lelah, tapi tidak sebanding dengan sakit yang kini kurasakan.


"Naila ke kamar duluan ya, nak. Nanti Bunda nyusul kesana".


"Baik, Bunda!". Berjalan menuju kamar tanpa banyak bicara.


Tak berselang lama bik Ijah selesai memasukkan barang-barangku di kamar. Ia berjalan menghampiriku. " Non Kania mau bibik buatkan minum?".


"Tidak, bik, makasih. Bibik istirahat lagi aja" jawabku.


"Kalau begitu bibik permisi dulu, Non!" berjalan memasuki kamarnya.


Sepeninggal bik Ijah, aku masih termenung memikirkan masalah yang baru saja terjadi. Aku masih tak habis pikir kenapa Mas Abhi tega mengkhianatiku.


Kuedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Mataku tertuju pada potret ku bersama Papa yang masih terpampang di dinding. Aku memang sengaja menyuruh bik Ijah untuk membiarkan semua seperti dulu. Aku ingin kenangan tentang Papa tetap ada.


Kulangkahkan kakiku menuju potret itu. Tanganku terulur menyentuhnya. "Pa, Kania kangen sama Papa. Kania merasa sendiri. Semua orang seperti meninggalkanku" ucapku lirih, air mataku berderai mengingat semua hak tentangnya.


Malam semakin larut. Aku memutuskan untuk segera ke kamar, kasihan Naila yang sedari tadi menungguku disana.


Sesampainya di kamar, ternyata Naila sudah terlelap dalam mimpinya. Aku turut merebahkan tubuhku disampingnya, memejamkan mata. Mencoba sejenak melupakan peristiwa yang baru saja terjadi.


...****************...


Pagi hari setelah mengantar Naila ke sekolah, aku memutuskan untuk pergi ke makam Emir. Hari ini rasanya enggan untuk pergi ke kantor.


Sesampainya di area pemakaman, aku berjalan menuju makam Emir yang sampai saat ini masih terjaga dengan baik. Rasanya sudah lama aku tak mengunjungi makamnya.


Aku bersimpuh dihadapan makamnya dan menaburkan bunga diatasnya. Kupandangi lekat-lekat batu nisannya. "Emir, bagaimana kabarmu disana, nak? Bunda kangen sama kamu? maafkan Bunda karena baru datang kesini lagi!".


"Emir, Bunda ingin bercerita denganmu. Bunda tidak tahu, pada siapa lagi bunda menumpahkan semua kesedihan ini".


"Emir, Bunda minta maaf karena tidak bisa memenuhi keinginan terakhirmu untuk terus tersenyum dalam kondisi apapun, dan mungkin Bunda juga tidak bisa bersama lagi dengannya. Hati Bunda sangat sakit mengetahui kenyataan ini. Bunda tidak bisa menerima pengkhianatan yang telah Mas Abhi lakukan".


Setelah puas menumpahkan semua keluh-kesahku, aku mulai bangkit. Aku berpamitan untuk pulang padanya. "Emir, terimakasih banyak. Sekarang hati Bunda sedikit lega setelah bercerita denganmu. Bunda pamit pulang dulu. Nanti Bunda kesini lagi".


Kulangkahkan kakiku keluar dari area pemakaman. Aku memutuskan untuk langsung kembali kerumah saja.


Sesampainya dirumah, ternyata sudah ada Mas Abhi disana. Dia sedari tadi menunggu kedatanganku. Tidak hanya sendiri, ada juga Dinda disana.Aku berjalan melewatinya tanpa memperdulikan kehadirannya.


Melihat kedatanganku, Mas Abhi segera bangkit. Ia menangkap pergelangan tanganku dan menghalangi langkahku. "Kita harus bicara!"


"Lepaskan tanganku, Mas!. Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan" ujarku sengit tanpa menoleh kearahnya. Kuhempaskan tangannya dari pergelangan tanganku, tapi Mas Abhi malah semakin mempererat genggamannya.


"Auch....,lepaskan tanganku, Mas. Kau menyakitiku". Aku meringis merasakan sakit di pergelangan tanganku.


"Maaf!" ujar Mas Abhi pelan, melepaskan genggamannya dari tanganku.


"Mau apalagi kesini, Mas? Apa belum cukup kau menyakitiku kemarin?" ujarku lirih.


"Kumohon berikan aku sedikit waktu. Biarkan aku menjelaskan semuanya," menatapku dengan sendu.


Aku membuang mukaku dari pandangannya. Mata itu, mata yang selalu memberikan ketenangan padaku.


"Baiklah!. Kita bicara sekarang" menghela nafas kasar.


"Terimakasih banyak!" ujar Mas Abhi, tersenyum.


Aku menghempaskan tubuhku diatas kursi. Mas Abhi pun mengikuti. Kami duduk saling berhadapan.


"Langsung aja, Mas. Apa yang ingin kamu sampaikan padaku?" ujarku datar.


Mas Abhi menghela napas panjang sebelum ia mulai buka suara.


"Kania, apa yang kau lihat kemarin tidaklah benar. Aku sama sekali tidak melakukan apa yang Tasya tuduhkan padaku. Ini semua hanya jebakannya. Dia sengaja melakukan itu untuk membuat kita berpisah."


"Mas Abhi, sekarang kau malah ingin memfitnahnya!" ujarku sengit. Aku tak habis pikir dengannya. Bisa-bisanya dia mengatakan hal itu setelah apa yang dia lakukan kemarin pada Tasya.


"Biarkan aku menyelesaikan dulu ucapanku".


Aku mendengus kesal. Aku menghempaskan punggungku di sandaran sofa.


"Kemarin, sepulang dari kantor, aku terus diikuti oleh dua orang preman. Mereka adalah orang suruhan Tasya. Aku turun dari mobil, dan kami pun saling adu jotos. Dalam pertarungan itu, salah satu dari mereka memukul kepalaku dengan balok kayu, dan aku pun pingsan."


"Aku baru sadar ketika kau membangunkanku kemarin. Dan sejujurnya, aku pun kaget melihat situasi itu" ujar Mas Abhi, mencoba menjelaskan semuanya.


Ada sedikit kekhawatiran di hati mendengar ia terluka. Tapi aku tak ingin percaya begitu saja dengan pengakuannya. Apa yang kulihat kemarin bukanlah sesuatu yang bisa dianggap enteng. aku tak ingin salah dalam mengambil keputusan karena emosi sesaat. "Apa kau punya bukti kalau yang kau ucapkan tadi memang benar?".


"Aku sudah menduga bahwa kau akan bereaksi seperti itu. Tadi pagi sebelum kesini, aku memeriksakan diri dulu ke rumah sakit. Dan kau bisa lihat sendiri hasilnya!" ujar Mas Abhi, menyodorkan sebuah map padaku.


Aku pun menerima map tersebut dan melihat laporan yang tertulis didalamnya. Ternyata apa yang dikatakan olehnya tidaklah bohong. Dia memang mengalami cedera di kepalanya.


Aku mulai percaya dengan ucapannya. Kemarin aku memang melihat ada darah disudut bibir Mas Abhi. Tapi aku tak terlalu memperhatikan karena lebih dulu terbawa emosi.


"Baiklah. Anggap saja aku percaya dengan kejadian yang menimpamu. Tapi bagaimana kau menjelaskan bekas merah disekujur tubuh Tasya?."